Agroekosistem

1. Apakah yang dimaksud dengan agroekosistem?

 Agroekosistem adalah sistem interaksi antara manusia dan lingkungan biofisik, sumber daya pedesaan dan pertanain guna meningkatkan kelangsungan hidup penduduknya. (Anonymous, 2010)

 Agroekosistem dapat diartikan pula sebagai suatu unit yang tersusun oleh semua organism di dalam areal pertanaman bersama-sama dengan keseluruhan kondisi lingkungan dan lingkungan yang telah dimodifikasi manusia lebih lanjut, yaitu pertanian, industri, tempat rekreasi, dan aktifitas sosial manusia yang lainnya. (Anonymous, 2010)

 Agroekosistem adalah manusia dengan sengaja merubah ekosistem alami dimana ia merupakan bagiannya, dengan menciptakan suatu ekosistem baru yang khusus dibuat untuk kepentingan pertanian. (Anonymous, 2010)

2. Sebutkan komponen agroekosistem!

Komponen Agroekosistem terdiri dari komponen biotik dan abiotik :

A. Komponen Biotik

a. Produsen Jasad-jasad hidup yang mampu menangkap energi matahari dan membentuk bahan-bahan yang mengandung energi (tumbuh-tumbuhan berklorofil hijau).

b. Konsumen Jasad-jasad hidup yang memakan tumbuh-tumbuhan dan atau hewan; mampu membentuk bahan-bahan organis yang lebih tinggi mutunya dari bahan yang dimakannya. Konsumen terbagi menjadi herbivora, karnivora, omnivora.

c. Decomposer Jasad-jasad hidup (mikrobia) yang dapat mengurai sisa-sisa dari jasad hidup yang mati (proses mineralisasi)

d. Tanaman atau vegetasi Tanaman dalam agroekosistem berfungsi sebagai produsen atau unsur/ komponen yang diusahakan oleh manusia untuk budidaya.

e. Hewan Hewan sebagai penyeimbang atau pendukung komponen-komponen dalam agroekosistem. Contoh : cacing membantu menyuburkan tanah.

B. Komponen Abiotik

a. Air Tak kurang dari 50% penyusun tubuh organisme terdiri atas air. Oleh sebab itu air merupakan salah satu komponen abiotik yang sangat menentukan kelangsungan hidup organisme. Kalau kita perhatikan berbagai daerah di sekitar kita maka ada daerah yang kaya akan air, tapi ada pula daerah kering. Perbedaan keadaan tersebut menyebabkan cara adaptasi organisme berbeda-beda. Organisme yang hidup pada daerah kurang air/kering memiliki cara untuk mendapatkan air serta menghemat air.

b. Udara Gas-gas di atmosfer ini di samping sebagai selimut bumi, juga sebagai sumber berbagai unsur zat tertentu, seperti oksigen, karbon dioksida, nitrogen, dan hidrogen. Udara juga merupakan komponen utama tanah, tanah yang cukup pori atau rongganya akan baik pertukaran udara atau aerasinya. Tanah yang baik aerasinya akan baik proses mineralisasinya.

c. Suhu Setiap makhluk hidup memerlukan suhu lingkungan tertentu. Hal ini dapat diterima oleh akal kita karena pada setiap tubuh makhluk hidup akan berlangsung proses kimia. Semua makhluk hidup dimanapun berada selalu menghindari suhu lingkungan yang terlalu tinggi, dan terlalu rendah, tetapi selalu berusaha untuk mendapatkan suhu lingkungan yang optimum.

d. Tanah Tanah merupakan komponen sumberdaya alam yang mencakup semua bagian padat di atas permukaan bumi, termasuk semua yang ada di atas dan didalamnya yang terbentuk dari bahan induk yang dipengaruhi oleh kinerja iklim, jasad hidup, dan relief setempat dalam waktu tertentu. Dalam satu toposekuen akan dijumpai berbagai jenis tanah, sebagai akibat adanya perbedaan bahan induk, iklim, topografi dan penggunaan lahan (Hardjowigeno, 2003).

e. Cahaya Cahaya matahari merupakan komponen abiotik yang berfungsi sebagai sumber energi primer bagi ekosistem. Keberadannya mampu mempengaruhi dan mengontrol organisme yang ada pada suatu ekosistem.

f. Salinitas Salinitas berhubungan erat dengan pH tanah. Jika pH tanah semakin tinggi maka akan menghambat proses pertumbuhan tanaman. Karena ada beberapa tanaman yang tidak cocok dengan pH yang tinggi. (Anonymous, 2010)

3. Masalah apa sajakah yang dihadapi dalam suatu agroekosistem saat ini!

 Degradasi lahan

Degradasi lahan kering selama ini lebih tersorot pada kekeliruan pembukaan dan pengelolaan lahan oleh perladangan berpindah. Sistem pembukaan lahan dengan cara tebas-bakar (slash and burn) dan biasanya terletak pada lahan yang miring akan mengawali terjadinya erosi. Kebiasaan membakar kayu dan ranting sisa pembukaan lahan biasanya diteruskan oleh petani dengan membakar sisa tanaman. Bila pembakaran dilakukan hanya sekali saja waktu pembukaan lahan tidak akan banyak merusak tanah, tetapi pembakaran yang dilakukan berulang-ulang setiap musim akan lekas menurunkan kadar bahan organik tanah yang akhirnya menurunkan produktivitas tanah. Pembakaran sisa-sisa tanaman tiap tahun akan mempercepat proses pencucian dan pemiskinan tanah. Merosotnya kadar bahan organik tanah akan memperburuk sifat fisik dan kimia tanah. Struktur tanah menjadi tidak stabil, bila terjadi hujan maka pukulan butir hujan akan cepat menghancurkan agregat tanah, dan partikel-partikel tanah yang halus akan mengisi ruang pori. Terisinya ruang pori oleh partikel tanah menyebabkan turunnya kapasitas infiltrasi tanah dan meningkatkan aliran permukaan dan mempercepat laju erosi tanah. Hilangnya lapisan atas tanah karena erosi menyebabkan produktivitas lahan menurun, dan karena akan muncul horizon B yang kadar bahan organiknya rendah maka tanah akan terdegradasi. (Anonymous, 2010)

 Kerusakan Tubuh Tanah

Tanah sebagai suatu sistem dinamis, selalu mengalami perubahan-perubahan, yaitu perubahan segi fisik, kimia ataupun biologi tanahnya. Perubahan-perubahan ini terutama karena pengaruh berbagia unsur iklim, tetapi tidak sedikit pula yang dipercepat oleh tindakan atau perlakuan manusia. Kerusakan tubuh tanah yang diakibatkan berlangsungnya perubahan-perubahan yang berlebihan misalnya kerusakan dengna lenyapnya lapisan olah tanah yang dikenal dengan nama erosi. ( Mulyani, 2005) Erosi adalah terangkutnya atau terkikisnya tanah atau bagian tanah ke tempat lain. Meningkatnya erosi dapat diakibatkan oleh hilangnya vegetasi penutup tanah dan kegiatan pertanian yang tidak mengindahkan kaidah konservasi tanah. Erosi tersebut umumnya mengakibatkan hilangnya tanah lapisan atas yang subur dan baik untuk pertumbuhan tanaman. Oleh sebab itu erosi mengakibatkan terjadinya kemunduran sifat-sifat fisik dan kimia tanah. Erosi merupakan penyebab utama kerusakan lahan dan lingkungan. Permasalahan degradasi lahan dan beratnya erosi disebabkan oleh 1) curah hujan yang mempunyai nilai erosivitas tinggi, 2) tanah peka erosi, 3) kemiringan lereng melebihi batas kemampuan lahan untuk tanaman pangan, 4) cara pengelolaan tanah dan tanaman yang salah termasuk kebiasaan membakar dan cara pembukaan lahan yang salah, dan 5) tindakan konservasi lahan yang belum memadai. Faktor lain yang mempercepat kerusakan lahan yaitu merosotnya kadar bahan organik karena pembakaran sisa tanaman dan pencucian hara. Erosi berlangsung secara alamiah yang kemudian berlangsungnya itu dipercepat oleh beberapa tindakan atau perlakuan manusia terhadap tanah dan tanaman yang tumbuh di atasnya. Pada erosi alamiah tidak menimbulkan malapetaka bagi kehidupan manusia atau keseimbangan lingkungan, karena dalam peristiwa ini banyaknya tanah yang terangkut seimbang dengan pembentukan tanah, sedang erosi yang dipercepat (accelerated erotion) sudah dapat dipastikan banyak menimbulkan kerugian kepada manusia seperti : bencana banjir, kekeringan, turunnya produktivitas tanah, longsor, dll. Pada peristiwa erosi yang dipercepat volume penghanyutan tanah adalah lebih besar dibandingkan dengan pembentukan tanah, sehingga penipisan lapisan tanah akan berlangsung terus yang pada akhirnya dapat melenyapkan atau terangkut habisnya lapisan tersebut. ( Mulyani, 2005)

 Dampak Pemupukan yang Berlebihan

Pemupukan dilakukan untuk memberikan zat makanan yang optimal kepada tanaman, agar tanaman dapat memberikan hasil yang cukup. Pemupukan dan pupuk buatan dapat menyebabkan tanah menjadi asam (pH tanah menurun). Jika tanah menjadi asam, produktivitas tanaman pertanian akan merosot. Selain itu, unsur nitrogen yang terkandug di dalam pupuk dapat menyebabkan terbentuknya larutan nitrit di dalam tanah. Larutan nitrit itu dapat meresap ke dalam sumur penduduk yang berdekatan. Pemupukan yang berlebihan dan larut ke dalam air juga dapat menyebabkan meningkatkan kesuburan sungai (eutrofikasi). Ganggang dan tumbuhan sungai, misalnya eceng gondok, tumbuh dengan subur. Akibatnya hewan-hewan air akan kekurangan oksigen sehingga mengalami kematian. Selain itu, meningkatnya kesuburan tumbuhan air dapat menyebabkan terjadinya pendangkalan pada waduk dan bendungan. (Anonymous, 2010)

 Lahan pertanian terbatas/semakin sempit

Dalam suatu agroekosistem, khusunya yang diolah sedemikian rupa untuk memenuhi kebutuhan penduduknya (pertanian) pasti membutuhkan lahan untuk mengelola sumber daya yang ada. Namun, akibat dari pertambahan penduduk yang makin meningkat dari tahun ke tahun mengakibatkan penggunaan lahan untuk pemukiman dan industri semakin besar sehingga lahan yang dulunya sebagai lahan pertanian menjadi semakin sempit. Dan lagi lahan pertanian di Indonesia banyak pula yang belum benar-benar dimanfaatkan untuk pertanian karena lahan tersebut berupa lahan kritis dan gambut yang memerlukan perlakuan dan penanganan lebih apabila dijadikan lahan untuk pertanian. Untuk lahan-lahan kritis, gambut, serta tanah kosong yang tidak dimanfaatkan akhirnya dialihfungsikan untuk daerah pemukiman maupun industri. (Anonymous, 2010)

 Ketergantungan Petani terhadap Pestisida, Pupuk Anorganik dan Varietas Unggul

Akibat petani yang mengintensifkan penggunaan pestisida untuk menanggulangi serangan hama dan penyakit pada tanaman yang dibudidayakannya, petani tersebut memiliki ketergantungan terhadap pestisida, karena minimnya pengetahuan petani untuk memanfaatkan pestisida nabati yang aman serta memanfaatkan musuh alami sesuai program PHT. Petani pada masa Revolusi Hijau lebih mempercayakan pestisida untuk memberantas hama dan penyakit yang menyerang karena pestisida tersebut bekerja efektif dan langsung ke sasarannya. Begitupula dengan ketersediaan pupuk anorganik untuk meningkatkan produksi pertanian, petani selalu melakukan pemupukan intensif dengan pupuk anorganik bahkan terkesan berlebihan sehingga dalam usahataninya petani sangat bergantung kepada ketersediaan pupuk anorganik. Varietas unggul pun diperlukan sebagai modal untuk menghasilkan produksi yang tinggi pada masa Revolusi Hijau sehingga tanpa varietas yang unggul, petani merasa produksinya akan menurun dan tidak dapat menutupi biaya produksi sehingga petani mengalami kerugian. (Anonymous, 2010)

 Munculnya Ketahanan (Resistensi) Hama terhadap Pestisida

Timbulnya ketahanan hama terhadap pemberian pestisida yang terus menerus, merupakan fenomena dan konsekuensi ekologis yang umum dan logis. Munculnya resistensi adalah sebagai reaksi evolusi menghadapi suatu tekanan (strees). Karena hama terus menerus mendapat tekanan oleh pestisida, maka melalui proses seleksi alami, spesies hama mampu membentuk strain baru yang lebih tahan terhadap pestisida tertentu yang digunakan petani. Pada tahun 1947, dua tahun setelah penggunaan pestisida DDT, diketahui muncul strain serangga yang resisten terhadap DDT. Saat ini, telah didata lebih dari 500 spesies serangga hama telah resisten terhadap berbagai jenis kelompok insektisida. (Anonymous, 2010)

 Resurgensi Hama

Peristiwa resurgensi hama terjadi apabila setelah diperlakukan aplikasi pestisida, populasi hama menurun dengan cepat dan secara tiba-tiba justru meningkat lebih tinggi dari jenjang polulasi sebelumnya. Resurgensi sangat mengurangi efektivitas dan efesiensi pengendalian dengan pestisida. Resurjensi hama terjadi karena pestisida, sebagai racun yang berspektrum luas, juga membunuh musuh alami. Musuh alami yang terhindar dan bertahan terhadap penyemprotan pestisida, sering kali mati kelaparan karena populasi mangsa untuk sementara waktu terlalu sedikit, sehingga tidak tersedia makanan dalam jumlah cukup. Kondisi demikian terkadang menyebabkan musuh alami beremigrasi untuk mempertahankan hidup. Disisi lain, serangga hama akan berada pada kondisi yang lebih baik dari sebelumnya. Sumber makanan tersedia dalam jumlah cukup dan pengendali alami sebagai pembatas pertumbuhan populasi menjadi tidak berfungsi. Akibatnya populasi hama meningkat tajam segera setelah penyemprotan. (Anonymous, 2010)

 Ledakan Populasi Hama Sekunder

Dalam ekosistem pertanian, diketahui terdapat beberapa hama utama dan banyak hama-hama kedua atau hama sekunder. Umumnya tujuan penggunaan pestisida adalah untuk mengendalikan hama utama yang paling merusak. Peristiwa ledakan hama sekunder terjadi, apabila setelah perlakuan pestisida menghasilkan penurunan populasi hama utama, tetapi kemudian terjadi peningkatan populasi pada spesies yang sebelumnya bukan hama utama, sampai tingkat yang merusak. Ledakan ini seringkali disebabkan oleh terbunuhnya musuh alami, akibat penggunaan pestisida yang berspektrum luas. Pestisida tersebut tidak hanya membunuh hama utama yang menjadi sasaran, tetapi juga membunuh serangga berguna, yang dalam keadaan normal secara alamiah efektif mengendalikan populasi hama sekunder. Peristiwa terjadinya ledakan populasi hama sekunder di Indonesia, dilaporkan pernah terjadi ledakan hama ganjur di hamparan persawahan Jalur Pantura Jawa Barat, setelah daerah tersebut disemprot intensif pestisida Dimecron dari udara untuk memberantas hama utama penggerek padi kuning Scirpophaga incertulas. Penelitian dirumah kaca membuktikan, dengan menyemprotkan Dimecron pada tanaman padi muda, hama ganjur dapat berkembang dengan baik, karena parasitoidnya terbunuh. Munculnya hama wereng coklat Nilaparvata lugens setelah tahun 1973 mengganti kedudukan hama penggerek batang padi sebagai hama utama di Indonesia, mungkin disebabkan penggunaan pestisida golongan khlor secara intensif untuk mengendalikan hama sundep dan weluk. (Anonymous, 2010)

PERMASALAHAN SEPUTAR PERUBAHAN IKLIM

Perubahan iklim adalah perubahan variabel iklim, khususnya suhu udara dan curah hujan yang terjadi secara berangsur-angsur dalam jangka waktu panjang (50-100 tahun) dan disebabkan oleh kegiatan manusia, terutama yang berkaitan dengan pemakaian bahan bakar fosil dan alih-guna lahan. Pertanian Konvensional Menyumbang Terjadinya Perubahan Iklim Pertanian konvensional yang intensif (baik dari sisi pemakaian mesin pertanian atau luas lahan) memicu penebangan hutan untuk membuka lahan. Gundulnya hutan berarti hilangnya bahan organik dari tanah. Padahal bahan organik berperan mengikat air dan menahan laju penguapan. Tak heran lebih banyak terjadi kekeringan. Berkurangnya jumlah vegetasi juga menurunkan kelembapan udara dan meningkatkan suhu udara. Produksi pupuk dan pestisida kimia yang dipakai pertanian konvensional juga menghasilkan gas rumah kaca yang merupakan salah satu pemicu terjadinya perubahan iklim. Sementara aplikasinya pada lahan telah menurunkan kesuburan dan menyebabkan erosi tanah. Fenomena Perubahan Iklim Terkait Pertanian Pertama, pergeseran atau perubahan pola musim. Kini di hampir seluruh wilayah Indonesia, batas musim hujanbdan kemarau tak lagi jelas. Secara perlahan pergeseran ini mulai mengubah pola tanam. Ini khususnya dirasakan daerah pertanian tadah hujan. Jika saat semai tak tepat, bisa jadi benih tak akan tumbuh karena kekurangan air. pergeseran musim hujan dan kemarau memengaruhi proses pembungaan tanaman. Ini bisa mengurangi hasil panen dan ketersediaan benih untuk musim tanam berikutnya. Kedua, terjadinya kenaikan suhu. Laporan terakhir dari Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC) menyebutkan bahwa dalam satu abad terakhir terjadi kenaikan rata-rata suhu dunia sebesar 0,76° C. Diprediksikan, tahun 2050 akan terjadi kenaikan sebesar 2° C. Kondisi ini menyebabkan banyak sumber air di pegunungan yang mengairi sungai-sungai mengering. Kenaikan suhu juga menjadi ancaman serius bagi petani, terkait dengan pola penyebaran hama dan penyakit. Karena kondisi lingkungan menghangat, ada beberapa hama dan penyakit yang tadinya bukan ancaman serius bagi pertanian, berubah menjadi sangat merusak. Hal sebaliknya juga bisa terjadi. Hama penyakit yang dahulu ganas bisa berkurang serangannya karena perubahan suhu. Ketiga, kekeringan berkepanjangan yang makin banyak terjadi. Kian menipisnya ketersediaan air ini disebabkan oleh peningkatan evaporasi dan evapotranspirasi akibat peningkatan suhu udara dan hilangnya vegetasi penutup tanah. Selain itu juga disebabkan oleh curah hujan yang makin sedikit. Belakangan banyak terjadi ketidakseimbangan jumlah air di musim kemarau dan musim hujan. Masyarakat mengalami kekurangan air di musim kemarau dan kebanjiran di musim hujan. Banjir dan kekeringan juga menyebabkan kegagalan panen.

4. Bagaimana mengelola/solusi dari permasalahan agroekosistem tersebut!

Konservasi lahan dengan penerapan Tanpa Olah Tanah (zero tillage) atau pengolahan tanah minimum (minimum tillage) dalam rangka pengawetan tanah Tidak mencuci peralatan penyemprot pestisida di sungai atau di dekat sumur agar tidak mencemari sungai atau sumur penduduk. Cucilah peralatan di tempat khusus dan limbahnya dibuang secara khusus pula (misal dibuatkan lubang yang jauh dari pemukiman). Tidak membuang sisa obat di sembarang tempat. Buanglah sisa obat di tempat khusus yang tidak mencemari sungai atau sumur penduduk. Mengurangi penggunaan pestisida dengan memberantas hama secara mekanik (misal ditangkap, kemudian dimatikan), dan secara biologis (misal menggunakan serangga predator). Pemberantasan secara biologis dengan serangga atau hewan predator dimaksudkan agar hewan predator yang dilepaskan di lingkungan memangsa hama tanaman. Serangga predator dipelihara terlebih dahulu, dikembangbiakkan, kemudian dilepaskan di sawah atau perkebunan. Menggunakan pestisida hayati yang aman bagi kesehatan petani, konsumen dan lingkungan pertanian Menerapkan Pengendalian Hama Terpadu (PHT) dengan 4 prinsip yaitu : (a) budidaya tanaman sehat (b) pelestarian musuh alami (c) pengamatan agroekosistem secara rutin, dan (d) petani menjadi ahli PHT dan manajer di kebunnya Menerapkan sistem pertanain berkelanjutan serta pertanian berwawasan lingkungan yang tidak hanya mementingkan faktor keuntungan dalam melakukan usahatani/budidaya dalam suatu agroekosistem tetapi memperhatikan pula faktor sosial, ekonomi dan lingkungan.

DAFTAR PUSTAKA

Anonymous. 2010. http://id.wikipedia.org wiki Permasalahan Agroekosistem. Diakses pada 10 Maret 2010

Anonymous. 2010. http://dinamuthmainnah.blogspot.com/2009/12/pencemaran-dan-kerusakan-lingkungan.html. Diakses pada 10 Maret 2010

Anonymous. 2010. http://www.stppgowa.ac.id/index.php?option=com_content&view= article&id=85:perilaku-manusia-dalam-agroekosistem&catid=28:penyuluhan-pertanian&Itemid=73. Diakses pada 10 Maret 2010

Anonymous. 2010. http://usitani.wordpress.com/2009/02/26/dampak-negatif-penggunaan-pestisida/. Diakses pada 10 Maret 2010

Anonymous. 2010. http://www.soil.faperta.ugm.ac.id/tj/1981/1987%20ekot.pdf. Diakses pada 10 Maret 2010

Anonymous. 2010. http://www.rudyct.com/PPS702-ipb/09145/diny_dinarti.pdf. Diakses pada 10 Maret 2010 Anonymous. 2010. http://fp.uns.ac.id/~hamasains/BAB%20VIIIdasgro.htm. Diakses pada 10 Maret 2010

Hardjowigeno, Sarwono. 2003. Ilmu Tanah. Akademika Pressindo. Jakarta Mulyani, Sutedjo. 2005. Pengantar Ilmu Tanah. PT. Rineka Cipta. Jakarta

About these ads

2 Comments »

  1. Wow that was strange. I just wrote an really long comment
    but after I clicked submit my comment didn’t appear. Grrrr… well I’m not writing all that over again.
    Anyways, just wanted to say excellent blog!

    • sorry to hear that. maybe your internet connection was wrong, please try again if you want :)


{ RSS feed for comments on this post} · { TrackBack URI }

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: