Archive for April 8, 2012

Laporan Pembuatan Kompos

LAPORAN AKHIR

PUPUK DAN TEKNOLOGI PEMUPUKAN

“KOSAMBIRAMPISTA”

(Kompos kotoran sapi dan kambing, jerami, pistia dan paitan)

OLEH :

RIZKI RAMADHANI

0810480085

KELAS : A

 

 

PROGRAM STUDI AGROEKOTEKNOLOGI

FAKULTAS PERTANIAN

UNIVERSITAS BRAWIJAYA

MALANG

2010

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Dalam bidang pertanian, tanah mempunyai arti yang sangat penting dilihat dari kemampuannya untuk menyediakan unsur hara/makanan bagi tanaman dengan jumlah yang tepat sehingga dapat menghasilkan produk yang optimum.

Kesuburan tanah adalah mutu tanah untuk bercocok tanam, yang ditentukan oleh interaksi sejumlah sifat fisika, kimia, dan biologi bagian tubuh tanah yang menjadi habitat akar-akar aktif bagi tanaman. Tanah yang baik bagi pertanian adalah tanah yang subur, menyangkut sifat tanah untuk menyediakan unsur hara dalam jumlah yang seimbang dan tersedia, memiliki tata air dan udara yang baik sesuai dengan kepentingan pertumbuhan dan perkembangan tanaman. Tetapi, untuk memperoleh produktivitas yang tinggi pada pertanian tidak hanya dibutuhkan kesuburan tanah tetapi bagaimana seorang petani mampu mengolah lahannya dan mengatur ketersediaan unsur hara yang ada.

Salah satu cara untuk menjaga kesuburan tanah adalah dengan melakukan pemupukan. Pemupukan adalah pemberian bahan kepada tanah untuk memperbaiki atau meningkatkan kesuburan tanah, serta mengganti kehilangan unsur hara dari dalam tanah dengan tujuan mendapatkan produktivitas pertanian yang maksimal.

Di masa sekarang ini banyak petani yang menggunakan pupuk anorganik karena kepraktisannya. Mereka belum banyak menyadari bahwa pupuk anorganik justru bisa menurunkan kualitas tanah dan produktivitasnya di masa mendatang jika pemakaiannya berlebihan. Selain itu masalah lain dari pupuk anorganik adalah harganya yang relatif mahal,  serta ketersediaannya yang kadang menyulitkan petani hingga terjadi kelangkaan. Oleh karena itu perlu dilakukan pengubahan pola penggunaan pupuk anorganik dengan pupuk organik, salah satunya yaitu dengan menggunakan kompos.

Kompos adalah hasil penguraian parsial/tidak lengkap dari campuran bahan-bahan organik yang dapat dipercepat secara artifisial oleh populasi berbagai macam mikroba dalam kondisi lingkungan yang hangat, lembab, dan aerobik atau anaerobik. Kompos sendiri dapat dibuat dari bahan-bahan organik seperti kotoran ternak baik kotoran sapi, kambing, ayam, kuda, kerbau dan sebagainya,  sisa-sisa pertanian seperti hasil pangksasn sisa tanaman (tanaman kacang-kacangan/legum), jerami padi, sampah kota, sampah rumah tangga, sampah pasar, hijau-hijauan, dan limbah industri.

Kompos yang saya buat yaitu dari bahan-bahan campuran antara kotoran sapi, kotoran kambing, jerami padi, kayu apu, serta daun paitan yang dinamakan ”KOSAMBIRAMPISTA” dimana semua bahan memiliki kandungan unsur hara tinggi bagi tanaman, khususnya unsur makro N, P, dan K. Kompos yang berasal dari bahan organik tersebut dapat membantu memperbaiki sifat fisika, kimia, maupun biologi tanah sehingga kesuburan tanah tetap terjaga serta ketersediaan haranya pun terjamin. Apalagi kompos dapat dibuat sendiri dari bahan-bahan yang mudah ditemukan, sehingga tidak memerlukan biaya banyak dalam pembuatannya.

1.2 Tujuan

Adapun tujuan dari pembuatan pupuk kompos ini adalah :

  1. Menghasilkan pupuk yang berkualitas (mengandung unsur hara yang tersedia bagi tanaman) sehingga dapat meningkatkan kesuburan tanah
  2. Memberdayakan kehidupan masyarakat khusunya peternak sapi dan kambing dengan memanfaatkan produk sampingan (feses) bila dilakukan dalam skala besar
  3. Menghindarkan pencemaran lingkungan dan limbah sampingan berupa feses di peternakan itu sendiri dan lingkungan sekitar
  4. Memperbaiki kondisi fisik, kimia dan biologi tanah
  5. Menambah nilai guna kayu apu yang notabene gulma dimana sebelumnya dianggap selalu merugikan menjadi bahan organik dan kaya unsur hara N
  6. Memanfaatkan jerami padi yang kaya unsur K untuk dikembalikan lagi dalam bentuk kompos sehingga unsurnya tidak hilang karena dibakar
  7. Memanfaatkan tanaman liar paitan yang kaya unsur P
  8. Dari bahan-bahan yang ada tersebut, maka dihasilkan pupuk majemuk yang memiliki unsur hara makro lengkap yaitu N, P dan K tetapi prosentasenya belum diketahui dengan pasti

BAB II

WAKTU DAN TEMPAT PEMBUATAN

  1. Pemilihan Bahan

Waktu       : 28 September 2009

Tempat      : Gazebo Tanah sewaktu Tutorial Pupuk dan Teknologi Pemupukan

Ket             : Bahan yang dipilih yaitu kotoran sapi, kotoran kambing, jerami padi, kayu apu                  (Pistia stratiotes L.), dan daun paitan (Tithonia diversifolia)

      2.   Pengumpulan Bahan

Waktu       : 12-24 Oktober 2009

Tempat   : kebun percobaan UMM, area persawahan di belakang UIN (daerah Joyogrand), Green House UMM

Ket            :

  • Kotoran sapi diambil di kebun percobaan UMM
  • Kotoran kambing diambil di kebun percobaan UMM
  • Jerami padi diambil di kebun percobaan UMM
  • Daun paitan diambil dari area Green House UMM
  • Kayu apu diambil di area persawahan di belakang UIN (daerah Joyogrand) dan kebun percobaan UMM

3. Pengeringan/penjemuran bahan
Waktu       : 19-25 Oktoberr 2009

Tempat      : Green House UMM

Ket            :  bahan yang dijemur adalah kayu apu (Pistia stratiotes L.)

4. Pencacahan bahan
Waktu       : 30 Oktober2009

Tempat      : Watu Aji No. 1 Malang

Ket            : jerami padi , kayu apu, dan daun paitan dicacah ± 2 cm

5. Pembuatan kompos / pemrosesan
Waktu       : 1 November  2009

Tempat      : Green House UMM

Ket              : semua bahan dicampur jadi satu, diatur kelembabannya, disemprot rata dengan dekomposer EM4, lalu dimasukkan dalam  plastik hitam untuk pengomposan

6. Pengamatan rutin, pengukuran suhu, pH, kelembaban serta kegiatan pembalikan
Waktu       : selama kompos diproses ± selama 2 bulan (November – Desember)

Tempat      : Green House UMM

Ket           : pengamatan rutin dilakukan untuk menjaga pemrosesan kompos berjalan dengan baik. Pengamatan terdiri dari pengukuran suhu yang dilakukan seminggu sekali, pengukuran kelembaban, serta pembalikan agar proses pengomposan merata

7. Pengayakan kompos
Waktu       : 15 Desember 2009

Tempat      : Green House UMM

Ket             : kompos yang sudah matang lalu diayak untuk mendapatkan partikel yang sama kemudian dikemas dalam plastik kemasan 5kg

8. Pengemasan kompos jadi
Waktu       : 20 Desember 2009 dan 12 Januari 2010

Tempat      : Watu Aji No. 1 Malang dan UPT Kompos Tanah

Ket            : pengepresan kemasan plastik kompos dilakukan di UPT Kompos Tanah Universitas Brawijaya

9. Uji perkecambahan / uji kualitas kompos
Waktu       : 5 – 12 Januari 2010

Tempat      : Jl. Watu Aji No. 1 Malang

Ket            : uji perkecambahan untuk membuktikan kualitas kompos yang saya buat

BAB III

BAHAN

Bahan yang digunakan dalam pembuatan “KOSAMBIRAMPISTA” ini adalah dari kotoran sapi, kotoran kambing, jerami padi, kayu apu (Pistia stratiotes L.), serta daun paitan (Tithonia diversifolia) . Adapun dasar pemikiran dari pemilihan bahan tersebut yaitu :

1. Kotoran sapi

Kotoran sapi merupakan pupuk dingin dimana perubahan-perubahan dalam menyediakan unsur hara tersedia bagi tanaman berlangsung perlahan-lahan. Pada perubahan ini kurang sekali terbentuk panas, tapi keuntungannya unsur-unsur hara tidak cepat hilang.                                                                                          (Lingga, 2006)

Berikut komposisi unsur hara  pupuk dari kotoran sapi :

Wujud            bahan

               (%)

H2O

(%)

N

(%)

P2O5

(%)

K2O

(%)

Padat

70

85

0,40

0,20

0,10

Cair

30

92

1,00

0,20

1,35

Total

-

86

0,60

0,15

0,45

(Sutedjo, 2002)

2. Kotoran kambing

Berbeda dengan kotoran sapi, kotoran kambing merupakan jenis pupuk panas dimana perubahan-perubahan dalam menyediakan unsur hara tersedia bagi tanaman berlangsung cepat. Jasad renik melakukan perubahan-perubahan aktif disertai pembentukan panas.                                                                             (Lingga, 2006)

Kotoran kambing mempunyai komposisi unsur hara sebagai berikut :

Wujud            bahan

(%)

H2O

(%)

N

(%)

P2O5

(%)

K2O

(%)

Padat

67

60

0,75

0,50

0,45

Cair

33

85

1,35

0,05

2,10

Total

-

69

0,95

0,35

1,00

( Sutedjo, 2002)

v  Alasan menggunkan kotoran sapi dan kambing

Campuran dari kedua kotoran ternak tersebut jelas akan memperkaya kandungan unsur hara pada kompos. Baik pada kotoran sapi maupun kotoran kambing merupakan bahan yang mempunyai kandungan unsur hara lengkap dengan proporsi yang berbeda dan saling melengkapi satu sama lain. Selain mengandung unsur-unsur makro (Nitrogen, Fosfor, Kalium) juga mengandung unsur-unsur mikro (kalium, Magnesium, serta sejumlah kecil mangan, tembaga, borium dll) yang dapat menyediakan unsur-unsur atau zat makanan bagi kepentingan pertumbuhan dan perkembangan tanaman.

Selain itu, pupuk kompos dari bahan kotoran sapi dan kotoran kambing memiliki kelebihan yaitu memperbaiki sifat fisik, kimia, serta biologi tanah, menaikkan daya serap tanah terhadap air, menaikkan kondisi kehidupan di dalam tanah serta sebagai sumber zat makanan bagi tanaman.

( Sutedjo, 2002)

3. Jerami Padi

Jerami padi mengandung hara K 1,75-1,92%, tergolong tinggi di antara hara makro lainnya. Selain hara K, jerami padi dapat menyumbang hara N, P, S, dan hara mikro. Pembakaran jerami sebelum diberikan ke tanah sawah menyebabkan sebagian hara hilang, seperti C, N, P, K, S, Ca, Mg dan hara mikro. Rata-rata pembakaran mengakibatkan kehilangan hara C 94%, N 91%, P 45%, K 75%, S 70%, Ca 30%, dan Mg 20% dari total kandungan hara tersebut dalam jerami.

Jerami padi memiliki fungsi fisika, kimia, dan biologi sebagai bahan organik.

v  Fungsi fisika jerami sebagai bahan organik adalah :

  • memperbaiki struktur tanah karena dapat mengikat partikel tanah menjadi agregat yang mantap
  • memperbaiki distribusi ukuran pori tanah sehingga daya pegang air (water holding capacity) tanah meningkat dan pergerakan udara (aerasi) di dalam tanah menjadi lebih baik
  • mengurangi fluktuasi suhu tanah

v  Fungsi kimia jerami sebagai bahan organik adalah :

  • meskipun mengandung sedikit unsur hara, pupuk organik dapat menyediakan hara makro (N, P, K, Ca, Mg, dan S) dan mikro seperti Zn, Cu, Mo, Co, B, Mn, dan Fe
  • meningkatkan kapasitas tukar kation (KTK) tanah
  • dapat membentuk senyawa kompleks dengan ion logam seperti Al, Fe, dan Mn, sehingga logamselama logam tersebut tidak meracuni tanaman

v  Fungsi biologis jerami sebagai bahan organik adalah :

  • sebagai sumber energi dan makanan bagi mikroba dan mesofauna tanah

Dengan bahan organik yang cukup tersedia, aktivitas organisme tanah dapat memperbaiki ketersediaan hara, siklus hara, dan pembentukan pori mikro dan makro tanah.                                                                                             (Anonymous, 2009)

Salah satu pemanfaatan jerami padi selain dikembalikan langsung ke lahan yaitu dengan dikomposkan terlebih dahulu, oleh karena itu saya juga menggunakan bahan dari jerami padi untuk pembuatan kompos karena manfaatnya yang begitu banyak.

4. Kayu apu (Pistia stratiotes L.)

Kayu apu merupakan jenis gulma air (aquatic weeds) yang tumbuh mengapung (floating weeds) dan banyak ditemukan di area persawahan, baik yang masih tergenang maupun sawah yang padinya telah dipanen. Gulma merupakan tumbuhan yang merugikan dan tumbuh pada tempat yang tidak dikehendaki. Karena sifat merugikan tersebut, maka di mana pun gulma tumbuh selalu dicabut, disiang, dan bahkan dibakar. Sebenarnya bila dikelola dengan benar dan optimal, gulma akan memberikan manfaat dan meningkatkan produktivitas lahan.

Bahar dan Abidin (1992) melaporkan bahwa sisa penyiangan gulma dapat menjadi media penyimpan unsur hara. Di samping itu, beberapa jenis gulma dapat dimanfaatkan sebagai mulsa atau untuk membuat kompos dengan status ketersediaan hara sedang sampai tinggi. Berdasarkan jurnal penelitian yang berjudul “Teknik Identifikasi Jenis Gulma Dominan dan Status Ketersediaan Hara Nitrogen, Fosfor, dan Kalium Beberapa Jenis Gulma di Lahan Rawa Lebak” yang bertujuan untuk mengidentifikasi jenis gulma dominan dan status ketersediaan hara makro N, P, dan K pada beberapa jenis gulma yang tumbuh di lahan lebak Kalimantan Selatan, menunjukkan bahwa kandungan hara N, P, dan K pada gulma dominan umumnya cukup tinggi seperti Ageratum conyzoides, Heptis brevipis, Pistia stratiotes, dan Polygonom barbatum, yaitu masing-masing (2,60%, 0,33%, 1,03%); (2,69%, 0,23%, 1,08%); (2,67%, 0,30%, 1,12%); dan (2,74%, 0,24%, 1,22%). Kandungan N, P, dan K dari gulma berdaun lebar ini lebih tinggi dibandingkan dengan kandungan N, P, dan K pupuk organik (Noor et al. 1996), seperti kompos jerami padi, jerami jagung, jerami kacang tanah, dan Flemingia sp. Yaitu masing-masing sebesar (1,21%, 0,16%, 1,26%); (0,84%, 0,16%, 0,99%); (2,37%, 0,21%, 0,77%) dan (2,42%, 0,23%, 1,45%) (Anonymous, 2009).

Mengetahui fakta tersebut, maka tidak ada salahnya memanfaatkan gulma kayu apu yang mungkin hanya dianggap merugikan bagi petani. Jadi saya juga menggunakan bahan kayu apu untuk pembuatan kompos.

5. Daun Paitan

Paitan (Tithonia diversifolia) yang merupakan salah satu jenis tanaman liar dapat dijadikan sebagai salah satu alternatif sumber atau bahan pupuk hijau, dapat juga dijadikan campuran bahan pembuatan pupuk kompos yang mempunyai kandungan hara N total 1,31 % dan P total 0,47% yang merupakan bahan organik berkualitas tinggi (Anonymous, 2009)

Karena merupakan tanaman liar dan ketersediannya yang cukup banyak serta mengandung kandungan unsur hara yang tinggi, maka saya juga menggunakan daun paitan sebagai salah satu bahan pembuatan kompos.

v Dekomposer : EM4

Effective microorganism (EM4) merupakan bahan yang mengandung beberapa mikroorganisme yang sangat bermanfaat dalam proses pengomposan. Mikroorganisme yang terdapat dalam EM4 terdiri dari Lumricus (bakteri asam laktat) serta sedikit bakteri fotosintetik, Actinomycetes, Streptomyces sp., dan ragi.

EM4 sangat bermanfaat untuk menghilangkan bau pada limbah dan mempercepat pengolahan limbah. EM4 dapat digunakan untuk memproses bahan limbah menjadi kompos dengan proses yang lebih cepat dibandingkan dengan pengolahan limbah secara tradisional.                                                 (Djuarnani, 2005)

Dari literatur tersebut, saya menggunkan decomposer EM4 untuk mempercepat proses pengomposan. Selain efektif karena mikroorganisme di dalamnya, juga efisien karena cukup mudah dalam mencarinya, banyak tersedia di toko pertanian.

BAB IV

METODE

4.1 Alat dan Bahan

v  Alat

  • Pisau                       : untuk mencacah bahan (jerami padi, kayu apu, daun paitan)
  • Timba / ember      : untuk mencuci kayu apu
  • Bak kecil                 : untuk melarutkan gula sebagai makanan organisme
  • Cangkul                   : untuk mencampur semua bahan kompos
  • Sekop                      : untuk membalik kompos
  • Pressure sprayer  : untuk menyemprotkan larutan EM4 pada kompos
  • Ayakan                    : untuk mengayak kompos yang jadi agar ukurannya sama dan memisahkan dari bahan yang tidak dapat terdekomposisi dengan baik
  • Kantong plastik      : untuk mengumpulkan bahan yang diperlukan dan mengemas kompos yang sudah jadi
  • Termometer           : untuk mengukur suhu kompos
  • pH meter                 : untuk mengukur pH kompos
  • kantong Polybag    : untuk uji perkecambahan
  • kamera                    : untuk mendokumentasi semua kegiatan

v  Bahan

  • kotoran sapi
  • kotoran kambing
  • jerami padi
  • kayu apu (Pistia stratiotes L.)
  • daun paitan
  • gula : untuk makanan mikroorganisme
  • air bersih : untuk menjaga kelembaban kompos dan mencuci kayu apu
  • biji jagung : untuk uji perkecambahan

v  Dekomposer :

  • EM4 (Effektive Microorganism 4)

4.2 Cara kerja :

1.      Pengumpulan bahan

Pada tahap ini semua bahan yang akan dijadikan kompos dikumpulkan, baik kotoran sapi, kotoran kambing, jerami padi, kayu apu maupun daun paitan.

2.      Pembersihan bahan

Bahan yang perlu dicuci yaitu kayu apu (Pistia stratiotes L.) untuk memisahkan kayu apu dari kotoran-kotoran yang ikut terambil seperti lumpur, dan sisa jerami padi, bahkan mungkin hama

3.      Pengeringan bahan

Bahan yang dikeringkan hanya kayu apu (Pistia stratiotes L.) untuk mengurangi kadar airnya sehingga mempercepat proses dekomposisi

4.      Pencacahan bahan

Bahan yang dicacah yaitu kayu apu yang telah kering, jerami padi, dan daun paitan sebesar ± 2 cm untuk memperluas permukaan sehingga bahan dapat dengan mudah dan cepat didekomposisi menjadi kompos

5.      Pencampuran bahan / pemrosesan

  • Bahan yang telah dicacah tadi dicampur dengan kotoran sapi dan kotoran kambing, dan disemprot rata dengan larutan EM4 untuk membantu mempercepat proses pengomposan, diatur kelembabannya, apabila terlalu kering maka perlu disiram/ditambahkan air. Setelah rata ditambahkan abu dapur untuk menetralisasi pH serta menambah unsur hara Ca, K dan Mg. Ditambahkan pula larutan gula sebagai makanan organisme sehingga dapat mempercepat pengomposan pula.
  • Bahan yang telah tercampur kemudian dimasukkan dalam plastik hitam untuk pengomposannya. Plastik diikat rapat agar tidak ada mikroorganisme maupun makroorganisme dari luar yang masuk ke dalam bahan kompos. Kompos diletakkan pada tempat yang teduh terlindung dari cahaya matahari langsung dan hujan.
  1. 6.      Pemantauan temperatur, pH, dan kelembaban

 

  • Pengukuran suhu dilakukan dengan termometer pertama kali setelah tumpukan berumur 3 hari untuk mengetahui suhu tumpukan. Setelah itu, pengukuran suhu dilakukan setiap 1-2 minggu sekali. Bila temperatur lebih dari 500C dilakukan pembalikan.
  • pH selama proses pengomposan pun perlu dipantau. Kiaran pH kompos yang optimal adalah 6,0-8,0. Jika pH terlalu tinggi atau terlalu basa, konsumsi oksigen akan naik dan akan memberikan hasil yang buruk bagi lingkungan, selain itu pH yang tinggi juga akan menyebabkan unsur nitrogen dalam bahan kompos berubah menjadi amonia (NH3). Sebaliknya dalam keadaan asam akan menyebabkan sebagian mikroorganisme mati. Pemberian abu dapur, kapur, serta pembalikan kompos mempunyai dampak netralisasi keasaman.
  • Kelembaban selama pengomposan diusahakan tidak terlalu kering dan telalu basah karena berhubungan dengan kegiatan dan kehidupan mikrobia.

    7.      Pembalikan

 

Pembalikan dilakukan untuk membuang panas yang berlebihan, memasukkan udara segar ke dalam tumpukan bahan, meratakan proses pelapukan di setiap bagian tumpukan, meratakan pemberian air, serta membantu penghancuran bahan menjadi partikel kecil-kecil.

8.      Penyiraman

Penyiraman dilakukan jika tumpukan bahan kompos terlalu kering dan sebaiknya dilakukan sebelum pembalikan sehingga ketika dilakukan pembalikan, air akan tercampur dengan sendirinya. Kadar air yang ideal selama proses pengomposan adalah 40-60%, dengna nilai optimum 55%.

9.      Pematangan

Setelah pengomposan berjalan 30-40 hari, suhu tumpukan akan semakin menurun hingga mendekati suhu ruangan. Pada saat itu tumpukan telah lapuk, berwarna coklat tua atau kehitaman. Kompos masuk pada tahap pematangan selama 14 hari.

10.  Pengayakan, pengemasan, dan pelabelan

Kompos yang sudah matang sebaiknya diayak untuk memisahkan kompos yang halus dan membuang bahan yang mengotori seperti potongan kayu. Lalu dikemas ke dalam kantong plastik yang kedap air dan diberi label.

11.  Uji perkecamahan / uji kualitas kompos jadi

Kompos yang telah jadi diuji cobakan untuk mengetahui kualitasnya yaitu dengan uji perkecambahan. Sediakan 5 media yaitu tanah tanpa kompos sebagai kontrol, tanah dicampur dengan kompos matang dengan variasi perbandingan 2:1, 1:1, 1;2 , dan kompos matang saja. Tebarkan 10 biji jagung pada setiap polibag, amati selama 7 hari, hitung persentase perkecambahan di masing-masing media, amati manakah yang paling baik.

BAB V

HASIL

v  Kegiatan yang sudah dilakukan dari awal sampai akhir

Kegiatan yang sudah saya lakukan yaitu kegiatan semua tahap dari 1 sampai 11 berupa pengumpulan bahan, pembersihan bahan, pengeringan bahan, pencacahan bahan, pencampuran bahan/pemrosesan, pemantauan temperatur, pH dan kelembaban, pembalikan, penyiraman, pematangan, pengayakan dan pengemasan, serta uji perkecambahan atau uji kualitas kompos jadi.

Bahan yang telah dikumpulkan kemudian diproses, kayu apu dicuci lalu dicacah ± 2 cm, begitu pula jerami padi dan daun paitan tetapi kedua bahan terakhir tanpa dicuci. Semua bahan kemudian dicampurkan menjadi satu, ditambah larutan EM4 sebagai dekomposer, larutan gula sebagai makanan mikroorganisme untuk mempercepat pengomposan, dan abu dapur untuk menambah unsur Ca, K dan Mg serta untuk menetralkan pH. Lalu diukur suhu awal dan pH awal, suhu awal pengomposan yaitu   30 oC dan pH 6,5. Kompos awal tersebut lalu diletakkan di tepat terlindung dari cahaya matahari langsung dan hujan agar tidak menganggu proses pengomposan. Selama proses pengomposan dilakukan pengamatan rutin dengan variabel yang diamati berupa suhu, pH, kelembaban, bau dan warna.

Berikut tabel data pengamatan rutin yang saya lakukan :

Tgl

Variabel yang diamati

Perlakuan

Suhu

pH

Kelembaban

Bau

Warna

1 Nov 09

(mg ke 0)

30 oC

6,5

Cukup

Berbau

Coklat kehijau- hijauan Kompos yang baru dibuat diletakkan di tempat terlindung cahaya matahari langsung dan air hujan

8 Nov 09

(mg ke 1)

37 oC

6,5

Kurang

Berbau

Coklat

Dilakukan penyiraman agar lebih lembab

15 Nov 09

(mg ke 2)

40 oC

7,0

Cukup

Berbau

Coklat

Dilakukan penyiraman dan pembalikan untuk meratakan pengomposan

22 Nov 09

(mg ke 3)

45 oC

7,0

Cukup

Tidak berbau

Coklat agak tua

Tidak ditambah air karena kelembaban cukup

29 Nov 09

(mg ke 4)

50 oC

7,0

Kurang

Tidak berbau

Coklat tua

Dilakukan penyiraman untuk menjaga kelembaban serta  pembalikan untuk membuang panas yang berlebihan dan memasukkan udara segar ke tumpukan

6 Des 09

(mg ke 5)

43 oC

6,5

Cukup

Tidak berbau

Coklat tua

Suhu melai menurun menandakan kompos hampir matang

13 Des 09

(mg ke 6)

37 oC

6,5

Cukup

Tidak berbau

Coklat tua

Suhu kompos mulai menurun dan stabil, pH cukup netral, sudah tidak berbau, warna coklat tua, bentuk remah walaupun tidak semua terdekomposisi dengan baik. Menunjukkan kompos telah matang dan siap diayak.

Setelah yakin kompos matang, dilakukan pengayakan pada tanggal 15 Desember 2009 untuk mendapatkan partikel yang sama, memisahkan dari partikel kompos yang belum terdekomposisi, dan memisahkan kotoran-kotoran yang ada. Hasil dari pengayakan didapatkan kompos yang siap dikemas sebanyak 11 kg dari semua bahan kompos awal sebanyak ± 20kg. hal ini menunjukkan adanya penyusutan disamping memang ada bahan yang belum terdekomposisi dengan baik terutama kotoran sapi dan kambing. Menurut literatur (Sutedjo, 2002) kotoran sapi tergolong pupuk dingin dimana perubahan-perubahan dalam menyediakan unsur hara tersedia bagi tanaman berlangsung perlahan-lahan, oleh karena itu proses dekomposisinya juga berlangsung relatif lama. Kompos yang sudah diayak lalu dikemas dalam plastik kedap air dan di press agar lebih rapi di UPT Kompos Tanah Universitas Brawijaya pada tanggal 12 Januari 2010. Setelah di press kompos lalu diberi label sebagai informasi tentang kandungan dan aturan pakai pupuk kompos yang telah saya buat.

v  Keunggulan KOSAMBIRAMPISTA (kualitas)

1. Kandungan unsur  hara tinggi dan relatif lengkap

KOSAMBIRAMPISTA yaitu berasal dari bahan-bahan yang mengandung unsur hara esensial  tinggi bagi tanaman, unsur hara Nitrogen didapat dari kotoran sapi dan kayu apu (Pistia stratiotes L.), unsur hara Phosfor didapat dari daun paitan, unsur hara Kalium didapat dari kotoran kambing dan jerami padi. Selain itu dari kesemua bahan juga terdapat kandungan N,P, K, Ca, Mg, S walaupun dalam prosentase kecil, serta mengandung unsur-unsur mikro seperti Zn, Cu, Mo, Co, B, Mn, dan Fe.

2. Baik untuk memperbaiki sifat fisik, kimia, dan biologi tanah

KOSAMBIRAMPISTA berasal dari campuran kotoran sapi dan kambing serta jerami padi yang baik untuk memperbaiki sifat fisik tanah berupa memperbaiki struktur dan agregat tanah agar lebih subur dan gembur, memperbaiki sifat kimia tanah dengan penyediaan unsur hara sebagai zat makanan bagi tanaman, meningkatkan nilai kapasitas tukar Kation (KTK), dapat membentuk senyawa kompleks dengan ion logam seperti Al, Fe, dan Mn, sehingga logam tersebut tidak meracuni tanaman, serta memperbaiki sifat biologi tanah sebagai sumber energy, sumber bahan organik dan makanan bagi mikroba dan mesofauna tanah.

ü Uji perkecambahan / uji kualitas kompos jadi

Untuk mengetahui kualitas kompos, juga dilakukan uji perkecambahan dengan biji jagung karena jagung merupakan tanaman indicator. Uji perkecambahan dilakukan dengan menyiapkan 5 media tanam dalam polybag, media tanam pertama terdiri dari tanah saja tanpa campuran kompos, media tanam ke dua terdiri dari campuran tanah dan kompos dengan perbandingan 2:1, media tanam ke tiga terdiri dari campuran tanah dan kompos dengan perbandingan 1:1, media tanam ke empat terdiri dari campuran tanah dan kompos dengan perbandingan 1:2, dan media tanam ke lima terdiri dari kompos saja tanpa campuran tanah.

Setelah media siap, tanamkan 8 biji jagung dalam tiap polybag. Setelah satu minggu pengamatan, diketahui bahwa prosentase perkecambahan biji jagung di tiap polybag yaitu sebagai berikut :

Media tanam

Tanah saja

T : K

2:1

T : K

1:1

T : K

1:2

Kompos saja

Biji tumbuh

8

7

7

5

3

Biji tidak tumbuh

0

1

1

3

5

Prosentase biji tumbuh

100%

87,5%

87,5%

62,5%

37,5%

Dari data tersebut diketahui perkecambahan paling baik yaitu pada media tanah saja, semua biji berkecambah dan tumbuh dengan baik. Perkecambahan paling sedikit yaitu pada media kompos saja dimana prosentasenya hanya sebesar 37,5% (hanya 3 biji dari 8 biji yang berkecambah), untuk media campuran tanah dan kompos baik dengan perbandingan 2:1 maupun 1:1 memiliki hasil prosentase perkecambahan yang sama yaitu sebesar 87,5%, untuk media tanah campuran kompos dengan perbandingan 1:2 prosentasenya sebesar 62,5%.

Dari hasil tersebut pada media tanah memiliki prosentase 100% semua biji bekecambah karena diduga tanah yang digunakan sudah memiliki unsur hara yang cukup sehingga biji jagung dapat berkecambah semua. Untuk media yang terdiri dari kompos saja menunjukkan perkecambahan paling sedikit karena kompos tersebut merupakan hasil dekomposisi dari kotoran kambing yang merupakna puupuk panas sehingga memiliki sifat panas, dan kurang baik jika langsung diaplikasikan pada tanaman tanpa campuran tanah sebagai media tanam. Untuk media tanam yang terdiri dari campuran tanah dan kompos, baik perbandingan 2:1 maupun 1:1 menunjukkan hasil yang sama prosentase perkecambahan 87,5%. Hal ini dikrenakan sifat panas dari kompos dapat ditekan oleh campuran tanah sehingga biji tetap dapat berkecambah dengan baik. Jika perbandingan kompos lebih banyak pada media tanam yaitu 1:2 hasilnya prosentase perkecambahan lebih sedikit karena sifat panas kompos yang masih mendominasi daripada campuran tanahnya.

Walaupun perkecambahan pada media tanah saja menunjukkan hasil yang paling baik namun untuk pertumbuhan tanaman selanjutnya, juga diperlukan tambahan unsur hara, tambahan bahan organik untuk  memperbaiki sifat fisik, kimia, dan biologi tanah. Maka dipelukan pula kompos yang dapat menyediakan itu semua. Dan perbandingan yang sesuai untuk media tanam yaitu dengan campuran tanah 2:1 maupun 1:1

v  Aturan Pemakaian

Dilihat dari uji perkecambahan terhadap biji jagung yang telah dilakukan, menjukkan media tanam dari tanah saja memiliki perosentase perkecambahan tertinggi sebesar 100%. Hanya saja untuk pertumbuhan selanjutnya dari tanaman tersebut memasuki fase vegetatif dan generatif tentu tanaman memerlukan tambahan unsur  hara, tambahan bahan organik tanah yang dapat memperbaiki sifat fisika, kimia, dan biologi tanah sehingga pertumbuhan tanaman dan produktifitas yang dihsilkan optimal. Oleh karena itu tetap diperlukan kompos sebagai pupuk organik yang baik untuk tanaman dan tidak merusak tanah di masa mendatang.

Aturan pemakaian KOSAMBIRAMPISTA yaitu campuran tanah dan kompos sebagai media tanam dengan perbandingan 2:1 untuk tanaman hias / tanaman dalam pot, perbandingan 1:1 untuk  tanaman sayuran seperti tomat, cabai, sawi, kucai, bayam, dll. Jika pemakaian kompos dalam lahan yang luas, misalnya untuk jagung atau palawija maka diperlukan 2 ton/ha diberikan saat tanam dengan dibenamkan di dekat lubang tanam.

KESIMPULAN

ü  Kompos merupakan hasil penguraian parsial/tidak lengkap dari campuran bahan-bahan organik yang dapat dipercepat secara artifisial oleh populasi berbagai macam mikroba dalam kondisi lingkungan yang hangat, lembab, dan aerobik atau anaerobik.

ü  Kompos sendiri dapat dibuat dari bahan-bahan organik seperti kotoran ternak baik kotoran sapi, kambing, ayam, kuda, kerbau dan sebagainya, sisa-sisa pertanian seperti hasil pangksasn sisa tanaman (tanaman kacang-kacangan/legum), jerami padi, sampah kota, sampah rumah tangga, sampah pasar, hijau-hijauan, dan limbah industri.

ü  KOSAMBIRAMPISTA  dibuat dari bahan yang mengandung unsur hara esensial baik makro dan mikro yaang terdiri dari campuran kotoran sapi, kotoran kambing, jerami padi, kayu apu (Pistia stratiotes L.) dan daun paitan.

ü  KOSAMBIRAMPISTA  diproses ± selama 2 bulan dari 1 November 2009 sampai 15 Desember 2009,  hasil ayakan kompos jadi yaitu 11 kg, pengemasan dilakukan pada tanggal 12 Januari 2010 di UPT Tanah Universitas Brawijayadengan kemasan plastik 5kg.

ü  Kompos yang telah matang ditandai dengan warnanya yang berubah menjadi  coklat kehitaman menyerupai tanah, tidak berbau, teksturnya menyerupai tanah (remah), suhu pupuk mendekati suhu ruang dari kenaikan suhu yang terjadi sebelumnya dan kelembaban kompos matang sekitar 30 %.

ü  Keunggulan KOSAMBIRAMPISTA yaitu dapat menyediakan unsur hara bagi tanaman dan dapat memperbaiki sifat fisik, kimia, serta biologi tanah.

ü  Uji perkecambahan terhadap biji jagung yang dilakukan menunjukkan prosentase perkecambahan tertinggi yaitu pada media tanah saja dan prosentase terendah yaitu pada kompos saja karena kompos bersifat panas dan kurang baik jika langsung diaplikasikan sebagai media tanam.

ü  Aturan pemakaian yang sesuai untuk tanaman yaitu campuran tanah dan kompos 2:1 untuk tanaman hias/tanaman dalam pot, 1:1 untuk tanaman sayur seperti tomat, cabai, sawi, kucai, bayam, dll, dan jika pemakaian dalam wilayah luas untuk tanaman jagung/palawija maka diperlukan 2 ton/ha, kompos diaplikasikan saat tanam dengan dibenamkan di dekat lubang tanam.

DAFTAR PUSTAKA

Anonymous, 2009. http://pdpasartohaga.wordpress.com/kajian-management-instalasi-pengolahan-sampah-organik-ipso/jerami-dapat-mensubstitusi-pupuk-KCl/. Diakses pada 26 Oktober 2009

Anonymous, 2009. http://agrisci.ugm.ac.id/vol12_2/3.103-116.Gulma%20Siam pa% 20dodik.pdf. Diakses pada 26 Oktober 2009

Anonymous, 2009. http://balittanah.litbang.deptan.go.id/dokumentasi/buku/pupuk3/ pupukhijau.pdf. Diakses pad 30 Oktober 2009

Bahar, F.A. dan Z. Abidin. 1992. Kepentingan pengelolaan gulma dalam pembangunan pertanian di Indonesia Bagian Timur. Makalah Utama Kongres dan Seminar Nasional HIGI XI. Ujung Pandang.

Djuarnani, Nan. 2005. Cara Cepat Membuat Kompos. PT. Agromedia Pustaka. Depok

Lingga, Pinus. 2006. Petunjuk Penggunaan Pupuk. Penebar Swadaya. Depok

Noor, A., A. Jumberi, dan R.D. Ningsih. 1996. Peranan pupuk organik dalam meningkatkan hasil padi gogo di lahan kering. hlm. 575-586. Dalam M. Sabran, H. Sutikno, A Supriyo, S. Raihan, dan S. Abdussamad (Ed.). Prosiding Seminar Teknologi Sistem Usahatani Lahan Rawa dan Lahan Kering. Balai Penelitian Tanaman Pangan Lahan Rawa, Banjarbaru.

Sutejo, Mul Mulyani. 2002. Pupuk dan Cara Pemupukan. PT. Rineka Cipta. Jakarta

 

 

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: