Home » Pertanian » Unsur-Unsur Pokok Usaha Tani

Unsur-Unsur Pokok Usaha Tani

DISUSUN OLEH :

KELOMPOK 2

  1. R. Nurieke Adistya A.       ( 0810480075 )
  2. Rayza Chairuddin              ( 0810480077 )
  3. Rb. Moh. Nurul Anwar     ( 0810480078 )
  4. Retik Puji Ayu Sanjaya     ( 0810480079 )
  5. Reza Ardian Wahyu R.      ( 0810480080 )
  6. Reza Prakoso D.J.             ( 0810480081 )
  7. Rini Setyawati                             ( 0810480083 )
  8. Rizal Raditya Putra           ( 0810480084 )
  9. Rizki Ramadhani               ( 0810480085 )
  10. Rizky Rachmadi U.            ( 0810480086 )

PENDAHULUAN

Ilmu usahatani merupakan cabang ilmu pertanian. Pengertinan usahatani telah didefinisikan oleh beberapa ahli ekonomi pertanian. Pengertian usahatani menurut Mubiyarto ( 1987 ) adalah lebih ke pertanian rakyat.

Mosher ( 1968 ) mengartikan usahatani sebagai himpunan dari sumber-sumber alam yang ada di tempat itu yang diperlukan untuk produksi pertanian seperti tanah dan air, perbaikan – perbaikan yang dilakukan atas tanah itu, sinar matahari, bangunan – bangunan yang didirikan di atas tanah itu dan sebagainya.

Menurut Soekartawi ( 1995 ) usahatani merupakan ilmu yang mempelajari bagaimana seorang petani mengalokasikan sumber daya yang ada secara efektif dan efisien untuk memperoleh keuntungan yang tinggi pada waktu tertentu.

Ditinjau dari beberapa pengertian di atas tentunya ilmu usahatani sangat penting dalam ilmu pertanian. Dan untuk memaksimalkan dalam pengelolaan usahatani itu sendiri diperlukan unsur-unsur pokok yang merupakan faktor – faktor utama dalam usahatani. Unsur – unsur pokok tersebut sering disebut faktor produksi ( input ). Proses produksi pertanian adalah proses yang mengkombinasikan faktor – faktor produksi pertanian untuk menghasilkan produksi pertanian ( output ).

Soekartawi ( 1987 ) menjelaskan bahwa tersedianya sarana atau faktor produksi       (input) belum berarti produktifitas yang diperoleh petani akan tinggi. Namun bagaiman petani melakukan usahanya secara efisien adalah upaya yang sangat penting. Efisiensi teknis akan tercapai bila petani mampu mengalokasikan faktor produksi sedemikian rupa sehingga produksi tinggi tercapai. Bila petani mendapat keuntungan besar dalam usahataninnya dikatakan bahwa alokasi faktor produksi efisien secara alokatif. Cara ini dapat ditempuh dengan membeli faktor produksi pada harga murah dan menjual hasil pada harga relatif tinggi. Bila petani mampu meningkatkan produksinya dengan harga sarana produksi dapat ditekan tetapi harga jual tinggi, maka petani tersebut melakukan efisiensi teknis dan efisiensi harga atau melakukan efisiensi ekonomi.

PEMBAHASAN

1. Faktor – Faktor Produksi

1. Faktor Produksi lahan / Tanah

Tanah merupakan salah satu faktor produksi utama dalam usaha tani. Tanah mempunyai sifat luasnya relatif tetap namun permintaannya terus berkembang.hal ini menyebabkan harga tanah terus meningkat dari waktu ke waktu. Peningkatan Permintaan akan tanah tersebut akan menggeser fungsi lahan ke arah aktiviitas lebih menguntungkan. Hal ini menyebabkan terjadinya alih fungsi lahan pertanian ke penggunaan lainnya seperti untuk pemukiman industri dan jasa.untuk itulah diperlukan peran serta pemerintah untuk mengatur dan membuat kebijakan tentang pertanahan.

Dalam proses produksi pertanian, tanah sebagai salah satu faktor produksi utama dan merupakan sumber daya alam yang bersifat dapat diperbaharui, artinya keberadaan tanah yang jumlahnya relatif tetap tersebut bisa dimanfaatkan untuk proses produksi pertanian dengan tetap melakukan konservasi terhadap kesuburan tanahnya. Tanah sebagai sumberdaya alam dengan fungsinya yang jamak adalah unsur dan tumpuan harapan utama bagi kehidupan maupun kelangsungan hidup umat manusia. Tidak ada satu segi kehidupan manusia yang tidak berhubungan dengan tanah, baik secara langsung maupun tidak langsung.

Tanah sebagai harta produktif adalah bagian organis rumah tangga tani. Luas lahan usahatani menentukan pendapatan, taraf hidup, dan derajat kesejahteraan rumah tangga tani.

Pengenalan fisik terhadap tanah dilihat dari berbagai sisi akan membuka peluang perbedaan tanah. Kita mengenal tanah untuk sawah, tegalan, hutan, dan lain-lain. Perbedaan tataguna lahan itu juga akan berpengaruh terhadap pengelolaan usahatani. Untuk pengelolaan tanah, derajat kemiringan tanah akan menuntut perbedaan biaya untuk tanah seperti terasiring, penanaman tanaman perlindungan, dan lain-lain.

Setiap bagian petak tanah dapat ditetapkan yang terbaik untuk apa. Kriteria dasar yang dipakai adalah persyaratan optimal untuk berbagai jenis tanaman dan persyaratan positif dan negatif dari penggunaan untuk pertanian. Kemampuan tanah untuk pertanian penilaiannya didasarkan kepada:

  1. Kemampuan tanah untuk ditanami dengan berbagai jenis tanaman. Makin banyak tanaman makin baik.
  2. Kemampuan untuk berproduksi. Makin tinggi produksi per satuan luas makin baik.
  3. Kemampuan untuk berproduksi secara lestari, makin sedikit pengawetan tanah makin baik.

Kelas kemampuan tanah dibedakan dalam 8 kelas. Faktor pokok yang menentukan kelas kemampuan tanah tersebut meliputi:

  1. Lereng
  2. Drainase
  3. Kedalaman tanah
  4. Tekstur bawah
  5. Konselerasi/derajat kelembaban
  6. Permeabilitas
  7. Resiko kebanjiran

Apabila tanah usahatani dipetakan dan dihubungkan dengan kelas kemampuannya, petani akan dengan mudah melakukan tindakan dalam mengolah tanah yang dikuasainya.

2. Faktor Produksi Tenaga Kerja

Tenaga kerja adalah energi yang di curahkan dalam suatu proses kegiatan untuk menghasilkan suatu produk. Petani adalah setiap orang yang melakukan usaha untuk memenuhi semua kebutuhan hidupnya dalam bidang pertanian. Petani mempunyai banyak fungsi dan kedudukan atas perannya:

a.  Petani sebagai pribadi

Sebagai pribadi yang diciptakan oleh Tuhan YME, petani juga manusia yang punya perasaan, cita-cita, dan kehendak untuk dihargai dan diakui oleh sesamanya. Petani sebagai pribadi sadar bahwa ia tidak sendiri di dunia ini. Ia mempunyai kepercayaan, keyakinan, serta kemampuan diri yang baka dalam dirinya, ataupun yang diperoleh selama kekayaan yang perlu dikenali oleh petani sebagai pribadi untuk dapat digerakkan dalam memainkan peran yang jamak, termasuk sebagai pengelola usahatani.

b.  Petani sebagai kepala keluarga

Sebagai kepala keluarga (bagi petani yang sudah menikah), petani harus bertanggung jawab terhadap pemenuhan kesejahteraan seluruh anggota keluarganya. Ini merupakan tugas yang cukup berat. Biasanya anggota keluarga lain membantu dalam mencari pertambahan nafkah dan dalam proses usahatani itu sendiri.

Dalam kondisi ini, petani perlu mengetahui total kebutuhan keluarga per tahun dan perinciannya per bulan bahkan per hari. Hal ini penting untuk dapat dijadikan dasar dalam menentukan pengelolaan usahataninya. Setidak-tidaknya untuk sasaran pemenuhan kebutuhannya.

Di bagian ini, petani harus mampu menghitung potensi tenaga yang tersedia di dalam keluarga, serta berapa yang telah digunakan secara riil. Hal ini penting agar mampu mengorganisir faktor kerja sebagai salah satu unsur usahatani.

c.  Petani sebagai guru

Petani sebagian besar masuk di dalam kelompok tani. Dalam kelompok ini berkembang sistem belajar diantara petani. Petani yang maju menjadi guru, tempat bertanya dari petani yang lain.

d.  Petani sebagai pengelola usaha tani

Dalam fungsi ini, petani berguna sebagai pengambil keputusan dalam mengorganisisr faktor-faktor produksi yang sesuai dengan pilihannya dari beberapa kebijakan produksi yang diketahui. Kebanyakan petani bukan memilih alternatif terbaik karena keterbatasan sumber yang dikusai, tetapi telah memilih selamat dan tidak menanggung resiko sebagai akibat salah dalam pengambilan keputusan.

e.  Petani sebagai warga sosial

Sebagai makhluk Tuhan, manusia petani tidak dapat hidup sendiri. Ia berkelompok di dalam keluarga, keluarga besar dan di masyarakat.  Sebagai pribadi, petani yang bermasyarakat akan loyal terhadap aturan bermasyarakat. Tetapi, bila loyalitas itu mundur, maka sangsi masyarakat akan berlaku. Hal itu biasanya, justru sangat ditakuti oleh warga kelompok, termasuk petani. Ada semacam keterikatan yang diberikan oleh kelompok dalam sistem masyarakat tersebut. Dari keduanya, antara petani dan masyarakat terdapat arus bolak balik antara keterikatan kelompok dengan integrasi (pembauran).

f.  Petani sebagai warga negara

Petani pribadi menyerahkan kekuasaannya kepada pemerintah Indonesia, melalui tatanan yang terendah (desa/RT/RW). Bukti penyerahan kekuasaan itu terwujud dalam pengakuan, seperti ikut pemilihan kepala desa, pemilu, diberikan KTP, dan lain-lain. Ada arus timbal balik dan keterikatan antara kekuasaan dan keterikatan.

Dalam pertanian masa depan, diharapkan petani menjadi petani sejati yang menguasai hak untuk memiliki keragaman hayati, hak untuk melestarikan, mengembangkan, saling tukar dan jual benih dan hak untuk mendapatkan makanan yang aman dan menyelamatkan. Dalam banyak kasus, sistem pertanian mereka kini dan dulu merupakan bentuk bentuk pertanian ekologis yang lebih canggih dan tidak destruktif serta tepat bagi kondisi kondisi lingkungan yang khusus.

3. Faktor Produksi Modal

Modal sebagai salah satu faktor produksi bisa dibedakan kedalam: modal tetap dan modal lancar. Modal tetap terkait dengan modal yang tidak bisa di ubah dalam jangka pendek, diantaranya tanah , alat alat pertanian , bangunan dan sebagainya. Sedangkan modal lancar adalah modall yang bisa diubah dalam jangka pendek seperti bibit, pupuk , dan obat obatan , tenaga kerja , dan sebagainya. Pelaksanaan usaha tani memerlukan modal sehingga tidak terlepas dari masalah pendanaan dan manajemen keuangan.

Sumber pembentukan modal dapat berasal dari milik sendiri, kredit dari bank, kredit dari koperasi, warisan, dari usaha lain, dan kontrak sewa. Modal dari kontrak sewa di atur menurut jangka  waktu tertentu sampai peminjam dapat mengembalikan, sehingga angsuran menjadi dan di kuasai pemilik modal.

4. Faktor  produksi managemen

Pengelolaan usahatani adalah kemampuan petani dalam merencanakan mengorganisir, mengarahkan, mengkoordinasi dan mengawasi factor produksi yang dikuasai sehingga mampu memberikan produksi seperti yang diharapkan.

Petani di pedesaan, pada umumnya belum memiliki pembukuan secara individu atas usahataninya, namun petani yang tergabung dalam kelompok tani perencanaan usahatani sering dilakukan secara kelompok, walaupun petani belum memiliki pembukuan secara individu.

Walaupun petani belum memiliki pembukuan secara individu atas usahataninya, namun biasanya petani mempunyai ingatan cukup kuat dan mempunyai kemampuan dalam mengelola usahataninya. Hal ini diantaranya disebabkan usahatani yang dijalankannya sudah biasa dia lakukan dan sudah merupakan warisan secara turun-temurun terutama untuk tanaman pangan.

Seperti telah diketahui, bahwa usahatani terdiri dari subsistem-subsistem yang saling berkaitan untuk meningkatkan kualitas usahatani, maka kemampuan petani dalam mengelola usahatani perlu ditingkatkan. Artinya para petani perlu ditingkatkan pemahamannya dan kemampuannya agar lebih bisa mempunyai akses pasar, permodalan, informasi, akses kesarana produksi, bahkan akses ke pengolahan hasil pertanian. Perlu penciptaan nilai tambah produk pertanian yang bisa dinikmati oleh petani

Untuk mengembangkan system agribisnis ini sangat diperlukan peran serta pemerintah, baik pemerintah pusat maupun pemerintah daerah. Pengembangan usahatani kearah agribisnis memerlukan kemampuan manajemen usaha yang lebih baik.

STUDI KASUS PADA KOMODITAS PADI SRI DENGAN SISTEM ORGANIK

Dalam tataran umum, pertanian organik mengacu kepada prinsip-prinsip diantaranya meningkatkan dan menjaga kealamian lahan dan agro-ekosistem, menghindari eksploitasi berlebihan dan polusi terhadap sumber daya alam, meminimalisasi konsumsi dari energi dan sumber daya yang tidak dapat diperbaharui, menghasilkan nutrisi sehat dalam jumlah yang cukup, dan makanan berkualitas tinggi, memberikan pendapatan yang memadai dalam lingkungan kerja yang aman, selamat dan sehat, mengakui pengetahuan lokal dan sistem pertanian tradisional (kearifan lokal).

Dalam tataran praktis, pertanian organik mengacu kepada prinsip-prinsip diantaranya menjaga dan meningkatkan kesuburan jangka panjang dari tanah, memperkaya siklus bilogikal dalam pertanian, khususnya siklus makanan, memberikan pasokan nitrogen dengan penggunaan secara intensif tanaman yang memfiksasi nitrogen, perlindungan tanaman secara biologikal berdasarkan pada pencegahan daripada pengobatan, keragaman varietas tanaman dan spesies binatang, sesuai dengan kondisi lokal, penolakan pada pupuk kimia, pelindung tanaman, hormon dan pengatur tumbuh, pelarangan terhadap Rekayasa Genetika dan produknya, pelarangan dalam metoda bantuan pemrosesan dan kandungan yang berupa sintetis atau merugikan didalam pemrosesan makanan.

Kondisi alam, cuaca dan budaya masyarakat di Indonesia sangat mendukung sektor pertanian karena tanah Indonesia merupakan tanah yang sangat subur dan produktif sehingga pertanian memang cocok untuk terus dikembangkan. Namun demikian upaya peningkatan produksi instan melalui intensifikasi dengan penggunaan pupuk dan pestisida kimia  membuat kondisi tanah semakin rendah tingkat kesuburannya berakibat turunnya hasil produksi. Untuk mengatasinya para petani mengupayakannya dengan meningkatkan biaya produksi diantaranya berupa peningkatan penggunaan kuantitas dan kualitas benih, pupuk dan pestisida/insektisida. Pada awalnya penambahan biaya produksi ini bisa memberikan peningkatan kepada hasil pertanian, namun untuk selanjutnya tingkat produksi kembali menurun.

Oleh karena itu teroboson inovatif dalam upaya mengembalikan kembali kesuburan tanah dan produktifitas harus dilakukan. Pada saat ini ada harapan sebagai solusi terbaik bagi pertanian di Indonesia dalam peningkatan hasil produksi yaitu melalui pola pertanian dengan metoda SRI-Organik. Metode ini menekankan pada peningkatan fungsi tanah sebagai media pertumbuhan dan sumber nutrisi tanaman. Melalui sistem ini kesuburan tanah dikembalikan sehingga haur-daur ekologis dapat kembali berlangsung dengan baik dengan memanfaatkan mikroorganisme tanah sebagai penyedia produk metabolit untuk nutrisi tanaman. Melalui metode ini diharapkan kelestarian lingkungan dapat tetap terjaga dengan baik, demikian juga dengan taraf kesehatan manusia dengan tidak digunakannya bahan-bahan kimia untuk pertanian.

Pola pertanian padi SRI Organik (beras organik/organic rice) ini merupakan gabungan antara metoda SRI (System of Rice Intensification) yang pertamakali dikembangkan di Madagascar, dengan pertanian organik. Metode ini dikembangkan dengan beberapa prinsip dasar diantaranya pemberian pupuk organik, peningkatan pertumbuhan akar tanaman dengan pengaturan pola penanaman padi yaitu dengan jarak yang renggang, penggunaan bibit tunggal tanpa dilakukan perendaman lahan persawahan.

ANALISIS MENURUT FAKTOR-FAKTOR USAHA TANI

  1. FAKTOR PRODUKSI LAHAN

Pada penggunaan metode organik yang diterapkan pada komoditas Padi, secara otomatis nilai produksi pada lahan akan meningkat meskipun peningkatan itu secara perlahan. Hal ini dikarenakan pertanian organik menggunakan pupuk dan pestisida secara alami, dengan demikian kesuburan pada tanah akan meningkat, karena cadangan bahan makanan unrtuk biota tanah baik mikro maupun makro telah tersedia. Berbeda dengan penggunaan metode secara modern yang menggunakan bahan kimia, yang secara otomatis biota tanah  akan mati dan punah.

Dengan meningkatnya faktor produksi pada tanah maka akan menunjang tingkat produktifitas pada komoditas Padi, sehingga produksi padi saat panen akan meningkat. Dengan berjalannya waktu pada perubahan sistem modern menjadi organik, produksi akan semakin meningkat karena ditunjang semakin produktifitasnya lahan dan biota tanah yang pasti dimanfaatkan oleh tanaman.

  1. FAKTOR PRODUKSI TENAGA KERJA

. Untuk tenaga kerja, fakta yang terjadi di lapangan, pertanian organik menggunakan tenaga kerja lebih intensif dibanding pertanian konvensional terutama pada masa peralihan. Hal ini dikarenakan pengoptimalan penggunaan bahan-bahan alami di sekitar yang dikelola berdasarkan interaksi biologi dan ekologi, dimana prosesnya dilakukan sendiri dalam komunitas pertanian tersebut. Artinya bahan baku untuk asupan pertanian diperoleh dalam komunitas dengan cara membeli atau barter antar anggota komunitas. Ini dapat menekan biaya produksi yang dikeluarkan, tetapi memerlukan tenaga kerja yang intensif. Kalaupun biaya dikeluarkan untuk memperoleh asupan-asupan pertanian dan menggunakan tenaga kerja setempat, perputaran uang hanya terjadi pada komunitas tersebut dan secara tidak langsung menguatkan tatanan ekonomi dan sosial masyarakat komunitas.

Biaya tenaga kerja dapat dikurangi, dengan menerapkan metode pencegahan dalam budidayanya. Seperti metode tumpang sari dan rotasi tanaman dapat membantu dalam pengendalian hama dan penyakit tanaman. Pengurangan pengolahan tanah dengan menggunakan penggunaan jerami dari hasil panen, pemberian manur untuk menumbuhkan dan memperkaya kandungan materi organik tanah. Dengan memelihara alam, akhirnya alamlah yang akan memelihara budidaya kita dan memelihara kita.

  1. FAKTOR PRODUKSI MODAL

Rukmana (1997), mengemukakan bahwa benih yang bermutu tinggi yang berasal dari varietas unggul merupakan salah satu faktor penentu untuk memperoleh kepastian hasil usahatani padi organik. Berbagai benih varietas unggul padi dapat dengan mudah diperoleh ditoko-toko sarana produksi pertanian. Benih padi tersebut sudah dikemas dalam kantong plastik dan berlabel sertifikat sehingga petani tinggal menggunakannya. Namun kadang benih padi diproduksi sendiri oleh petani. Biji padi yang akan dijadikan benih diproses melalui tahap-tahap pengeringan, pemipilan, pengeringan ulang dan pengemasan sesuai dengan kaidah tata laksana pembenihan. Syarat benih jagung yang baik adalah: 1) daya tumbuh minimum 80%. 2) tidak keropos dan berlubang. 3) bebas dari hama dan penyakit 4) murni atau bebas dari campuran varietas lain. 5) berwarna seragam sesuai dengan warna asli suatu varietas. 6) ukuran biji seragam (Rukmana, 1997).

Menurut Marsono dan Sigit (2005), Pupuk sangat bermanfaat dalam menyediakan unsur hara yang kurang atau bahkan tidak tersedia ditanah untuk mendukung pertumbuhan tanaman. Manfaat utama dari pupuk yang berkaitan dengan sifat fisika tanah yaitu memperbaiki struktur tanah dari padat menjadi gembur. Pemberian pupuk organik, terutama dapat memperbaiki struktur tanah dengan menyediakan ruang pada tanah untuk udara dan air. Selain menyediakan unsur hara, pemupukan juga membantu mencegah kehilangan unsur hara yang cepat hilang seperti N, P, K yang mudah hilang oleh penguapan. Manfaat lain dari pupuk yaitu memperbaiki kemasaman tanah. Tanah yang masam dapat ditingkatkan pHnya menjadi pH optimum dengan pemberian kapur dan pupuk organik.

Modal tetap atau fixed costs (yang tidak secara langsung bergantung pada ukuran produksi) merupakan biaya yang dikeluarkan untuk membeli atau menyewa tanah, bangunan atau mesin-mesin atau bisa juga biaya yang disediakan untuk menggaji pekerja-pekerja tetap. Upah bagi buruh tani (termasuk bila menggunakan tenaga kerja keluarga) yang bekerja untuk pekerjaan-pekerjaan khusus (misalnya pada waktu panen) tergantung pada ukuran produksi. Ini disebut sebagai modal tidak tetap (variable costs), termasuk biaya yang dikeluarkan untuk membeli asupan (misalnya benih, manur, pestisida). Sebuah lahan bisa dikatakan layak secara ekonomi jika hasil yang didapat melampaui total modal tidak tetap dan penurunan nilai modal tetap. Hasil utamanya berupa uang yang diterima dari penjualan produk yang dihasilkan. Untuk memperhitungkan keuntungan lahan keluarga dan kegiatan-kegiatan lahan, penghematan pengeluaran untuk makan dan pendapatan yang diperoleh dari luar lahan (misalnya sebagai buruh upahan atau dari kegiatan usaha yang lain) harus turut diperhitungkan.

  1. FAKTOR PRODUKSI MANAJEMEN

Penambahan input produksi padi akan memberikan tambahan output usahatani padi. Akan tetapi penambahan input tersebut tidak selamanya memberikan tambahan produk. Ada saat dimana penambahan input produksi padi akan menurunkan produksi padi yang dihasilkan. Untuk itu alokasi sumberdaya yang tepat sangat penting dalam mencapai keberhasilan usahatani padi organik.

Cara lain untuk mengurangi biaya produksi dengan menerapkan metode tumpang sari/rotasi tanaman sehingga dapat memelihara keragaman species yang dapat mengendalikan organisme pengganggu tanaman (OPT), menggunakan agen hayati lokal untuk membuat pestisida botani sendiri, memproduksi benih dan semaian sendiri, memelihara ternak (untuk mendapatkan manur, susu, telur, daging, dll), membuat pakan ternak di kebun sendiri, saling pinjam-meminjam peralatan dan mesin-mesin dengan tetangga sesama petani dan membeli peralatan yang dibuat secara lokal daripada membeli yang impor, menggunakan bahan-bahan konstruksi yang tersedia di daerah setempat (misalnya bengkel kompos, kandang ternak, alat-alat dll), bergabung dengan petani lain membentuk usaha simpan pinjam agar terhindar dari jeratan tengkulak .

2.       Pengaruh Perubahan Iklim Terhadap Produksi Tanaman.

Iklim dan cuaca merupakan faktor penentu utama bagi pertumbuhan dan produktifitas tanaman pangan. Sistem produksi pertanian dunia saat ini mendasarkan pada kebutuhan akan tanaman setahun, kecuali beberapa tanaman seperti pisang, kelapa, buah-buahan, anggur, kacang-kacangan, beberapa sayuran seperti asparagus, rhubarb, dan lain-lain. Tanaman-tanaman tersebut dikembangbiakan dalam kondisi pertanaman tertentu.

Produktifitas pertanian berubah-ubah secara nyata dari tahun ke tahun. Perubahan drastis cuaca, lebih berpengaruh terhadap pertanian dibanding perubahan rata-rata. Tanaman dan ternak sangat peka terhadap perubahan cuaca yang sifatnya sementara dan drastis. Perbedaan cuaca antar tahun lebih berpengaruh dibanding dengan perubahan iklim yang diproyeksikan. Dan tak terdapat bukti bahwa perubahan iklim akan mempengaruhi perubahan cuaca tahunan.

Petani selalu berhadapan dengan perubahan iklim. Besaran perbedaan antar tahun telah melampaui prakiraan perubahan iklim. Fluktuasi iklim tahunan, dalam beberapa urutan besaran lebih tinggi dibanding dengan besar prediksi perubahan pelan-pelan iklim yang diajukan para ahli ekologi. Hal ini digambarkan pada Musim panas daerah pertanian Jagung Amerika serikat, antara tahun 1988 (kering dan panas) dan 1992 (basah dan dingin). Suhu selama Juli dan Agustus berbeda 80F dalam dua tahun dibeberapa negara bagian. Hal paling kritis yang belum diketahui adalah pola frekuensi kemarau. Kemarau terjadi dibeberapa tempat didunia setiap tahun. Kemarau tahunan juga lumrah terjadi di area pertanian India, China, Rusia dan beberapa negara Afrika.

Pertumbuhan dan Produkstifitas Tanaman: Kemampuan Adaptasi terhadap Suberdaya Iklim di Bumi

Banyak tanaman pangan mampu beradaptasi terhadap perubahan iklim. Di bumi padi, ubikayu, ubijalar dan jagung dapat tumbuh dimana saja kelembaban dan suhu sesuai. Jagung mampu tumbuh di areal yang beraneka ragam kelembaban, suhu, dan ketinggian dibumi ini. Areal produksinya di USA telah meluas ke utara sampai 800 km selam lima puluh tahun ini. Kedelai dan Kacang tanah dapat tumbuh di daerah tropik sampai lintang 450 LU dan 400 LS. Gandum musim dingin yang lebih produktif dari gandum musim semi areal tanamnya telah meluas keutara sejauh 360 km. Ditambah dengan kemampuan rekayasa genetik yang kita miliki perluasan areal tanam akan semakin mungkin dan cepat terealisasi.

Diperkirakan penggandaan kadar CO2 akan meningkatkan produktivitas tanaman di Amerika Utara, hal serupa juga terjadi di Sovyet, Eropa dan propinsi bagian utara China. Tanaman hortikultura dapat berkembang bebearapa musim diseluruh negara bagian USA. Tanaman seperti Tebu dan Kapas semakin meluas areal tanamnya dengan dimanfaatkannya mulsa dan pelindung plastik. Pemanasan global akan lebih menguntungkan dibanding dengan kembalinya era es sebagaimana diprediksi beberapa dekade yang lalu. Terlebih dimana produksi tanaman pangan terpusat di Lintang 300 LU sampai 500 LS.

Prakiraan Regional: Pola Iklim dan Respons Tanaman

Sejak 1850, kadar CO2 dalam atmosfir telah meningkat sebesar 25 % akibat pembakaran bahan bakar fosil dan penggundulan hutan tak ada yang menentangnya. Kadar gas rumah kaca selain CO2 juga telah meningkat melebih prosentase CO2 dan dengan efek pemanas yang setara CO2. Namun terdapat kontrovesi mengenai kapan pemanasan global pertama kali muncul, juga terdapat kontroversi mengenai besaran perubahan suhu yang terjadi, jika terjadi pada masa yang akan datang. Perkiraan yang ada berkisar antara minus 1,50C sampai 60C. Prakiraan iklim dan cuaca regional dengan sebaran variabel seperti awan, kelembaban, dan angin lebih tidak pasti lagi.

Efek langsung dari meningkatnya CO2, berdampak positif terhadap tumbuhan, sebagaimana dibahas diatas, namun bila terjadi kekeringan sebagaimana ramalan hasil permodelan iklim yang sekarang, hasil pertanian tak dapat dipastikan. Namun secara garis besar dampak yang terjadi masih dapat kita kendalikan. Tindakan dari petani, ilmuwan dan kebijkan pemerintah lebih diperlukan dibandingkan dengan perubahan pola hidup kita.

Prakiraan pengaruh CO2 terhadap iklim menimbulkan banyak spekulasi, dan beberapa riset telah dimulai untuk meneliti dampaknya terhadap hubungan hama dan tanaman dan strategi perlindungan tanaman. Gulma, Serangga, nematoda dan wabah  berdampak sangat merugikan bagi pertanian. Perubahan Iklim yang mungkin akan berdampak pada hubungan tumbuhan – hasil panen – hama, dan ekosistem lain. Peningkatan kandungan karbohidrat dan akumulasi nitrogen akan berpengaruh terhadap pola makan serangga, ini telah ditunjukan dalam beberapa eksperimen. Pengendalian hama memasuki era baru, dengan pengintegrasian penanganan hama.

Pengaruh Perubahan Iklim Terhadap Sektor Pertanian

Beberapa penemuan terakhir mulai memperjelas pengaruh iklim terhadap produksi pertanian. Pada pertemuan The Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC) dilaporkan berbagai model simulasi untuk menduga pengaruh perubahan iklim terhadap produksi tanaman. Pengaruh pada produksi pertanian dapat disebabkan paling tidak oleh pengaruhnya terhadap produktivitas tanaman, pengaruh terhadap organisme pengganggu tanaman, dan kondisi tanah.

Berdasarkan tipe fotosintesis, tumbuhan dibagi ke dalam tiga kelompok besar, yaitu C3, C4, dan CAM (crassulacean acid metabolism). Tumbuhan C4 dan CAM lebih adaptif di daerah panas dan kering dibandingkan dengan tumbuhan C3. Namun tanaman C3 lebih adaptif pada kondisi kandungan CO2 atmosfer tinggi.

Sebagian besar tanaman pertanian, seperti padi, gandum, kentang, kedelai, kacang-kacangan, dan kapas merupakan tanaman dari kelompok C3. Tanaman pangan yang tumbuh di daerah tropis, terutama gandum, akan mengalami penurunan hasil yang nyata dengan adanya kenaikan sedikit suhu karena saat ini gandum dibudidayakan pada kondisi suhu toleransi maksimum. Negara berkembang akan berada pada posisi sulit untuk mempertahankan kecukupan pangan.

Perubahan iklim akan memacu berbagai pengaruh yang berbeda terhadap jenis hama dan penyakit. Perubahan iklim akan mempengaruhi kecepatan perkembangan individu hama dan penyakit, jumlah generasi hama, dan tingkat inokulum patogen, atau kepekaan tanaman inang. Menurut Wiyono3 pengaruh iklim terhadap perkembangan hama dan penyakit tanaman dapat dikategorikan ke dalam tiga bentuk, yaitu (1) eskalasi, di mana hama-penyakit yang dulunya penting menjadi makin merusak, atau tingkat kerusakannya menjadi lebih besar; (2) perubahan status; dan (3) degradasi. Patogen yang ditularkan melalui vektor perlu mendapat perhatian penting, kerusakan tanaman akan menjadi berlipat ganda akibat patogen dan serangga vektornya (Ghini 2005, Garrett et al. 2006). Peningkatan suhu udara merangsang terjadinya ledakan serangga vektor. Oleh karenanya penyebaran dan intensitas penyakit diduga akan meledak. Indonesia memiliki beberapa penyakit penting yang ditularkan oleh vektor seperti virus kerdil pada padi, CVPD pada jeruk, dan yang lainnya. Selain mempengaruhi pertumbuhan dan aktivitas vektor, peningkatan suhu juga mendorong aktivitas patogen tertentu. Patogen yang memiliki adaptabilitas pada suhu yang cukup luas akan mudah beradaptasi dengan peningkatan suhu udara.

Menyimak kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi di atas, wajar apabila orang yang tinggal di sekitar daerah tropis merasa khawatir atas terjadinya perubahan iklim. Namun, apakah mungkin perubahan iklim ini dapat diatasi hanya dengan perbaikan lingkungan di daerah tropis? Padahal penyumbang masalah terjadinya perubahan iklim bukan hanya akibat konversi hutan atau lahan budi daya pertanian.

DAFTAR PUSTAKA

Annonymous. 2010. Definisi dan Usaha Pertanian.  http://pustaka.ut.ac.id. Diakses pada  24 Februari  2010.

Annonymous. 2010. Padi SRI Organik. http:// balitbangtan.go.id . Diakses pada  24 Februari  2010..

Annonymous. 2010. Pengaruh Perubahan Iklim Terhadap Produksi Tanaman.  http://hirupbagja.blogspot.com/2009/10/pengaruh-perubahan-iklim-terhadap.html

Diakses pada  24 Februari  2010..

Annonymous. 2010. Efek Rumah Kaca. http://munawar.8m.net/rmh_kaca.htm

.           Diakses pada  24 Februari  2010..

Soekartawi, et al. 1984. Ilmu Usahatani dan Penelitian untuk Pengembangan Petani Kecil. Jakarta : UI Press.

Tohir, Kaslan A. 1982. Seuntai Pengetahuan Tentang Usahatani di Indonesia. Jakarta : Penebar Swadana.

Hidayati, Rini., Masalah Perubahan Iklim di Indonesia Beberapa Contoh Kasus, Program Pasca Sarjana / S-3, Institut Pertanian Bogor, November 2001.

Winarso, P Agus., Peluang Munculnya Cuaca Ekstrem Akhir 2002 dan Awal 2003, Badan Meteorologi dan Geofisika, Jakarta, 2002

About these ads

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s