Archive for sosial ekonomi pertanian

PERENCANAAN USAHA TANI WORTEL DAN ANALISIS FINANSIALNYA

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
Indonesia dikenal sebagai negara pertanian sejak dahulu kala, dikarenakan Indonesia memiliki tanah yang luas untuk ditanami berbagai jenis tanaman. Jenis tanaman yang di tanam di Indonesia sangat beraneka ragam, mulai tanaman kehutanan, perkebunan, pangan serta hortikultura. Didalam macam-macam tanaman hortikultura di dalamnya terdapat tanaman buah-buahan, sayur-mayur, rempah-rempah atau tanaman obat dan aromatik.
Pada tanaman sayur-mayur terdapat ribuan jenis tanaman, salah satunya adalah tanaman wortel. Cara budidaya wortel dikenal cukup mudah, serta perawatan dan pasca panennya pun cukup mudah. Wortel dapat digunakan sebagai sayuran, acar, maupun bahan minuman. Oleh karena itu penulis ingin mengulas lebih dalam tentang budidaya serta analisis kelayakan budidayanya.

1.2 Rumusan Masalah
» Bagaimana proses budidaya wortel ?
» Bagaimana analisis kelayakan budidaya wortel ?

1.3 Tujuan
» Mengetahui proses budidaya wortel
» Mengetahui analisis kelayakan dilihat dari perhitungan Break Event Point
» Mengetahui analisis kelayakan dilihat dari perhitungan Return of Investment
» Mengetahui analisis kelayakan dilihat dari perhitungan Benefit Cost Ratio

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Tanaman Wortel
2.1.1 Sejarah Singkat
Wortel/carrots (Daucus carota L.) bukan tanaman asli Indonesia, berasal dari negeri yang beriklim sedang (sub-tropis) yaitu berasal dari Asia Timur dan Asia Tengah. Ditemukan tumbuh liar sekitar 6.500 tahun yang lalu. Rintisan budidaya wortel pada mulanya terjadi di daerah sekitar Laut Tengah, menyebar luas ke kawasan Eropa, Afrika, Asia dan akhirnya ke seluruh bagian dunia yang telah terkenal daerah pertaniannya.
2.1.2 Sentra Penanaman
Di Indonesia budidaya wortel pada mulanya hanya terkonsentrasi di Jawa Barat yaitu daerah Lembang dan Cipanas. Namun dalam perkembangannya menyebar luas ke daerah-daerah sentra sayuran di Jawa dan Luar Jawa. Berdasarkan hasil survei pertanian produksi tanaman sayuran di Indonesia (BPS,1991) luas areal panen wortel nasional mencapai 13.398 hektar yang tersebar di 16 propinsi yaitu; Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Bengkulu, Sumatera Utara, Sumatera Barat, Sumatera Selatan, Lampung, Bali, NTT, Kalimantan Timur, Sulawesi Utara, Sulawesi Tengah, Sulawesi Selatan, Maluku dan Irian Jaya.
2.1.3 Jenis Tanaman
Dalam taksonomi tumbuhan, wortel diklasifikasikan sebagai berikut:
Kingdom : Plantae (tumbuh-tumbuhan)
Divisi : Spermatophyta (tumbuhan berbiji)
Sub-Divisi : Angiospermae
Klas : Dicotyledonae
Ordo : Umbelliferales
Famili : Umbelliferae (Apiaceae)
Genus : Daucus
Spesies : Daucus carrota L.
Tanaman wortel banyak ragamnya, tetapi bila dilihat bentuk umbinya dapat dipilih menjadi 3 golongan, yakni :
a) Tipe Chantenay, berbentuk bulat panjang dengan ujung yang tumpul.
b) Tipe Imperator, berbentuk bulat panjang dengan ujung runcing.
c) Tipe Nantes, merupakan tipe gabungan antara imperator dan chantenay.
Varietas Tanaman Wortel
Wortel (Daucus carota L.) termasuk dalam family Umbelliferae (Apiaceae). Bentuk dan ukuran umbi wortel bermacam-macam, tergantung pada varietas, kesuburan tanah, iklim, serta hama dan penyakit. Varietas yang umum ditanam di Indonesia yaitu Chantenay dan Nantes.
1) Chantenay Red Cored
Berbentuk kerucut, bagian pangkal besar, garis tengah ± 4-5 cm, panjang ±15 cm, warna oranye tua, daging halus dan manis. Umur panen ±70 hari.
2) Royal Chantenay
Berbentuk kerucut, bagian pangkal besar, garis tengah ± 4 cm-5 cm, panjang ± 18 cm, warna oranye tua, daging halus, dan rasa manis. Umur ± 70 hari.
3) Chantenay
Berbentuk kerucut, bagian pangkal besar, garis tengah ± 6 cm, dan warna oranye. Umur ± 70 hari.
4) Nantes
Berbentuk silindris, garis tengah pangkal dan ujung hanya berbeda sedikit, ujung tumpul, garis tengah ± 3-4 cm, panjang ± 16-19 cm, warna oranye, bentuk bagus, rasa manis dan aroma enak, panen 2-3 bulan.
5) Yates Topweight
Bentuk ampir silindris, warna oranye, tahan retak, tahan lalat dan virus. Panjang bisa lebih dari 20 cm. Umur 60 hari atau lebih.
6) Yates Manchester Table
Bentuk hampir silindris, tidak mudah berkayu, warna oranye tua, garis tengah ± 4-5 cm, panjang ± 18 cm, warna oranye tua, daging halus dan rasa manis. Umur ± 70 hari.
7) Redheart
Bentuk hampir silindris warnanya oranye tua, tahan aphis dan lalat karat, panjang 15-17 cm, daging halus dan manis. Umur panen sekitar 70 hari.
8) Midway
Bentuk kerucut langsing, warna oranye, ujung runcing, besar sedang, dan rasa manis. Umur panen 60-70 hari.
9) Egmont Gold
Bentuk kerucut besar, diameter 6 cm, daging halus, panjang ± 20 cm, rasa manis, dan aroma enak. Umur panen 60-70 hari.
10) Danves Half Long
Bentuk kerucut sedang, diameter 3-4 cm, panjang 15 cm, halus, aroma bagus, manis, warna oranye. Umur panen ± 75 hari.
11) Flakkee
Bentuk hampir silindris, diameter pangkal 3-4 cm, panjang ± 15 cm, rasa manis, aroma baik, daging halus, bagian tengah lunak, dan warna oranye. Umur panen ± 70 hari.
12) Burpee’s Goldinhart
Bentuk kerucut, diameter pangkal 5-6 cm, panjang ± 15 cm, enak, empuk, manis, aroma bagus, dan warna oranye. Umur panen ± 70 hari.
2.1.4 Manfaat Tanaman
Wortel merupakan bahan pangan (sayuran) yang digemari dan dapat dijangkau oleh seluruh lapisan masyarakat. Bahkan mengkonsumsi wortel sangat dianjurkan, terutama untuk menghadapi masalah kekurangan vitamin A. Dalam setiap 100 gram bahan mengandung 12.000 S.I vitamin A. Merupakan bahan pangan bergizi tinggi, harga murah dan mudah mendapatkannya.
Selain sebagai “gudang vitamin A serta nutrisi”, juga berkhasiat untuk penyakit dan memelihara kecantikan. Wortel ini mengandung enzim pencernaan dan berfungsi diuretik. Meminum segelas sari daun wortel segar ditambah garam dan sesendok teh sari jeruk nipis berkhasiat untuk mengantisipasi pembentukkan endapan dalam saluran kencing, memperkuat mata, paru-paru, jantung dan hati. Bahkan dengan hanya mengunyah daun wortel dapat menyembuhkan luka-luka dalam mulut/nafas bau, gusi berdarah dan sariawan.
2.2 Budidaya Tanaman Wortel
2.2.1 Syarat Pertumbuhan
Iklim
1. Tanaman wortel merupakan sayuran dataran tinggi. Tanaman wortel pada permulaan tumbuh menghendaki cuaca dingin dan lembab. Tanaman ini bisa ditanaman sepanjang tahun baik musim kemarau maupun musim hujan.
2. Tanaman wortel membutuhkan lingkungan tumbuh dengan suhu udara yang dingin dan lembab. Untuk pertumbuhan dan produksi umbi dibutuhkan suhu udara optimal antara 15,6 – 21,10C. Suhu udara yang terlalu tinggi (panas) seringkali menyebabkan umbi kecil-kecil (abnormal) dan berwarna pucat/kusam. Bila suhu udara terlalu rendah (sangat dingin), maka umbi yang terbentuk menjadi panjang kecil.
Curah Hujan
Tanaman wortel membutuhkan air yang banyak dalam pertumbuhannya. Kebutuhan air secara alami dapat dipenuhi dari air hujan. Air yang berlebih menyebabkan tanaman mudah terserang penyakit dan sebaliknya kekurangan air menyebabkan tanaman kering dan akhirnya mati.
Berdasarkan penggolongan Schmid-Ferguson, iklim yang cocok untuk pertumbuhan tanaman wortel adalah iklim A (sangat basah), B (basah), dan C (agak basah). Curah hujan di afdeling Jampit rata-rata 1857 mm/tahun dengan bulan basah selama 10 bulan dan bulan kering selama 2 bulan. Kondisi tersebut termasuk iklim B berdasarkan penggolongan Schmid-Ferguson.
Kelembaban
Tanaman wortel memiliki daya adaptasi yang tinggi terhadap kelembaban. Semakin tinggi letak tempat semakin tinggi pula kelembaban sehingga tanaman wortel tidak terlalu banyak penguapan. Begitupun sebaliknya, semakin rendah letak tempat semakin rendah pula kelembaban dan akan banyak sekali penguapan.
Sinar Matahari
Pada pertumbuhannya, tanaman wortel membutuhkan sinar matahari secara penuh (tidak ternaungi) sebagai sumber energi untuk pembentukan gula melalui proses fotosintesis dan pembentukan umbi tanaman. Tanaman yang kurang sinar matahari pertumbuhannya akan terhambat dan memanjang.
Angin
Angin membantu tanaman dalam melakukan penyerbukan. Angin dengan kisaran kecepatan 19-35 km/ jam dapat menerbangkan serbuk sari. Angin menjadi sangat penting perannya bagi budidaya tanaman wortel yang diambil benihnya
Ketinggian Tempat
Di Indonesia wortel umunya ditanam di dataran tinggi pada ketinggian 1.000-1.200 m dpl. Tetapi dapat pula ditanam di dataran medium (ketinggian lebih dari 500 m dpl.), produksi dan kualitas kurang memuaskan.
Media Tanam
1. Keadaan tanah yang cocok untuk tanaman wortel adalah subur, gembur, banyak mengandung bahan organik (humus), tata udara dan tata airnya berjalan baik (tidak menggenang).
2. Jenis tanah yang paling baik adalah andosol. Jenis tanah ini pada umumnya terdapat di daerah dataran tinggi (pegunungan).
3. Tanaman ini dapat tumbuh baik pada keasaman tanah (pH) antara 5,5-6,5 untuk hasil optimal diperlukan pH 6,0-6,8. Pada tanah yang pH-nya kurang dari 5,0, tanaman wortel akan sulit membentuk umbi.
4. Demikian pula tanah yang mudah becek atau mendapat perlakuan pupuk kandang yang berlebihan, sering menyebabkan umbi wortel berserat, bercabang dan berambut.

2.2.2 Pedoman Teknis Budidaya
A. Pembibitan
1) Persyaratan Benih
Untuk mendapatkan hasil yang optimal, sumber benih yang menjadi bibit harus memenuhi syarat sebagai berikut:
a) Tanaman tumbuh subur dan kuat.
b) Bebas hama dan penyakit/sehat.
c) Bentuknya seragam.
d) Dari jenis yang berumur pendek.
e) Berproduksi tinggi.

Tatacara penyiapan benih wortel adalah sebagai berikut:
a) Pilih benih wortel yang baik, yakni berasal dari varietas unggul, murni, dan daya kecambahnya tinggi (lebih dari 90%).
b) Gosok-gosokan benih wortel dengan kedua belah telapak tangan agar diantara benih satu sama lain tidak berlekatan.
c) Rendam benih wortel dalam air dingin selama 12-24 jam atau dalam air hangat suam-suam kuku (60 derajat C) selama 15 menit. Tujuan dari perendaman benih adalah mempercepat proses perkecambahannya.
d) Tiriskan benih wortel dalam suatu wadah, misal tampah hingga menjadi cukup kering. Benih wortel sudah siap ditanam (disebar) di lahan kebun

2) Teknik Penyemaian Benih
Biji wortel di taburkan langsung di tempat penanaman, dapat disebarkan merata di bedengan atau dengan dicicir memanjang dalam barisan. Jarak barisan paling tidak 15 cm, kemudian kalau sudah tumbuh dapat dilakukan penjarangan sehingga tanaman wortel itu berjarak 3-5 cm satu sama lain.
Kebutuhan benih untuk penanaman setiap are antara 150-200 gram. Para petani sayuran jarang menggunakan lebih dari 10 kg benih untuk tiap hektar. Biji wortel akan mulai berkecambah setelah 8-12 hari.

Pengolahan Media Tanam
1) Persiapan
Mula-mula tanah dicangkul sedalam 40 cm, dan diberi pupuk kandang atau kompos sebanyak 15 ton setiap hektarnya. Tanah yang telah diolah itu diratakan dan dibuat alur sedalam 1 cm dan jarak antara alur 15-20 cm.
Areal yang akan dijadikan kebun wortel, tanahnya diolah cukup dalam dan sempurna, kemudian diberi pupuk kandang 10 ton/ha, baik dicampur maupun menurut larikan sambil meratakan tanah. Idealnya dipersiapkan dalam bentuk bedengan-bedengan selebar 100 cm dan langsung dibuat alur-alur/larikan jarak 20 cm, hingga siap ditanam.

2) Pembukaan Lahan
1. Membuka Lahan
• Babat pohon-pohon atau semak-semak maupun tanaman lain yang tidak berguna.
• Bersihkan lahan dari rumput-rumput liar (gulma), batu kerikil dan sisa tanaman lain.
2. Mengolah Tanah
• Olah tanah sedalam 30-40 cm hingga strukturnya gembur dengan alat bantu cangkul, bajak/traktor.
• Biarkan tanah di kering anginkan selama minimal 15 hari, agar kelak keadaan tanah benar-benar matang.
3. Pembentukan Bedengan
1. Olah tanah untuk kedua kalinya dengan cangkul hingga struktur tanah bertambah gembur.
2. Buat bedengan-bedengan dengan ukuran lebar 120-150 cm, tinggi 30-40 cm, jarak antar bedengan 50-60 cm dan panjang tergantung pada keadaan lahan.
4. Pengapuran
1. Lakukan pengapuran bila pH tanah asam di bawah 5 dengan cara menaburkan bahan kapur seperti Calcit, Dolomit atau Zeagro 1 secara merata di permukaan tanah. Dosis kapur yang diberikan berkisar antara 0,75-10,24 ton/ha.
2. Campurkan kapur dengan lapisan tanah atas (top soil) sambil dibalikan hingga benar-benar merata. Bila tidak turun hujan, tanah yang telah dikapur sebaiknya disiram (diairi) hingga cukup basah.

B. Teknik Penanaman
1) Penentuan Pola Tanaman
Tanah kebun dicangkul sedalam 30-40 cm dan digemburkan. Setelah itu di buat bedengan tanaman selebar kurang lebih 100 cm dan dibuat guritan dengan jarak kurang lebih 20 cm.
2) Pembuatan Lobang Tanam
Tanah diolah sedalam 30-40 cm hingga strukturnya gembur dengan menggunakan traktor/bajak dan alat cangkul.
3) Cara Penanaman
Tata cara penanaman (penaburan) benih wortel melalui tahap-tahap sebagai berikut:
1. Sebarkan (taburkan) benih wortel secara merata dalam alur alur/garitan-garitan yang tersedia.
2. Tutup benih wortel dengan tanah tipis sedalam 0,5-1 cm.
3. Buat alur-alur dangkal sejauh 5 cm dari tempat benih arah barisan (memanjang) untuk meletakkan pupuk dasar. Jenis pupuk yang diberikan adalah pupuk kandang dengan jumlah 10 ton / hectare.
4. Sebarkan pupuk tersebut secara merata, kemudian tutup dengan tanah tipis.
5. Tutup tiap garitan (alur) dengan dedaunan kering atau pelepah daun pisang selama 7-10 hari untuk mencegah hanyutnya benih wortel oleh percikan (guyuran) air sekaligus berfungsi menjaga kestabilan kelembaban tanah. Setelah benih wortel tumbuh di permukaan tanah, penutup tadi segera di buka kembali.

C. Pemeliharaan Tanaman
1) Penjarangan dan Penyulaman
Penjarangan tanaman wortel dilakukan pada saat tanaman berumur 1 bulan setelah tanam. Tujuan penjarangan adalah untuk memperoleh tanaman wortel cepat tumbuh dan subur, sehingga hasil produksinya dapat tinggi.
2) Penyiangan
Rumput-rumput liar (gulma) yang tumbuh disekitar kebun merupakan pesaing tanaman wortel dalam kebutuhan air, sinar matahari, unsur hara dan lain-lain, sehingga harus disiangi. Waktu penyiangan biasanya saat tanaman wortel berumur 1 bulan, bersamaan dengan penjarangan tanaman dan pemupukan susulan.
Cara menyiangi yang baik adalah membersihkan rumput liar dengan alat bantu kored/cangkul. Rumput liar yang tumbuh dalam parit dibersihkan agar tidak menjadi sarang hama dan penyakit. Tanah di sekitar barisan tanaman wortel digemburkan, kemudian ditimbunkan ke bagian pangkal batang wortel agar kelak umbinya tertutup oleh tanah.
3) Pembubunan
Pendangiran dilakukan pada saat umur tanaman 1 bulan, yaitu pada saat tanaman akan membentuk umbi, terutama sehabis hujan. Saat pendangiran ini dilakukan juga pembubunan.
4) Pemupukan
Selama pertumbuhan dan perkembangan tanaman memerlukan unsur hara yang dapat diperoleh dari pupuk. Pemupukan pada tanaman wortel dapat dibedakan menjadi 2 berdasarkan waktu pemberiannya yaitu pupuk dasar dan pupuk lanjutan. Menurut Nur Berlian V.A dan Estu R. (2000) pupuk yang diberikan saat tanam adalah pupuk kandang sebanyak 10 ton/ha. Untuk mendapatkan produksi umbi yang sempurna tanaman diberi pupuk susulan/lanjutan. Pupuk lanjutan pertama pada umur 2 minggu setelah tanam berupa pupuk kandang sebanyak 10 ton per hektar. Pupuk diberikan dengan jalan ditabur membentuk larikan sepanjang bedengan berjarak 5 cm dari tanaman dan ditutup dengan tanah. Dosis pemupukan dapat berubah sesuai dengan kondisi tanah.
Jenis pupuk yang digunakan untuk pemupukan susulan adalah pupuk kandang sebanyak 5 ton per hektar. Waktu pemberian pupuk susulan dilakukan bersamaan dengan kegiatan penyiangan, yakni pada saat tanaman wortel berumur 1 bulan.
Cara pemupukan yang baik adalah dengan menyebarkan secara merata dalam alur-alur atau garitan-garitan dangkal atau dimasukkan ke dalam lubang pupuk (tugal) sejauh 5-10 cm dari batang wortel, kemudian segera ditutup dengan tanah dan disiram atau diairi hingga cukup basah.
5) Pengairan dan Penyiraman
Tanaman membutuhkan air dalam proses prtumbuhannya termasuk wortel . Secara alami kebutuhan air dapat dipenuhi dari air hujan, namun di musim kemarau dimana ketersediaan air sangat terbatas maka diperlukan irigasi. Ketersediaan air yang kurang dan tidak tersedia secara kontinyu menyebabkan kracking pada umbi wortel terutama type nantes varietas nevis.

Menurut Larry G. James (TT) irigasi pertanian memiliki fungsi sebagai berikut:
a. Mendinginkan tanah dan tanaman
Pada saat panas terik, suhu lingkungan sekitar tanaman khususnya tanah meningkat begitu pula dengan suhu tanaman. Akhir dari peningkatan suhu adalah penguapan baik tanah maupun tanaman. Untuk menjaga suhu tanah maupun tanaman stabil diperlukan irigasi.
b. Memacu pertumbuhan vegetatif menunda pembuahan
Pada tanaman sayur berbentuk buah misalnya paprika (Capsicum autuum) tersedianya air yang melimpah mengakibatkan pertumbuhan vegetatif, sebaliknya air yang tidak kontinyu mempercepat pertumbuhan generatif.
c. Mengendalikan erosi yang disebabkan oleh angin
Kecepatan angin mampu menerbangkan butiran-butiran tanah, dengan adanya irigasi tanah menjadi basah dan lebih berat serta solid sehingga tidak mudah terbawa angin.
d. Mempercepat perkecambahan benih
Benih akan berkecambah dengan cepat pada tanah yang lembab dan agak basah.
e. Media penerapan bahan kimia
Melalui irigasi dapat pula dilakukan pemberian fungisida maupun pemberian unsur hara.
f. Pengendalian limbah cair
Melalui irigasi air tidak langsung menuju ke lahan melainkan melalui filter-filter terlebih dahulu sehingga air terbebas dari limbah.
Pada fase awal pertumbuhannya, tanaman wortel memerlukan air yang memadai, sehingga perlu disiram (diairi) secara kontinue 1-2 kali sehari, terutama pada musim kemarau. Bila tanaman wortel sudah tumbuh besar, maka pengairan dapat dikurangi. Hal penting yang harus diperhatikan adalah agar tanah tidak kekeringan.
Sistem irigasi yang digunakan dalam budidaya tanaman wortel dapat berupa irigasi tetes dimana air melalui pipa berdiameter + 1,5 cm yang dipasang memanjang, sepanjang bedengan. Air akan keluar dari lubang-lubang yang terdapat pada pipa/selang dalam bentuk tetes-tetes air. Dalam satu bedengan terdapat 2 buah pipa/selang. Menurut Yos Van Der Knaap, lahan seluas 1 ha membutuhkan 35 m3 air per hari atau 3,5 liter air/m2 dalam 1 hari.
Penyiraman dilakukan mulai benih di semai sampai menjelang panen sedangkan waktunya dapat dilakukan pagi atau sore hari tergantung dari sebagian besar kondisi tanah. Larry G. James (TT), terdapat tiga indikasi perlunya dilakukan penyiraman yaitu indikator tanaman, indikator tanah, dan teknik persediaan air. Indikator tanaman dapat dilihat dengan mudah misalnya tanaman layu dan berwarna pucat. Indikator tanah dapat dilihat apabila tanah mulai mongering dan tidak solid.
6) Waktu Penyemprotan Pestisida organik
Pengendalian secara kimiawi dapat dilakukan dengan menggunakan insektisida dari bawang putih yang dihaluskan dan diberi tambahan air, pada konsentrasi yang dianjurkan.
Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam penggunaan pestisida adalah caranya sehingga tidak membahayakan jiwa. Selain itu penggunaan pestisida harus tepat waktu, tepat dosis, dan tepat sasaran. Tepat waktu berarti pemberian pestisida pada waktu yang tepat yaitu di pagi hari dari pukul 06.00 WIB hingga pukul 10.00 WIB atau pada sore hari pukul 15.00 WIB hingga pukul 17.00 WIB. Waktu antara pukul 10.00-15.00 WIB, suhu udara tinggi sehingga pestisida akan dengan mudah menguap atau tidak dapat terserap olehta secara sempurna karena stomata mengecil untuk mengurangi penguapan (untuk pestisida sistemik). Tepat waktu berati pula tepat dengan cara kerja pestisida kuratif atau preventif dan kontak atau sistemik. Tepat sasaran berarti pestisida tersebut harus efektif mengendalikan hama dan penyakit. Tepat dosis berarti sesuai dengan dosis yang dianjurkan. Dosis yang terlalu tinggi dapat membahayakan keseimbangan ekosistem karena predator alami akan ikut mati sedangkan dosis yang terlalu rendah menyebabkan pestisida kurang efektif dan harus digunakan berulang kali. Keduanya merupakan suatu pemborosan biaya dan tenaga. Hal terakhir yang perlu diperhatikan dalam penggunaan pestisida adalah 2 minggu menjelang panen pestisida tidak boleh digunakan lagi untuk menghindari keracunan pada konsumen. Pada musim penghujan penggunaan pestisida ditambahkan perekat dan perata. Perekat dan perata yang biasa digunakan adalah Agristick dengan dosis 0,25-0,5 ml/liter air.
D. Hama dan Penyakit
1) Hama
a. Ulat tanah (Agrotis ipsilon Hufn.)
Hama ini sering disebut uler lutung (Jawa) atau hileud taneuh (Sunda) dan “Cutworms” (Inggris). Serangga dewasa berupa kupu-kupu berwarna coklat tua, bagian sayap depannya bergaris-garis dan terdapat titik putih. Stadium hama yang merugikan tanaman adalah ulat atau larva. Ciri: ulat tanah adalah berwarna coklat sampai hitam, panjangnya antara 4-5 cm dan bersembunyi di dalam tanah. Gejala: ulat tanah menyerang bagian pucuk atau titik tumbuh tanaman wortel yang masih muda. Akibat serangan, tanaman layu atau terkulai, terutama pada bagian tanaman yang dirusak hama. Pengendalian non kimiawi: dilakukan dengan mengumpulkan ulat pada pagi atau siang hari, dari tempat yang dicurigai bekas serangannya untuk segera dibunuh, menjaga kebersihan kebun dan pergiliran tanaman.
b. Kutu daun (Aphid, Aphis spp.)
Ciri: kutu daun dewasa berwarna hijau sampai hitam, hidup berkelompok di bawah daun atau pada pucuk tanaman. Gejala: menyerang tanaman dengan cara mengisap cairan selnya, sehingga menyebabkan daun keriting atau abnormal. Pengendalian: mengatur waktu tanam secara serempak dalam satu hamparan lahan untuk memutus siklus hidupnya.
c. Lalat atau magot (Psila rosae)
Gejala: stadium hama yang sering merusak tanaman wortel adalah larvanya. Larva masuk ke dalam umbi dengan cara menggerek atau melubanginya. Pengendalian: pergiliran tanaman dengan jenis yang tidak sefamili.
2) Penyakit
a. Bercak daun Cercospora
Penyebab: cendawan (jamur) Cercospora carotae (Pass.) Solheim. Gejala: pada daun-daun yang sudah tua timbul bercak-bercak berwarna coklat muda atau putih dengan pinggiran berwarna coklat tua sampai hitam. Pengendalian: (1) disinfeksi benih dengan larutan fungisida yang mengandung tembaga klorida satu permil selama 5 menit; (2) pergiliran tanaman dengan jenis lain yang tidak sefamili; (3) pembersihan sisa-sisa tanaman dari sekitar kebun; (4) b. Nematoda bintil akar
Penyebab: mikro organisme nematoda Sista (Heterodera carotae). Gejala: umbi dan akar tanaman wortel menjadi salah bentuk, berbenjol-benjol abnormal. Pengendalian: melakukan pergiliran tanaman dengan jenis lain yang tidak sefamili, pemberaan lahan.
c. Busuk alternaria
Penyebab: cendawan Alternaria dauci Kuhn. Gejala: Pada daun terjadi bercak-bercak kecil, berwarna coklat tua sampi hitam yang dikelilingi oleh jaringan berwarna hijau-kuning (klorotik). Pada umbi ada gejala bercak-bercak tidak beraturan bentuknya, kemudian membusuk berwarna hitam sampai hitam kelam. Pengendalian: sama dengan cara yang dilakukan pada Cercospora.
E. Panen
1) Ciri dan Umur Panen
Ciri-ciri tanaman wortel sudah saatnya dipanen adalah sebagai berikut:
 Tanaman wortel yang telah berumur ± 3 bulan sejak sebar benih atau tergantung varietasnya. Varietas Ideal dipanen pada umur 100-120 hari setelah tanam (hst). Varietas Caroline 95 hst., Varietas All Season Cross 120 hst., Varietas Royal Cross 110 hst., Kultivar lokal Lembang 100-110 hst.
 Ukuran umbi telah maksimal dan tidak terlalu tua. Panen yang terlalu tua (terlambat) dapat menyebabkan umbi menjadi keras dan berkatu, sehingga kualitasnya rendah atau tidak laku dipasarkan. Demikian pula panen terlalu awal hanya akan menghasilkan umbi berukuran kecil-kecil, sehingga produksinya menurun (rendah).
 Khusus bila dipanen umur muda atau “Baby Carrot” dapat dilakukan dengan kriteria sebagai berikut:
 Umur panen sekitar 50-60 hari setelah tanam.
 Ukuran umbi sebesar ibu jari tangan, panjangnya antara 6-10 cm dan diameternya sekitar 1-2 cm.
2) Cara Panen
Cara panen wortel relatif gampang, yaitu dengan mencabut seluruh tanaman bersama umbinya. Tanaman yang baik dan dipelihara secara intensif dapat menghasilkan umbi antara 20-30 ton/hektar.

F. Pascapanen
1) Pengumpulan
Kumpulkan seluruh rumpun (tanaman) wortel yang usai dipanen pada suatu tempat yang strategis, misalnya di pinggir kebun yang teduh, atau di gudang penyimpanan hasil.
2) Penyortiran dan Penggolongan
a) Pilih umbi yang baik sambil memisahkan umbi yang rusak, cacat, atau busuk secara tersendiri.
b) Klasifikasikan umbi wortel yang baik berdasarkan ukuran dan bentuknya yang seragam.
3) Penyimpanan
Simpan hasil panen wortel dalam wadah atau ruangan yang suhunya dingin dan berventilasi baik.
4) Pengemasan dan Pengangkutan
a. Ikat umbi wortel menjadi ikatan-ikatan tertentu sehingga praktis dalam pengangkutan dan penyimpanannya.
b. Potong sebagian tangkai daun untuk disisakan sekitar 15-20 cm.
c. Angkut hasil wortel ke pasar dengan menggunakan alat angkut yang tersedia di daerah setempat.
Khusus untuk sasaran pasar Swalayan, Gelael, Hero, dan lain-lain di kota-kota besar, umbi wortel biasanya dikemas dalam kantong plastik atau kontainer polietilin bening.

G. Rotasi lahan
Rotasi lahan atau pergiliran lahan adalah pengaturan susunan urut-urutan lahan dalam bentuk blok-blok yang sistematis pada suatu tempat dalam luasan areal tertentu. Tujuan rotasi lahan yang dilakukan oleh adalah sebagai berikut:
a. Menjaga struktur dan kesuburan tanah
Suatu tanaman memrlukan unsure hara tertentu dalam jumlah lebih besar dan menyisakan unsur hara lainnya yang diperlukan oleh tanaman lain. Adanya pergiliran lahan, unsur hara pada tiap-tiap blok dapat terjaga keseimbangannya.
b. Menjaga keseimbangan ekosistem.
Budidaya satu jenis tanaman pada satu lahan secara terus menerus dapat menyebabkan pertumbuhan hama dan penyakit tidak terkendali.
c. Mengendalikan hama dan penyakit secara alami.
Budidaya satu jenis tanaman pada satu lahan secara terus menerus dapat menyebabkan pertumbuhan hama dan penyakit tidak terkendali, dengan rotasi lahan populasi hama dan penyakit akan terkontrol secara alami karena tumbuhan yang tumbuh berganti atau hama dan penyakit tersebut kehilangan inangnya.

2.3 Gambaran Peluang Agribisnis Budidaya Wortel
Prospek pengembangan budidaya wortel di Indonesia amat cerah. Selain keadaan agroklimatologis wilayah nusantara cocok untuk wortel, juga akan berdampak positif terhadap peningkatan pendapatan petani, perbaikan gizi masyarakat, perluasan kesempatan kerja, pengembangan agribisnis, pengurangan impor dan peningkatan ekspor.
Produktivitas wortel di Indonesia masih rendah. Pada tahun 1985 hasil rata-rata nasional baru mencapai 9,43 ton/hektar, kemudian tahun 1986 hanya 8,90 ton/hektar, dan tahun 1991 sekitar 12,89 ton/hektar. Rendahnya hasil rata-rata tersebut antara lain dikarenakan masih terbatasnya varietas wortel unggul dan tehnik budidaya yang belum intensif. Disamping itu, paket teknologi budidaya hasil penelitian komoditas wortel relatif masih terbatas.
Usaha tani wortel secara intensif sistem agribisnis memberikan keuntungan yang memadai. Potensi daya hasil wortel varietas unggul dapat mencapai antara 20-25 ton/ha. Bila harga jual rata-rata Rp 1.500,-/kg keuntungan bersih usahatani wortel selama ± 3 bulan dapat mencapai lebih dari Rp 15 juta/hektar. Bahkan akhir-akhir ini peluang pasar wortel makin luas dan beragam, diantaranya adalah bentuk umbi segar, umbi beku segar dan umbi muda segar.
2.4 Standar Produksi
A. Ruang Lingkup
Standar mutu: Jenis dan standar mutu, cara pengambilan contoh, cara uji, syarat penandaan dan pengemasan.
B. Diskripsi
Standar mutu wortel tercantum dalam standar Nasional Indonesia SNI 01-3163-1992.
C. Klasifikasi dan Standar Mutu
Wortel segar digolongkan dalam dua jenis mutu yaitu mutu I dan mutu II diantaranya :
a) Keasaman sifat varietas : mutu I= seragam; mutu II= seragam; cara pengujian= organoleptik.
b) Kekerasan : mutu I= keras; mutu II= keras; cara pengujian= organoleptik.
c) Warna : mutu I : normal; mutu II= normal; cara pengujian= organoleptik.
d) Kerataan permukaan : mutu I= cukup rata; mutu II= cukup rata.
Tekstur : mutu I = tidak mengayu; mutu II= tidak mengayu; cara pengujian= organoleptik.
e) Tekstur : mutu I = tidak mengayu; mutu II= tidak mengayu; cara pengujian= organoleptik.
f) Kerusakan (% ): mutu I= 5; mutu II= 10; cara pengujian =SP-SMP-301-1981.
g) Busuk (%) : mutu I = 2; mutu II= 2.
D. Pengambilan Contoh
Cara pengambilan contoh diambil secara acak dari jumlah kemasan seperti terlihat pada daftar dibawah ini. Dari setiap kemasan diambil contoh sebanyak 20 umbi dari bagian atas tengah dan bawah. Khusus untuk pengujian kerusakan dan yang busuk, jumlah contoh akhir yang diuji adalah 100 umbi. Pelaksanaan dapat dilakukan di lapangan. Jumlah kemasan yang diambil dalam pengambilan contoh dalam lot adalah:
a) Jumlah kemasan 1 sampai 100, contoh yang diambil=5.
b) Jumlah kemasan 101 sampai 300, contoh yang diambil=7.
c) Jumlah kemasan 301 sampai 500, contoh yang diambil=9.
d) Jumlah kemasan 501 sampai 1000, contoh yang diambil=10.
e) Jumlah kemasan lebih dari 1000, contoh yang diambil=minimum 15.
E. Pengemasan
Cara pengemasan wortel disajikan dalam bentuk utuh dan segar, dikemas dengan keranjang atau bahan lainnya yang berat bersih maksimum 65 Kg, di tutup dengan anyaman bambu atau bahan lain kemudian diikat dengan tali rotan. Isi tidak melebihi permukaan kemasan.
Untuk pemberian merek di bagian luar keranjang diberi label yang dituliskan antara lain:
a) Nama barang.
b) Jenis mutu.
c) Nama/kode perusahaan/ eksportir.
d) Berat bersih.
e) Produksi Indonesia.
f) Negara/tempat tujuan.
2.5 Pemasaran dan Ekspor Impor
Manajemen Pemasaran
Menurut Kotler (2000), pemasaran adalah suatu proses social yang didalamnya individu dan kelompok mendapatkan apa yang mereka butuhkan dan inginkan dengan menciptakan, menawarkan, dan secara bebas mempertukarkan produk yang bernilai dengan pihak lain.
Manajemen pemasaran dari komoditas wortel yaitu sebagai berikut :
Wortel yang dikirim menggunakan kendaraan yang dilengkapi cold box di timbang ulang kemudian dimasukkan cold storage dengan suhu 6-7 0C. Proses penimbangan ulang yang dilakukan hanya sebagai cara untuk memeriksa ulang berat sayuran yang bersangkutan. Pengemasan baru dilakukan saat menerima order dari konsumen.
Pengemasan
Pengemasan dilakukan pagi hari setelah order diterima pada hari sebelumnya. Pengemasan wortel dapat dibedakan menjadi 2 bentuk. Bentuk pertama dikemas dalam plastik dan di press yang dikenal dengan kemasan “pepito” berisi 1 kg wortel. Bentuk kedua menggunakan styrofoam yang dibungkus dengan plastik film atau wraping, berisi 1 kg wortel pula. Pengemasan ini bertujuan memperindah penampilan dan mengurangi transpirasi.
Menurut Agrobis (2000), terdapat beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam pembuatan kemasan yaitu:
a.Desain harus menarik, informative, dan memberikan image yang baik, kuat, namun mudah di buka.
b.Informasi dan pelabelan, jelas berisi perihal perusahaan, macam produk, cara penyimpanan, dll.
Menurut Nur Berlian V.A dan Estu R. (2000), pengemasan merupakan suatu cara untuk melindungi atau mengawetkan wortel,juga memperlancar transportasi dan distribusi ke konsumen. Kemasan yang biasa digunakan dibedakan menjadi 2 yaitu:
a. Kemasan karung plastik untuk tujuan ke pasar induk atau grosir.
b. Kemasan film plastik sehingga tampil baik, rapi, dan menarik untuk keperluan dijual di supermarket.
Perkembangan Ekspor Wortel
Jepang merupakan target pasar yang baik untuk komoditas sayur-sayuran di masa yang akan datang. Hal ini terlihat dari tingginya impor komoditas tersebut selama 25 tahun terakhir. Wortel dan lobak misalnya, walaupun produksi dalam negerinya cukup baik, tetapi tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri.
Pada tahun 1993, produksi wortel dan lobak adalah sebesar 709.000 ton akan tetapi Jepang masih mengimpor komoditi tersebut sebesar 9.266 ton, dengan nilai ¥ 677 million. Pada tahun 1994, volume impor malah meningkat menjadi 18.212 ton, dengan nilai ¥ 1.2 billion.
Pada saat ini negara pengekspor wortel dan lobak ke Jepang adalah Taiwan, China, USA, New Zealand and Australia. Indonesia belum berpartisipasi banyak dalam mensuplai komodtitas tersebut ke Jepang. Pada tahun 1993, volume ekspor Indonesia terhadap komoditi tersebut hanya 7 ton, dengan nilai ¥ 1.3 million, tetapi pada tahun 1994 ekspor Indonesia tidak ada sama sekali. Hal ini merupakan fenomena yang kurang baik bagi perdagangan wortel kita mengingat produksi wortel Indonesia sangat baik.
Produksi Dalam Negeri
Luas areal tanam untuk wortel di Jepang terus berkurang dari tahun ke tahun.berkurang dari tahun ke tahun. Kalau pada tahun 1987 luas arealnya adalah 23.000 ha maka pada tahun 1992 luas arealnya hanya 2.300 ha. Namun demikian produksi wortel dalam negeri tidak mengalami penurunan bahkan, sebaliknya.
Pada tahun 1987 produksi wortel dalam negeri sebesar 669.300 ton, sedangkan pada tahun 1992 produksinya naik menjadi 690.300 Mts. Ini berarti bahwa ada peningkatan produksi untuk wortel. Bahkan pada tahun 1993 produksi dalam negerinya meningkat menjadi 709.000 ton.
Berbeda dengan lobak, luas areal tanam untuk komoditi ini mengalami penurunan tetapi tidak sedrastis pada tanaman wortel. Demikian juga produksinya mengalami penu-runan dari tahun ke tahun selama periode 1987-1992. Total produksi lobak pada tahun 1992 (197.700 ton) turun sebesar 8,7 % dibandingkan dengan total produksi dalam negeri tahun 1987.
Konsumsi Dalam Negeri
Konsumsi dalam negeri dihitung dengan mengurangi total volume ekspor dari produksi dalam negeri dan impor. Dari data statistik perdagangan pertanian Jepang terlihat bahwa ekspor wortel dan lobak dimulai pada tahun 1994. Oleh karena data produksi pada tahun tersebut tidak tersedia maka angka konsumsi dalam negeri akan dihitung berdasarkan data pada tahun 1992.
Pada tahun 1992 produksi dalam negeri wortel dan lobak adalah 888.000 ton. Sedangkan total import untuk komoditas tersebut pada tahun yang sama adalah 2.967 ton. Karena kegiatan ekspor untuk komoditas tesebut pada tahun 19 pada tahun 1992 belum ada, maka konsumsi domestik untuk wortel dan lobak adalah 890.967,4 ton. Jika jumlah penduduk jepang pada tahun tersebut sebanyak 124.452.000 orang, maka konsumsi per kapita untuk komoditas tersebut adalah 7.2 kg.
Musim Impor
Musim sangat penting diperhatikan bila ingin terjun dalam bisnis sayur-sayuran di pasar Jepang karena hal ini sangat berpengaruh terhadap produksi dan konsumsi dalam negeri negara Sakura tersebut. Walaupun dari statistik perdagangan terlihat bahwa kegiatan impor wortel dan lobak ini berjalan sepanjang tahun namun ada bulan-bulan tertentu dimana kegiatan impornya sangat intensif sehingga volume impornya pada periode tersebut lebih tinggi dari bulan lainnya.
Pada tahun 1994, total volume impor dari wortel dan lobak adalah 18,212 ton. Dari jumlah tersebut, sebanyak 23.6 % nya disupplai pada bulan Desember. Hal ini disebabkan karena musim dingin pada bulan tersebut yang menyebabkan produksi sayur-sayuran di Jepang terhenti sama sekali. Pada bulan Februari volume impornya sangat rendah, yaitu hanya sebesar 0.01 % dari total impor pada tahun1994 tersebut.
USA, Taiwan, Australia and New Zealand adalah negara yang paling konsisten melakukan kegiatan ekspor selama tahun 1994 . USA (kecuali Januari) dan Taiwan (kecuali Februari) mengeskpor wortel dan lobak sepanjang tahun. New Zealand absen pada bulan Januari dan Oktober dan Australia absen pada bulan Januari dan Februari. Korea Selatan mengekspor wortel dan lobak ke Jepang hanya pada bulan Desember.
Sistem Distribusi
Umumnya semua produk-produk pertanian yang di impor ke Jepang (termasuk wortel dan lobak) melalui sistem pasar induk. Salah satu perusahaan yang bergerak dalam hal ini adalah Seiko yang biasanya membeli produk-produk pertanian melalui importir dan kemudian menjualnya lagi ke pasar induk yang lebih kecil. Dari sini kemudian produk tersebut masuk ke distributor, supermarket dan ke retailer.Beberapa importer menjual produknya langsung ke supermarket.
Prospek Ekspor Dari Indonesia
Mengingat produksi wortel di Indonesia sangat baik dan petani kita sudah berpengalaman dalam budidaya wortel, maka terbuka kemungkinan untuk mengarahkan ekspor wortel kita ke Jepang. Untuk itu memang harus dilakukan penelitian akan kriteria/karakteristik yang dikehendaki oleh konsumen Jepang. Khususnya pada saat ini, wortel dan lobak belum termasuk daftar sayuran yang dilarang untuk diimp sayuran yang dilarang untuk diimpor dari Indonesia, sehingga lebih mempermudah proses ekspor komoditi tersebut ke Jepang.
Pada tahun 1993, luas areal pertanaman wortel adalah 15.558 ha dimana hampir separuhnya ada di Jawa, dengan total produksi wortel segar sebesar 201.332 ton. Dari jumlah tersebut yang diekspor baru sejumlah 3.034 ton dengan nilai US$ 402.825. Daerah penghasil utama wortel adalah Jawa Barat, Sumatera Utara, Bengkulu, Jawa Tengah dan Jawa Timur.

BAB III
ANALISIS USAHA TANI WORTEL

Berikut ini merupakan contoh analisis usaha wortel dengan pedoman harga yang berlaku di Jawa Timur pada tahun 2009. Modal usaha diperoleh dari pinjaman dengan bunga 2% per bulan.
Analisis usaha monokultur wortel
3.1. Biaya produksi
Biaya Tetap ( investasi )

No Barang Harga Satuan Jumlah Barang Total
1 Gembor Rp 40.000 15 Rp 600.000
2 Pacul Rp 20.000 10 Rp 200.000
3 Pembuatan Tempat Istirahat
4 x 2 m Rp 1.000.000 1 Rp 1.000.000
TOTAL Rp 1.800.000

Biaya Tidak Tetap ( variabel )

No Barang Harga Satuan Jumlah Barang Total
1 Sewa Lahan Rp 700.000/Ha/4 bulan 1 Rp 700.000
2 Benih wortel Rp 750/gram 2000 Rp 1.500.000
3 Pupuk Kompos Rp 2.500/sak 300 Rp 750.000
4 Pestisida Organik Rp 30.000/ karung 17 Rp 510.000
5 Tenaga Kerja 10 orang Rp 200.000 10 Rp 2.000.000
6 Plastik jaring panen Rp 10.000/karung 250 Rp 2.500.000
7 Jasa transportasi panen Rp 200.000 1 Rp 200.000
8 Pinjaman selama 4 bulan
2 %x Rp 9.910.000x4bulan Rp 198.200 4 Rp 792.800
TOTAL Rp 8.902.800

Biaya produksi = 1.800.000 + 8.902.800
= 10.702.800
3.2. Hasil penjualan
Dalam 1 ha, dapat ditanami sekitar 500.000 tanaman wortel. Apabila setiap tanaman menghasilkan sekitar 50 g umbi dengan harga Rp. 1.500 per kg maka hasil penjualan yang dapat diperoleh adalah 500.000 tanaman x 0,05 kg x Rp. 1.500,00 = Rp. 37.500.000
3.3. Keuntungan
Keuntungan kotor = hasil penjualan – biaya produksi
= Rp. 37.500.000 – Rp. 10.702.800
= Rp. 26.797.200
Keuntungan bersih = keuntungan kotor – hutang
= Rp. 26.797.200 – Rp. 9.910.000
= Rp. 16.887.200

3.4. Kelayakan usaha
1) Break even point (BEP)
BEP produksi = Rp. 10.702.800 = 7.135
Rp. 1500
Usaha menanam wortel akan mencapai titik impas pada produksi 7.135 kg per hektar atau 14,27 g per tanaman.
BEP harga = Rp. 10.702.800 = Rp. 428,112
25.000 kg
Dari segi harga, usaha tani wortel akan mencapai titik impas saat harga jualnya Rp. 428,112 per kg

2) Return of investment (ROI)
ROI = Rp.37.500.000 x 100% = 3,50%
Rp. 10.702.800
Hasil tersebut menandakan bahwa dari modal sebesar Rp 100 akan diperoleh pendapatan sebesar Rp. 350.

3) Benefit cost ratio (B/C)
B/C = Rp. 16.887.200 = 1,57
Rp. 10.702.800
Dengan hasil 1,57 berarti bahwa dari modal yang dikeluarkan diperoleh keuntungan sebesar 157%

BAB IV
KESIMPULAN

» Budidaya tanaman wortel tidak sesulit dari tanaman sayuran yang lain, proses budidaya hanya diperhatikan ketinggian tempat.
» Agar tidak mudah terserang hama dan penyakit tanaman akibat dari budidaya monokultur secara terus menerus maka dilakukan upaya rotasi lahan tanam.
» Dari perhitungan analisis kelayakan usaha dilihat dari :
– BEP : maka didapatkan Dari segi harga, usaha tani wortel akan mencapai titik impas saat harga jualnya Rp. 428,112 per kg
– ROI : Hasil tersebut menandakan bahwa dari modal sebesar Rp 100 akan diperoleh pendapatan sebesar Rp. 350.
– B/C : Dengan hasil 1,57 berarti bahwa dari modal yang dikeluarkan diperoleh keuntungan sebesar 157%
Dari hasil analisis kelayakan usaha maka usaha budidaya wortel dapat dijadikan sebagai usaha yang berkelanjutan.

DAFTAR PUSTAKA

Anonymous.2010.http://pdf.usaid.gov/pdf_docs/PNADL249.pdf.Diakses pada tanggal 12 Mei 2010
Anonymous.2010.http://www.amarta.net/amarta/successstory/ID/AMARTA%20success%20story%20Sept%2008-%20Carrot%20FINAL%20Indon.pdf .Diakses pada tanggal 12 Mei 2010
Anonymous.2010.http://dimasadityaperdana.blogspot.com/2009/06/wortel-daucus-carrota-l-i.html.Diakses pada tanggal 12 Mei 2010
Anonymous.2010.http://ayobertani.wordpress.com/2009/04/27/budidaya-wortel/. Diakses pada tanggal 12 Mei 2010
Anonymous.2010.http://www.biotama.com/index.php?option=com_content&task=view&id=55&Itemid=1.Diakses pada tanggal 12 Mei 2010
Anonymous.2010.http://hendri-wd.blogspot.com/2009/02/prospek-pengembangan-agribisnis-wortel.html.Diakses pada tanggal 12 Mei 2010
Anonymous.2010.http://surgaku.com/alam/pertanian-alam/cara-budidaya-wortel.html.Diakses pada tanggal 12 Mei 2010
Anonymous.2010.http://iirc.ipb.ac.id/jspui/bitstream/123456789/2883/1/A08sru_abstract.pdf.Diakses pada tanggal 12 Mei 2010
Anonymous.2010.http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/7426/1/09E00248.pdf.Diakses pada tanggal 12 Mei 2010
Anonymous.2010.http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/7458/1/09E00477.pdf.Diakses pada tanggal 12 Mei 2010
Anonymous.2010.http://books.google.co.id/books?id=ohpuEpNZsEkC&pg=PA88&lpg=PA88&dq=ANALISIS+BIAYA+USAHA+TANI+WORTEL&source=bl&ots=_hagn2-39i&sig=tAWOYqtPpPY1VSKjyY3ldk5wR28&hl=id&ei=0IrrS9e_O5WqtAPf8_HtDw&sa=X&oi=book_result&ct=result&resnum=9&ved=0CCwQ6AEwCA#v=onepage&q=ANALISIS%20BIAYA%20USAHA%20TANI%20WORTEL&f=false.Diakses pada tanggal 12 Mei 2010
Anonymous.2010.http://ftp.lipi.go.id/pub/Buku_Sekolah_Elektronik/SMK/Kelas%20XII/Teknik%20Budidaya%20Tanaman%20Jilid%203.pdf.Diakses pada tanggal 12 Mei 2010
Anonymous.2010.http://www.elsppat.or.id/download/file/e31u2.pdf.Diakses pada tanggal 12 Mei 2010
Anonymous.2010.http://journal.uii.ac.id/index.php/Snati/article/viewFile/1761/1541.Diakses pada tanggal 12 Mei 2010
Anonymous.2010.http://library.usu.ac.id/download/fisip/06000442.pdf.Diakses pada tanggal 12 Mei 2010
Anonymous.2010.http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/7454/1/09E00439.pdf.Diakses pada tanggal 12 Mei 2010
Agrobis, 2002. “Pengemasan Sayur Untuk Ekspor” No. 499 Minggu I Desember 2002.
George N. Agrios, 1996. “ Ilmu Penyakit Tumbuhan” Gajah Mada Universitas Press, Yogyakarta.
Laporan Bulanan Dinas pertanian Tanaman Pangan dan Hortikultura Bondowoso Desember 2004
Nur Berlian dan Estu Rahayu, 2000. “ Wortel dan Lobak” Penebar Swadaya, Jakarta.
Philip Kotler, 2000. “Manajemen Pemasaran” PT. Prenhallindo, Jakarta.
Rukmana, Rahmat. 1995 Bertanam wortel. : Kanisius Yogyakarta,
Taufik, R. 2004. Laporan PKL Politeknik Negeri Jember

Produksi (Teori, Fungsi, dan Efisiensi)

BAB I

PENDAHULUAN

 

1.1.      Latar Belakang

Ilmu usahatani merupakan cabang ilmu pertanian. Mosher (1968) mengartikan usahatani sebagai himpunan dari sumber-sumber alam yang ada di tempat itu yang diperlukan untuk produksi pertanian seperti tanah dan air, perbaikan – perbaikan yang dilakukan atas tanah itu, sinar matahari, bangunan – bangunan yang didirikan di atas tanah itu dan sebagainya.

Menurut Soekartawi (1995) usahatani merupakan ilmu yang mempelajari bagaimana seorang petani mengalokasikan sumber daya yang ada secara efektif dan efisien untuk memperoleh keuntungan yang tinggi pada waktu tertentu.

Ditinjau dari beberapa pengertian di atas tentunya ilmu usahatani sangat penting dalam ilmu pertanian. Dan untuk memaksimalkan dalam pengelolaan usahatani itu sendiri diperlukan unsur-unsur pokok yang merupakan faktor – faktor utama dalam usahatani. Unsur – unsur pokok tersebut sering disebut faktor produksi (input). Proses produksi pertanian adalah proses yang mengkombinasikan faktor – faktor produksi pertanian untuk menghasilkan produksi pertanian (output).

Soekartawi (1987) menjelaskan bahwa tersedianya sarana atau faktor produksi       (input) belum berarti produktifitas yang diperoleh petani akan tinggi. Namun bagaiman petani melakukan usahanya secara efisien adalah upaya yang sangat penting. Efisiensi teknis akan tercapai bila petani mampu mengalokasikan faktor produksi sedemikian rupa sehingga produksi tinggi tercapai. Bila petani mendapat keuntungan besar dalam usahataninnya dikatakan bahwa alokasi faktor produksi efisien secara alokatif. Cara ini dapat ditempuh dengan membeli faktor produksi pada harga murah dan menjual hasil pada harga relatif tinggi. Bila petani mampu meningkatkan produksinya dengan harga sarana produksi dapat ditekan tetapi harga jual tinggi, maka petani tersebut melakukan efisiensi teknis dan efisiensi harga atau melakukan efisiensi ekonomi.

1.2.      Tujuan

  1. Mengetahui teori-teori produksi
  2. Mengetahui fungsi produksi
  3. Mengetahui Efisiensi produksi

BAB II

PEMBAHASAN

 

2.1 TEORI PRODUKSI

Definisi Produksi

Produksi adalah usaha menciptakan dan meningkatkan kegunaan suatu barang untuk memenuhi kebutuhan. Kita ambil contoh sekarung tepung. Tepung merupakan bahan baku yang manfaatnya baru terasa bila telah diubah menjadi roti, usaha pembuatan tepung menjadi roti merupakan kegiatan produksi. Tapi, tidaklah mudah mengubah bahan baku mejadi barang siap konsumsi untuk dapat melakukan kegiatan produksi seorang produsen membutuhkan faktor-faktor produksi. Atau proses mengubah input menjadi output dan produksi  meliputi semua kegiatan untuk menciptakan/menambah nilai/guna suatu barang/jasa.

Teori Produksi : Untuk melihat hubungan antar input (faktor produksi) dan, output (hasil poduksi)

Teori produksi diharapkan : Menerangkan terjadinya suatu proses produksi dapat meramalkan apa yang akan terjadi.

Dalam kegiatan usahatani selalu diperlukan faktor-faktor produksi berupa lahan, tenaga kerja, dan modal yang dikelola seefektif dan seefisien mungkin sehingga memberikan manfaat sebaik-baiknya.

Soekartawi (2001), mengemukakan bahwa yang dimaksud dengan faktor produksi adalah semua korbanan yang diberikan pada tanaman agar tanaman tersebut mampu tumbuh dan menghasilkan dengan baik. Faktor produksi dikenal pula dengan istilah input dan korbanan produksi. Faktor produksi memang sangat menentukan besar-kecilnya produksi yang diperoleh. Faktor produksi lahan, modal untuk membeli bibit, pupuk, obat-obatan dan tenaga kerja dan aspek manajemen adalah faktor produksi yang terpenting. Hubungan antara faktor produksi (input) dan produksi (output) biasanya disebut dengan fungsi produksi atau faktor relationship.

Terdapat tiga pola hubungan antara input dan output yang umum digunakan dalam

pendekatan pengambilan keputusan usahatani yaitu:

1. hubungan antara input-output, yang menunjukkan pola hubungan penggunaan berbagai tingkat input untuk menghasilkan tingkat output tertentu (dieksposisikan dalam konsep fungsi produksi)

2. hubungan antara input-input, yaitu variasi penggunaan kombinasi dua atau lebih input untuk menghasilkan output tertentu (direpresentasikan pada konsep isokuan dan isocost)

3. hubungan antara output-output, yaitu variasi output yang dapat diperoleh dengan menggunakan sejumlah input tertentu (dijelaskan dalam konsep kurva kemungkinan produksi dan isorevenue)

Ketiga pendekatan di atas digunakan untuk mengambil berbagai keputusan usahatani guna mencapai tujuan usahatani yaitu:

1. menjamin pendapatan keluarga jangka panjang

2. stabilisasi keamanan pangan

3. kepuasan konsumsi

4. status sosial, dsb.

Faktor produksi yang diperlukan dalam usahatani :

1. Lahan Pertanaman

Tanah sebagai salah satu faktor produksi merupakan pabrik hasil-hasil pertanian yaitu tempat dimana produksi berjalan dan darimana hasil produksi ke luar. Faktor produksi tanah mempunyai kedudukan paling penting. Hal ini terbukti dari besarnya balas jasa yang diterima oleh tanah dibandingkan faktor-faktor produksi lainnya ( Mubyarto, 1995).

Rukmana (1997), Pengolahan tanah secara sempurna sangat diperlukan agar dapat memperbaiki tekstur dan struktur tanah, memberantas gulma dan hama dalam tanah, memperbaiki aerasi dan drainase tanah, mendorong aktivitas mikroorganisme tanah serta membuang gas-gas beracun dari dalam tanah. Penyiapan lahan untuk tanaman jagung dapat dilakukan dengan tiga cara yaitu tanpa olah tanah (TOT) atau disebut zero tillage, pengolahan tanah minimum (minimum tillage) dan pengolahan tanah maksimum (maximum tillage) (Rukmana, 1997).

2. Modal (sarana produksi)

Dalam kegiatan proses produksi pertanian, maka modal dibedakan menjadi dua macam yaitu modal tetap dan tidak tetap. Perbedaan tersebut disebabkan karena ciri yang dimiliki oleh model tersebut. Faktor produksi seperti tanah, bangunan, dan mesin-mesin sering dimasukkan dalam kategori modal tetap. Dengan demikian modal tetap didefinisikan sebagai biaya yang dikeluarkan dalam proses produksi yang tidak habis dalam sekali proses produksi tersebut. Peristiwa ini terjadi dalam waktu yang relative pendek dan tidak berlaku untuk jangka panjang (Soekartawi, 2003).

Sebaliknya dengan modal tidak tetap atau modal variabel adalah biaya yang dikeluarkan dalam proses produksi dan habis dalam satu kali dalam proses produksi tersebut, misalnya biaya produksi yang dikeluarkan untuk membeli benih, pupuk, obat-obatan, atau yang dibayarkan untuk pembayaran tenaga kerja.

Besar kecilnya modal dalam usaha pertanian tergantung dari :

1.)  Skala usaha, besar kecilnya skala usaha sangat menentukan besar-kecilnya modal   yang dipakai makin besar skala usaha makin besar pula modal yang dipakai.

2.) Macam komoditas, komoditas tertentu dalam proses produksi pertanian juga menentukan besar-kecilnya modal yang dipakai.

3.) Tersedianya kredit sangat menentukan keberhasilan suatu usahatani

(Soekartawi,2003).

3. Tenaga Kerja

Faktor produksi tenaga kerja, merupakan faktor produksi yang penting dan perlu diperhitungkan dalam proses produksi dalam jumlah yang cukup bukan saja dilihat dari tersedianya tenaga kerja tetapi juga kualitas dan macam tenaga kerja perlu pula diperhatikan. Beberapa hal yang perlu diperhatikan pada faktor produksi tenaga kerja adalah :

1.)    Tersedianya tenaga kerja

Setiap proses produksi diperlukan tenaga kerja yang cukup memadai. Jumlah tenaga kerja yang diperlukan perlu disesuaikan dengan kebutuhan sampai tingkat tertentu sehingga jumlahnya optimal. Jumlah tenaga kerja yang diperlukan ini memang masih banyak dipengaruhi dan dikaitkan dengan kualitas tenaga kerja, jenis kelamin, musim dan upah tenaga kerja.

2.)    Kualitas tenaga kerja

Dalam proses produksi, apakah itu proses produksi barang-barang pertanian atau bukan, selalu diperlukan spesialisasi. Persediaan tenaga kerja spesialisasi ini diperlukan sejumlah tenaga kerja yang mempunyai spesialisasi pekerjaan tertentu, dan ini tersedianya adalah dalam jumlah yang terbatas. Bila masalah kualitas tenaga kerja ini tidak diperhatikan, maka akan terjadi kemacetan dalam proses produksi. Sering dijumpai alat-alat teknologi canggih tidak dioperasikan karena belum tersedianya tenaga kerja yang mempunyai klasifikasi untuk mengoperasikan alat tersebut.

3.)    Jenis kelamin

Kualitas tenaga kerja juga dipengaruhi oleh jenis kelamin, apalagi dalam proses produksi pertanian. Tenaga kerja pria mempunyai spesialisasi dalam bidang pekerjaan tertentu seperti mengolah tanah, dan tenaga kerja wanita mengerjakan tanam.

4.)    Tenaga kerja musiman

Pertanian ditentukan oleh musim, maka terjadilah penyediaan tenaga kerja musiman dan pengangguran tenaga kerja musiman. Bila terjadi pengangguran semacam ini, maka konsekuensinya juga terjadi migrasi atau urbanisasi musiman (Soekartawi, 2003). Dalam usahatani sebagian besar tenaga kerja berasal dari keluarga petani sendiri. Tenaga kerja keluarga ini merupakan sumbangan keluarga pada produksi pertanian secara keseluruhan dan tidak perlu dinilai dengan uang tetapi terkadang juga membutuhkan tenaga kerja tambahan misalnya dalam penggarapan tanah baik dalam bentuk pekerjaan ternak maupun tenaga kerja langsung sehingga besar kecilnya upah tenaga kerja ditentukan oleh jenis kelamin. Upah tenaga kerja pria umumnya lebih tinggi bila dibandingkan dengan upah tenaga kerja wanita. Upah tenaga kerja ternak umumnya lebih tinggi daripada upah tenaga kerja manusia ( Mubyarto, 1995).

Soekartawi (2003), Umur tenaga kerja di pedesaan juga sering menjadi penentu besar kecilnya upah. Mereka yang tergolong dibawah usia dewasa akan menerima upah yang juga lebih rendah bila dibandingkan dengan tenaga kerja yang dewasa. Oleh karena itu penilaian terhadap upah perlu distandarisasi menjadi hari kerja orang (HKO) atau hari kerja setara pria (HKSP). Lama waktu bekerja juga menentukan besar kecilnya tenaga kerja makin lama jam kerja, makin tinggi upah yang mereka terima dan begitu pula sebaliknya. Tenaga kerja bukan manusia seperti mesin dan ternak juga menentukan basar kecilnya upah tenaga kerja. Nilai tenaga kerja traktor mini akan lebih tinggi bila dibandingkan dengan nilai tenaga kerja orang, karena kemampuan traktor tersebut dalam mengolah tanah yang relatif lebih tinggi. Begitu pula halnya tenaga kerja ternak, nilainya lebih tinggi bila dibandingkan dengan nilai tenaga kerja traktor karena kemampuan yang lebih tinggi daripada tenaga kerja tersebut (Soekartawi, 2003)

5. Manajemen

Manajemen terdiri dari merencanakan, mengorganisasikan dan melaksanakan serta mengevalusi suatu proses produksi. Karena proses produksi ini melibatkan sejumlah orang (tenaga kerja) dari berbagai tingkatan, maka manajemen berarti pula bagaimana mengelola orang-orang tersebut dalam tingkatan atau dalam tahapan proses produksi (Soekartawi, 2003).

Faktor manajemen dipengaruhi oleh:

1) tingkat pendidikan

2) Pengalaman berusahatani

3) skala usaha.

4) besar kecilnya kredit dan

5) macam komoditas.

Menurut Entang dalam Tahir Marzuki (2005), perencanaan usahatani akan menolong keluarga tani di pedesaan. Diantaranya pertama, mendidik para petani agar mampu berpikir dalam menciptakan suatu gagasan yang dapat menguntungkan usahataninya. Kedua, mendidik para petani agar mampu mangambil sikap atau suatu keputusan yang tegas dan tepat serta harus didasarkan pada pertimbangan yang ada. Ketiga, membantu petani dalam memperincikan secara jelas kebutuhan sarana produksi yang diperlukan seperti bibit unggul, pupuk dan obat-obatan. Keempat, membantu petani dalam mendapatkan kredit utang yang akan dipinjamnya sekaligus juga dengan cara-cara pengembaliannya. Kelima, membantu dalam meramalkan jumlah produksi dan pendapatan yang diharapkan.

Pencapaian efisiensi dalam pengorganisasian input-input dan fasilitas produksi lebih mengarah kepada optimasi penggunaan berbagai sumberdaya tersebut sehingga dapat dihasilkan output maksimum dengan biaya minimum. Dalam usahatani pengorganisasian input-input dan fasilitas produksi menjadi penentu dalam pencapaian optimalitas alokasi sumber-sumber produksi (Soekartawi, 2001).

Pengaruh penggunaan faktor produksi dapat dinyatakan dalam tiga alternatif sebagai berikut :

1.)    Decreasing return to scale artinya bahwa proporsi dari penambahan faktor produksi melebihi proporsi pertambahan produksi

2.)    Constant return to scale artinya bahwa penambahan faktor produksi akan proporsional dengan penambahan produksi yang diperoleh

3.)    Increasing return to scale artinya bahwa proporsi dari penambahan faktor produksi akan menghasilkan pertambahan produksi yang lebih besar (Soekartawi,2001).

Macam-Macam Teori Produksi:

a)      Teori Produksi dengan Satu Input Variabel

Teori produksi sederhana yang menggambarkan tentang hubungan antara tingkat produksi suatu barang dengan jumlah tenaga kerja yang digunakan untuk menghasilkan tingkat produksi barang. (Faktor produksi lain : tetap)

Hukum Hasil Lebih yang Semakin Berkurang (The Law of Diminshing Return)

*      menyatakan bahwa : apabila faktor produksi yang dapat diubah jumlahnya (tenaga kerja) terus menerus ditambah sebanyak satu unit, pada mulanya produksi total akan semakin banyak pertambahannya, tetapi sesudah mencapai suatu tingkat tertentu produksi tambahan akan semakin berkurang dan akhirnya mencapai nilai negatif dan ini menyebabkan pertambahan produksi total semakin lambat dan akhirnya mencapai tingkat yang maksimum kemudian menurun.

Berikut grafik dari Hukum Kenaikan Hasil yang Semakin Berkurang

(The Law of Diminshing Return)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Dari hubungan kurva-kurva tersebut, terbentuklah tiga daerah, yaitu :

Daerah I (daerah efisien tetapi tidak rasional)

Efisien karena tambahan input fisik dapat memberikan tambahan produksi. Tidak rasional karena besarnya tambahan produksi fisik berada berada diatas rata-rata produksi, dengan demikian petani atau produsen tidak akan berhenti menambah input pada daerah I karena harapan untuk meningkatkan produksi masih dapat dilakukan.

Daerah II (efisien tetapi rasional)

Efisien       : tambahan input masih dapat meningkatkan produksi, walaupun tambahan produksi semakin berkurang)

Rasional : rata-rata produksi fisik masih lebih besar dari tambahan produksi

APP > MPP

Daerah III (tidak efisien dan tidak rasional )

Tidak efisien         : karena tambahan input fisik yang diberikan akan mengakibatkan produksi menurun (MPP < 0).

Tidak rasional : karena daerah III tersebut merupakan daerah rugi.                                                                                                                        (Suhartini,2010)

PRODUKSI TOTAL, PRODUKSI RATA-RATA DAN PRODUKSI MARGINAL

Produksi Marginal

*    tambahan produksi yang diakibatkan oleh pertambahan satu tenaga kerja yang digunakan.

MP  : produksi marginal

DTP : pertambahan produksi total

DL   : pertambahan tenaga kerja

Produksi Rata-rata

*    produksi yang secara rata-rata dihasilkan oleh setiap pekerja.

AP : produksi rata-rata

TP : produksi total

L   : tenaga kerja

b.)  Teori Produksi dengan Dua Input Variabel

Kombinasi penggunaan input variabel untuk memproduksi atau menghasilkan suatu output (produk) disebut sebagai isokuan. Semakin tinggi isokuan menunjukkan tingginya kuantitas output yang dihasilkan, sebaliknya isokuan yang rendah menunjukkan tingkat output yang rendah pula.

Isokuan mempunyai karakterisasi yang sama dengan kurva indiferen. Kalau kurva indiferen menunjukkan kombinasi dari barang-barang konsumsi yang memberikan tingkat kepuasan yang sama, maka isokuan menunjukkan kombinasi dari faktor produksi yang memberikan produk yang sama.

Kurva Produksi Sama (Isoquant)

Kurva yang menunjukkan berbagai kombinasi input faktor produksi tenaga kerja (L) dan modal (K) yang dapat menghasilkan sejumlah output yang sama (tingkat produksi tertentu)

 

Gambar di atas merupakan kurva yang menghubungkan titik-titik kombinasi dari faktor produksi x1 dan x2 untuk menghasilkan sejumlah produk tertentu. Dapat dilihat beberapa isokuan yang menunjukkan jumlah output yang sama. Variasi jumlah tenaga kerja dan lahan dapat digunakan untuk menghasilkan isokuan tertentu. Beberapa karakteristik umum isokuan pada fungsi produksi usahatani adalah:

  1. Isokuan merupakan pernyataan grafis fungsi produksi. Contoh Y=f(X1,X2) bila Y dianggap konstan kombinasi X1 dan X2 dapat dicari
  2. Slope isokuan menunjukkan jumlah input X2 yang dapat digantikan oleh penambahan satu satuan input X1. Slope ini bernilai negatif sebab penambahan salah satu input akan menyebabkan pengurangan input yang lain
  3. 3.   Isokuan cembung terhadap titik asal. Hal ini menjelaskan marginal rate of substitution atau slope kurva isokuan cenderung semakin kecil seiring penambahan satu satuan factor produksi untuk menggantikan faktor produksi lainnya
  4. DMRS (Diminishing Marginal Rate of Subtitution) tersebut merupakan akibat dari prinsip Diminishing Marginal Returns dalam proses produksi

Konsep teoritis yang dapat digunakan untuk menjelaskan hubungan fisik antar input pada garfik proporsi input variable-isokuan di atas adalah Returns to Scale(RTS). RTS didefinisikan sebagai perubahan output akibat perubahan input secara proporsional. Keberadaan diminishing marginal returns pada input tunggal dalam diagram isokuan juga dapat ditunjukkan dengan cara lain. Perhatikan garis titik-titik AB yang menunjukkan jumlah tenaga kerja yang dibutuhkan untuk memperoleh peningkatan output misalnya dari Y1 ke Y2, sementara jumlah lahan dipertahankan konstan seluas 1,5 Ha. Jarak antara isokuan yang ditunjukkan oleh a,b,dan c secara bertahap terlihat semakin besar yang berarti jumlah tenaga kerja yang dibutuhkan untuk berpindah dari satu isokuan ke isokuan berikutnya harus semakin besar.

Garis lurus OC menunjukkan bahwa rasio input tetap sama sebanding dengan peningkatan output Jika isokuan menunjukkan peningkatan output yang merata sepanjang garis OC maka fungsi produksi mengalami constant return to scale. Hal ini berarti peningkatan input dengan persentase tertentu akan mengakibatkan output meningkat dengan persentase yang sama.

 

c.)   Teori Biaya (Ongkos) Produksi

Biaya / ongkos produksi adalah semua pengeluaran yang dilakukan oleh perusahaan untuk memperoleh faktor produksi dan bahan mentah yang akan digunakan untuk produksi.

Biaya Produksi Jangka Pendek jangka waktu dimana sebagian faktor produksi tidak dapat ditambah jumlahnya

Beberapa Pengertian Biaya Produksi Jangka Pendek

  1. Biaya Total (TC)

Keseluruahan biaya produksi yang dikeluarkan

TC  =    TFC  +  TVC

  1. Biaya Tetap Total (TFC)

Keseluruhan biaya yang dikeluarkan untuk memperoleh faktor produksi yang tidak dapat diubah jumlahnya

  1. Biaya Variabel Total (TVC)

Keseluruhan biaya yang dikeluarkan untuk memperoleh faktor produksi yang dapat diubah jumlahnya

  1. Biaya Tetap rata-rata

AFC  = TFC/Q

  1. Biaya Variabel rata-rata

AVC = TVC/Q

  1. Biaya Total rata-rata

AC = TC /Q

  1. Biaya Marginal

MCn  =  TCn – TCn-1  atau  DTC/ DQ

Berikut grafik dari biaya produksi jangka pendek :

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

SYARAT PEMAKSIMUMAN KEUNTUNGAN

  1. Memproduksi barang pada tingkat dimana perbedaan antara hasil penjualan total dengan biaya total paling maksimum

TR – TC = maksimum

  1. Memproduksi barang pada tingkat dimana perbedaan antara hasil penjualan marginal = biaya marginal.

MR = MC.

 

BIAYA PRODUKSI  JANGKA PANJANG

Dalam jangka panjang, perusahaan dapat menambah semua faktor produksi, sehingga: biaya produksi tidak perlu dibedakan menjadi biaya tetap dan biaya variabel. Semua pengeluaran dianggap biaya variabel.

CARA MEMINIMUMKAN BIAYA

Dalam analisis ekonomi kapasitas pabrik digambarkan oleh kurva biaya total rata-rata ( AC = Average Cost).

KURVA BIAYA TOTAL RATA-RATA JANGKA PANJANG ( KURVA LRAC)

Kurva yang menunjukkan biaya rata-rata minimum untuk berbagai tingkat produksi apabila perusahaan dapat selalu mengubah kapasitas produksinya. Titik persinggungan dalam kurva-kurva AC tersebut merupakan biaya produksi yang paling optimum/minimum untuk berbagai tingkat produksi yang akan dicapai produsen dalam jangka panjang.

2.2. FUNGSI PRODUKSI

Fungsi produksi digunakan untuk :

- Sebagai alat analisis yang menjelaskan gejala-gejala yang terjadi dalam proses produksi

- Sebagai alat analisis normatif yang dapat menentukan keadaan terbaik untuk memaksimukan kentungan

Hubungan fisik antara output dan input

Fungsi produksi disajikan dalam bentuk matematik dan seringkali tidak dapat menggambarkan secara langsung fenomena yang ada. Pada dasarnya fungsi produksi adalah pola hubungan yang menunjukkan respon output terhadap penggunaan input sebagai contoh produksi padi tergantung pada penggunaan pupuk N. Secara umum diketahui bahwa output akan meningkat seiring dengan penambahan input pupuk hingga tingkat penggunaan pupuk tertentu. Pada tingkat penggunaan input yang lebih banyak output akan menurun karena terjadi ketidakseimbangan unsur hara di dalam tanah.

Hubungan antara produksi padi dengan pupuk secara grafis dan matematis disajikan dalam gambar berikut:

 

 

 

Dapat dilihat bahwa produksi 2200 kg padi dapat diperoleh tanpa penggunaan pupuk, produksi ini akan meningkat hingga mencapai maksimum (3760 kg) pada tingkat penggunaan pupuk sebanyak 125 kg. Produksi akan turun apabila pupuk ditambah di atas 125 kg. Secara matematis hubungan produksi ini dituliskan sebagai:

Y = f (Xt) dengan formulasi persamaan kuadratik: Y= 2200 + 25 X1 – 0,10 X2

Pada umumnya fungsi produksi menggambarkan hubungan teknik atau fisik antara output dengan satu atau lebih input. Dalam contoh gambar 2.1. fungsi produksi memberikan beberapa informasi mengenai respon produksi padi terhadap penggunaan pupuk di antaranya:

1. Terdapat sejumlah output (2200 kg) pada tingkat penggunaan input nol. Hal ini menunjukkan bahwa output tersebut diperoleh atas penggunaan input lainnya (bibit, irigasi, dll)

2. Terdapat penggunaan input tertentu yang memberikan produksi maksimum. Produksi tertinggi ini seringkali dikaitkan dengan tingkat produksi teknis maksimum

3. Bentuk kurva produksi tidak linier, memiliki titik balik. Hal ini menunjukkan kondisi di mana meskipun output terus mengalami peningkatan akibat bertambahnya pemakaian input, peningkatan tersebut terbatas dan semakin menurun. Penambahan output yang diperoleh akibat penambahan satu satuan input secara terus menerus disebut MPP=Marginal Physical Product (Kurva Produk Marjinal). Secara matematik, MPP adalah slope dari kurva produk total pada titik tertentu dan ditunjukkan oleh turunan pertama fungsi produksi. Pada gambar 2.1. (b) Slope kurva MPP yang terus menurun menunjukkan tambahan output yang semakin kecil pada penambahan input berikutnya. Kurva ini memotong sumbu horisontal pada saat fungsi produksi mencapai titik maksimum. Kecenderungan produk marjinal untuk semakin kecil diformulasikan dalam hukum kenaikan hasil yang berkurang (The Law of Diminishing Returns)

4. Pada gambar yang sama juga disajikan kurva APP yang menunjukkan rata-rata produk fisik per unit input. APP didefinisikan sebagai total produksi dibagi total penggunaan input (Y/X1). Bentuk dari kurva MPP dan APP tidak harus linear. Pada gambar 2.1 bentuk kedua kurva tersebut linear adalah sebagai konsekuensi dari penurunan fungsi produksi yang kuadratik.

5. Hubungan fisik antara output dan input dapat diukur dengan elastisitas input yang juga diistilahkan sebagai elastisitas parsial dari produksi. Elastisitas didefinisikan sebagai persentase perubahan output sebagai akibat perubahan persentase tertentu input.

Salah satu hal penting dalam formulasi elastisitas di atas adalah hubungan antara MPP dan APP. Daerah diminishing marginal returns (DMRTS) terjadi pada saat MPP<APP tetapi tidak negatif di mana 0<E<1. Jika E >1 dan E<0 maka fungsi produksi berada pada daerah non ekonomis.

Fungsi produksi didefinisikan sebagai hubungan fisik antara output dengan sejumlah input sebagai berikut: Y = f (X1,X2,…,Xn). Fungsi produksi umumnya hanya memasukkan beberapa variabel input sementara input lainnya dianggap konstan (ceteris paribus). Y=f(X1,X2,…,Xm/Xn-m)

Fungsi produksi harus memenuhi dua kondisi agar memiliki makna ekonomi yakni MPP positip dan menurun. Kondisi ini diperoleh pada saat turunan pertama (dY/dX) sama dengan nol dan turunan kedua (d2Y/dX2)negatif. Artinya respon output terhadap penambahan input harus meningkat tetapi dengan laju yang semakin menurun.

Dampak Perubahan Harga dan Kurva Penawaran

Perubahan rasio harga input dan output akan merubah posisi optimum. Sebagai missal jika harga output meningkat maka rasio antara input output (slope garis singgung pada titik A) semakin besar. Garis singgung akan semakin tegak dan menyinggung fungsi produksi pada penggunaan input yang lebih rendah. Pada contoh di atas jika harga padi meningkat Rp.200,- /kg maka rasio input-output akan turun 5:1 dan titik optimum akan tercapai pada MPP=5 kg.

 

 

 

Dampak perubahan harga terhadap penawaran dapat dilihat pada Grafik Penurunan Suplai. Amati bahwa slope kurva penawaran positip (upward) yang berarti bahwa peningkatan harga padi akan meningkatkan output. Hal ini terjadi karena jumlah penggunaan pupuk yang diperlukan untuk memperoleh tambahan satu satuan output lebih besar. Jika harga satu satuan output sama dengan marginal revenue maka peningkatan pemakaian pupuk untuk memperoleh tambahan satu satuan output disebut dengan marginal cost. Dengan demikian maka kondisi maksimisasi profit dapat dinyatakan dengan MR=MC. Perubahan dari MVP=MFC (marginal factor cost) menjadi MR=MC melibatkan dua cara berbeda untuk menunjukkan kondisi maksimisasi profit yang sama. Pernyataan tersebut difokuskan pada nilai tambahan output yang diperoleh akibat penambahan satu satuan input.

Penurunan kurvai suplai

 

Perubahan dari MVP=MFC (marginal factor cost) menjadi MR=MC melibatkan dua cara berbeda untuk menunjukkan kondisi maksimisasi profit yang sama. Pernyataan tersebut difokuskan pada nilai tambahan output yang diperoleh akibat penambahan satu satuan input.

2.3  EFISIENSI PRODUKSI

Tingkat Optimum Penggunaan Sumberdaya secara Ekonomi

 

Tingkat penggunaan input yang paling efisien tergantung pada hubungan antara harga input dan harga output. Gambar 2.2. menyajikan contoh hipotetik sesuai dengan informasi terdahulu di mana harga padi diasumsikan Rp. 1000/kg pada tingkat petani dan input Rp 10000/kg. Bentuk fungsi produksi tetap sama sebagaimana gambar. Karena satuan yang digunakan dalam nilai moneter maka TPP digantikan dengan konsep TVP (Total Value of Product), APP menjadi AVP (Average Value of Product) dan MPP menjadi MVP (Marginal Value of Product). Informasi tambahan yang diperoleh dari gamba. adalah garis TFC (Total Factor Cost) dan MFC (Marginal Factor Cost). TFC menunjukkan akumulasi biaya akibat peningkatan penggunaan pupuk misalnya setiap penambahan 25 kg pupuk akan menyebabkan peningkatan biaya sebesar Rp. 250.000,- .

Tingkat optimum penggunaan input secara ekonomis terjadi pada saat MVP sama dengan harga input (titik E). Pada daerah di sebelah kiri titik E, MVP>MFC, artinya tambahan nilai produksi yang diperoleh lebih besar dari penambahan biaya produksi. Dalam hal ini penambahan satu satuan input masih memberikan keuntungan. Pada daerah sebelah kanan titik E, tambahan penerimaan akibat penambahan satu satuan input lebih kecil daripada penambahan biaya yang harus dikeluarkan (MVP<MFC). MVP=MFC akan tercapai pada saat kurva TFC sejajar dengan garis singgung (tangen) fungsi produksi. Dengan kata lain MVP adalah slope dari fungsi produksi dan MFC adalah slope kurva TFC. Pada titik ini profit yang merupakan selisih antara MVP dan MFC (AB) mencapai maksimum. Dengan bantuan matematika sederhana tingkat optimum penggunaan input tunggal dapat dijelaskan sebagai berikut:

Px = harga per unit input X

Py= harga per unit output Y

Penggunaan input tunggal optimum

Oleh karena MVP x = MPP x . Py maka terdapat tiga cara untuk mencari titik optimal:

a. Pada titik optimal tambahan penerimaan sama dengan tambahan biaya: MVPx=Px Jika MVPx>Px berarti petani menggunakan terlalu sedikit input. Jika MVP x<Px maka penggunaan input terlalu banyak

b. Dengan menyusun persamaan tersebut kondisi optimum juga dapat dinyatakan sebagai MVPx/Px=1. Dengan kata lain rasio antara nilai produk marjinal terhadap  harga input harus sama dengan satu.

c. Karena MVPx = MPPx. Py kondisi optimum dapat dinyatakan sebagai MPPx = Px/Py di mana MPP sama dengan rasio harga input-output.

Alokasi penggunaan sarana produksi dikatakan efisien apabila nilai marginal produk (NPMxi) sama dengan harga inputnya (Pxi), artinya alokasi sarana produksi telah mencapai titik optimal atau telah efisien. Ini juga berarti bahwa perbandingan antara nilai produk marginal dengan harga input pada titik kombinasi tersebut sama dengan satu (Widodo, 1989). Secara matematis efisiensi alokatif dituliskan sebagai berikut :

NPMxi = Pxi atau NPMxi/Pxi = 1 = ki

Apabila ki = 1 berarti penggunaan input efisien, ki > 1 penggunaan input belum efisien dan masih perlu ditambah, sedangkan bila ki < 1 penggunaan input sudah tidak efisien dan perlu dikurangi. Konsep ini bisa diterapkan untuk mencari tingkat penggunaan input usahatani yang optimal yang dapat menghasilkan hasil panen yang maksimal.

BAB III

STUDI KASUS

ANALISIS EFISIENSI PRODUKSI KOMODITAS LADA

Keragaan Pengembangan Lada

Kebijakan Nasional Pengembangan Komoditas Lada

Sebagaimana telah diketahui bahwa tanaman lada yang paling banyak diusahakan oleh rakyat adalah merupakan salah satu komoditas ekspor Indonesia yang peranannya cukup penting, karena selain sebagai penghasil devisa Negara juga menjadi sumber pendapatan utama dengan melibatkan banyak petani di pedesaan. Berdasar pada kondisi tersebut dan peran Indonesia sebagai produsen utama di pasaran dunia dalam hal ini termasuk ke dalam kelompok produsen tradisional (Indonesia, Malaysia, India dan Brazil), pada akhir-akhir ini juga sudah mulai adanya negara penghasil lada yang baru seperti Thailand, Srilangka, Madagaskar dan Vietnam. Oleh sebab itu dalam upaya mengantisipasi perkembangan lada internasional yang semakin ketat persaingannya, maka keberadaan sistem produksi lada Indonesia perlu ditingkatkan sehingga dapat lebih kuat daya saing di pasaran internasional. Dan salah satu upaya tersebut adalah meningkatkan efisiensi produktivitas usahatani lada rakyat dengan mutu hasil yang meningkat serta upaya memperpanjang umur produktif pertanaman lada, terutama di daerah sentra lada Indonesia (lada hitam di Lampung dan lada putih di Bangka Belitung). Mengenai perkembangan luas pertanaman lada, produksi dan produktivitasnya selama satu dasa warsa terakhir adalah sebagai berikut pada Tabel 1.

Dengan melihat Tabel 1, tampak bahwa peran perkebunan rakyat sangat dominan dan sejalan dengan posisi Indonesia sebagai pemasok utama produksi lada putih (khususnya dari Propinsi Bangka-Belitung) di pasar internasional dan berdasar sumber dari IPC (International Pepper Community) bahwa untuk tahun 2002 telah diproyeksikan produksi lada putih dunia sebesar 65.000 ton dan volume ekspor dunia sekitar 41.000 ton. Oleh sebab itu, maka perlu dilakukan upaya-upaya peningkatan agribisnis mulai dari sub-sistem hulu sampai ke sub-sistem penunjangnya model pengembangannya seperti pada Gambar Lampiran 1. Lebih lanjut perlu diketahui bahwa dalam pelaksanaan selama ini masih dihadapkan pada permasalahan, antara lain seperti:

(a) Pengelolaan usahatani di tingkat petani belum optimal sehingga penerapan teknologi budidya lada masih kurang mendukung bagi peningkatan hasil yang memadai.

(b) Tingkat harga hasil yang relatif rendah dan di lain pihak harga sarana produksi (pupuk dan pestisida) relatif tinggi/mahal.

(c) Gangguan organisme tanaman lada yang bersifat epidemik sehingga kelayakan umur lada menjadi terbatas dan sejalan itu penerapan PHT (Pengendalian Hama Terpadu) masih terbatas.

(d) Mutu hasil belum memenuhi standar karena sarana dan prasarana pengolahan yang memadai keberadaannya masih terbatas sedangkan di tingkat petani dilakukan secara konvesional.

(e) Informasi pemasaran hasil terbatas serta rantai pemasaran/tataniaga lda relative panjang dan kelembagaan petani masih lemah.

(f) Sumberdaya petani baik pengetahuan maupun permodalan masih lemah/terbatas ketersediaannya.

Berdasar pada permasalahan tersebut di atas maka sebagai upaya dari pemerintah sejalan dengan program tersebut, meliputi upaya:

1. Peningkatan produktivitas, mutu hasil dan efisiensi usaha melalui penerapan teknologi tepat guna dan hasil guna.

2. Pengembangan sarana prasarana pengolahan hasil lada serta pengembangan produk.

3. Pengembangan informai pasar serta didukung dengan pemberdayaan kelembagaan tani dan pengembangan kawasan industri masyarakat perkebunan lada.

ANALISA STUDI KASUS

Menurut kelompok kami permasalahan – permasalahan yang ada lebih dapat ditinjau lebih awal oleh pihak – pihak yang terkait, baik bagi dinas pertanian maupun dari pemerintah. Efisiensi produksi dapat dioptimalkan secara baik dengan meningkatkan kesejahteraan petani juga, ketika kesejahteraan petani dapat diangkat secara berkelanjutan tingkat petani yang ingin mengelola lada lebih nbanyak. Sehingga dapat menyeimbangkan efisiensi produksi.

Efisiensi produksi lada di Indonesia dapat ditekan sedemikian rupa dengan menganalisis masalah-masalah yang ada di lapangan, dengan memperhatikan seluruh aspek yang terkait.

BAB IV

KESIMPULAN

  • Produksi adalah usaha menciptakan dan meningkatkan kegunaan suatu barang untuk memenuhi kebutuhan.
  • Teori Produksi : Untuk melihat hubungan antar input (faktor produksi) dan, output (hasil poduksi)
  • Terdapat tiga pola hubungan antara input dan output yang umum digunakan dalam

pendekatan pengambilan keputusan usahatani yaitu:

1. hubungan antara input-output, yang menunjukkan pola hubungan penggunaan berbagai tingkat input untuk menghasilkan tingkat output tertentu (dieksposisikan dalam konsep fungsi produksi)

2. hubungan antara input-input, yaitu variasi penggunaan kombinasi dua atau lebih input untuk menghasilkan output tertentu (direpresentasikan pada konsep isokuan dan isocost)

3. hubungan antara output-output, yaitu variasi output yang dapat diperoleh dengan menggunakan sejumlah input tertentu (dijelaskan dalam konsep kurva kemungkinan produksi dan isorevenue)

  • Faktor produksi yang diperlukan dalam usahatani :

1. Lahan Pertanaman

2. Modal (sarana produksi)

3. Tenaga Kerja

4. Manajemen

Pengaruh penggunaan faktor produksi dapat dinyatakan dalam tiga alternatif sebagai berikut :

  1. Decreasing return to scale artinya bahwa proporsi dari penambahan faktor produksi melebihi proporsi pertambahan produksi
  2. Constant return to scale artinya bahwa penambahan faktor produksi akan proporsional dengan penambahan produksi yang diperoleh
  3. Increasing return to scale artinya bahwa proporsi dari penambahan faktor produksi akan menghasilkan pertambahan produksi yang lebih besar (Soekartawi,2001).
  • Macam-Macam Teori Produksi:

a) Teori Produksi dengan Satu Faktor Berubah

b)  Teori produksi dengan Dua Faktor Berubah

c)   Teori Biaya (Ongkos) Produksi

  • Fungsi Produksi digunakan untuk :

- Sebagai alat analisis yang menjelaskan gejala-gejala yang terjadi dalam proses produksi

- Sebagai alat analisis normatif yang dapat menentukan keadaan terbaik untuk memaksimukan kentungan

  • Alokasi penggunaan sarana produksi dikatakan efisien apabila nilai marginal produk (NPMxi) sama dengan harga inputnya (Pxi), artinya alokasi sarana produksi telah mencapai titik optimal atau telah efisien. Ini juga berarti bahwa perbandingan antara nilai produk marginal dengan harga input pada titik kombinasi tersebut sama dengan satu.
  • Efisiensi produksi komoditas lada di Indonesia dapat dioptimalkan secara baik dengan meningkatkan kesejahteraan petani juga, ketika kesejahteraan petani dapat diangkat secara berkelanjutan tingkat petani yang ingin mengelola lada lebih nbanyak. Sehingga dapat menyeimbangkan efisiensi produksi.

DAFTAR PUSTAKA

Anonymous.2010.http://bdpunib.org/jipi/artikeljipi/2004/104.PDF.diakses tanggal 20 Maret 2010

Anonymous.2010.http://qeyty.blogspot.com/2008/10/bab-viii-fungsi produksi.html.diakses tanggal 20 Maret 2010

Anonymous.2010. http://lecture.ub.ac.id/tatiek/files/2009/11/bab2.pdf.diakses tanggal 20 Maret 2010

Anonymous.2010.http://elearning.gunadarma.ac.id/docmodul/pengantar_ekonomi/Bab_3.pdf.diakses   tanggal 20 Maret 2010

Anonymous.2010. http://bdpunib.org/jipi/artikeljipi/2004/104.PDF.diakses tanggal 20 Maret 2010

Anonymous.2010. http://ejournal.unud.ac.id/abstrak/(8)%20soca-agung%20dkk-analisis %20usahatani%20cabai%20merah(1).pdf. diakses tanggal 20 Maret 2010

Anonymous.2010. http://etd.eprints.ums.ac.id/3157/1/B300010040.pdf.diakses tanggal 20 Maret 2010

Anonymous.2010.http://pustaka.ut.ac.id/puslata/online.php?menu=bmpshort_detail2&ID=445 .diakses tanggal 20 Maret 2010

Anonymous.2010. http://en.wikipedia.org/wiki/Production_theory_basics.diakses tanggal 20 Maret 2010

Anonymous.2010.http://lecture.ub.ac.id/tatiek/files/2009/07/b-max-profit-satu input.pdf. diakses tanggal 20 Maret 2010

Anonymous.2010. http://lecture.ub.ac.id/tatiek/files/2009/11/bab2.pdf diakses tanggal 20 Maret 2010

Soekartawi. 1987. Prinsip Dasar Ekonomi Pertanian. Teori dan Aplikasi. Edisi Revisi. Raja Grafindo Persada. Jakarta

Suhartini. 2010. Modul Perkuliahan III Produksi (Teori, Fungsi, dan Efisiensi). Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya. Malang

Berikut tambahan format ppt kami, silahkan didownload :)
PRODUKSI (TEORI, FUNGSI, DAN EFISIENSI) ppt

Masalah dan Faktor Keberhasilan dalam Usaha Tani

 Disusun Oleh :

  1. R. Nurieke Adistya A.       ( 0810480075 )
  2. Rayza Chairuddin              ( 0810480077 )
  3. Rb. Moh. Nurul Anwar     ( 0810480078 )
  4. Retik Puji Ayu Sanjaya     ( 0810480079 )
  5. Reza Ardian Wahyu R.     ( 0810480080 )
  6. Reza Prakoso D.J.             ( 0810480081 )
  7. Rini Setyawati                   ( 0810480083 )
  8. Rizal Raditya Putra          ( 0810480084 )
  9. Rizki Ramadhani               ( 0810480085 )
  10. Rizky Rachmadi U.           ( 0810480086 )

BAB I

PENDAHULUAN

1.1              Latar Belakang

Pertanian dalam arti luas terdiri dari lima sub sektor, yaitu tanaman pangan, perkebunan, peternakan, perikanan, dan kehutanan. Sebagian besar hasil pertanian adalah bahan makanan terutama beras yang dikonsumsi sendiri dan seluruh hasil perkebunan adalah ekspor. Wilayah pedesaan yang bercirikan pertanian sebagai basis ekonomi sedangkan wilayah perkotaaan yang tidak lepas dari aktivitas ekonomi baik yang sifatnya industri, perdagangan maupun jasa mengalami pertentangan luar biasa di dalam rata-rata pertumbuhan pembangunan. Dengan kemajuan yang dicapai sektor pertanian tanaman pangan, maka pembangunan sektor industri yang didukung sektor pertanian juga semakin maju. Terdapat beberapa pengertian Usaha Tani yaitu :

  1. Menurut Bachtiar Rivai (1980) usahatani adalah organisasi dari alam, kerja dan modal yang ditujukan kepada produksi di lapangan pertanian.
  2. Menurut A.T.Mosher (1966) usahatani adalah sebagian dari permukaan bumi di mana seorang petani, sebuah keluarga tani atau badan usaha lainnya bercocok tanam atau memelihara ternak.
  3. Menurut J.P.Makeham dan R.L.Malcolm (1991) usahatani (farm management) adalah cara bagaimana mengelola kegiatan-kegiatan pertanian.

Untuk memenuhi kebutuhan pangan nasional dari produksi dalam negeri nampaknya masih  sangat sulit untuk direalisasikan karena kompleksnya kendala dan masalah yang dihadapi dalam usaha tani untuk mencapai peningkatan produksi. Permasalahan-permasalahan dalam pengembangan pertanian akhir-akhir ini disadari sebagi faktor yang menentukan keberhasilan adopsi teknologi di tingkat petani. Diantara berbagai permasalahan yang ada, kelembagaan merupakan salah satu faktor yang perlu dicermati untuk mengetahui kelembagaan yang perlu mendapatkan prioritas berkaitan dengan upaya meningkatkan usaha tani. Permasalahan umum yang dihadapi petani di lahan pertanian cukup kompleks yang mengakibatkan rendahnya skala produksi dan mutu hasil diperoleh petani

1.2              Rumusan masalah

  • Masalah apa saja yang dihadapi dalam usahatani ?
  • Faktor – Faktor apa saja yang dapat mempengaruhi keberhasilan usahatani ?
  • Bagaimana solusi masalah yang dihadapi dalam usahatani ?
  • Seperti apa contoh masalah yang terjadi di lapangan beserta solusi bagi pelaksana usahatani ?

1.3              Tujuan

  1. Untuk mengindetifikasi permasalahan usahatani di Desa Bayaserta
  2. Untuk mengetahui Faktor – Faktor yang dapat mempengaruhi keberhasilan usahatani
  3. Untuk mengetahui alternatif pemecahannya dalam  sistem usahtani di Desa Baya,
  4. Untuk mendapatkan hasil yang diharapkan yaitu berkembangnya sistim agribisnis di pedesaan dan meningkatnya  pendapatan dan kesejateraan petani.

BAB II

PEMBAHASAN

2.1       Permasalahan dalam Usaha Tani

Usahatani merupakan satu-satunya ujung tombak pembangunan nasional yang mempunyai peran penting. Upaya mewujudkan pembangunan nasional bidang pertanian (agribisnis) masa mendatang merupakan sejauh mungkin mengatasi masalah dan kendala yang sampai sejauh ini belum mampu diselesaikan secara tuntas sehingga memerlukan perhatian yang lebih serius. Satu hal yang sangat kritis adalah bahwa meningkatnya produksi pertanian (agribisnis) atau ourput selama ini belum disertai dengan meningkatnya pendapatan dan kesejahteraan petani secara signifikan dalam usahataninya. Petani sebagai unit agribisnis terkecil belum mampu meraih nilai tambah yang rasional sesuai skala usahatani terpadu (integrated farming system). Oleh karena itu persoalan membangun kelembagaan (institution) di bidang pertanian dalam pengertian yang luas menjadi semakin penting, agar petani mampu melaksanakan kegiatan yang tidak hanya menyangkut on farm bussiness saja, akan tetapi juga terkait erat dengan aspek-aspek off farm agribussinessnya (Tjiptoherijanto, 1996).

Jika ditelaah, walaupun telah melampaui masa-masa kritis krisis ekonomi nasional, saat ini sedikitnya kita masih melihat beberapa kondisi yang dihadapi dalam usahatani petani kita di dalam mengembangkan kegiatan usaha produktifnya, yaitu :

  • Kecilnya skala Usaha Tani.

Di Indonesia, masih sangat kecil sekali Usaha tani, sehingga menyebabkan kurangnya efisien produksi. Hal-hal yang harus ditempuh untuk mengatasi hal tersebut yaitu melalui pendekatan kerja sama kelompok (Adiwilaga, 1982).

  • Langkanya permodalan untuk pembiayaan usahatani.

Kemampuan petani untuk membiayai usahataninya sangat terbatas sehingga produktivitas yang dicapai masih di bawah produktivitas potensial. Mengingat keterbatasan petani dalam permodalan tersebut dan rendahnya aksesibilitas terhadap sumber permodalan formal, maka dilakukan pengembangkan dan mempertahankan beberapa penyerapan input produksi biaya rendah (Low cost production) yang sudah berjalan ditingkat petani. Selain itu, penanganan pasca panen dan pemberian kredit lunak serta bantuan langsung dari masyarakat kepada petani sebagai pembiaayan usaha tani memang sudah sepantasnya terlaksana (Fadholi, 1981).

  • Kurangnya Rangsangan.

Perasaan ketidakmerataan dan ketidakadilan akses pelayanan usahatani kepada penggerak usahatani (access to services) sebagai akibat kurang diperhatikannya rangsangan bagi penggerak usahatani tersebut dalam tumbuhnya lembaga-lembaga sosial (social capital). Kurangnya rangsangan menyebabkan tidak adanya rasa percaya diri (self reliances) pada petani pelaku usahatani akibat kondisi yang dihadapi. Sebaiknya, untuk menghasilkan output seperti yang diharap, penggerak usahatani seperti petani berhak mendapat pengetahuan atau rangsangan yang lebih terhadap tumbuhnya lembaga-lembaga yang merupakan salah satu jalan usahatani dapat berkembang dan berjalan dengan baik (Fadholi, 1981).

  • Masalah Transformasi dan Informasi.

Pelayanan publik bagi adaptasi transformasi dan informasi terutama untuk petani pada kenyataannya sering menunjukkan suasana yang mencemaskan. Di satu pihak memang terdapat kenaikan produksi, tetapi di lain pihak tidak dapat dihindarkan akan terjadinya pencemaran lingkungan, yaitu terlemparnya tenaga kerja ke luar sektor pertanian yang tidak tertampung dan tanpa keahlian dan ketrampilan lain. Dapat juga terjadi ledakan hama tanaman karena terganggunya keseimbangan lingkungan dan sebagainya akibat dari kurangnya informasi mengenai hal tersebut. Sedangkan untuk mengatasi masalah transformasi dan informasi harga karena belum adanya kemitraan, maka diusahakan pemecahannya melalui temu usaha atau kemitraan antara petani dengan pengusaha yang bergerak di bidang pertanian serta penanganan pemasaran melalui Sub Terminal Agribisnis (STA). Khusus untuk pembelian gabah petani sesuai harga dasar setiap tahun dicairkan dana talangan kepada Lembaga Usaha Ekonomi Pedesaan (LUEP) (Fadholi, 1981).

  • Luasan Usaha yang Tidak Menguntungkan.

Secara klasik sering diungkapkan bahwa penyebab utama ketimpangan pendapatan dalam pertanian adalah ketimpangan pemilikan tanah. Hal ini adalah benar, karena tanah tidak hanya dihubungkan dengan produksi, tetapi juga mempunyai hubungan yang erat dengan kelembagaan, seperti bentuk dan birokrasi dan sumber-sumber bantuan teknis, juga pemilikan tanah mempunyai hubungan dengan kekuasaan baik di tingkat lokal maupun di tingkat yang lebih tinggi. Luas lahan sawah cendrung berkurang setiap tahunnya akibat adanya alih fungsi lahan yang besarnya rata-rata 166 Ha per tahun. Pemilikan lahan sawah yang sempit dan setiap tahunnya yang cendrung mengalami pengurangan maka peningkatan produksi pertanian dilaksanakan melalui usaha intensifikasi dan diversifikasi pertanian (Fadholi, 1981).

  • Belum Mantapnya Sistem dan Pelayanan Penyuluhan.

Peran penyuluh pertanian dalam pembangunan masyarakat pertanian sangatlah diperlukan. Dalam arti bahwa peran penyuluh pertanian tersebut bersifat ‘back to basic’, yaitu penyuluh pertanian yang mempunyai peran sebagai konsultan pemandu, fasilitator dan mediator bagi petani. Dalam perspektif jangka panjang para penyuluh pertanian tidak lagi merupakan aparatur pemerintah, akan tetapi menjadi milik petani dan lembaganya. Untuk itu maka secara gradual dibutuhkan pengembangan peran dan posisi penyuluh pertanian yang antara lain mencakup diantaranya penyedia jasa pendidikan (konsultan) termasuk di dalamnya konsultan agribisnis, mediator pedesaan, pemberdaya dan pembela petani, petugas profesional dan mempunyai keahlian spesifik (Fadholi, 1981).

  • Lemahnya Tingkat Teknologi.

Produktifitas tenaga kerja yang relatif rendah (productive and remmunerative employment) merupakan akibat keterbatasan teknologi, keterampilan untuk pengelolaan sumberdaya yang effisien. Sebaiknya dalam pengembangan komoditas usahatani diperlukan perbaikan dibidang teknologi. Seperti contoh teknologi budidaya, teknologi penyiapan sarana produksi terutama pupuk dan obat-obatan serta pemacuan kegiatan diversifikasi usaha yang tentunya didukung dengan ketersediaan modal (Fadholi, 1981).

  • Aspek sosial dan ekonomi, yang berkaitan dengan kebijakan bagi petani

Permasalahan sosial yang juga menjadi masalah usahatani di Indonesia yaitu masalah-masalah pembangunan pertanian di negara-negara yang sedang berkembang bukan semata-mata karena ketidaksiapan petani menerima inovasi, tetapi disebabkan oleh ketidakmampuan perencana program pembangunan pertanian menyesuaikan program-program itu dengan kondisi dari petani-petani yang menjadi “klien” dari program-program tersebut. Kemiskinan adalah suatu konsep yang sangat relatif, sehingga kemiskinan sangat kontekstual. Agar bantuan menjadi lebih efektif untuk memperkuat perekonomian petani-petani miskin, pertama-tama haruslah menemukan di mana akar permasalahan itu terletak, disamping akar permasalahan itu sendiri (Kasryno, 1984).

2.2       Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Keberhasilan Usahatani

Menurut Fadholi (1991), faktor-faktor yang mempengaruhi keberhasilan usahatani digolongkan menjadi dua, yaitu :

2.2.1.      Faktor intern (faktor-faktor pada usahatani itu sendiri), yang terdiri dari :

  • Petani Pengelola

Petani adalah setiap orang yang melakukan usaha untuk memenuhi sebagian atau seluruh kebutuhan hidupnya di bidang pertanian dalam arti luas yang meliputi usaha tani pertanian, peternakan, perikanan, dan pemungutan hasil laut. Petani tersebut bertanggung jawab tehadap pengelolaan usahatani yang ia lakukan, apabila petani dapat melakukan pengelolaan secara baik maka usahatani yang ia lakukan juga dapat berkembang dengan baik, dan sebaliknya. Pengelolaan usahatani itu juga tergantung dari tingkat pendidikan petani sendiri dan bagaimana cara ia memanfaatkan berbagai faktor produksi yang ada untuk digunakan secara efektif dan efisien agar mendapatkan keuntungan yang maksimal. Jadi disini petani berperan penting sebagai pengambil keputusan dan kebijakan dari usahatani yang dilakukan.

  • Tanah Usahatani

Tanah sebagai harta produktif adalah bagian organis rumah tangga tani. Luas lahan usahatani menentukan pendapatan, taraf hidupnya, dan derajat kesejahteraan rumah tangga tani. Tanah berkaitan erat dengan keberhasilan usaha tani dan teknologi modern yang dipergunakan. Untuk mencapai keuntungan usaha tani, kualitas tanah harus ditingkatkan. Hal ini dapat dicapai dengan cara pengelolaan yang hati-hati dan penggunaan metode terbaik.

Pentingnya faktor produksi tanah, bukan saja dilihat dari segi luas atau sempitnya lahan, tetapi juga segi yang lain, misalnya aspek kesuburan tanah, macam penggunaan lahan (tanah sawah, tegalan, dan sebagainya) dan topografi (tanah dataran pantai, rendah dan dataran tinggi).

Kemampuan tanah untuk pertanian penilaiannya didasarkan kepada:

  1. Kemampuan tanah untuk ditanami dengan berbagai jenis tanaman. Makin banyak tanaman makin baik.
  2. Kemampuan untuk berproduksi. Makin tinggi produksi per satuan luas makin baik.
  3. Kemampuan untuk berproduksi secara lestari, makin sedikit pengawetan tanah makin baik.
  • Tenaga Kerja

Tenaga kerja adalah energi yang di curahkan dalam suatu proses kegiatan untuk menghasilkan suatu produk. Pembicaraan mengenai tenaga kerja dalam pertanian di Indonesia harus dibedakan ke dalam persoalan tenaga kerja dalam usahatani kecil-kecilan (usahatani pertanian rakyat) dan persoalan tenaga kerja dalam perusahaan pertanian yang besar-besar yaitu perkebunan, kehutanan, peternakan dan sebagainya.

Dalam usahatani skala kecil sebagian besar tenaga kerja berasal dari keluarga petani sendiri yang terdiri atas ayah sebagai kepala keluarga, istri dan anak-anak petani. Anak-anak berumur 12 tahun misalnya sudah dapat merupakan tenaga kerja yang produktif bagi usahatani. Tenaga kerja yang berasal dari keluarga petani ini merupakan sumbangan keluarga pada produksi pertanian secara keseluruhan dan tidak pernah dinilai dalam uang. Peran anggota keluarga tani dalam mengelola kegiatan usahatani bersama dapat mengurangi biaya pengeluaran untuk membayar tenaga kerja sewa.

Berbeda dengan usahatani dalam skala besar, tenaga kerja memegang peranan yang penting karena tenga kerja yang ada memiliki skill/keahlian tertentu dan berpendidikan sehingga mampu menjalankan usahatani yang ada dengan baik, tentu saja dengan seorang pengelola (manager) yang juga memiliki keahlian dalam mengembangkan usahatani yang ada.

  • Modal

Seringkali dijumpai adanya pemilik modal besar yang mampu mengusahakan usahataninya dengan baik tanpa adanya bantuan kredit dari pihak lain. Golongan pemilik modal yang kuat ini sering ditemukan pada petani besar, petani kaya dan petani cukupan, petani komersial atau pada petani sejenisnya. Sebaliknya, tidak demikian halnya pada petani kecil. Golongan petani yang diklasifikasikan sebagai petani yang tidak bermodal kuat yaitu petani kecil, petani miskin, petani tidak cukupan dan petani tidak komersial. Karena itulah mereka memerlukan kredit usahatani agar mereka mampu mengelola usahataninya dengan baik.

Kredit usaha tani adalah kredit modal kerja yang disalurkan melalui koperasi/KUD dan LSM, untuk membiayai usaha tani dalam intensifikasi tanaman padi, palawija dan hortikultura. Kredit program ini dirancang untuk membantu petani yang belum mampu membiayai sendiri usaha taninya. Sistem penyaluran kredit ini dirancang sedemikian rupa agar dapat diakses secara mudah oleh petani, tanpa agunan dan prosedur yang rumit.

Bila tidak ada pinjaman yang berupa kredit usaha tani ini, maka mereka sering menjual harta bendanya atau sering mencari pihak lain untuk membiayai usahataninya itu.

  • Tingkat Teknologi

Kemajuan dan pembangunan dalam bidang apa pun tidak dapat dilepaskan dari kemajuan teknologi. Revolusi pertanian didorong oleh penemuan mesin-mesin dan cara-cara baru dalam bidang pertanian. Demikian pula “Revolusi Hijau” mulai tahun 1969/1970 disebabkan oleh penemuan teknologi baru dalam bibit padi dan gandum yang lebih unggul dibanding bibit-bibit yang dikenal sebelumnya.

Teknologi baru yang diterapkan dalam bidang pertanian selalu dimaksudkan untuk menaikkan produktivitas apakah ia produktivitas tanah, modal atau tenaga kerja. Dengan penggunaan teknologi yang lebih maju dari sebelumnya maka usahatani yang dilakukan dapat lebih efektif dan efisien, sehingga dapat memperoleh keuntungan maksimal dengan produktivitas yang tinggi.

Dalam menganalisa peranan teknologi baru dalam pembangunan pertanian kadang-kadang digunakan dua istilah lain yang sebenarnya berbeda namun dapat dianggap sama dan sering dipertukarkan karena keduanya menunjukkan pada soal yang sama yaitu perubahan teknik (technical change) dan inovasi (innovation). Istilah perubahan teknik jelas menunjukkan unsur perubahan suatu cara baik dalam produksi maupun dalam distribusi barang-barang dan jasa-jasa yang menjurus ke arah perbaikan dan peningkatan produktivitas. Inovasi berarti pula suatu penemuan baru yang berbeda dari yang sudah ada atau yang sudah dikenal sebelumnya. Inovasi selalu bersifat baru.

Namun, teknologi juga dapat menjadi kendala usahatani karena sulitnya penerimaan petani terhadap teknologi baru dikarenakan ketidakpercayaannya pada teknologi tersebut, dan juga karena faktor budaya dari petani itu sendiri yang enggan menerima teknologi maupun inovasi.

Teknologi mempunyai sifat sebagai berikut :

a)      Tingkat keuntungan relatif dari inovasi tersebut. Semakin tinggi tingkat keuntungan relatif semakin cepat pula teknologi tersebut diterima oleh masyarakat.

b)      Tingkat kesesuaian dengan nilai-nilai yang ada dalam masyarakat. Semakin tinggi tingkat kesesuaian dengan nilai-nilai yang ada dalam masyarakat, semakin cepat pula inovasi tersebut di terima.

c)      Tingkat kerumitan (complexity) dari inovasi yang akan disebarkan. Semakin tinggi tingkat kerumitan dari inovasi, semakin sulit diterima masyarakat.

d)     Tingkat mudah diperagakan (triability) dari inovasi yang akan disebarkan. Semakin tinggi tingkat kemudahan diperagakan dari inovasi yang akan disebarkan, semakin mudah inovasi itu diterima masyarakat.

e)      Tingkat kemudahan dilihat dari hasilnya (observability). Semakin tinggi tingkat observability semakin mudah inovasi tersebut diterima oleh masyarakat.

  • Kemampuan Petani Mengalokasikan Penerimaan Keluarga

Hasil dari usahatani skala keluarga merupakan penerimaan keluarga yang dapat digunakan untuk memenuhi kebutuhan keluarga tersebut dan juga menyambung kembali keberlangsungan usahatani mereka. Jika seorang petani dapat mengelola penerimaan usahataninya dengan baik maka kebutuhan keluarganya dan usahataninya dapat tercukupi, sebaliknya jika tidak mampu mengelola dan mengalokasikan penerimaan keluarga dari hasil usahatani maka kebutuhannya tidak dapat tercukupi dengan baik.

  • Jumlah Keluarga

Jumlah keluarga berhubungan dengan banyak sedikitnya potensi tenaga kerja yang tersedia di dalam keluarga. Dalam usahatani skala kecil sebagian besar tenaga kerja berasal dari keluarga petani sendiri yang terdiri atas ayah sebagai kepala keluarga, istri dan anak-anak petani. Semakin banyak jumlah keluarga produktif yang mampu membantu usahatani maka biaya tenaga kerja pun semakin banyak berkurang. Dan biaya tersebut dapat dialokasikan untuk keperluan lain.

2.2.2.                  Faktor ekstern (faktor-faktor di luar usahatani), antara lain :

  • Tersedianya Sarana Transportasi dan Komunikasi

Sarana transportasi dalam usahatani tentu saja sangat membantu dan mempengaruhi keberhasilan usahatani, misalnya dalam proses pengangkutan saprodi dan alat-alat pertanian, begitu juga dengan distribusi hasil pertanian ke wilayah-wilayah tujuan pemasaran hasil tersebut, tanpa adanya transportasi maka proses pengangkutan dan distribusi akan mengalami kesulitan.

Begitu pula dengan ketersediaan sarana komunikasi, pentingnya interaksi sosial dan komunikasi baik antara petani dan petani, petani dan kelembagaan, serta petani dan masyarakat diantaranya dapat meningkatkan kualitas SDM petani, mengembangkan pola kemitraan, mengembangkan kelompok tani melalui peningkatan kemampuan dari aspek budidaya dan aspek agribisnis secaa keseluruhan, memperkuat dan melakukan pembinaan terhadap seluruh komponen termasuk petani melalui peningkatan fasilitas, kerja sama dengan swasta, pelayanan kredit dan pelatihan. Jika sarana komunikasi dalam berusahatani kurang mencukupi maka perkembangan usahatani dan petani yang menjalankan kurang maksimal karena ruang lingkup interaksi sosialnya sempit.

  • Aspek-Aspek Yang Menyangkut Pemasaran Hasil dan Bahan-Bahan Usahatani (harga hasil, harga saprodi dan lain-lain)

Harga hasil produksi usahatani mempengaruhi keuntungan yang didapat, semakin tinggi hasil produksi dan semakin mahal harganya maka keuntungan dari usahatani pun semakin tinggi pula, namun harga saprodi juga mempengaruhi penerimaan hasil secara keseluruhan Karena harga saprodi merupakan modal utama dalam berusahatani entah itu harga alat-alat pertanian, bahan-bahan utama seperti benih, bibit, pupuk, dan obat-obatan dan sebagainya. Maka perhitungan, analisis dan pengelolaan/pengalokasian dana yang baik akan mempengaruhi hasil yang didapat dalam berushatani.

  • Fasilitas Kredit

Kredit adalah modal pertanian yang yang diperoleh dari pinjaman. Pentingnya peranan kredit disebabkan oleh kenyataan bahwa secara relatif memang modal merupakan faktor produksi non-alami (buatan manusia) yang persediannya masih sangat terbatas terutama di negara-negara yang sedang berkembang. Lebih-lebih karena kemungkinan yang sangat kecil untuk memperluas tanah pertanian.

Perlunya fasilitas kredit :

ü  Pemberian kredit usahatani dengan bunga yang ringan perlu untuk memungkinkan petani melakukan inovasi-inovasi dalam usahataninya.

ü  Kredit itu harus bersifat kredit dinamis yang mendorong petani untuk menggunakan secara produktif dengan bimbingan dan pengawasan yang teliti.

ü  Kredit yang diberikan selain merupakan bantuan modal juga merupakan perangsang untuk menerima petunjuk-petunjuk dan bersedia berpartisipasi dalam program peningkatan produksi

ü  Kredit pertanian yang diberikan kepada petani tidak perlu hanya terbatas pada kredit usahatani yang langsung diberikan bagi produksi pertanian tetapi harus pula mencakup kredit-kredit untuk kebutuhan rumah tangga (kredit konsumsi).

Adapun lembaga-lembaga kredit yang ada di Indonesia bagi masyarakat tani dapat digolongkan sebagia berikut :

ü  Bank yang meliputi Bank Desa, Lumbung Desa dan Bank Rakyat Indonesia

ü  Perusahaan Negara Pegadaian

ü  Koperasi-Koperasi Desa dan Koperasi Pertanian (Koperta)

Dengan adanya fasilitas kredit dari pemerintah kepada para petani maka diharapkan usahatani dapat terus dilakukan dan dikembangkan tanpa adanya kesulitan modal tapi dengan kredit bunga ringan.

  • Sarana Penyuluhan Bagi Petani

Penyuluh memberikan jalan kepada petani untuk mendapatkan kebutuhan informasi tentang cara bertani atau teknologi baru untuk meningkatkan produksi, pendapatan dan kesejahteraannya. Selain itu, penyuluh juga memberikan pendidikan dan bimbingan yang kontinyu kepada petani.

Dalam proses peningkatan teknologi dan penyebaran inovasi pada masyarakat, penyuluh berfungsi sebagai pemrakarsa yang tugas utamanya membawa gagasan-gagasan baru. Beberapa peranan yang harus dilakukan penyuluh agar proses peningkatan teknologi dan penyebaran inovasi dapat berjalan efektif adalah :

a)      Menumbuhkan kebutuhan untuk berubah.

b)      Membangun hubungan untuk perubahan. Hubungan ini tentunya harus terbina diantara sasaran perubahan (klien) dan penyuluh.

c)      Diagnosa dan penjelasan masalah yang dihadapi oleh klien. Gejala-gejala dari masalah yang dihadapi haruslah diketahui dan dirumuskan menjadi maslah bersama sasaran perubahan.

d)     Mencari alterntif pemecahan masalah. Selain itu tujuan dari perubahan harus juga ditetapkan dan tekad untuk bertindak harus ditumbuhkan.

e)      Mengorganisasikan dan menggerakkan masyarakat ke arah perubahan.

f)       Perluasan dan pemantapan perubahan.

g)      Memutuskan hubungan antara klien dan penyuluh untuk perubahan itu. Hal itu diperlukan untuk mencegah timbulnya sikap kertergantungan masyarakat pada penyuluh

Penyuluh disini bersifat membantu agar kebutuhan informasi yang berhubungan dengan pertanian dapat tesalurkan dengan baik ke petani-petani, serta untuk meningkatkan teknologi dan inovasi petani tradisional menjadi lebih modern.

Menurut Soekartawi (2002), untuk mendukung keberhasilan pengembangan dan pembangunan petani, aspek yang akan berperan adalah :

  1. Aspek sumberdaya (faktor produksi)
  2. Aspek kelembagaan
  3. Aspek penunjang pembangunan pertanian

Bila uraian tersebut di atas dikaji/ditelaah lebih mendalam, maka keberhasilan usahatani tidak terlepas dari :

1. Syarat mutlak (syarat pokok pembangunan pertanian), yang terdiri dari :

  • Pasaran untuk hasil-hasil usahatani
  • Teknologi yang selalu berubah
  • Tersedianya bahan-bahan produksi dan peralatan secara local
  • Perangsang produksi bagi para petani
  • Pengangkutan (transportasi)

2. Faktor pelancar pembangunan pertanian, yang terdiri dari :

  • Pendidikan pembangunan
  • Kredit produksi
  • Kegiatan gotong royong oleh para petani
  • Perbaikan dan perluasan tanah/lahan pertanian
  • Perencanaan nasional untuk pembangunan pertanain

(Mosher, 1965)

2.3     Contoh Pengalaman di Lapangan Mengenai  Masalah dalam Usaha Tani dan Solusinya.

Sebagian dari wilayah Kabupaten Lombok Timur tepatnya di Kecamatan Sembalun yang terletak di sekitar kaki Gunung Rinjani termasuk zone agroekologi lahan kering dataran tinggi dengan ketinggian antara  700 – 1300  mdpl.  Mengingat kondisi tersebut maka kendala yang  sering dihadapi  oleh petani di wilayah tersebut adalah  aspek sosial ekonomi usahatani tanaman padi, yang menjadi dasar pertimbangan untuk dikaji lebih jauh dan bagaimana upaya atau solusi pemecahannya. Tujuan pengkajian adalah untuk mengetahui kendala sosial ekonomi dan upaya pemecahannya. Kendala sosial ekonomi usahatani  padi yang terjadi antara lain yaitu :

  1. Biaya pengolahan tanah usahatani padi relatif mahal.

Pengolahan tanah di desa Sajang dilakukan dengan menggunakan tenaga ternak sapi. Biaya pengolahan tanah relatif mahal yaitu mencapai Rp 50.000/pasang/hari. Untuk membajak lahan 1 ha membutuhkan 6 pasang sapi selama 2 (dua) hari.  Sehingga apabila ditotal maka jumlah biaya pengolahan tanah untuk lahan 1 ha sebesar Rp 600.000 belum termasuk biaya makan dan minum. Tiap satu pasang sapi minimal membutuhkan 2 (dua) orang tenaga manusia. Tingginya biaya pengolahan tanah disebabkan semakin terbatasnya tenaga kerja ternak sapi.  Untuk mengatasi permasalahan tersebut maka alternatif pemecahan masalah  adalah pola kemitraan sapi dengan pola kadasan kepada penggarap sekaligus dapat digunakan sebagai tenaga olah tanah.

  1. Biaya modal usaha relatif tinggi.

Modal usaha petani untuk tanaman pangan diketahui relatif sangat terbatas. Keterbatasan modal tersebut menyebabkan petani meminjam modal kepada rentenir, bank rontok (pelepas uang) dan pengijon. Petani tidak mempunyai akses kepada lembaga keuangan baik lembaga formal maupun non formal. Lembaga keuangan non formal pedesaan seperti koperasi tani, koperasi simpan pinjam, dan sebagainya masih belum ada. Lembaga keuangan formal yang memberikan skim kredit pertanian kepada petani juga belum ada. Keadaan tersebut dengan terpaksa petani harus mengambil kredit kepada rentenir dan pelepas uang untuk modal usahataninya meskipun dengan bunga yang tinggi.  Akibatnya biaya modal usaha relatif tinggi.

Salah satu solusi masalah tersebut adalah  membangun kelembagaan non formal dari kelompok yang sudah ada  dengan kesepakatan atau sebagai dasar untuk mengikat para petani untuk andil dalam pengembangan modal usaha.

  1. Ketersediaan informasi alternatif usahatani yang menguntungkan relatif terbatas.

Secara umum petani tidak mempunyai kemampuan untuk menentukan pilihan usahatani pangan yang menguntungkan. Hal tersebut disebabkan karena ketersediaan informasi alternatif usahatani tanaman pangan yang menguntungkan relatif terbatas. Keterbatasan tersebut disebabkan oleh  kemampuan petani, informasi inovasi dan perencanaan pola tanam pada usahatani tanaman pangan yang lemah. Peluang pengembangan tanaman pangan dengan memanfaatkan sumberdaya air hujan yang terbatas melalui penerapan pola tanam belum dimanfaatkan petani. Akibatnya strategi ketahanan pangan rumahtangga petani sangat lemah.

Solusi menghadapi permasalaha tersebuut yaitu dengan membangun lembaga pendataan bisnis pertanian di pedesaan sehingga dengan adanya lembaga ini dapat menyiapkan segala informasi yang dibutuhkan oleh petani.

  1. Biaya transportasi  komoditi pertanian dan input relatif mahal.

Biaya pemasaran hasil komoditi pertanian relatif mahal. Tingginya biaya pemasaran ini disebabkan ketersediaan jalan usahatani sangat terbatas. Kondisi jalan desa sebagian besar rusak, sarana transportasi relatif terbatas. Prasarana dan saranan transportasi yang terbatas menyebabkan biaya angkut saprodi dan hasil usahatani relatif mahal. Sementara sarana pasar desa yang dapat meningkatkan dinamika pemasaran hasil pertanian belum tersedia. Sarana produksi  di kota kecamatan Sembalun. Demikian halnya hasil pertanian dari desa Sajang sebagian besar dijual ke pasar kecamatan Sembalun. Biaya angkut saprodi maupun hasil pertanian bervariasi antara Rp 5.000 –  Rp 10.000/kw tergantung jarak tempuh. Sedangkan biaya angkut input dari rumah ke lahan usahatani dan biaya angkut hasil pertanian dari lahan ke rumah rata-rata Rp. 5.000/kw.

Langkah untuk mengatasi masalah di atas  adalah dengan membangun jalan usahatani  dari hutan cadangan pangan (HCP) ke desa sehingga biaya angkut hasil pertanian dapat ditekan dan harga jual hasil pertanian dapat ditingkatkan dengan adanya jalan pintas tersebut.

  1. Kemampuan petani untuk mengakses lembaga keuangan formal sangat terbatas.

Kemampuan petani untuk mengakses lembaga keuangan formal sangat terbatas. Hal ini disebabkan prosedur yang sulit dan keterbatasan sumberdaya yang dimiliki petani sehingga tidak ada jaminan yang dapat digunakan sebagai agunan untuk meminjam uang di bank. Selain itu kepercayaan bank kepada petani relatif rendah. Hal ini disebabkan adanya sebagian petani yang menganggap apabila diberi pinjaman pemerintah maka pinjaman tersebut dianggap sebagai pemberian yang tidak harus dikembalikan.

Untuk mengatasi anggapan petani tersebut adalah dengan menumbuh-kembangkan inovasi modal sosial. Sedangkan untuk mengatasi kesulitan mengakses lembaga keuangan formal maka alternatif pemecahannya adalah dengan membangun kelembagaan non formal di pedesaan.

2.4    Contoh Pengalaman di Lapangan Mengenai keberhasilan dalam Usahatani

            Desa Junrejo Kabupaten Malang terdapat seseorang yang merintis usahanya dalam bidang pertanian mulai dari posisi yang sangat bawah. Kebanyakan orang usaha dalam pertanaian hanya memandang bahwa, saat kita menjadi buruh tani maka selamanya akan menjadi buruh tani. Namun hal itu tidak terjadi pada Pak Badu, beliau merintis usahanya dengan memulai menjadi buruh tani bagi tuannya. Uang hasil jerih payahnya disisihkan sedikit demi sedikit sehingga beliau mulai membeli sepetak tanah hanya luasan yang sangat kecil. Namun dengan berjalannya waktu dia tidak lagi menjadi buruh tani, melainkan menjadi petani yang sukses. Beliau saat ini memeliki tanah seluas lebih dari satu hektar. Beliau saat ini memiliki komoditas yang bermacam – macam dan dengan berkala dia menjualnya di pasar Batu. Hal ini juga didorong dari kemajuan teknologi yang mendorong semakin meningkatkan keuntungannya. Keberhasilannya juga tidak lepas dari dorongan keluarganya.

BAB III

KESIMPULAN

  1. Permasalahan dalam Usaha Tani
  • Kecilnya skala Usaha Tani.
  • Kurangnya Rangsangan
  • Aspek sosial dan ekonomi, yang berkaitan dengan kebijakan bagi petani
  • Langkanya permodalan untuk pembiayaan usahatani
  • Masalah Transformasi dan Informasi
  • Luasan Usaha yang Tidak Menguntungkan
  • Belum Mantapnya Sistem dan Pelayanan Penyuluhan
  • Lemahnya Tingkat Teknologi
  1. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Keberhasilan Usahatani

2.1. Faktor intern (faktor-faktor pada usahatani itu sendiri)

  • Petani Pengelola
  • Tanah Usahatani
  • Tenaga Kerja
  • Modal
  • Tingkat Teknologi
  • Kemampuan Petani Mengalokasikan Penerimaan Keluarga
  • Jumlah Keluarga

2.2. Faktor ekstern (faktor-faktor di luar usahatani)

  • Tersedianya Sarana Transportasi dan Komunikasi
  • Aspek-Aspek Yang Menyangkut Pemasaran Hasil dan Bahan-Bahan Usahatani (harga hasil, harga saprodi dan lain-lain)
  • Fasilitas Kredit
  • Sarana Penyuluhan Bagi Petani


DAFTAR PUSTAKA

 

Adiwilaga, Anwas. 1982. Ilmu Usahatani. Bandung : Penerbit Alumni.

Fadholi, Hermanto. 1981. Bahan Bacaan Pengantar Ekonomi Pertanian. Bogor : Pendidikan Guru Kejuruan Pertanian Fakultas Politeknik Pertanian Bogor

Kasryno, Faisal. 1984. Prospek Pengembangan Ekonomi Pedesaan Indonesia. Jakarta : Yayaysan Obor Indonesia.

Soekartawi. 2002. Prinsip Dasar Ekonomi Pertanian. Teori dan Aplikasi. Edisi Revisi. Raja Grafindo Persada. Jakarta

Tjiptoherijanto, Prijono, 1996. Sumber Daya Manusia dalam Pembangunan Nasional. Jakarta : Lembaga Penerbit FEUI

Yuswita, Effy. Dkk. 2010. Modul 2 Kuliah Usahatani. Malang : Jurusan Sosial Ekonomi Pertanian Universitas Pertanian

 

Unsur-Unsur Pokok Usaha Tani

DISUSUN OLEH :

KELOMPOK 2

  1. R. Nurieke Adistya A.       ( 0810480075 )
  2. Rayza Chairuddin              ( 0810480077 )
  3. Rb. Moh. Nurul Anwar     ( 0810480078 )
  4. Retik Puji Ayu Sanjaya     ( 0810480079 )
  5. Reza Ardian Wahyu R.      ( 0810480080 )
  6. Reza Prakoso D.J.             ( 0810480081 )
  7. Rini Setyawati                             ( 0810480083 )
  8. Rizal Raditya Putra           ( 0810480084 )
  9. Rizki Ramadhani               ( 0810480085 )
  10. Rizky Rachmadi U.            ( 0810480086 )

PENDAHULUAN

Ilmu usahatani merupakan cabang ilmu pertanian. Pengertinan usahatani telah didefinisikan oleh beberapa ahli ekonomi pertanian. Pengertian usahatani menurut Mubiyarto ( 1987 ) adalah lebih ke pertanian rakyat.

Mosher ( 1968 ) mengartikan usahatani sebagai himpunan dari sumber-sumber alam yang ada di tempat itu yang diperlukan untuk produksi pertanian seperti tanah dan air, perbaikan – perbaikan yang dilakukan atas tanah itu, sinar matahari, bangunan – bangunan yang didirikan di atas tanah itu dan sebagainya.

Menurut Soekartawi ( 1995 ) usahatani merupakan ilmu yang mempelajari bagaimana seorang petani mengalokasikan sumber daya yang ada secara efektif dan efisien untuk memperoleh keuntungan yang tinggi pada waktu tertentu.

Ditinjau dari beberapa pengertian di atas tentunya ilmu usahatani sangat penting dalam ilmu pertanian. Dan untuk memaksimalkan dalam pengelolaan usahatani itu sendiri diperlukan unsur-unsur pokok yang merupakan faktor – faktor utama dalam usahatani. Unsur – unsur pokok tersebut sering disebut faktor produksi ( input ). Proses produksi pertanian adalah proses yang mengkombinasikan faktor – faktor produksi pertanian untuk menghasilkan produksi pertanian ( output ).

Soekartawi ( 1987 ) menjelaskan bahwa tersedianya sarana atau faktor produksi       (input) belum berarti produktifitas yang diperoleh petani akan tinggi. Namun bagaiman petani melakukan usahanya secara efisien adalah upaya yang sangat penting. Efisiensi teknis akan tercapai bila petani mampu mengalokasikan faktor produksi sedemikian rupa sehingga produksi tinggi tercapai. Bila petani mendapat keuntungan besar dalam usahataninnya dikatakan bahwa alokasi faktor produksi efisien secara alokatif. Cara ini dapat ditempuh dengan membeli faktor produksi pada harga murah dan menjual hasil pada harga relatif tinggi. Bila petani mampu meningkatkan produksinya dengan harga sarana produksi dapat ditekan tetapi harga jual tinggi, maka petani tersebut melakukan efisiensi teknis dan efisiensi harga atau melakukan efisiensi ekonomi.

PEMBAHASAN

1. Faktor – Faktor Produksi

1. Faktor Produksi lahan / Tanah

Tanah merupakan salah satu faktor produksi utama dalam usaha tani. Tanah mempunyai sifat luasnya relatif tetap namun permintaannya terus berkembang.hal ini menyebabkan harga tanah terus meningkat dari waktu ke waktu. Peningkatan Permintaan akan tanah tersebut akan menggeser fungsi lahan ke arah aktiviitas lebih menguntungkan. Hal ini menyebabkan terjadinya alih fungsi lahan pertanian ke penggunaan lainnya seperti untuk pemukiman industri dan jasa.untuk itulah diperlukan peran serta pemerintah untuk mengatur dan membuat kebijakan tentang pertanahan.

Dalam proses produksi pertanian, tanah sebagai salah satu faktor produksi utama dan merupakan sumber daya alam yang bersifat dapat diperbaharui, artinya keberadaan tanah yang jumlahnya relatif tetap tersebut bisa dimanfaatkan untuk proses produksi pertanian dengan tetap melakukan konservasi terhadap kesuburan tanahnya. Tanah sebagai sumberdaya alam dengan fungsinya yang jamak adalah unsur dan tumpuan harapan utama bagi kehidupan maupun kelangsungan hidup umat manusia. Tidak ada satu segi kehidupan manusia yang tidak berhubungan dengan tanah, baik secara langsung maupun tidak langsung.

Tanah sebagai harta produktif adalah bagian organis rumah tangga tani. Luas lahan usahatani menentukan pendapatan, taraf hidup, dan derajat kesejahteraan rumah tangga tani.

Pengenalan fisik terhadap tanah dilihat dari berbagai sisi akan membuka peluang perbedaan tanah. Kita mengenal tanah untuk sawah, tegalan, hutan, dan lain-lain. Perbedaan tataguna lahan itu juga akan berpengaruh terhadap pengelolaan usahatani. Untuk pengelolaan tanah, derajat kemiringan tanah akan menuntut perbedaan biaya untuk tanah seperti terasiring, penanaman tanaman perlindungan, dan lain-lain.

Setiap bagian petak tanah dapat ditetapkan yang terbaik untuk apa. Kriteria dasar yang dipakai adalah persyaratan optimal untuk berbagai jenis tanaman dan persyaratan positif dan negatif dari penggunaan untuk pertanian. Kemampuan tanah untuk pertanian penilaiannya didasarkan kepada:

  1. Kemampuan tanah untuk ditanami dengan berbagai jenis tanaman. Makin banyak tanaman makin baik.
  2. Kemampuan untuk berproduksi. Makin tinggi produksi per satuan luas makin baik.
  3. Kemampuan untuk berproduksi secara lestari, makin sedikit pengawetan tanah makin baik.

Kelas kemampuan tanah dibedakan dalam 8 kelas. Faktor pokok yang menentukan kelas kemampuan tanah tersebut meliputi:

  1. Lereng
  2. Drainase
  3. Kedalaman tanah
  4. Tekstur bawah
  5. Konselerasi/derajat kelembaban
  6. Permeabilitas
  7. Resiko kebanjiran

Apabila tanah usahatani dipetakan dan dihubungkan dengan kelas kemampuannya, petani akan dengan mudah melakukan tindakan dalam mengolah tanah yang dikuasainya.

2. Faktor Produksi Tenaga Kerja

Tenaga kerja adalah energi yang di curahkan dalam suatu proses kegiatan untuk menghasilkan suatu produk. Petani adalah setiap orang yang melakukan usaha untuk memenuhi semua kebutuhan hidupnya dalam bidang pertanian. Petani mempunyai banyak fungsi dan kedudukan atas perannya:

a.  Petani sebagai pribadi

Sebagai pribadi yang diciptakan oleh Tuhan YME, petani juga manusia yang punya perasaan, cita-cita, dan kehendak untuk dihargai dan diakui oleh sesamanya. Petani sebagai pribadi sadar bahwa ia tidak sendiri di dunia ini. Ia mempunyai kepercayaan, keyakinan, serta kemampuan diri yang baka dalam dirinya, ataupun yang diperoleh selama kekayaan yang perlu dikenali oleh petani sebagai pribadi untuk dapat digerakkan dalam memainkan peran yang jamak, termasuk sebagai pengelola usahatani.

b.  Petani sebagai kepala keluarga

Sebagai kepala keluarga (bagi petani yang sudah menikah), petani harus bertanggung jawab terhadap pemenuhan kesejahteraan seluruh anggota keluarganya. Ini merupakan tugas yang cukup berat. Biasanya anggota keluarga lain membantu dalam mencari pertambahan nafkah dan dalam proses usahatani itu sendiri.

Dalam kondisi ini, petani perlu mengetahui total kebutuhan keluarga per tahun dan perinciannya per bulan bahkan per hari. Hal ini penting untuk dapat dijadikan dasar dalam menentukan pengelolaan usahataninya. Setidak-tidaknya untuk sasaran pemenuhan kebutuhannya.

Di bagian ini, petani harus mampu menghitung potensi tenaga yang tersedia di dalam keluarga, serta berapa yang telah digunakan secara riil. Hal ini penting agar mampu mengorganisir faktor kerja sebagai salah satu unsur usahatani.

c.  Petani sebagai guru

Petani sebagian besar masuk di dalam kelompok tani. Dalam kelompok ini berkembang sistem belajar diantara petani. Petani yang maju menjadi guru, tempat bertanya dari petani yang lain.

d.  Petani sebagai pengelola usaha tani

Dalam fungsi ini, petani berguna sebagai pengambil keputusan dalam mengorganisisr faktor-faktor produksi yang sesuai dengan pilihannya dari beberapa kebijakan produksi yang diketahui. Kebanyakan petani bukan memilih alternatif terbaik karena keterbatasan sumber yang dikusai, tetapi telah memilih selamat dan tidak menanggung resiko sebagai akibat salah dalam pengambilan keputusan.

e.  Petani sebagai warga sosial

Sebagai makhluk Tuhan, manusia petani tidak dapat hidup sendiri. Ia berkelompok di dalam keluarga, keluarga besar dan di masyarakat.  Sebagai pribadi, petani yang bermasyarakat akan loyal terhadap aturan bermasyarakat. Tetapi, bila loyalitas itu mundur, maka sangsi masyarakat akan berlaku. Hal itu biasanya, justru sangat ditakuti oleh warga kelompok, termasuk petani. Ada semacam keterikatan yang diberikan oleh kelompok dalam sistem masyarakat tersebut. Dari keduanya, antara petani dan masyarakat terdapat arus bolak balik antara keterikatan kelompok dengan integrasi (pembauran).

f.  Petani sebagai warga negara

Petani pribadi menyerahkan kekuasaannya kepada pemerintah Indonesia, melalui tatanan yang terendah (desa/RT/RW). Bukti penyerahan kekuasaan itu terwujud dalam pengakuan, seperti ikut pemilihan kepala desa, pemilu, diberikan KTP, dan lain-lain. Ada arus timbal balik dan keterikatan antara kekuasaan dan keterikatan.

Dalam pertanian masa depan, diharapkan petani menjadi petani sejati yang menguasai hak untuk memiliki keragaman hayati, hak untuk melestarikan, mengembangkan, saling tukar dan jual benih dan hak untuk mendapatkan makanan yang aman dan menyelamatkan. Dalam banyak kasus, sistem pertanian mereka kini dan dulu merupakan bentuk bentuk pertanian ekologis yang lebih canggih dan tidak destruktif serta tepat bagi kondisi kondisi lingkungan yang khusus.

3. Faktor Produksi Modal

Modal sebagai salah satu faktor produksi bisa dibedakan kedalam: modal tetap dan modal lancar. Modal tetap terkait dengan modal yang tidak bisa di ubah dalam jangka pendek, diantaranya tanah , alat alat pertanian , bangunan dan sebagainya. Sedangkan modal lancar adalah modall yang bisa diubah dalam jangka pendek seperti bibit, pupuk , dan obat obatan , tenaga kerja , dan sebagainya. Pelaksanaan usaha tani memerlukan modal sehingga tidak terlepas dari masalah pendanaan dan manajemen keuangan.

Sumber pembentukan modal dapat berasal dari milik sendiri, kredit dari bank, kredit dari koperasi, warisan, dari usaha lain, dan kontrak sewa. Modal dari kontrak sewa di atur menurut jangka  waktu tertentu sampai peminjam dapat mengembalikan, sehingga angsuran menjadi dan di kuasai pemilik modal.

4. Faktor  produksi managemen

Pengelolaan usahatani adalah kemampuan petani dalam merencanakan mengorganisir, mengarahkan, mengkoordinasi dan mengawasi factor produksi yang dikuasai sehingga mampu memberikan produksi seperti yang diharapkan.

Petani di pedesaan, pada umumnya belum memiliki pembukuan secara individu atas usahataninya, namun petani yang tergabung dalam kelompok tani perencanaan usahatani sering dilakukan secara kelompok, walaupun petani belum memiliki pembukuan secara individu.

Walaupun petani belum memiliki pembukuan secara individu atas usahataninya, namun biasanya petani mempunyai ingatan cukup kuat dan mempunyai kemampuan dalam mengelola usahataninya. Hal ini diantaranya disebabkan usahatani yang dijalankannya sudah biasa dia lakukan dan sudah merupakan warisan secara turun-temurun terutama untuk tanaman pangan.

Seperti telah diketahui, bahwa usahatani terdiri dari subsistem-subsistem yang saling berkaitan untuk meningkatkan kualitas usahatani, maka kemampuan petani dalam mengelola usahatani perlu ditingkatkan. Artinya para petani perlu ditingkatkan pemahamannya dan kemampuannya agar lebih bisa mempunyai akses pasar, permodalan, informasi, akses kesarana produksi, bahkan akses ke pengolahan hasil pertanian. Perlu penciptaan nilai tambah produk pertanian yang bisa dinikmati oleh petani

Untuk mengembangkan system agribisnis ini sangat diperlukan peran serta pemerintah, baik pemerintah pusat maupun pemerintah daerah. Pengembangan usahatani kearah agribisnis memerlukan kemampuan manajemen usaha yang lebih baik.

STUDI KASUS PADA KOMODITAS PADI SRI DENGAN SISTEM ORGANIK

Dalam tataran umum, pertanian organik mengacu kepada prinsip-prinsip diantaranya meningkatkan dan menjaga kealamian lahan dan agro-ekosistem, menghindari eksploitasi berlebihan dan polusi terhadap sumber daya alam, meminimalisasi konsumsi dari energi dan sumber daya yang tidak dapat diperbaharui, menghasilkan nutrisi sehat dalam jumlah yang cukup, dan makanan berkualitas tinggi, memberikan pendapatan yang memadai dalam lingkungan kerja yang aman, selamat dan sehat, mengakui pengetahuan lokal dan sistem pertanian tradisional (kearifan lokal).

Dalam tataran praktis, pertanian organik mengacu kepada prinsip-prinsip diantaranya menjaga dan meningkatkan kesuburan jangka panjang dari tanah, memperkaya siklus bilogikal dalam pertanian, khususnya siklus makanan, memberikan pasokan nitrogen dengan penggunaan secara intensif tanaman yang memfiksasi nitrogen, perlindungan tanaman secara biologikal berdasarkan pada pencegahan daripada pengobatan, keragaman varietas tanaman dan spesies binatang, sesuai dengan kondisi lokal, penolakan pada pupuk kimia, pelindung tanaman, hormon dan pengatur tumbuh, pelarangan terhadap Rekayasa Genetika dan produknya, pelarangan dalam metoda bantuan pemrosesan dan kandungan yang berupa sintetis atau merugikan didalam pemrosesan makanan.

Kondisi alam, cuaca dan budaya masyarakat di Indonesia sangat mendukung sektor pertanian karena tanah Indonesia merupakan tanah yang sangat subur dan produktif sehingga pertanian memang cocok untuk terus dikembangkan. Namun demikian upaya peningkatan produksi instan melalui intensifikasi dengan penggunaan pupuk dan pestisida kimia  membuat kondisi tanah semakin rendah tingkat kesuburannya berakibat turunnya hasil produksi. Untuk mengatasinya para petani mengupayakannya dengan meningkatkan biaya produksi diantaranya berupa peningkatan penggunaan kuantitas dan kualitas benih, pupuk dan pestisida/insektisida. Pada awalnya penambahan biaya produksi ini bisa memberikan peningkatan kepada hasil pertanian, namun untuk selanjutnya tingkat produksi kembali menurun.

Oleh karena itu teroboson inovatif dalam upaya mengembalikan kembali kesuburan tanah dan produktifitas harus dilakukan. Pada saat ini ada harapan sebagai solusi terbaik bagi pertanian di Indonesia dalam peningkatan hasil produksi yaitu melalui pola pertanian dengan metoda SRI-Organik. Metode ini menekankan pada peningkatan fungsi tanah sebagai media pertumbuhan dan sumber nutrisi tanaman. Melalui sistem ini kesuburan tanah dikembalikan sehingga haur-daur ekologis dapat kembali berlangsung dengan baik dengan memanfaatkan mikroorganisme tanah sebagai penyedia produk metabolit untuk nutrisi tanaman. Melalui metode ini diharapkan kelestarian lingkungan dapat tetap terjaga dengan baik, demikian juga dengan taraf kesehatan manusia dengan tidak digunakannya bahan-bahan kimia untuk pertanian.

Pola pertanian padi SRI Organik (beras organik/organic rice) ini merupakan gabungan antara metoda SRI (System of Rice Intensification) yang pertamakali dikembangkan di Madagascar, dengan pertanian organik. Metode ini dikembangkan dengan beberapa prinsip dasar diantaranya pemberian pupuk organik, peningkatan pertumbuhan akar tanaman dengan pengaturan pola penanaman padi yaitu dengan jarak yang renggang, penggunaan bibit tunggal tanpa dilakukan perendaman lahan persawahan.

ANALISIS MENURUT FAKTOR-FAKTOR USAHA TANI

  1. FAKTOR PRODUKSI LAHAN

Pada penggunaan metode organik yang diterapkan pada komoditas Padi, secara otomatis nilai produksi pada lahan akan meningkat meskipun peningkatan itu secara perlahan. Hal ini dikarenakan pertanian organik menggunakan pupuk dan pestisida secara alami, dengan demikian kesuburan pada tanah akan meningkat, karena cadangan bahan makanan unrtuk biota tanah baik mikro maupun makro telah tersedia. Berbeda dengan penggunaan metode secara modern yang menggunakan bahan kimia, yang secara otomatis biota tanah  akan mati dan punah.

Dengan meningkatnya faktor produksi pada tanah maka akan menunjang tingkat produktifitas pada komoditas Padi, sehingga produksi padi saat panen akan meningkat. Dengan berjalannya waktu pada perubahan sistem modern menjadi organik, produksi akan semakin meningkat karena ditunjang semakin produktifitasnya lahan dan biota tanah yang pasti dimanfaatkan oleh tanaman.

  1. FAKTOR PRODUKSI TENAGA KERJA

. Untuk tenaga kerja, fakta yang terjadi di lapangan, pertanian organik menggunakan tenaga kerja lebih intensif dibanding pertanian konvensional terutama pada masa peralihan. Hal ini dikarenakan pengoptimalan penggunaan bahan-bahan alami di sekitar yang dikelola berdasarkan interaksi biologi dan ekologi, dimana prosesnya dilakukan sendiri dalam komunitas pertanian tersebut. Artinya bahan baku untuk asupan pertanian diperoleh dalam komunitas dengan cara membeli atau barter antar anggota komunitas. Ini dapat menekan biaya produksi yang dikeluarkan, tetapi memerlukan tenaga kerja yang intensif. Kalaupun biaya dikeluarkan untuk memperoleh asupan-asupan pertanian dan menggunakan tenaga kerja setempat, perputaran uang hanya terjadi pada komunitas tersebut dan secara tidak langsung menguatkan tatanan ekonomi dan sosial masyarakat komunitas.

Biaya tenaga kerja dapat dikurangi, dengan menerapkan metode pencegahan dalam budidayanya. Seperti metode tumpang sari dan rotasi tanaman dapat membantu dalam pengendalian hama dan penyakit tanaman. Pengurangan pengolahan tanah dengan menggunakan penggunaan jerami dari hasil panen, pemberian manur untuk menumbuhkan dan memperkaya kandungan materi organik tanah. Dengan memelihara alam, akhirnya alamlah yang akan memelihara budidaya kita dan memelihara kita.

  1. FAKTOR PRODUKSI MODAL

Rukmana (1997), mengemukakan bahwa benih yang bermutu tinggi yang berasal dari varietas unggul merupakan salah satu faktor penentu untuk memperoleh kepastian hasil usahatani padi organik. Berbagai benih varietas unggul padi dapat dengan mudah diperoleh ditoko-toko sarana produksi pertanian. Benih padi tersebut sudah dikemas dalam kantong plastik dan berlabel sertifikat sehingga petani tinggal menggunakannya. Namun kadang benih padi diproduksi sendiri oleh petani. Biji padi yang akan dijadikan benih diproses melalui tahap-tahap pengeringan, pemipilan, pengeringan ulang dan pengemasan sesuai dengan kaidah tata laksana pembenihan. Syarat benih jagung yang baik adalah: 1) daya tumbuh minimum 80%. 2) tidak keropos dan berlubang. 3) bebas dari hama dan penyakit 4) murni atau bebas dari campuran varietas lain. 5) berwarna seragam sesuai dengan warna asli suatu varietas. 6) ukuran biji seragam (Rukmana, 1997).

Menurut Marsono dan Sigit (2005), Pupuk sangat bermanfaat dalam menyediakan unsur hara yang kurang atau bahkan tidak tersedia ditanah untuk mendukung pertumbuhan tanaman. Manfaat utama dari pupuk yang berkaitan dengan sifat fisika tanah yaitu memperbaiki struktur tanah dari padat menjadi gembur. Pemberian pupuk organik, terutama dapat memperbaiki struktur tanah dengan menyediakan ruang pada tanah untuk udara dan air. Selain menyediakan unsur hara, pemupukan juga membantu mencegah kehilangan unsur hara yang cepat hilang seperti N, P, K yang mudah hilang oleh penguapan. Manfaat lain dari pupuk yaitu memperbaiki kemasaman tanah. Tanah yang masam dapat ditingkatkan pHnya menjadi pH optimum dengan pemberian kapur dan pupuk organik.

Modal tetap atau fixed costs (yang tidak secara langsung bergantung pada ukuran produksi) merupakan biaya yang dikeluarkan untuk membeli atau menyewa tanah, bangunan atau mesin-mesin atau bisa juga biaya yang disediakan untuk menggaji pekerja-pekerja tetap. Upah bagi buruh tani (termasuk bila menggunakan tenaga kerja keluarga) yang bekerja untuk pekerjaan-pekerjaan khusus (misalnya pada waktu panen) tergantung pada ukuran produksi. Ini disebut sebagai modal tidak tetap (variable costs), termasuk biaya yang dikeluarkan untuk membeli asupan (misalnya benih, manur, pestisida). Sebuah lahan bisa dikatakan layak secara ekonomi jika hasil yang didapat melampaui total modal tidak tetap dan penurunan nilai modal tetap. Hasil utamanya berupa uang yang diterima dari penjualan produk yang dihasilkan. Untuk memperhitungkan keuntungan lahan keluarga dan kegiatan-kegiatan lahan, penghematan pengeluaran untuk makan dan pendapatan yang diperoleh dari luar lahan (misalnya sebagai buruh upahan atau dari kegiatan usaha yang lain) harus turut diperhitungkan.

  1. FAKTOR PRODUKSI MANAJEMEN

Penambahan input produksi padi akan memberikan tambahan output usahatani padi. Akan tetapi penambahan input tersebut tidak selamanya memberikan tambahan produk. Ada saat dimana penambahan input produksi padi akan menurunkan produksi padi yang dihasilkan. Untuk itu alokasi sumberdaya yang tepat sangat penting dalam mencapai keberhasilan usahatani padi organik.

Cara lain untuk mengurangi biaya produksi dengan menerapkan metode tumpang sari/rotasi tanaman sehingga dapat memelihara keragaman species yang dapat mengendalikan organisme pengganggu tanaman (OPT), menggunakan agen hayati lokal untuk membuat pestisida botani sendiri, memproduksi benih dan semaian sendiri, memelihara ternak (untuk mendapatkan manur, susu, telur, daging, dll), membuat pakan ternak di kebun sendiri, saling pinjam-meminjam peralatan dan mesin-mesin dengan tetangga sesama petani dan membeli peralatan yang dibuat secara lokal daripada membeli yang impor, menggunakan bahan-bahan konstruksi yang tersedia di daerah setempat (misalnya bengkel kompos, kandang ternak, alat-alat dll), bergabung dengan petani lain membentuk usaha simpan pinjam agar terhindar dari jeratan tengkulak .

2.       Pengaruh Perubahan Iklim Terhadap Produksi Tanaman.

Iklim dan cuaca merupakan faktor penentu utama bagi pertumbuhan dan produktifitas tanaman pangan. Sistem produksi pertanian dunia saat ini mendasarkan pada kebutuhan akan tanaman setahun, kecuali beberapa tanaman seperti pisang, kelapa, buah-buahan, anggur, kacang-kacangan, beberapa sayuran seperti asparagus, rhubarb, dan lain-lain. Tanaman-tanaman tersebut dikembangbiakan dalam kondisi pertanaman tertentu.

Produktifitas pertanian berubah-ubah secara nyata dari tahun ke tahun. Perubahan drastis cuaca, lebih berpengaruh terhadap pertanian dibanding perubahan rata-rata. Tanaman dan ternak sangat peka terhadap perubahan cuaca yang sifatnya sementara dan drastis. Perbedaan cuaca antar tahun lebih berpengaruh dibanding dengan perubahan iklim yang diproyeksikan. Dan tak terdapat bukti bahwa perubahan iklim akan mempengaruhi perubahan cuaca tahunan.

Petani selalu berhadapan dengan perubahan iklim. Besaran perbedaan antar tahun telah melampaui prakiraan perubahan iklim. Fluktuasi iklim tahunan, dalam beberapa urutan besaran lebih tinggi dibanding dengan besar prediksi perubahan pelan-pelan iklim yang diajukan para ahli ekologi. Hal ini digambarkan pada Musim panas daerah pertanian Jagung Amerika serikat, antara tahun 1988 (kering dan panas) dan 1992 (basah dan dingin). Suhu selama Juli dan Agustus berbeda 80F dalam dua tahun dibeberapa negara bagian. Hal paling kritis yang belum diketahui adalah pola frekuensi kemarau. Kemarau terjadi dibeberapa tempat didunia setiap tahun. Kemarau tahunan juga lumrah terjadi di area pertanian India, China, Rusia dan beberapa negara Afrika.

Pertumbuhan dan Produkstifitas Tanaman: Kemampuan Adaptasi terhadap Suberdaya Iklim di Bumi

Banyak tanaman pangan mampu beradaptasi terhadap perubahan iklim. Di bumi padi, ubikayu, ubijalar dan jagung dapat tumbuh dimana saja kelembaban dan suhu sesuai. Jagung mampu tumbuh di areal yang beraneka ragam kelembaban, suhu, dan ketinggian dibumi ini. Areal produksinya di USA telah meluas ke utara sampai 800 km selam lima puluh tahun ini. Kedelai dan Kacang tanah dapat tumbuh di daerah tropik sampai lintang 450 LU dan 400 LS. Gandum musim dingin yang lebih produktif dari gandum musim semi areal tanamnya telah meluas keutara sejauh 360 km. Ditambah dengan kemampuan rekayasa genetik yang kita miliki perluasan areal tanam akan semakin mungkin dan cepat terealisasi.

Diperkirakan penggandaan kadar CO2 akan meningkatkan produktivitas tanaman di Amerika Utara, hal serupa juga terjadi di Sovyet, Eropa dan propinsi bagian utara China. Tanaman hortikultura dapat berkembang bebearapa musim diseluruh negara bagian USA. Tanaman seperti Tebu dan Kapas semakin meluas areal tanamnya dengan dimanfaatkannya mulsa dan pelindung plastik. Pemanasan global akan lebih menguntungkan dibanding dengan kembalinya era es sebagaimana diprediksi beberapa dekade yang lalu. Terlebih dimana produksi tanaman pangan terpusat di Lintang 300 LU sampai 500 LS.

Prakiraan Regional: Pola Iklim dan Respons Tanaman

Sejak 1850, kadar CO2 dalam atmosfir telah meningkat sebesar 25 % akibat pembakaran bahan bakar fosil dan penggundulan hutan tak ada yang menentangnya. Kadar gas rumah kaca selain CO2 juga telah meningkat melebih prosentase CO2 dan dengan efek pemanas yang setara CO2. Namun terdapat kontrovesi mengenai kapan pemanasan global pertama kali muncul, juga terdapat kontroversi mengenai besaran perubahan suhu yang terjadi, jika terjadi pada masa yang akan datang. Perkiraan yang ada berkisar antara minus 1,50C sampai 60C. Prakiraan iklim dan cuaca regional dengan sebaran variabel seperti awan, kelembaban, dan angin lebih tidak pasti lagi.

Efek langsung dari meningkatnya CO2, berdampak positif terhadap tumbuhan, sebagaimana dibahas diatas, namun bila terjadi kekeringan sebagaimana ramalan hasil permodelan iklim yang sekarang, hasil pertanian tak dapat dipastikan. Namun secara garis besar dampak yang terjadi masih dapat kita kendalikan. Tindakan dari petani, ilmuwan dan kebijkan pemerintah lebih diperlukan dibandingkan dengan perubahan pola hidup kita.

Prakiraan pengaruh CO2 terhadap iklim menimbulkan banyak spekulasi, dan beberapa riset telah dimulai untuk meneliti dampaknya terhadap hubungan hama dan tanaman dan strategi perlindungan tanaman. Gulma, Serangga, nematoda dan wabah  berdampak sangat merugikan bagi pertanian. Perubahan Iklim yang mungkin akan berdampak pada hubungan tumbuhan – hasil panen – hama, dan ekosistem lain. Peningkatan kandungan karbohidrat dan akumulasi nitrogen akan berpengaruh terhadap pola makan serangga, ini telah ditunjukan dalam beberapa eksperimen. Pengendalian hama memasuki era baru, dengan pengintegrasian penanganan hama.

Pengaruh Perubahan Iklim Terhadap Sektor Pertanian

Beberapa penemuan terakhir mulai memperjelas pengaruh iklim terhadap produksi pertanian. Pada pertemuan The Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC) dilaporkan berbagai model simulasi untuk menduga pengaruh perubahan iklim terhadap produksi tanaman. Pengaruh pada produksi pertanian dapat disebabkan paling tidak oleh pengaruhnya terhadap produktivitas tanaman, pengaruh terhadap organisme pengganggu tanaman, dan kondisi tanah.

Berdasarkan tipe fotosintesis, tumbuhan dibagi ke dalam tiga kelompok besar, yaitu C3, C4, dan CAM (crassulacean acid metabolism). Tumbuhan C4 dan CAM lebih adaptif di daerah panas dan kering dibandingkan dengan tumbuhan C3. Namun tanaman C3 lebih adaptif pada kondisi kandungan CO2 atmosfer tinggi.

Sebagian besar tanaman pertanian, seperti padi, gandum, kentang, kedelai, kacang-kacangan, dan kapas merupakan tanaman dari kelompok C3. Tanaman pangan yang tumbuh di daerah tropis, terutama gandum, akan mengalami penurunan hasil yang nyata dengan adanya kenaikan sedikit suhu karena saat ini gandum dibudidayakan pada kondisi suhu toleransi maksimum. Negara berkembang akan berada pada posisi sulit untuk mempertahankan kecukupan pangan.

Perubahan iklim akan memacu berbagai pengaruh yang berbeda terhadap jenis hama dan penyakit. Perubahan iklim akan mempengaruhi kecepatan perkembangan individu hama dan penyakit, jumlah generasi hama, dan tingkat inokulum patogen, atau kepekaan tanaman inang. Menurut Wiyono3 pengaruh iklim terhadap perkembangan hama dan penyakit tanaman dapat dikategorikan ke dalam tiga bentuk, yaitu (1) eskalasi, di mana hama-penyakit yang dulunya penting menjadi makin merusak, atau tingkat kerusakannya menjadi lebih besar; (2) perubahan status; dan (3) degradasi. Patogen yang ditularkan melalui vektor perlu mendapat perhatian penting, kerusakan tanaman akan menjadi berlipat ganda akibat patogen dan serangga vektornya (Ghini 2005, Garrett et al. 2006). Peningkatan suhu udara merangsang terjadinya ledakan serangga vektor. Oleh karenanya penyebaran dan intensitas penyakit diduga akan meledak. Indonesia memiliki beberapa penyakit penting yang ditularkan oleh vektor seperti virus kerdil pada padi, CVPD pada jeruk, dan yang lainnya. Selain mempengaruhi pertumbuhan dan aktivitas vektor, peningkatan suhu juga mendorong aktivitas patogen tertentu. Patogen yang memiliki adaptabilitas pada suhu yang cukup luas akan mudah beradaptasi dengan peningkatan suhu udara.

Menyimak kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi di atas, wajar apabila orang yang tinggal di sekitar daerah tropis merasa khawatir atas terjadinya perubahan iklim. Namun, apakah mungkin perubahan iklim ini dapat diatasi hanya dengan perbaikan lingkungan di daerah tropis? Padahal penyumbang masalah terjadinya perubahan iklim bukan hanya akibat konversi hutan atau lahan budi daya pertanian.

DAFTAR PUSTAKA

Annonymous. 2010. Definisi dan Usaha Pertanian.  http://pustaka.ut.ac.id. Diakses pada  24 Februari  2010.

Annonymous. 2010. Padi SRI Organik. http:// balitbangtan.go.id . Diakses pada  24 Februari  2010..

Annonymous. 2010. Pengaruh Perubahan Iklim Terhadap Produksi Tanaman.  http://hirupbagja.blogspot.com/2009/10/pengaruh-perubahan-iklim-terhadap.html

Diakses pada  24 Februari  2010..

Annonymous. 2010. Efek Rumah Kaca. http://munawar.8m.net/rmh_kaca.htm

.           Diakses pada  24 Februari  2010..

Soekartawi, et al. 1984. Ilmu Usahatani dan Penelitian untuk Pengembangan Petani Kecil. Jakarta : UI Press.

Tohir, Kaslan A. 1982. Seuntai Pengetahuan Tentang Usahatani di Indonesia. Jakarta : Penebar Swadana.

Hidayati, Rini., Masalah Perubahan Iklim di Indonesia Beberapa Contoh Kasus, Program Pasca Sarjana / S-3, Institut Pertanian Bogor, November 2001.

Winarso, P Agus., Peluang Munculnya Cuaca Ekstrem Akhir 2002 dan Awal 2003, Badan Meteorologi dan Geofisika, Jakarta, 2002

Perubahan Sosial dan Kebudayaan

LAPORAN KEGIATAN FIELDTRIP 

PERUBAHAN SOSIAL DAN KEBUDAYAAN

OBYEK KUNJUNGAN :

DESA MERJOSARI, KEC. LOWOKWARU, KAB. MALANG

OLEH : KELOMPOK 2

1. MOH. FIRSTSYAH SOFYAN           (0810480058)

2. RIZKI RAMADHANI                          (0810480085)

3. SEPTI WULAN SARI                          (0810480093)

4. SISKA SEPTI WULANSARI              (0810480096)

  PROGRAM STUDI : AGROEKOTEKNOLOGI

WAKTU KUNJUNGAN :

1O MEI 2009

LABORATORIUM PENGEMBANGAN MASYARAKAT PEDESAAN

JURUSAN SOSIAL EKONOMI PERTANIAN

FAKULTAS PERTANIAN

UNIVERSITAS BRAWIJAYA

MALANG

2009


BAB I

PENDAHULUAN

1.1  Latar Belakang

Setiap masyarakat selama hidup pasti mengalami perubahan yang dapat berupa perubahan yang tidak menarik dalam arti kurang mencolok. Ada pula perubahan-perubahan yang pengaruhnya terbatas maupun yang luas, serta ada pula perubahan-perubahan yang lambat sekali, tetapi ada juga yang berjalan dengan cepat.

Perubahan-perubahan masyarakat dapat mengenai nilai-nilai sosial, norma-norma sosial, pola-pola perilaku organisasi, susunan lembaga kemasyarakatan, lapisan-lapisan dalam masyarakat, kekuasaan dan wewenang, interaksi sosial dan lain sebagainya.

Dengan mengetahui perubahan-perubahan suatu masyarakat tertentu maka dapat diklasifikasikan apakah masyarakat tadi bersifat statis atau dinamis. Masyarakat yang statis dimaksudkan masyarakat yang sedikit sekali mengalami perubahan dan berjalan lambat. Masyarakat yang dinamis adalah masyarakat-masyarakat yang mengalami berbagai perubahan yang cepat.

Pada praktikum sosiologi pertanian kali ini membahas mengenai Perubahan Sosial dan Kebudayaan yang ada di pedesaan khusunya dalam keluarga petani. Dan Desa yang dituju kali ini adalah Desa Merjosari dengan narasumber yang bernama Bapak Sa’an yang merupakan penduduk Desa Merjosari dan bemata pencaharian sebagai petani padi yang bertempat tinggal di RT 05 RW X Desa Merjosari Kabupaten Malang.

Dengan adanya praktikum tentang perubahan  sosial dan kebudayaan dalam lingkup keluarga petani yang ada di Desa Merjosari ini diharapkan mahasiswa atau praktikan dapat memahami dan mengetahui perubahan-perubahan apa yang terjadi dalam keluarga petani tersebut secara khusu dan masyarakat petani di Desa Merjosari secara umum.

1.2  Rumusan Masalah

  1. Apakah perubahan sosial itu ?
  2. Apakah nilai-nilai sosial itu?
  3. Bagaimana pola perilaku masyarakat di Desa Merjosari?
  4. Bagaimana organisasi dan lembaga social di Desa Merjosari?
  5. Bagaimana stratifikasi social di Desa Merjosari?
  6. Bagaimana kekuasaan seseorang di Desa Merjosari?
  7. Bagaimana wewenang serta kepemimpinanan masyarakat Desa Merjosari?

1.3    Tujuan

1. Mengetahui perubahan sosial

  1. Mengetahui nilai-nilai sosial
  2. Mengetahui pola perilaku masyarakat di Desa Merjosari
  3. Mengetahui organisasi dan lembaga social di Desa Merjosari
  4. Mengetahui stratifikasi social di Desa Merjosari
  5. Mengetahui kekuasaan seseorang di Desa Merjosari
  6. Mengetahui wewenang serta kepemimpinanan masyarakat Desa Merjosari

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1  Definisi Perubahan Sosial

  • Perubahan sosial adalah segala perubahan-perubahan pada lembaga-lembaga pemasyaarakatan di dalam suatu masyarakat yang mempengaruhi sistem sosialnya, termasuk diantaranya kelompok-kelompok dalam masyarakat.

(Soemardjan,1962)

  • Perubahan sosial adalah perubahan-perubahan yang terjadi dalam struktur dan fungsi masyarakat.

(Davis, 1960 )

  • Perubahan sosial adalah perubahan fundamental yang terjadi dalam struktur sosial, sistem sosial, dan organisasi sosial.

(Dirdjosiswojo, 2005)

  • Perubahan sosial adalah perubahan-perubahan dalam hubungan sosial atau sebagai perubahan terhadap keseimbagan hubungan sosial.

(Maclver, 1957)

2.2  Teori-Teori Perubahan Sosial

Banyak yang berpendapat bahwa kecendurungan terjadinya perubahan-perubahan sosial merupakan gejala wajar yang timbul dari pergaulan hidup manusia. Ahli lain berpendapat bahwa perubahan sosial terjadi karena adanya perubahan dalam unsur-unsur yang mempertahankan keseimbangan masyarakat, seperti misalnya perubahan dalam unsur-unsur geografis, biologis, ekonomis atau kebudayaan. Kemudian, ada pula yang berpendapat bahwa perubahan-periubahan sosial bersifat periodik dan nonperiodik.

Beberapa sosiolog berpendapat bahwa ada kondisi-kondisi sosial primer yang menyebabkan terjadinya perubahan. Misalnya kondisi-kondisi ekonomi, teknologis, geografis atau biologis mengakibatkan terjadinya perubahan-perubahan pada aspek-aspek kehidupan sosial lainnya. Sebaliknya ada pula yang mengatakan bahwa semua kondisi tersebut sama pentingnya, satu atau semua akan menelorkan perubahan-perubahan sosial.

(Soekanto,1982)

2.3 Hubungan Antara Perubahan Sosial dan Perubahan Kebudayaan

Perubahan sosial merupakan bagian dari perubahan kebudayaan. Perubahan dalam kebudayaan mencakup semua bagiannya, yaitu : kesenian, ilmu pengetahuan, teknologi, filsafat, dan seterusnya, bahkan perubahan-perubahan dalam bentuk serta aturan-aturan organisasi sosial.

Ruang lingkup perubahan kebudayaan lebih luas. Sudah barang tentu ada unsur-unsur kebudayaan yang dapat dipisahkan dari masyarakat, tetapi perubahan-perubahn dalam kebudayaan tidak perlu mempengaruhi sistem sosial. Perubahan-perubahan sosial dan kebudayaan mempunyai satu aspek yang sama, yaitu kedua bersangkut-paut dengan suatu penerimaan cara-cara baru atau suatu perbaikan dalam cara satu masyarakat memenuhi kebutuhan-kebutuhannya.

Sebenarnya dalam kehidupan sehari-hari, acapkali tidak mudah untuk menentukan letak garis pemisah antara perubahan sosial dan kebudayaan. Hal itu disebabkan tidak ada masyarakat yang tidak mempunyai kebudayaan, dan sebaliknya tidak mungkin ada kebudayaan yang tidak terjelma dalam suatu masyarakat. Hal itu mengakibatkan bahwa garis pemisah di dalam kenyataan hidup antara perubahan sosial dan kebudayaan lebih sukar lagi untuk ditegaskan. Biasanya antara kedua gejala itu dapat ditemukan hubungan timbal balik sebagai sebab dan akibat.

(Soekanto, 1982)

2.4  Beberapa Bentuk Perubahan Sosial dan Kebudayaan

1. Perubahan Lambat dan Perubahan Cepat

Perubahan-perubahan yang memerlukan waktu lama, dan rentetan-rentetan perubahan kecil yang saling mengikuti dengan lambat dinamakan evolusi. Pada evolusi perubahan terjadi dengan sendirinya tanpa rencana atau kehendak tertentu. Prubahan tersebut terjadi karena usaha-usaha masyarakat untuk menyesuaikan diri dengan keperluan-keperluan, keadaan-keadaan, dan kondisi-kondisi baru, yang timbul sejalan dengan pertumbuhan masyarakat. Rentetan perubahan-perubahan tersebut tidak perlu sejalan dengan peristiwa-peristiwa di dalam sejarah masyarakat yang bersangkutan.

Ada bermacam-macam teori tentang evolusi, yang pada umumnya dapat digolongkan ke dalam beberapa kategori sebagai berikut :

a.      Unilinear theories of evolutio

b.      Universal theory of evolution

c.       Multilined theories of evolution

Sementara itu perubahan-perubahan sosial dan kebudayaan yang berlangsung secara cepat dan menyangkut dasar-dasar atau sendi-sendi pokok kehidupan masyarakat (yaitu lembaga-lembaga kemasyarakatan) lazimnya dinamakan “revolusi”. Unsur-unsur pokok revolusi adalah adanya perubahan yang cepat, dan perubahan tersebut mengenai dasar-dasar atau sendi pokok kehidupan masyarakat. Di dalam revolusi, perubahan-perubahan yang terjadi dapat direncanakan terlebih dahulu atau tanpa rencana.

2. Perubahan Kecil dan Perubahan Besar

a. Perubahan kecil adalah perubahan-perubahan pada unsur struktur sosial yang tidak membawa pengaruh langsung atau pengaruh yang berarti bagi masyarakat. Misalnya : perubahan mode pakaian.

b. Perubahan besar adalah perubahan yang terjadi pada unsur-unsur struktur sosial dan membawa pengaruh pada perubahan lembaga kemasyarakatan. Misalnya: perubahan dari masyarakat agraris ke masyarakat industri akan membawa pengaruh pada perubahan lembaga kemasyarakatan.

 3. Perubahan yang Direncanakan dan Tidak Direncanakan

a. Perubahan yang direncanakan adalah perubahan-perubahan terhadap lembaga-lembaga kemasyarakatan yang didasarkan pada perencanaan yang matang oleh pihak-pihak yang menghendaki perubahan-perubahan tersebut. Misalnya : menyangkut bidang politik dan administrasi.

b. Perubahan yang tidak direncanakan adalah perubahan yang terjadi tanpa dikehendaki serta berlangsung diluar jangkauan pengawasan masyarakat dan dapat menyebabkan timbulnya akibat-akibat sosial yang tidak diharapkan oleh masyarakat.

(Soekanto, 1982)

2.5 Faktor-Faktor yang Menyebabkan Perubahan Sosial dan Kebudayaan

Sumber sebab-sebab perubahan sosial dan kebudayaan dapat terjadi karena masyarakat itu sendiri dan dari luar masyarakat. Sebab-sebab yang bersumber karena masyarakat itu sendiri antara lain :

a. Bertambah atau Berkurangnya Penduduk

Perpindahan penduduk mengakibatkan kekosongan misalnya dalam bidang pembagian kerja, dan stratifikasi social, yang mempengaruhi lembaga-lembaga kemasyarakatan.  Hal itu sejajar dengan bertambah banyaknya penduduk di muka bumi ini. Misalnya : pada masyarakat-masyarakat yang utamanya bermatapencaharian berburu, perpindahan seringkali dilakukan yang tergantung dari persediaan hewan-hewan buruannya.

b. Penemuan Baru

Suatu proses sosial dan kebudayaan yang besar, tetapi yang terjadi dalam jangka sesuatu yang tidak terlalu lama disebut dengan inovasi. Proses terebut meliputi suatu penemuan baru, jalannya unsur kebudayaan baru yang tersebar ke lain-lain bagian masyarakat, dan cara-cara unsur kebudayaan baru tadi diterima, dipelajari, dan akhirnya dipakai dalam masyarakat yang bersangkutan.

  1. c.                  Pertentangan masyarakat

Pertentangan masyarakat mungkin pula menjadi sebab terjadinya perubahan social dan kebudayaan. Pertentangan-pertentangan mungkin terjadi antara individu dengan kelompok atau perantara kelompok dengan kelompok.

d.                Terjadinya pemberontakan atau revolusi

Misalnya Revolusi yang meletus pada Oktober 1917 di Rusia telah menyulut terjadinya perubahan-perubahan besar negara rusia yang mula-mula mempunyai bentuk kerajaan absolute beruabah menjadi dictator proletariat yang dilandaskan pada doktrin Marxis. Segenap lembaga kemasyarakatan, mulai dari bentuk negara sampai keluarga batih pernah mengalami perubahan-perubahan yang mendasar.

Adapun sebab-sebab yang bersumber dari luar masyarakat sendiri antara lain :

  • Sebab-sebab yang Berasal dari Lingkungan Alam Fisik yang Ada di Sekitar Manusia

Misal setelah adanya bencana alam memungkinkan menyebabkan masyarakat-masyarakat yang mendiami daerah tersebut terpaksa harus meninggalkan tempat tinggalnya. Apabila masyarakat tersebut mendiami tempat yang baru, maka mereka harus menyesuaikan diri dengan keadaan alam yang baru tersebut. Kemungkinan hal tersebut mengakibatkan terjadinya perubahan-perubahan pada lembaga-lembaga kemasyarakatannya.

  • Peperangan

Misalnya negara-negara yang kalah dalam perang dunia ke dua banyak sekali mengalami perubahan dalam lembaga kemasyarakatannya.

  • Pengaruh Kebudayaan Masyarakat Lain

Hubungan yang dilakukan secara fisik antara dua masyarakat mempunyai kecenderungan untuk menimbulkan pengaruh timbal balik. Artinya, masing-masing masyarakat mempengaruhi masyarakat lainnya tetapi jika menerima pengaruh dari masyarakat yang lain itu.

(Soekanto,1982)

2.5 Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Jalannya Proses Perubahan

1. Faktor yang Mendorong Terjadinya Proses Perubahan

a.       Kontak dengan kebudayaan lain

Salah satu proses yang menyangkut hal ini adalah diffuse. Difusi adalah proses penyebaran unsure-unsur kebudayaan dari individu kepada individu lain, dan dari satu masyarakat satu ke masyarakat lain. Dengan adanya diffuse, suatu penemuan baru yang diterima oleh masyarakat dapat diteruskan dan disebarkan pada masyarakat luas.

b.       Sistem pendidikan formal yang maju

Pendidikan memberikan nilai-nilai tertentu bagi manusia, terutama dalam membuka pikirannya serta menerima hal baru dan juga bagaimana cara berpikir secara ilmiah.

c.       Sikap menghargai hasil karya seseorang dan keinginan-keinginan untuk maju

Apabila sikap tersebut melembaga dalam masyarakat, masyarakat merupakan pendorong bagi usaha-usaha penemuan baru. Misal di Indonesia dikenal dengan sistem penghargaan yang tertentu, walaupun masih dalam arti yang terbatas dan belum merata.

d.       Toleransi

Terhadap perubahan-perubahan yang menyimpang (deviation) yang bukan merupakan delik

e.       Sistem terbuka lapisan masyarakat

Sistem terbuka memungkinkan adanya gerak social vertical yang luas atau member kesempatan pada individu untuk maju atas dasar kemampuan sendiri.

2. Faktor yang Menghalangi Terjadinya Perubahan

a. Kurangnya hubungan dengan masyarakat lain

Hal ini menyebabkan sebuah masyarakat tidak mengetahui perkembangan-perkembanagn apa yang terjadi pada masyarakat lain yang mungkin akan dapat memperkaya kebudayaannya sendiri.

b. Perkembangan ilmu pengetahuan yang terlambat

Hal ini mungkin  disebabkan hidup masyarakat tersebut terasing atau tertutup atau mungkin karena lama terjajah oleh masyarakat lain.

c.    Sikap masyarakat yang sangat tradisional

Suatu sikap yang mengagung-agungkan tradisi dan masa lampau serta anggapan bahwa tradisi secara mutlak tak dapat diubah menghambat jalannya proses perubahan.

d.       Rasa takut akan terjadinya kegoyahan pada integrasi kebudayaan

Beberapa perkelompokan unsure-unsur tertentu mempunyai derajat integrasi tinggi. Maksudnya unsur-unsur luar dikhawatirkan akan menggoyahkan integrasi dan menyebabkan perubahan-perubahan pada aspek-aspek tertentu masyarakat.

e.       Adat atau kebiasaan

Adat atau kebiasaan merupakan pola-pola perilaku bagi anggota masyarakat di dalam memenuhi segala kebutuhan pokoknya. Mungkin adat atau kebiasaan yang mencakup bidang kepercayaan, sisteem mata pencaharian, pembuatan rumah, cara berpakaian tertentu, begitu kokoh sukar untuk diubah.

2.7 Proses-Proses Perubahan Sosial dan Kebudayaan

1. Penyesuaian Masyarakat terhadap Perubahan

Keserasian dalam masyarakat merupakan keadaan yang diidam-idamkan setiap masyarakat. Keserasian masyarakat dimaksudkan sebagai suatu keadaan di mana lembaga-lembaga kemasyarakatan yang pokok bear-benar berfungsi dan saling mengisi. Ada kalanya unsure-unsur baru dan lama yang bertentangan secara bersamaan mempengaruhi norma-norma dan nilai-nilai yang berpengaruh pula pada warga masyarakat.

2. Saluran-saluran Perubahan Sosial dan Kebudayaan

Merupakan saluran-saluran yang dilalui oleh suatu proses perubahan. Umumnya saluran-saluran tersebut adalah lembaga-lembaga dalam bidang kemasyarakat dalam bidang pemerintahan, ekonomi, pendidiakn, agama, rekreasi dan lain-lain. Lembaga kemasyarakatan yang merupakan titik tolak tergantung pada cultural focus masyarakat pada suatu masa yang tertentu.

3. Disorganisasi (Disintegrasi) dan Reorganisasi (Reintegrasi)

              Disorganisasi adalah proses berpudarnya norma-norma dan nilai-nilai dalam masyarakat dikarenakan adanya perubahan-perubahanyang terjadi dalam lembaga-lembaga kemasyarakatan. Reorganisasi adalah proses pembentukan norma-norma dan nilai-nilai yang baru agar sesuai dengan lembaga-lembaga kemasyarakatan yang menagalami perubahan. Reorganisasi dilaksanakan apabila norma-norma dan nilai-nilai yang baru telah melembaga dalam diri warga.

4.Cultural Lag (Ketertinggalan Budaya)

Cultural lag merupakan ketidakserasian dalam perubahan-perubahan unsur-unsur masyarakat atau kebudayaan.

(Soekanto, 1982)

2.8. Arah Perubahan Sosial (Direction of Changes)

                   Arah perubahan sosial jelas menunjukkan perubahan bergerak meninggalkan faktor yang diubah. Akan tetapi, setelah meninggalkan faktor itu, mungkin perubahan bergerak kepada sesuatu bentuk yang sama sekali baru, atau mungkin pula bergerak ke arah suatu bentuk  yang sudah ada di dalam waktu yang lamapau. Salah satu jenis perubahan dapat dilakuakan dan mengarah pada modernisasi.

(Soekanto,1982)

BAB IV

PENUTUP

4.1         Kesimpulan

ü  Perubahan sosial adalah segala perubahan pada lembaga-lembaga kemasyarakatan di dalam suatu masyarakat, yang mempengaruhi system sosialnya, termasuk di dalamnya nilai-nilai, sikap-sikap dan pola-pola perilaku di antara kelompok-kelompok dalam masyarakat.

ü  Kecenderungan terjadinya perubahan-perubahan sosial merupakan gejala wajar yang timbul dari pergaulan hidup manusia, terjadi karena adanya perubahan kondisi sosial primer seperti ekonomis, teknologis, geografis, atau biologis.

ü  Perubahan sosial merupakan bagian dari perubahan kebudayaan. Perubahan dalam kebudayaan mencakup semua bagiannya, dan ruang lingkup perubahan kebudayaan lebih luas

ü  Bentuk perubahan sosial dan kebudayaan yaitu :

  1. Perubahan Lamabat dan Perubahan Cepat
  2. Perubahan Kecil dan Perubahan Besar
  3. Perubahan yang Direncanakan dan Tidak Direncanakan

ü  Faktor-faktor yang menyebabkan perubahan sosial dan kebudayaan yaitu :

  1. Faktor yang bersumber dari masyarakat itu sendiri :
  • Bertambah atau Berkurangnya Penduduk
    • Penemuan Baru
    • Pertentangan masyarakat
    • Terjadinya pemberontakan atau revolusi
  1. Faktor yang bersumber dari luar masyarakat sendiri:
  • Sebab-sebab yang Berasal dari Lingkungan Alam Fisik yang Ada di Sekitar Manusia
    • Peperangan
    • Pengaruh Kebudayaan Masyarakat Lain

ü  Faktor-faktor yang mempengaruhi jalannya proses peubahan sosial dan kebudayaan yaitu:

  1. Faktor yang mendorong jalannya proses perubahan
  • Kontak dengan kebudayaan lain
  • Sistem pendidikan formal yang maju
  • Sikap menghargai hasil karya seseorang dan keinginan-keinginan untuk maju
  • Toleransi
  • Sistem terbuka lapisan masyarakat

2. Faktor yang Menghalangi Terjadinya Perubahan

  • Kurangnya hubungan dengan masyarakat lain
  • Perkembangan ilmu pengetahuan yang terlambat
  • Sikap masyarakat yang sangat tradisional
  • Rasa takut akan terjadinya kegoyahan pada integrasi kebudayaan
  • Adat atau kebiasaan

ü  Proses-proses perubahan sosial dan kebudayaan

  1. Penyesuaian masyarakat terhadap perubahan
  2. Saluran-saluran perubahan sosial dan kebudayaan
  3. Disorganisasi dan reorganisasi
  4. Cultural lag

ü  Arah perubahan sosial jelas menunjukkan perubahan bergerak meninggalkan faktor yang diubah. Akan tetapi, setelah meninggalkan faktor itu, mungkin perubahan bergerak kepada sesuatu bentuk yang sama sekali baru, atau mungkin pula bergerak ke arah suatu bentuk  yang sudah ada di dalam waktu yang lamapau. Salah satu jenis perubahan dapat dilakuakan dan mengarah pada modernisasi.

DAFTAR PUSTAKA

v    Davis, Kingsley. 1960. Human Society. The macmillan Company. New York

v    Dirdjosiswojo, 2005

v    Maclver, Robert M. dan Charles H. 1957. Page Society. An Introduction Analysis. Rinehart and Company, Inc. New York

v     Soekanto, Soerjono. 1982. Sosiologi Suatu Pengantar. PT Raja Grafindo Persada. Jakarta

v    Soemardjan, Selo. “Perkembangan Ilmu Sosiologi di Indonesia dari 1845 sampai 1965”. Research di Indonesia 1945 1965. Jilid IV. Bidang Ekonomi, Sosial dan Budaya

Kebudayaan Masyarakat Desa Sidomulyo, Cemara Kipas, Kota Batu

LAPORAN KEGIATAN FIELDTRIP KEBUDAYAAN MASYARAKAT

OBYEK KUNJUNGAN : DESA SIDOMULYO, CEMARA KIPAS, KOTA BATU

OLEH :

KELOMPOK : A1.2

1. MOH. FIRSTSYAH SOFYAN ( 0810480058)

2. RIZKIR AMADHANI (0810480085)

3. SEPTI WULAN SARI (0810480093)

4. SISKA SEPTI WULANDARI (0810480096)

PROGRAM STUDI : AGROEKOTEKNOLOGI

WAKTU KUNJUNGAN : TANGGAL 30 APRIL 2009

LABORATORIUM PENGEMBANGAN MSAYARAKAT PEDESAAN

JURUSAN SOSIAL EKONOMI PERTANIAN

FAKULTAS PERTANIAN

UNIVERSITAS BRAWIJAYA MALANG

2009

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Dalam kehidupan sehari-hari orang begitu sering membicarakan soal kebudayaan. Setiap harinya orang tak mungkin tidak berurusan dengan hasil-hasil kebudayaan. Tak ada masyarakat yang tidak mempunyai kebudayaan, dan tak ada kebudayaan tanpa masyarakat sebagai wadah dan pendukungnya. Pada praktikum sosiologi pertanian kali ini membahas mengenai kebudayaan yang ada di pedesaan dan bagaimana kebudayaan petani itu sendiri. Dan Desa yang dituju kali ini adalah Desa Sidomulyo dengan perwakilan Bapak Bani dan Bapak Gunawan yang merupakan penduduk Desa Sidomulyo yang bemata pencaharian sebagai petani apel yang bertempat tinggal di RT 03 RW. 04 Desa Sidomulyo 91 Cemara Kipas Malang. Dalam praktikum ini juga membahas mengenai paradigm lama dan paradigm baru berupa ekologi budaya dalam usaha pertania, serta membahas masalah alih teknologi dan peluang alih teknologi untuk usaha pertanian di Desa Sidomulyo. Apakah desa tersebut dapat menerima teknologi baru untuk pertaniannya atau tidak. Oleh karena itu, dengan adanya praktikum temntang budaya masyarakat petani dan pranata sosial yang ada di Desa Sidomulyo ini diharapkan lebih mengenal karakteristik masyarakat ( keluarga petani) dan budayanya serta pranata sosial yang sampai saat ini dikerjakan para petani serta bagaiman pola paradigm pertanian yang dianut petani dan peluang alih teknologi di Desa Sidomulyo tersebut.

1.2 Rumusan Masalah

1. Bagaimana kharakteristik masyarakat desa Sidomulyo?

2. Bagaimana sistem budaya/kebudayaan di Desa Sidomulyo ?

3. Bagaimana pranata atau lembaga sosial di Desa Sidomulyo?

4. Bagaimanapola paradigma yang dianut oleh petani di Desa Sidomulyo?

5. Bagaimana peluang alih teknologi di Desa Sidomulyo?

1.3 Tujuan

1. Mengetahui kharakteristik masyarakat Desa Sidomulyo

2. Mengetahui sistem budaya di Desa Sidomulyo

3. Mengetahui pranata atau lembaga sosial di Desa Sidomulyo

4. Mengetahui paradigma yang dianut oleh petani di Desa Sidomulyo

5. Mengetahui peluang alih teknologi di Desa Sidomulyo

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Karakteristik Masyarakat Desa Masyarakat desa selalu memiliki ciri-ciri atau dalam hidup bermasyarakat, yang biasanya tampak dalam perilaku keseharian mereka. Berikut ini sejumlah karakteristik masyarakat desa, yang terkait dengan etika dan budaya mereka, yang bersifat umum yang selama ini masih sering ditemui.

1. Sederhana Sebagian besar masyarakat desa hidup dalam kesederhanaan.

Kesederhanaan ini terjadi karena dua hal: a. Secara ekonomi memang tidak mampu b. Secara budaya memang tidak senang menyombongkan diri.

2. Mudah curiga.

Secara umum, masyarakat desa akan menaruh curiga pada: a. Hal-hal baru di luar dirinya yang belum dipahaminya b. Seseorang/sekelompok yang bagi komunitas mereka dianggap “asing”

3. Menjunjung tinggi “unggah-ungguh”

Sebagai “orang Timur”, orang desa sangat menjunjung tinggi kesopanan atau “unggah-ungguh” apabila: a. Bertemu dengan tetangga b. Berhadapan dengan pejabat c. Berhadapan dengan orang yang lebih tua/dituakan d. Berhadapan dengan orang yang lebih mampu secara ekonomi e. Berhadapan dengan orang yang tinggi tingkat pendidikannya

4. Guyub, kekeluargaan

Sudah menjadi karakteristik khas bagi masyarakat desa bahwa suasana kekeluargaan dan persaudaraan telah “mendarah-daging” dalam hati sanubari mereka.

5. Lugas

“Berbicara apa adanya”, itulah ciri khas lain yang dimiliki masyarakat desa. Mereka tidak peduli apakah ucapannya menyakitkan atau tidak bagi orang lain karena memang mereka tidak berencana untuk menyakiti orang lain. Kejujuran, itulah yang mereka miliki.

6. Perasaan “minder” terhadap orang kota

Satu fenomena yang ditampakkan oleh masayarakat desa, baik secara langsung ataupun tidak langsung ketika bertemu/bergaul dengan orang kota adalah perasaan mindernya yang cukup besar. Biasanya mereka cenderung untuk diam/tidak banyak omong.

7. Menghargai (“ngajeni”) orang lain

Masyarakat desa benar-benar memperhitungkan kebaikan orang lain yang pernah diterimanya sebagai “patokan” untuk membalas budi sebesar-besarnya. Balas budi ini tidak selalu dalam wujud material tetapi juga dalam bentuk penghargaan sosial atau dalam bahasa Jawa biasa disebut dengan “ngajeni”.

8. Suka gotong-royong

Salah satu ciri khas masyarakat desa yang dimiliki dihampir seluruh kawasan Indonesia adalah gotong-royong atau kalau dalam masyarakat Jawa lebih dikenal dengan istilah “sambatan”. Uniknya, tanpa harus dimintai pertolongan, serta merta mereka akan “nyengkuyung” atau bahu-membahu meringankan beban tetangganya yang sedang punya “gawe” atau hajatan. Mereka tidak memperhitungkan kerugian materiil yang dikeluarkan untuk membantu orang lain. (Anonymous, 2009)

2.2 Pengertian kebudayaan

• Kebudayaan dalam istilah asing culture dan dalam kata Latin colere artinya mengolah atau mengerjakan, yaitu mengolah tanah atau bertani, segala daya dan kegiatan manusa untuk mengolah dan mengubah alam. (Koentjaraningrat, 1965)

• Kebudayaan adalah kompleks yang mencakup pengetahuan, kepercayaan, kesenian, moral, hukum, adat-istiadat dan lain kemampuan-kemampuan serta kebiasaan-kebiasaan yang didapatkan oleh manusia sebagai anggota masyarakat. (Soekanto, 1982)

• Kebudayaan sebagai semua hasil karya, rasa, dan cipta masyarakat. (Soemardjan, 1964)

2.3 Unsur-unsur kebudayaan

Kebudayaan setiap bangsa atau masyarakat terdiri dari unsur-unsur besar maupun unsur-unsur kecil yang merupakan bagian suatu kebulatan yang bersifat sebagai kesatuan. Melville J. Herkovits mengajukan empat unsure pokok kebudayaan, yaitu :

1. Alat-alat teknologi

2. Sistem ekonomi

3. Keluarga

4. Kekuatan politik

Menurut Bronislaw Malinowski, unsur-unsur pokok kebudayaan yaitu :

1. Sistem norma yang memungkinkan kerjasama antara para anggota masyarakat di dalam upaya menguasai alama sekelilingnya.

2. Organisasi ekonomi

3. Alat-alat dan lembaga atau petugas pendidikan; perlu diingat bahwa keluarga merupakan lemabaga pendidikan yang utama.

4. Organisasi kekuatan

Terdapat pula tujuh unsur kebudayaan yang dianggap sebagai cultural universals, yaitu :

1. Peralatan dan perlengkapan hidup manusia (pakaian, perumahan, alat-alat rumah tang, senjata, alat-alat produksi, transport, dsb)

2. Mata pencaharian hidup dan system-sistem ekonomi (pertanian, peternakan, sistem produksi, sistem distribusi, dsb)

3. Sistem kemasyarakatan (sistem kekerabatan, organisasi politik, sistem hukum, dsb)

4. Bahasa (lisan maupun tertulis)

5. Kesenian (seni rupa, seni suara, seni gerak, dsb)

6. Sistem pengetahuan

7. Religi (sistem kepercayaan) (Soekanto, 1982)

2.4 Fungsi kebudayaan

Fungsi kebudayaan bagi masyarakat, yaitu :

1. Untuk melindungi diri terhadap alam

Kebudayaan kebendaan atau teknologi timbul dari hasil karya masyarakat, yang mempunyai kegunaan utama di dalam masyarakat terhadap lingkungan dalamnya. Teknologi sendiri pada hakikatnya memiliki paling sedikit tujuh unsur yaitu alat-alat produksi, senjata, wadah, makanan dan minuman, pakaian dan perhiasan, tempat berlindung dan perumahan serta alat-aat transport. Hasil karya manusia berupa teknolohi tersebut memberikan kemungkinan-kemungkinan yang sangat luas untuk memanfaatkan hasil-hasil alam dan apabila mungkin, menguasai alam.

2. Mengatur hubungan antar manusia

Kebudayaan mengatur agar manusia dapat mengerti bagaimana statusnay bertindak, berbuat, menentukan sikapnya kalau mereka berhubungan dengan orang lain. Khusus dalam mengatur hubungan antar manusia, kebudayaan dinamakan pula struktur normatif atau menurut istilah Ralph Linton designs for living (garis-garis atau petunjuk dalam hidup) yang artinya kebudayaan adalah suatu garis-garis pokok tentang perilaku atau blue-print for behavior yang menetapkan peraturan-peraturan mengenai apa yang seharusnya dilakukan, apa yang dilarang, dan lain sebagainya.

3. Sebagai wadah segenap perasaan manusia

Setiap manusia selalu timbul keinginan untuk menciptakan sesuatu untuk menyatakan perasaan dan keinginannya kepada orang lain, seperti kesenian yang dapat berwujud seni suara, seni music, seni tari, seni lukis, dan lain sebagainya. Dengan demikian fungsi kebudayaan yang berupa rasa masyarakat tersebut bertujuan tidak hanya untuk mengatur hubungan antar manusia, tetapi juga untuk mewujudkan perasaan-perasaan seseorang. (Soekanto,1982)

2.5 Pembagian Kebudayaan

Dari sudut struktur dan tingkatan dikenal adanya super-culture yang berlaku bagi seluruh masyarakat. Suatu super-culture biasanya dapat dijabarkan kedalam cultures yang mungkin didasarkan pada kekhususan daerah, golongan etnis, profesi, dst. Di dalam suatu culture mungkin berkembang kagi suetu kebudayaan-kebudayaan khusus yang tidak bertentangan dengan kebudayaan “induk”, yang lazimnya dinamakan sub-culture. Akan tetapi, apabila kebudayaan khusus tadi bertentangan dengan kebudayaan “induk”, gejala tersebut disebut counter-culture. Counter- culture tidak selalu harus diberi arti negative karena adanya gejala tersebut dapat dijadikan petunjuk bahwa kebudayaan induk dianggap kurang dapat menyerasikan diri dengan perkembangan kebutuhan. Adapun visualisasinya secara sistematis adalah sebagai berikut : SUPER-CULTURE CULTURE (S) SUB-CULTURE COUNTER-CULTURE (Soekanto, 1982)

2.6 Pranata sosial

Pranata sosial adalah suatu system tata kelakuan dan hubungan yang berpusat kepada aktifitas-aktifitas untuk memenuhi kompleks-kompleks kebutuhan khusus dalam kehidupan masyarakat (system tata kelakuan atau norma-norma untuk memenuhi kebituhan, lembaga). (Koentjaraningrat, 1964)

2.7 Pola Paradigma Pertanian

• Paradigm Lama :ekonomi produksi

Paradigm lama melihat kegiatan pertanian primer sebagai kegiatan ekonomi produksi mengawinkan sejumlah faktor produksi untuk menghasilkan komoditas tertentu. Dan dua faktor produksi yang dominan (paling signifikan) pengaruhnya adalah pupuk dan obat-obatan. Pada paradigm lama berlaku suatu anggapan kuat bahwa tingkat produksi padi terutama ditentukan oleh tingkat penggunaan (dosis dan komposisi) pupuk dan obat-obatan. Paradigma lama sedang mengalami krisis karena ia tidak mampu mengangkat status pertanian Indonesia secara signifikan ke level yang lebih tinggi. Paradigma lama sudah mencapai titik buntu dalam mengatasi kedua masalah dasar pertanian padi, yaitu penurunan relative pada aspek-aspek produktivitas usaha tani dan kesejahteraan petani.

• Paradigma Baru : ekologi budaya

Paradigm baru :ekologi budaya merupakan suatu paradigma pertanian yang berakar pada perspektif Ekologi Manusia atau secara spesifik ekologi budaya (cultural ecology). Asumsi paradigma Ekologi Budaya menurut Sitorus yaitu : 1. Benih, tanah dan tenaga adalah tiga unsure dasar yang membentuk pertanian melalui proses triangular yang berpusat pada budaya tertentu. 2. Dari tiga unsur dasar inti budaya, benih merupakan unsure dasar yang menjadi penentu utama atau “patokan dasar” tingkat perkembangan dan kemajuan pertanian. 3. Faktor-faktor produksi khususnya pupuk, obat-obatana dan alsistan bersifat supportif terhadap ketiga unsure dasar pembentuk petanian. (Sitorus, 2006)

2.8 Masalah Alih Teknologi dan Peluang Alih Teknologi

Masalah alih teknologi layak diadopsi bila sesuai dengan budaya serta lingkungan (circum stances) petani. Selain itu keterbatasan pengalaman membuat petani cenderung lebih membutuhkan teknologi yang tidak sama sekali baru, melainkan dari pengembangan teknologi yang telah ada. Teknologi baru yang diperlukan petani cenderung yag tidak terlalu rumit atau intensif dan tidak menuntut banyak waktu perorangan. Faktor ketersediaan pasar yang menguntungkan bagi produk teknologi baru juga perlu dipertimbangkan karena tidak semua pasar menerima produk teknologi baru. Jadi masalah alih teknologi berhubungan dengan kesesuaian teknologi dan kesesuaian cara alih teknologi dengan budaya (faktor internal) dan lingkungan (faktor eksternal) petani dalam penyesuaian faktor-faktor tersebut. Budaya dan teknologi baru saling mempengaruhi penggeseran budaya dapat membuat suatu teknologi baru menjadi lebih sesuai, sementara teknologi baru yang sesuai dapat menggeser budaya. Dalam proses alih teknologi, para agen pembangunan selayaknya memandang petani sebagai mitra, sebagai sesame subyek pembangunan. Sekalipun biasanya selalu diabaikan di masa lalu, pengetahuan, keterampilan, dan keinovatifan petani sesungguhnya dapat sanagt berguna. (Triely, 2002)

BAB III PEMBAHASAN

Masyarakat petani dan pranata social Lokasi desa : Desa Sidomulyo RT.03 RW. 04 No. 91 Cemara Kipas, Malang Sumber wawancara : Bapak Bani dan Bapak Gunawan • Kharakteristik masyarakat desa Di desa Sidomulya tempat Bapak Gunawan dan Bapak Bani tinggal, masyarakat yang menetap disana rata-rata mempunyai kharakteistik yang sudah dimiliki sejak dulu sampai sekarang. Masyarakat Sidomulyo biasanya tidak gampang percaya dengan orang lain yang menurut mereka jauh dari pemikiran. Misalnya jika ada penyuluhan di bidang pertanian, tidak semua saran ataupun kritik dari penyuluh tersebut mereka laksanakan. Hal tersebut dikarenakan ide atau gagasan dari penyuluh tidak sesuai dengan hati mereka. Mereka menganggap apa yang disampaikan penyuluh itu itu sangat bermanfaat tetapi tidak dapat mereka cerna karena pendidikan yang masih kurang yang dimiliki oleh petani masyarakat setempat. Dalam masalah budaya bahasa, petani desa sidomulya rata-ratamasih menggunakan bahasa Jawa dalam kehidupan sehari-hari. Selain itu ada beberapa karakteristik lain yang sudah melekat pada masing-masing individu. Antara lain sifat gotong royong yang dilakukan untuk membantu dan mengurangi beban masyarakat yang membutuhkan. Yang berikutnya yaitu tidak ada persaingan kualitas apel dibidang pertanian antar penduduk sekitar. Setiap ada masukan mengenai pupuk atau obat yang digunakan untuk menyuburkan apel selalu mereka beritahukan kepada penduduk yang bertanya, sehingga mereka membagi kebahagiaan yang mereka miliki untuk dirasakan bersama.

• Strata sosial di pedesaan Strata sosial yang ada di Desa Sidomulyo tergolong sangat baik dan dapat dikatakan mempunyai tingkat sosial yang tinggi yang mencirikan strata sosial yang benar-benar kehidupan di pedesaan, yaitu dalam artian kehidpan sosial yang terjalin antar masyarakat sangat kuat. Adanya kerjasama yang baik di bidang pertanian maupun di bidang lain dengan ksadaran masing-masing penduduk. Selain itu kerjasama yang sering dilakukan yaitu kerjasama di bidang ekonomi yang saling menguntungkan satu sama lain. Melaui proses pemasaran hasil pertanian baik secara langsung atau tidak langsung, yaitu baik melalui perantara atau langsung dipasarkan ke pasar tradisional terdekat sehingga terjadi transaksi jual beli yang termasuk dalam interaksi sosial. Selain itu masih banyak hal lai yang mencirikan tingkat sosial masyarakat Desa Sidomulyo.

• Pranata atau lembaga sosial Di Desa Sidomulyo terdapat beberapa lembaga yang sudah dikenal oleh semua penduduk. Selain itu mereka juga berperan serta untuk mengembangkan lembaga-lembaga yang ada dengan cara berpartisipasi sesuai kesadaran masing-masing. Lembaga yang terdapat disana antara lan:  KUD KUD merupakan sarana yang digunakan oleh masyarakat setempat untuk membeli bahan-bahan pertanian yang dapat mendukung produktivitas pertanian mereka. Selain itu masyarakat terutama petani juga ikut serta dalam perkembangan KUD dengan cara mendaftarkan diri menjadi anggota KUD yang resmi sehingga semua masyarakat dapat berpartisipasi dalam pengembangan desa Sidomulyo begitu juga dengan Bapak Bani dan Bapak Gunawan.  Kelompok petani “Sumber Rejeki” Merupakan tempat konsultasi masalah-masalah yang sedang dihadapi oleh petani dan juga memberikan informasi mengenai segala hal tentang pertanian agar dapat berkembang lebih baik. Misalnya penyuluhan mengenai penggunaan pupuk organik dan non organic serta penyuluhan mengenai teknologi baru. Penyuluhan ini dilakukan setiap bulan sekali biasanya di balai penyuluhan Desa Sidomulyo. Tetapi kelompok tani Sidomulyo begabung dengan kelompok tani desa tetangga.

• Kebudayaan serta pranata pemerintah desa Di Desa Sidomulyo biasanya melakukan bagi hasil apel kepada orang lain setempat sehingga apa yang mereka dapatkan bias dirasakan oleh orang lain. Sebagian hasil tersebut dilakukan setiap petani kepada tetangga mereka dengan cara memberikan langsung. Tetapi hal tersebutdilakukan apabila hasilnya melimpah. Dari sini pranata pemerintah memberikan dukungan kepada petani untuk selalu optimis dalam mengelola hasil pertanian setempat yaitu apel.

• Fungsi kebudayaan bagi petani di Desa Sidomulyo yaitu : 1. Petani memanfaatkan alat-alat pertanian berupa cangkul, sabit, gunting potong yang kesemuanya merupakan hasil kebudayaan. Alat-alat yang digunakan masih sederhana/tradisional. 2. Dengan adanya kebudayaan maka ada aturan yang dipatuhi oleh masyarakat petani, misalnya masalah pembagian lahan, pemasaran apel, sehingga tidak terjadi persaingan antar petani apel di desa tersebut. 3. Dengan adanya kebudayaan dan kegiatan penyuluhan maka di forum tersebut, para petani dapat menyalurkan segala perasaan dan kegelisahan mereka tentang masalah-masalah pertanian yang dihadapi, sehingga mereka dapat saling berbagi.

• Pola paradigma petani di Desa Sidomulyo Pola paradigma yang dianut petani di Desa Sidomulyo masih menggunakan paradigma lama dengan prinsip pertanian adalah proses mengawinkan sejumlah faktor produksi untuk menghasilkan komoditas tertentu. Pupuk dan obat-obatan masih dianggap faktor produksi yang penting dan paling berpengaruh untuk usaha tani mereka.

• Masalah alih teknologi dan peluang alih teknologi di Desa Sidomulyo Petani di Desa Sidomulyo, khususnya petani apel cenderung belum dapat menerima teknologi baru yang ditawarkan melalui penyuluhan dari kelompok tani setempat karena memang dalam kegiatan usaha tani nya sehari-hari mereka hanya menggunakan alat yang tradisional dan sederhana. Tidak perlu teknologi tinggi. Namun masalah alih teknologi baru tersebut layak diadopsi oleh petani bila sesuai dengan budaya serta lingkungan (circum stances) petani. Selain itu keterbatasan pengalaman membuat petani cenderung lebih membutuhkan teknologi yang tidak sama sekali baru, melainkan dari pengembangan teknologi yang telah ada. Teknologi baru yang diperlukan petani cenderung yag tidak terlalu rumit atau intensif dan tidak menuntut banyak waktu perorangan.

BAB IV PENUTUP

4.1 KESIMPULAN

Kebudayaan adalah kompleks yang mencakup pengetahuan, kepercayaan, kesenian, moral, hukum, adat-istiadat dan lain kemampuan-kemampuan serta kebiasaan-kebiasaan yang didapatkan oleh manusia sebagai anggota masyarakat.

Terdapat pula tujuh unsur kebudayaan yang dianggap sebagai cultural universals, yaitu : Peralatan dan perlengkapan hidup manusia, mata pencaharian hidup dan system-sistem ekonomi, sistem kemasyarakatan, bahasa, kesenian, sistem pengetahuan, religi

Fungsi kebudayaan : 1. Untuk melindungi diri terhadap alam 2. Mengatur hubungan antar manusia 3. Sebagai wadah segenap perasaan manusia

Pembagian kebudayaan yaitu : 1. Super-culture 2. Sub-culture 3. Conter-culter

Pranata sosial adalah suatu system tata kelakuan dan hubungan yang berpusat kepada aktifitas-aktifitas untuk memenuhi kompleks-kompleks kebutuhan khusus dalam kehidupan masyarakat (system tata kelakuan atau norma-norma untuk memenuhi kebituhan, lembaga).

Macam pola paradigama : 1. Paradigma lama : ekonomi produksi 2. Paradigma baru : ekologi budaya

Masalah alih teknologi layak diadopsi oleh petani bila sesuai dengan budaya serta lingkungan (circum stances) petani. Petani cenderung lebih membutuhkan teknologi yang tidak sama sekali baru, melainkan dari pengembangan teknologi yang telah ada. Teknologi baru yang diperlukan petani cenderung yag tidak terlalu rumit atau intensif dan tidak menuntut banyak waktu perorangan.

LAMPIRAN

Bpk. BANI dan Bpk. GUNAWAN

LAHAN APEL

PASAR TRADISIONAL

SAAT WAWANCARA

DESA SIDOMULYO

ANGGOTA KELOMPOK

DAFTAR PUSTAKA

Herskovits, Melville. J. 1955. Cultural Anthropology. Alfred A. Knopf. New York

Koentjaraningrat. 1965. Pengantar Antropologi. Penerbit Universitas. Jakarta

Malinowski, Bronislaw. 1961. The Dynamics of Cultural Change. Yale University Press. New Heaven

Sitorus, Felix MT. 2002. Jurnal Paradiigama Ekologi Budaya Untuk Pengembangan Pertanian Tanaman Padi. Volume 4 No. 3, September. 2006: 167-184

Soekanto, Soerjono. 1982. Sosiologi Suatu Pengantar. PT Raja Grafindo Persada. Jakarta

Soemardjan, Selo. “Perkembangan Ilmu Sosiologi di Indonesia dari 1845 sampai 1965”. Research di Indonesia 1945 1965. Jilid IV. Bidang Ekonomi, Sosial dan Budaya.

Triely, Harry. 2002. Jurnal Analisis Alih Teknologi Peratanian Masyarakat Asli di Kabupaten Sorong. IPB. Bogor

Sistem Kelembagaan Agribisnis

LAPORAN KEGIATAN FIELDTRIP 

SISTEM KELEMBAGAAN AGRIBISNIS

OBYEK KUNJUNGAN :

DESA ORO-ORO OMBO, KECAMATAN BATU

KABUPATEN MALANG, PROVINSI JAWA TIMUR

OLEH :

KELOMPOK 2

1. MOH. FIRSTSYAH SOFYAN           (0810480058)

2. RIZKI RAMADHANI                       (0810480085)

3. SEPTI WULAN SARI                    (0810480093)

4. SISKA SEPTI WULANSARI          (0810480096)

PROGRAM STUDI      : AGROEKOTEKNOLOGI

WAKTU KUNJUNGAN :04 APRIL 2009

LABORATORIUM PENGEMBANGAN MASYARAKAT PEDESAAN

JURUSAN SOSIAL EKONOMI PERTANIAN

FAKULTAS PERTANIAN

UNIVERSITAS BRAWIJAYA

MALANG

2009

SISTEM KELEMBAGAAN AGRIBISNIS DAN PRODUKSI PERTANIAN BAPAK NGATEMUN DAN IBU AISYAH DESA ORO-ORO KECAMATAN BATU KABUPATEN MALANG

  1. 1.    SISTEM AGRIBISNIS

Agribisnis sebagai suatu sistem atau sistem agribisnis adalah agribisnis merupakan seperangkat unsur yang secara teratur saling berkaitan sehingga membentuk suatu totalitas. Survei terhadap keluarga petani dengan alamat Desa Oro-Oro Ombo RT 02 RW 05 Kecamatan Batu Kabupaten Malang. Atas nama keluarga Bapak Ngatemun (86 tahun), Ibu Aisyah (58 tahun)  yang memiliki dua anak. Dalam memproduksi terdapat beberapa subsistem yaitu :

a. Subsistem Penyediaan Sarana Produksi

Sub sistem penyediaan sarana produksi menyangkut kegiatan pengadaan dan penyaluran. Kegiatan ini mencakup Perencanaan, pengelolaan dari sarana produksi, teknologi dan sumberdaya agar penyediaan sarana produksi atau input usahatani memenuhi kriteria tepat waktu, tepat jumlah, tepat jenis, tepat mutu dan tepat produk.

Bapak Ngatemun memiliki dua lahan, yang pertama berukuran 800 m2 termasuk lahan milik sendiri yang ditanami berbagai macam tanaman (jagung, ucet, jeruk, cabai dan ketela). Lahan tersebut termasuk lahan perkebunan.  Lahan yang kedua berupa sawah berukuran 2000 m2 yang ditanami padi sebagai makanan pokok.

Sedangkan dalam penyediaan peralatan dan bahan pertanian didapat dari koperasi desa maupun toko pertanian berupa cangkul, sabit, pupuk, benih, dan bibit serta peralatan lain yang mendukung.

b. Subsistem Usahatani atau proses produksi

Sub sistem ini mencakup kegiatan pembinaan dan pengembangan usahatani dalam rangka meningkatkan produksi primer pertanian. Termasuk kedalam kegiatan ini adalah perencanaan pemilihan lokasi, komoditas, teknologi, dan pola usahatani dalam rangka meningkatkan produksi primer.

Bapak Ngatemun melakukan usaha taninya dalam skala kecil di mana dalam proses produksinya tidak membuthkan bantuan tenaga kerja lain, hanya dibantu oleh istri dan anaknya. Lokasi lahan Bapak Ngatemun berada di daerah villa Panderman, Kec. Batu, Kab. Malang yang cocok untuk komoditas sayuran dan buah-buahan seperti jagung dan jeruk. Dalam proses produksinya digunakan peralatan tradisional yang tidak membutuhkan banyak biaya.

 c. Subsistem Agroindustri/pengolahan hasil

Lingkup kegiatan ini tidak hanya aktivitas pengolahan sederhana di tingkat petani, tetapi menyangkut keseluruhan kegiatan mulai dari penanganan pasca panen produk pertanian sampai pada tingkat pengolahan lanjutan dengan maksud untuk menambah value added (nilai tambah) dari produksi primer tersebut. Dengan demikian proses pengupasan, pembersihan, pengekstraksian, penggilingan, pembekuan, pengeringan, dan peningkatan mutu.

Dalam pengolahan hasil produksi keluarga Bapak Ngatemun tidak dilakukan pengolahan lanjutan menjadi produk baru, karena setelah dipanen hasil produksinya langsung dijual ke pasar (ke pedagang besar). Selain itu alasan tidak dilakukan pengolahan lanjutan yaitu karena hasil produksinya hanya dalam skala kecil.

d. Subsistem Pemasaran

Sub sistem pemasaran mencakup pemasaran hasil-hasil usahatani dan agroindustri baik untuk pasar domestik maupun ekspor. Kegiatan utama subsistem ini adalah pemantauan dan pengembangan informasi pasar dan market intelligence pada pasar domestik dan pasar luar negeri.

Bapak Ngatemun melakukan pemasaran produk dengan menjual hasil panennya sendiri di pasar tradisional terdekat yaitu pasar Batu.

e. Subsistem Penunjang

Subsistem ini merupakan penunjang kegiatan pra panen dan pasca panen yang meliputi :

    * Sarana Tataniaga

Bapak Ngatemun melakukan tataniaga di kelembagaan agribisnis. Seperti tawar-menawar harga jual hasil produksinya.

* Perbankan/perkreditan

Bapak Ngatemun dalam melakukan usahatani membutuhkan modal yang dapat dipinjam dari Bank Perkreditan Rakyat setempat.

* Penyuluhan Agribisnis

Dari daerah sekitar (pemerintah) melakukan penyuluhan kepada para petani yaitu di rumah penyuluh pertanian yang diadakan rapat satu kali setiap bulan.

* Kelompok tani

Bapak Ngatemun juga menjadi salah satu kelompok tani yang merupakan gabungan dari Kelompok Tani Desa Punten sebanyak 40 anggota. Di kelompok tani tersebut Bapak Ngatemun mendapatkan bibit, pupuk urea, ponska secara gratis.

* Infrastruktur agribisnis

Lembaga agribisnis tersebut berada di daerah oro-oro ombo tempat bapak Ngatemun tinggal.

* Koperasi Agribisnis

Koperasi agribisnis digunakan oleh bapak Ngatemun sebagai sarana untuk membeli peralatan dan bahan produksi yang sudah disediakan di koperasi tersebut. Seperti pupuk, cangkul, sabit, benih dan bibit.

* BUMN

Di daerah bapak Ngatemun Badan Usaha Milik Negara seperti Bank Perkreditan rakyat yang digunakan sebagai tempat konsultasi dan menyimpan dan meminjam uang,.

* Swasta

Seperti tempat penyuluhan dan perkumpulan kelompok tani di daerah sekitar Oro-Oro Ombo sekitar kediaman bapak Ngatemun.

* Penelitian dan Pengembangan

Penelitian dan pengembangan dilukukan di tempat penyuluhan untuk mengetahui kualitas dari hasil produksi dan tata cara dalam proses produksi yang benar.

* Pendidikan dan Pelatihan

Bapak Ngatemun dan kelompok petani lain mendapatkan pendidikan dan pelatihan berupa cara bercocok tanam oleh seorang penyuluh yang sudah lebih berpengalaman.

* Transportasi

Transportasi digunakan jika hasil panen setiap bulannya melimpah dengan biaya sendiri.

* Kebijakan Pemerintah

Kebijakan pemerintah berupa penetapan harga yang berubah setiap tahunnya. Seperti pada musim paclekik dan musim panen raya yang mempunyai ketetapan harga tersendiri sebagai sarana Bapak Ngatemun dalam mengambil keuntungan.

  1. 2.        KERAGAAN FUNGSI DAN PERANAN KELEMBAGAAN AGRIBISNIS DALAM MASYARAKAT

 Kelembagan yang ada di daerah Bapak Ngatemun antara lain berfungsi sebagai :

a. Meningkatkan kekuatan debut-tawar (bargaining position) para anggotanya terutama Bapak Ngatemun dan Ibu Aisyah.

b. Meningkatkan daya saing harga melalui pencapaian skala usaha yang lebih optimal.

c. Menyediakan produk atau jasa, seperti pemberian pupuk urea dan bibit yang sulit didapatkan secara gratis.

d. Meningkatkan peluang pasar, dapat meningkatan daya beli konsumen untuk mengkonsumsi hasil panen.

e. Memperbaiki mutu produk dan jasa, setelah mengikuti penyuluhan bapak Ngtemun mendapatkan hasil panen yang lebih baik dari sebelumnya.

f. Meningkatkan pendapatan, dengan hasil panen yang lebih baik atau bermutu otomatis keuntungan yang didapat akan meningkat.

g. Menjadi Wahana Pengembangan ekonomi rakyat, sarana agribis merupakan srana untuk mengembangkan dan menciptakan mutu pertanian yang lebih baik seperti yang sedang dialami bapak Ngatemun sekarang ini.

h. Menjadikan koperasi sebagai Community based organization, keterkaitan koperasi dengan anggota dan masyarakat sekitar merupakan hal yang paling esensial dalam memperjuangkan kepentingan rakyat.

i. Melakukan kegiatan usaha yang sejalan dengan perkembangan kegiatan ekonomi anggota. Seperti yang dijelaskan yaitu dengan melakukanan rutin setiap bulan seklai. Selain itu juga mengadakan arisan setiap tangga 15.

j. Perlu mereformasi diri agar lebih fokus pada kegiatan usahanya terutama menjadi koperasi pertanian dan mengembangkan kegiatan usahanya sebagai koperasi agribisnis. Perlu kegiatan-kegiatan usaha yang mendukung distribusi, pemasaran dan agroindustri berbasis sumberdaya lokal serta perlu melakukan promosi untuk memperoleh citra positif layaknya sebuah koperasi usaha misalnya: Koperasi Agribisnis atau Koperasi Agroindustri atau Koperasi Agroniaga yang menangani kegiatan usaha mulai dari hulu sampai ke hilir.

  1. 3.         PERMASALAHAN KELEMBAGAAN AGRIBISNIS
  1. Kebijaksanaan pemerintah yang kurang mendukung

Berbagai kebijaksanaan pemerintah yang menumbuhkan kelembagaan yang melalui top-down policy tampaknya belum dapat menghasilkan kelembagaan agribisnis yang kuat dan mandiri. Dalam hal ini, Bapak Ngatemun kadang mendapatkan penyuluhan yang kurang detail karena dukungan dari pemerintah yang kurang.

  1. Masalah inter kelembagaan

Apabila ditelusuri lebih jauh ke dalam setiap subsistem agribisnis akan ditemukan titik-titik rawan dalam produksi Bapak Ngatemun dan petani sekitarnya berupa kelembagaan yang kinerjanya rendah, sebagai berikut :

  1. Kelembagaan sarana produksi, dolam produksi bapak Ngatemun masih menggunakan peralatan tradisional yang masih dalam takaran rendah. Sehingga tidak tersedianya peralatan modern yang mendukung dari lembaga agribisnis tersebut.
  2. Kelembagaan pasca panen dan pengolahan hasil, seperti yang dijelaskan bahwa bapak Ngatemun langsung menjual hasil panen dan tidak mengolah lebih lanjut. Hal itu karena tidak ada penyuluhan bagaimana hasil produksi tersebut diolah lebih lanjut dan menjadi apa.
  3. Kelembagaan masalah pemasaran
  • Efisiensi pemasaran yang rendah karena panjangnya rantai pemasaran dan biaya transportasi yang tinggi
  • Fluktuasi harga yang besar, dalam berusaha bapak Ngatemun juga mengalami kerugian karena harga hasil produksi yang tidak menetap. Sehingga anjloknya harga membuat keuntungan yang didapatkan sangat minimum.
  1. Permodalan usaha, modal yang didapat adalah modal sendiri, sehiingga tidak ada bantuan modal lain sebagai modal tambahan.
  2. Kelembagaan jasa layanan pendukung, kelembagaan jasa hanya berupa bank perkreditan rakyat sebagai sarana meminjam uang untuk dana proses produksi dan koperasi yang menyediakan peralatan dan pupuk serta benih, bibit yang jumlahnya terbatas.
  1. STRATEGI PENGEMBANGAN SISTEM AGRIBISNIS (CARA MEMPERKUAT)

1. Pembangunan Agribisnis merupakan pembangunan industri dan pertanian serta jasa yang dilakukan sekaligus, dilakukan secara simultan dan harmonis. Hal ini dapat diartikan bahwa perkembangan pertanian, industri dan jasa harus saling berkesinambungan dan tidak berjalan sendiri-sendiri. Yang sering kita dapatkan selama ini adalah industri pengolahan (Agroindustri) berkembang di Indonesia, tapi bahan bakunya dari impor dan tidak (kurang) menggunakan bahan baku yang dihasilkan pertanian dalam negeri. Dipihak lain, peningkatan produksi pertanian tidak diikuti oleh perkembangan industri pengolahan ( Membangun industri berbasis sumberdaya domestik/lokal). Sehingga perlu pengembangan Agribisnis Vertikal.

2.  Membangun Agribisnis adalah membangun keunggulan bersaing diatas keunggulan komparatif yaitu melalui transformasi pembangunan kepada pembangunan yang digerakkan oleh modal dan selanjutnya digerakkan oleh inovasi. Sehingga melalui membangun agribisnis akan mampu mentransformasikan perekonomian Indonesia dari berbasis pertanian dengan produk utama (Natural resources and unskill labor intensive) kepada perekonomian berbasis industri dengan produk utama bersifat Capital and skill Labor Intesif dan kepada perekonomian berbasis inovasi dengan produk utama bersifat Innovation and skill labor intensive. Dalam arti bahwa membangun daya saing produk agribisnis melalui transformasi keunggulan komparatif menjadi keunggulan bersaing, yaitu dengan cara:

  • Mengembangkan subsistem hulu (pembibitan, agro-otomotif, agro-kimia) dan pengembangan subsistem hilir yaitu pendalaman industri pengolahan ke lebih hilir dan membangun jaringan pemasaran secara internasional, sehingga pada tahap ini produk akhir yang dihasilkan sistem agribisnis didominasi oleh produk-produk lanjutan atau bersifat capital and skill labor intensive.
  • Pembangunan sistem agribisnis yang digerakkan oleh kekuatan inovasi. Pada tahap ini peranan Litbang menjadi sangat penting dan menjadi penggerak utama sistem agribisnis secara keseluruhan. Dengan demikian produk utama dari sistem agribisnis pada tahap ini merupakan produk bersifat Technology intensive and knowledge based.
  • Perlu orientasi baru dalam pengelolaan sistem agribisnis yang selama ini hanya pada peningkatan produksi harus diubah pada peningkatan nilai tambah sesuai dengan permintaan pasar serta harus selalu mampu merespon perubahan selera konsumen secara efisien..

3. Menggerakkan kelima subsistem agribisnis secara simultan, serentak dan harmonis. Oleh karena itu untuk menggerakkan Sistem agribisnis perlu dukungan semua pihak yang berkaitan dengan agribisnis/ pelaku-pelaku agribisnis mulai dari Petani, Koperasi, BUMN dan swasta serta perlu seorang Dirigent yang mengkoordinasi keharmonisan Sistem Agribisnis.

4. Menjadikan Agroindustri sebagai A Leading Sector. Agroindustri adalah industri yang memiliki keterkaitan ekonomi (baik langsung maupun tidak langsung) yang kuat dengan komoditas pertanian. Keterkaitan langsung mencakup hubungan komoditas pertanian sebagai bahan baku (input) bagi kegiatan agroindustri maupun kegiatan pemasaran dan perdagangan yang memasarkan produk akhir agroindustri. Sedangkan keterkaitan tidak langsung berupa kegiatan ekonomi lain yang menyediakan bahan baku (input) lain diluar komoditas pertanian, seperti bahan kimia, bahan kemasan, dll. Dalam mengembangkan agroindustri, tidak akan berhasil tanpa didukung oleh agroindustri penunjang lain seperti industri pupuk, industri pestisida, industri bibit/benih, industri pengadaan alat-alat produksi pertanian dan pengolahan agroindustri seperti industri mesin perontok dan industri mesin pengolah lain. Dikatakan Agroindustri sebagai A Leading Sector apabila memiliki karakteristik sebagai berikut:

a. Memiliki pangsa yang besar dalam perekonomian secara keseluruhan sehingga kemajuan yang dicapai dapat menarik pertumbuhan perekonomian secara total.

b. Memiliki pertumbuhan dan nilai tambah yang relatif tinggi.

c. Memiliki keterkaitan ke depan dan ke belakang yang cukup besar sehingga mampu menarik pertumbuhan banyak sektor lain.

d. Keragaan dan Performanya berbasis sumberdaya domestik sehingga efektif dalam membangun daerah serta kuat dan fleksibel terhadap guncangan eksternal.

e. Tingginya elastisitas harga untuk permintaan dan penawaran.

f. Elastisitas Pendapatan untuk permintaan yang relatif besar

g. Angka pengganda pendapatan dan kesempatan kerja yang relatif besar

h. Kemampuan menyerap bahan baku domestik

i. Kemampuan memberikan sumbangan input yang besar.

5. Membangun Sistem agribisnis melalui pengembangan Industri Perbenihan

Industri Perbenihan merupakan mata rantai terpenting dalam pembentukan atribut produk agribisnis secara keseluruhan. Atribut dasar dari produk agribisnis seperti atribut nutrisi (kandungan zat-zat nutrisi) dan atribut nilai (ukuran, penampakan, rasa, aroma dan sebagainya) serta atribut keamanan dari produk bahan pangan seperti kandungan logam berat, residu pestisida, kandungan racun juga ditentukan pada industri perbenihan. Untuk membangun industri perbenihan diperlukan suatu rencana strategis pengembangan industri perbenihan nasional. Oleh karena itu pemda perlu mengembangkan usaha perbenihan (benih komersial) berdasar komoditas unggulan masing-masing daerah, yang selanjutnya dapat dikembangkan menjadi industri perbenihan modern. Pada tahap berikutnya daerah-daerah yang memiliki kesamaan agroklimat dapat mengembangkan jenjang benih yang lebih tinggi seperti jenjang benih induk,

6. Dukungan Industri Agro-otomotif dalam pengembangan sistem agribisnis.

Dalam rangka memodernisasi agribisnis daerah, perlu pengembangan banyak jenis dan ragam produk industri agro-otomotif untuk kepentingan setiap sub sistem agribisnis. Untuk kondisi di Indonesia yang permasalahannya adalah skala pengusahaan yang relatif kecil, tidak ekonomis bila seorang petani memiliki produk agro-otomotif karena harganya terlalu mahal. Oleh karena itu perlu adanya rental Agro-otomotif yang dilakukan oleh Koperasi Petani atau perusahaan agro-otomotif itu sendiri.

Dukungan Industri Pupuk dalam pengembangan sistem agribisnis.

Pada waktu yang akan datang industri pupuk perlu mengembangkan sistem Networking baik vertikal(dari hulu ke hilir) maupun Horisontal (sesama perusahaan pupuk), yaitu dengan cara penghapusan penggabungan perusahaan pupuk menjadi satu dimana yang sekarang terjadi adalah perusahaan terpusat pada satu perusahaan pupuk pemerintah. Oleh karena perusahaan-perusahaan pupuk harus dibiarkan secara mandiri sesuai dengan bisnis intinya dan bersaing satu sama lain dalam mengembangkan usahanya. Sehingga terjadi harmonisasi integrasi dalam sistem agribisnis. Serta perlu dikembangkan pupuk majemuk, bukan pupuk tunggal yang selama ini dikembangkan.

8. Pengembangan Sistem Agribisnis melalui pengembangan sistem informasi agribisnis. Dalam membangun sistem informasi agribisnis, ada beberapa aspek yang perlu diperhatikan adalah informasi produksi, informasi proses, distribusi, dan informasi pengolahan serta informasi pasar.

9. Tahapan pembangunan cluster Industri Agribisnis.

Tahapan pembangunan sistem agribisnis di Indonesia:

a. Tahap kelimpahan faktor produksi yaitu Sumberdaya Alam dan Tenaga Kerja tidak terdidik. Serta dari sisi produk akhir, sebagian besar masih menghasilkan produk primer. Perekonomian berbasis pada pertanian.

b. Akan digerakkan oleh kekuatan Investasi melalui percepatan pembangunan dan pendalaman industri pengolahan serta industri hulu pada setiap kelompok agribisnis. Tahap ini akan menghasilkan produk akhir yang didominasi padat modal dan tenaga kerja terdidik, sehingga selain menambah nilai tambah juga pangsa pasar internasional. Perekonomian berbasis industri pada agribisnis.

c. Tahap pembangunan sistem agribisnis yang didorong inovasi melalui kemajuan teknologi serta peningkatan Sumberdaya manusia.Tahap ini dicirikan kemajuan Litbang pada setiap sub sistem agribisnis sehingga teknologi mengikuti pasar. Perekonomian akan beralih dari berbasis Modal ke perekonomian berbasis Teknologi.

10. Membumikan pembangunan sistem Agribisnis dalam otonomi daerah

Pembangunan Ekonomi Desentralistis-Bottom-up, yang mengandalkan industri berbasis Sumberdaya lokal. Pembangunan ekonomi nasional akan terjadi di setiap daerah.

11. Dukungan perbankan dalam pengembangan sistem agribisnis di daerah.

Untuk membangun agribisnis di daerah, peranan perbankan sebagai lembaga pembiayaan memegang peranan penting. Ketersediaan skim pembiayaan dari perbankan akan sangat menentukan maju mundurnya agribisnis daerah. Selama ini yang terjadi adalah sangat kecilnya alokasi kredit perbankan pada agribisnis daerah, khususnya pada on farm agribisnis. Selama 30 tahun terakhir, keluaran kredit pada on farm agribisnis di daerah hanya kurang dari 20 % dari total kredit perbankan. Padahal sekitar 60 % dari penduduk Indonesia menggantungkan kehidupan ekonominya pada on farm agribisnis. Kecilnya alokasi kredit juga disebabkan dan diperparah oleh sistem perbankan yang bersifat Branch Banking System. Sistem Perbankan yang demikian selama ini, perencanaan skim perkreditan (jenis, besaran, syarat-syarat) ditentukan oleh Pusat bank yang bersangkutan/sifatnya sentralistis, yang biasanya menggunakan standart sektor non agribisnis, sehingga tabungan yang berhasil dihimpun didaerah, akan disetorkan ke pusat, yang nantinya tidak akan kembali ke daerah lagi. Oleh karena itu perlunya reorientasi Perbankan, yaitu dengan merubah sistem perbankan menjadi sistem Unit Banking system (UBS), yakni perencanaan skim perkreditan didasarkan pada karakteristik ekonomi lokal. Kebutuhan kredit antara subsistem agribisnis berbeda serta perbedaan juga terjadi pada setiap usaha dan komoditas. Prasyarat agunan kredit juga disesuaikan. Disamping agunan lahan atau barang modal lainnya, juga bisa penggunaan Warehouse Receipt System (WRS) dapat dijadikan alternatif agunan pada petani. .WRS adalah suatu sistem penjaminan dan transaksi atas surat tanda bukti (Warehouse Receipt).

12. Pengembangan strategi pemasaran

Pengembangan strategi pemasaran menjadi sangat penting peranannya terutama menghadapi masa depan, dimana preferensi konsumen terus mengalami perubahan, keadaan pasar heterogen. Dari hal tersebut, sekarang sudah mulai mengubah paradigma pemasaran menjadi menjual apa yang diinginkan oleh pasar (konsumen). Sehingga dengan berubahnya paradigma tersebut, maka pengetahuan yang lengkap dan rinci tentang preferensi konsumen pada setiap wilayah, negara, bahkan etnis dalam suatu negara, menjadi sangat penting untuk segmentasi pasar dalam upaya memperluas pasar produk-produk agribisnis yang dihasilkan. Selain itu diperlukan juga pemetaan pasar (market mapping) yang didasarkan preferensi konsumen, yang selanjutnya digunakan untuk pemetaan produk (product mapping).. Selain itu juga bisa dikembangkan strategi pemasaran modern seperti strategi aliansi antar produsen, aliansi produsen-konsumen, yang didasarkan pada kajian mendalam dari segi kekuatan dan kelemahan.

13. Pengembangan sumberdaya agribisnis. Dalam pengembangan sektor agribisnis agar dapat menyesuaikan diri terhadap perubahan pasar, diperlukan pengembangan sumberdaya agribisnis, khususnya pemanfaatan dan pengembangan teknologi serta pembangunan kemampuan Sumberdaya Manusia (SDM) Agribisnis sebagai aktor pengembangan agribisnis. Dalam pengembangan teknologi, yang perlu dikembangkan adalah pengembangan teknologi aspek: Bioteknologi, teknologi Ekofarming, teknologi proses, teknologi produk dan teknologi Informasi. Sehingga peran Litbang sangatlah penting. Untuk mendukung pengembangan jaringan litbang diperlukan pengembangan sistem teknologi informasi yang berperan mengkomunikasikan informasi pasar, mengefektifkan arus informasi antar komponen jaringan, mengkomunikasikan hasil-hasil litbang kepada pengguna langsung dan mengkomunikasikan konsep dan atribut produk agribisnis kepada konsumen. Dalam pengembangan SDM Agribisnis perlu menuntut kerjasama tim (team work) SDM Agribisnis yang harmonis mulai dari SDM Agribisnis pelaku langsung dan SDM Agribisnis pendukung sektor agribisnis.

14. Penataan dan pengembangan struktur Agribisnis. Struktur agribisnis yang tersekat-sekat telah menciptakan masalah transisi dan margin ganda. Oleh karena itu penataan dan pengembangan struktur agribisnis nasional diarahkan pada dua sasaran pokok yaitu:

a. Mengembangkan struktur agribisnis yang terintegrasi secara vertikal mengikuti suatu aliran produk (Product Line) sehingga subsektor agribisnis hulu, subsektor agribisnis pertanian primer dan subsektor agribisnis hilir berada dalam suatu keputusan manajemen.

b. Mengembangkan organisasi bisnis (ekonomi) petani/koperasi agribisnis yang menangangani seluruh kegiatan mulai dari subsistem agribisnis hulu sampai dengan subsistem agribisnis hilir, agar dapat merebut nilai tambah yang ada pada subsistem agribisnis hulu dan subsistem agribisnis hilir.

Dalam penataan tersebut, ada 3 bentuk :

1. Pengembangan koperasi agribisnis dimana petani tetap pada subsektor agribisnis usahatani, sementara kegiatan subsektor agribisnis hulu dan hilir ditangani koperasi agribisnis milik petani.

2. Pengembangan Agribisnis Integrasi Vertikal dengan pola usaha patungan (Joint Venture). Pada bentuk ini pelaku ekonomi pada subsektor hulu, primer dan hilir yang selama ini dikerjakan sendiri-sendiri harus dikembangkan dalam perusahaan agribisnis bersama yang dikelola oleh orang-orang profesional.

3. Pengembangan Agribisnis Integratif Vertikal dengan pola pemilikan Tunggal/Grup/Publik, yang pembagian keuntungannya didasarkan pada pemilikan saham

15. Pengembangan Pusat Pertumbuhan Sektor Agribisnis. Perlu perubahan orientasi lokasi agroindustri dari orientasi pusat-pusat konsumen ke orientasi sentra produksi bahan baku, dalam hal ini untuk mengurangi biaya transportasi dan resiko kerusakan selama pengangkutan. Oleh karena itu perlu pengembangan pusat-pusat pertumbuhan sektor agribisnis komoditas unggulan yang didasarkan pada peta perkembangan komoditas agribisnis, potensi perkembangan dan kawasan kerjasama ekonomi. Serta berdasar Keunggulan komparatif wilayah. Perencanaan dan penataan perlu dilakukan secara nasional sehingga akan terlihat dan terpantau keunggulan setiap propinsi dalam menerapkan komoditas agribisnis unggulan yang dilihat secara nasional/kantong-kantong komoditas agribisnis unggulan, yang titik akhirnya terbentuk suatu pengembangan kawasan agribisnis komoditas tertentu.

16. Pengembangan Infrastruktur Agribisnis. Dalam pengembangan pusat pertumbuhan Agribisnis, perlu dukungan pengembangan Infrastruktur seperti jaringan jalan dan transportasi (laut, darat, sungai dan udara), jaringan listrik, air, pelabuhan domestik dan pelabuhan ekspor dan lain-lain.

17. Kebijaksanaan terpadu pengembangan agribisnis. Ada beberapa bentuk kebijaksanaan terpadu dalam pengembangan agribisnis.

a. Kebijaksanaan pengembangan produksi dan produktivitas ditingkat perusahaan.

b. Kebijaksanaan tingkat sektoral untuk mengembangkan seluruh kegiatan usaha sejenis.

c. Kebijaksanaan pada tingkat sistem agribisnisyang mengatur keterkaitan antara beberapa sektor.

d. Kebijaksanaan ekonomi makro yang mengatur seluruh kegiatan perekonomian yang berpengaruh langsung maupun tidak langsung terhadap agribisnis.

Beberapa kebijaksanaan operasional untuk mengatasi masalah dan mengembangkan potensi, antara lain:

1. Mengembangkan forum komunikasi yang dapat mengkoordinasikan pelaku-pelaku kegiatan agribisnis dengan penentu-penentu kegiatan agribisnis dengan penentu-penentu kebijaksanaan yang dapat mempengaruhi sistem agribisnis keseluruhan, atau subsistem didalam agribisnis.

2. Forum tersebut terdiri dari perwakilan departemen terkait.

3. Mengembangkan dan menguatkan asosiasi pengusaha agribisnis.

4. Mengembangkan kegiatan masing-masing subsistem agribisnis untuk meningkatkan produktivitas melalui litbang teknologi untuk mendorong pasar domestik dan internasional.

18. Pengembangan agribisnis berskala kecil. Ada 3 kebijaksanaan yang harus dilakukan adalah:

a. Farming Reorganization

Reorganisasi jenis kegiatan usaha yang produktif dan diversifikasi usaha yang menyertakan komoditas yang bernilai tinggi serta reorganisasi manajemen usahatani. Dalam hal ini disebabkan karena keterbatasan lahan yang rata-rata kepemilikan hanya 0,1 Ha.

b. Small-scale Industrial Modernization

Modernisasi teknologi, modernisasi sistem, organisasi dan manajemen, serta modernisasi dalam pola hubungan dan orientasi pasar.

c. Services Rasionalization

Pengembangan layanan agribisnis dengan rasionalisasi lembaga penunjang kegiatan agribisnis untuk menuju pada efisiensi dan daya saing lembaga tersebut. Terutama adalah lembaga keuangan pedesaan, lembaga litbang khususnya penyuluhan.

19. Pembinaan Sumberdaya Manusia untuk mendukung pengembangan agribisnis dan ekonomi pedesaan. Dalam era Agribisnis, aktor utama pembangunan agribisnis dan aktor pendukung pembangunan agribisnis perlu ada pembinaan kemampuan aspek bisnis, manajerial dan berorganisasi bisnis petani serta peningkatan wawasan agribisnis. Dalam hal ini perlu reorientasi peran penyuluhan pertanian yang merupakan lembaga pembinaan SDM petani. Oleh karena itu perlu peningkatan pendidikan penyuluh baik melalui pendidikan formal, kursus singkat, studi banding. Serta perlu perubahan fungsi BPP yang selama ini sebagai lembaga penyuluhan agro-teknis, menjadi KLINIK KONSULTASI AGRIBISNIS

20. Pemberdayaan sektor agribisnis sebagai upaya penaggulangan krisis pangan dan Devisa. Perlu langkah-langkah reformasi dalam memberdayakan sektor agribisnis nasional, yaitu:

a. Reformasi strategi dan kebijakan industrialisasi dari industri canggih kepada industri agribisnis domestik.

b. Kebijakan penganekaragaman pola konsumsi berdasar nilai kelangkaan bahan pangan.

c. Reformasi pengelolaan agribisnis yang integratif, yaitu melalui satu Departemen yaitu DEPARTEMEN AGRIBISNIS

d. Pengembangan agribisnis yang integrasi vertikal dari hulu sampai hilir melalui koperasi agribisnis.

Agribisnis diartikan sebagai sebuah sistem yang terdiri dari unsur-unsur kegiatan : (1) pra-panen, (2) panen, (3) pasca-panen dan (4) pemasaran. Sebagai sebuah sistem, kegiatan agribisnis tidak dapat dipisahkan satu sama lainnya, saling menyatu dan saling terkait. Terputusnya salah satu bagian akan menyebabkan timpangnya sistem tersebut. Sedangkan kegiatan agribisnis melingkupi sektor pertanian, termasuk perikanan dan kehutanan, serta bagian dari sektor industri. Sektor pertanian dan perpaduan antara kedua sektor inilah yang akan menciptakan pertumbuhan ekonomi yang baik secara nasional (Sumodiningrat, 2000).

LAMPIRAN-LAMPIRAN

 

GAMBAR SAAT WAWANCARA

IBU AISYAH DAN LAHANNYA


DAFTAR PUSTAKA

 

Anonymous. 2009. Kelembagaan Agribisnis. http://www.wikipedia.co.id. Diakses pada 5 April 2009

Anonymous. 2009. Memperkuat Agribisnis. http://wikipedia.com. Diakses pada 7 April 2009

Hasibuan, Nasrun. 2009. Modul 3 : Kelembagaan Agribisnis. Universitas Brawijaya. Malang

 

Karakteristik Desa, Pola Ekologi dan Tipe Desa Pandesari

LAPORAN KEGIATAN FIELDTRIP
OBYEK KUNJUNGAN :
DESA PANDESARI, KECAMATAN PUJON
KABUPATEN MALANG, PROVINSI JAWA TIMUR

OLEH
KELOMPOK 2
1. MOH. FIRSTSYAH SOFYAN (0810480058)
2. RIZKI RAMADHANI (0810480085)
3. SEPTI WULAN SARI (0810480093)
4. SISKA SEPTI WULANSARI (0810480096)

PROGRAM STUDI : AGROEKOTEKNOLOGI
WAKTU KUNJUNGAN :
28 MARET 2009

LABORATORIUM PENGEMBANGAN MASYARAKAT PEDESAAN
JURUSAN SOSIAL EKONOMI PERTANIAN
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS BRAWIJAYA
MALANG
2009
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Sosiologi adalah pengetahuan atau ilmu tentang sifat masyarakat, perilaku masyarakat, dan perkembangan masyarakat. Sosiologi merupakan cabang Ilmu Sosial yang mempelajari masyarakat dan pengaruhnya terhadap kehidupan manusia. Masyarakat sendiri merupakan sekelompok orang yang membentuk sebuah sistem semi tertutup (atau semi terbuka), dimana sebagian besar interaksi adalah antara individu-individu yang berada dalam kelompok tersebut.
Setiap masyarakat mempunyai kawasan tempat meraka tinggal baik diperkotaan maupun pedesaan. Sosiologi pertanian secara khusus mempelajari masyarakat pertanian yang mayoritas berada di pedesaan.
Pedesaan atau desa menurut Prof. Bintarto 1984: 13) yaitu suatu kesatuan hukum di mana bertempat tinggal suatu masyarakat yang berkuasa mengadakan pemerintahan sendiri. Sedangkan menurut Undang-Undang Nomor 5 tahun 1979, yakni UndangUndang Tentang Pemerintahan Desa, istilah Desa berarti kesatuan masyarakat hukum yang memiliki batas-batas wilayah yang berwenang untuk mengatur dan mengurus kepentingan masyarakat setempat, berdasarkan asal-usul dan adat istiadat setempat yang diakui dan dihormati dalam sistem Pemerintahan Negara Kesatuan Republik Indonesia. (pasal I huruf a, UU No. 5 tahun 1979)
Di dalam pedesaan sendiri tak lepas dari kegiatan utama pertanian, termasuk pengelolaan sumber daya alam dengan susunan fungsi kawasan sebagai tempat permukiman perdesaan, pelayanan jasa, pemerintahan, pelayanan sosial, dan kegiatan ekonomi.
Namun tidak semua pedesaan di Indonesia ini dapat digolongkan mayoritas kegiatan utamanya petanian saja, karena bagaimanapun setiap desa pasti mempunyai karakteristik desa tersendiri baik meliputi aspek morfologi yang meliputi pemanfaatan lahannya, jumlah penduduknya yang tidak sama di setiap desa, aspek ekonominya yang dilihat dari matapencaharian masyarakat di desa tersebut, aspek sosial budaya yang meliputi tradisi dan interaksi antar masyarakat di desa tersebut, serta aspek hukum yang meliputi peraturan dan kegiatan pemerintahan di dalam desa itu sendiri.
Jadi antara satu desa dan yang lainnya belum tentu memiliki karakteristik desa yang sama, begitu pula sejarahnya. Oleh karena itu diadakanlah praktikum Sosiologi Pertanian ini untuk mempelajari dan menganalisis sejarah serta karakteristik suatu desa, dan Desa yang menjadi obyek kunjungan kami yaitu Desa Pandesari, Kecamatan Pujon, Kabupaten Malang.

1.2 Rumusan Masalah
1. Bagaimana aspek morfologi Desa Pandesari?
2. Bagaimana aspek jumlah penduduk Desa Pandesari?
3. Bagaimana aspek ekonomi Desa Pandesari?
4. Bagaimana aspek sosial budaya Desa Pandesari?
5. Bagaimana aspek hukum Desa Pandesari?
6. Bagaimana pola lokasi dan wilayah Desa Pandesari?
7. Bagaimana tipe dan tingkat perkembangan Desa Pandesari?
8. Bagaimana desa-desa di Indonesia di masa depan?

1.3 Tujuan
1. Untuk mengetahui aspek morfologi desa Pandesari
2. Untuk mengetahui aspek jumlah penduduk Desa Pandesari
3. Untuk mengetahui aspek ekonomi Desa Pandesari
4. Untuk mengetahui aspek sosial budaya Desa Pandesari
5. Untuk mengetahui aspek hukum Desa Pandesari
6. Untuk mengetahui pola lokasi dan wilayah Desa Pandesari
7. Untuk mengetahui tipe dan tingkat perkembangan Desa Pandesari
8. Untuk mengetahui desa-desa di Indonesia di masa depan

BAB II
PEMBAHASAN

A. ANALISIS KARAKTERISTIK DESA
1. Aspek Morfologi

SEJARAH
Dahulu di daerah ini terdapat banyak “Pande” yang artinya tukang atau ahli besi, emas, logam dan sebagainya. Sehingga dari adanya hal tersebut desa daerah itu berkembang dan dinamakan desa Pandesari yang sekarang terletak di Kecamatan Pujon Kabupaten Malang. Dan terdiri dari 3 dukuh :
1. Dukuh Krajan
2. Dukuh Baloh
3. Dukuh Sularejo
Desa wilayah Pujon. Sehingga tanah di daerah pandesari cukup subur dan lembab, dan cocok digunakan untuk menanam tanaman yang mayoritas sayur-sayuran. Selain itu penduduknya juga banyak yang menanam rumput untuk pakan ternak. Dapat disimpulkan Desa Pandesari adalah desa yang berkembang.

2. Aspek Jumlah Penduduk
Pandesari merupakan desa yang berada di Kecamatan Pujon, Kabupaten Malang. Wilayah pandesari adalah daerah berdataran tinggi dengan curah hujan yang cukup baik dan merupakan daerah terluas di jumlah penduduk. Penduduk Pandesari berjumlah ± 10-11 ribu jiwa dan merupakan jumlah penduduk terbesar di wilayah Pujon.

3. Aspek ekonomi
Mayoritas penduduk Desa Pandesari bermatapencaharian sebagai petani sayur. Desa Pandesari merupakan daerah yang tanahnya cukup sebur dan lembab sehingga para petani lebih memilih sebagai petani sayuran. Selain sebagai petani sayur, banyak juga penduduk desa Pandesari yang bermatapencaharian sebagai petenak sapi perah yang menghasilkan susu murni. Mereka lebih memilih beternak sapi perah daripada sapi penggemuk karena menurut mereka keuntungan beternak sapi perah lebih menguntungkan. Umumnya para petani sayur juga bekerja sebagai peternak sapi, di mana kedua hal tersebut saling melengkapi satu sama lain. Sebagai contoh : apabila hasil sayuran petani jelek, maka dapat digunakan sebagai pakan ternak. Selain itu ada juga lahan yang khusus digunakan untuk menanam rumput gajah yang juga digunakan sebagai pakan ternak. Setiap pagi dan sore mereka mendistribusikan susu murni tersebut ke koperasi desa.
Sebagian penduduk Pandesari juga menjadi Pegawai negeri, baik sebagai pegawai pemerintahan daerah/kantor, guru, dan sebagainya. Selain itu ada juga yang meiliki pabrik pembuatan pupuk anorganik yang sudah didistribusikan sampai ke luar Jawa. Dan dari pabrik tersebut dapat menyerap ± 150 tenaga kerja sehingga dapat mengurangi pengangguran di desa Pandesari.
Pada tahun ini penduduk Desa Pandesari memanfaatkan limbah kotoran ternak sebagai biogas yang digunakan sebagai pengganti bahan baker alami.

4. Aspek Sosial Budaya
a. Pernikahan adalah hal yang sacral bagi masyarakat desa Pandesari. Remaja yang berumur kurang dari 17 tahun tidak diperbolehkan menikah karena bagi para orang tua meraka, remaja yang berumur kurang dari 17 tahun masih belum siap baik fisik maupun mental untuk menjalani kehidupan rumah tangga.
b. Setiap acara Maulid nabi atau acara keagamaan yang lain, penduduk sekitar selalu merayakan dengan acara keagamaan seperti ceramah agama, istighosah dan lain-lain.
c. Jumat bersih di Desa Pandesari juga dilakukan setiap minggunya. Hal tersebut untuk menumbuhkan gorong royong dan menjaga lingkungan sekitar agar terlihat bersih dan nyaman.
d. Setiap ada penduduk yang membangun rumah di Desa Pandesari, biasanya secara sukarela masyarakat di sana saling membantu, entah itu untuk mengangkat genting, bata atau sebagainya.

5. Aspek hukum
Setiap daerah selalu mempunyai peraturan yang menjadi adat atau aturan yang tertera seperti pada aturan yang dibuat oleh pemeerintah. Misalnya, jika ada yang mencuri, maka akan dihukum sesuai dengan aturan yang berlaku. Begitu juga dengan tindak kriminal lain. Selain itu, apabila ada seorang lelaki yang mengunjungi rumah perempuan yang bukan saudaranya (pacarnya) melebihi jam kunjung malam, maka biasanya di denda.
B. POLA EKOLOGI DAN TIPE DESA
1. Pola Lokasi dan Wilayah Desa

Desa Pandesari yang terletak di Kecamatan Pujon Kabupaten Malang mempunyai batas-batas wilayah sebagai berikut :
-Sebelah Utara dibatasi oleh Kabupaten Mojokerto
-Sebelah Selatan dibatasi oleh Kota Blitar
-Sebelah Timur dibatasi oleh Kota Batu
-Sebelah Barat dibatasi oleh daerah Ngantang
Keadaan penduduk di desa Pandeari tertata dengan pola rumah yang menyebar rata dan tidak menggerombol antara rumah satu dan yang lain. Penyebaran rumah hanya dibatasi oleh lahan-lahan (menjadi satu setiap dusun). Dan Desa Pandasari terdiri dari 3 dukuh yaitu Krajan, Baloh, dan Sularejo dengan 48 RT.
Fasilitas umum yang ada di Desa Pandesari antara lain :
a. 7 masjid sebagai tempat ibadah dan acara keagamaan
b. Coban rondo sebagai tempat wisata yang cukup terkenal
c. Tempat praktek-praktek kesehatan (polinder)
d. Tempat praktek bidan

2. Tipe dan Tingkat Perkembangan Desa
Desa Pandesari tergolong desa yang mendekati perkotaan. Di mana masyarakatnya mempunyai inisiatif untuk maju. Mereka membentuk organisasi antara lain:
a. organisasi keagamaan (NU)
b. Karang Taruna (tiap RT digabung menjadi satu di desa)
c. Remas (Remaja Masjid) yang setiap tahunnya mengadakan acara keagamaan seperti maulud Nabi, istighosah dan sebagainya.
d. PKK (arisan dan posyandu)
• Kegiatan yang sudah menjadi kebiasaan di desa Pandesari salah satunya adalah pergerakan dari PKK lewat KADER dengan mengadakan setiap bulan sekali seperti program KB yang sampai sekarang masih berjalan dengan lancar.
• Untuk melancarkan program pendidikan di Desa Pandesari terdapat himpunan yang menyusun program KF (program untuk memberantas keaksaraan).
• Rata-rata remaja Desa Pandesari meneruskan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi, tetapi ada pengaruh yang berhubungan dengan pendidikan tersebut. Sebagaian minat belajarnya kurang semangat karena mereka berfikir bahwa setelah lulus SMP langsung beternak sapi atau bertani sayur, dan menurut mereka mata pencaharian tersebut tidak membutuhkan pendidikan tinggi.

3. Desa-Desa di Indonesia di Masa Depan
Masalah utama yang terjadi sesungguhnya adalah ketidakadilan yang menyebabkan tidak terdistribusinya pembangunan secara merata. Hal ini mengakibatkan banyak masyarakat tidak mampu mengakses kebutuhan hidupnya secara layak. Indonesia hari ini surplus pangan. Tapi, masih saja ada warganya yang tidak mampu mengakses pangan. Hal itu tidak lain karena masih belum terwujudnya pemerataan pendapatan.
Desa menjadi bagian dunia yang tertinggal dan ditinggalkan tempat di mana masyarakat miskin berkumpul. Padahal di sanalah sesungguhnya sumber-sumber kehidupan ditemukan. Kita tidak menanam padi yang nasinya kita makan setiap hari di kota-kota besar.
Kita juga tidak memperoleh sayur, buah, dan segala bahan pangan yang kita butuhkan kecuali desa-desa dengan setia menyediakan. Kita tidak mengeksplorasi sumber-sumber energi di tengah wilayah perkotaan. Semua yang kita butuhkan untuk memenuhi syarat dasar kehidupan bersumber di wilayah pedesaan. Oleh karenanya sangat tidak wajar jika desa ditinggalkan dari agenda-agenda pembangunan.
Pemerintah perlu mencanangkan gerakan kembali ke desa. Sumber-sumber pertumbuhan ekonomi harus digerakkan ke pedesaan sehingga desa menjadi tempat yang menarik sebagai tempat tinggal dan mencari penghidupan. Infrastruktur desa, seperti irigasi, sarana dan prasarana transportasi, listrik, telepon, sarana pendidikan, kesehatan dan sarana-sarana lain yang dibutuhkan, harus bisa disediakan sehingga memungkinkan desa berkembang.
Pemerintah juga perlu menciptakan banyak desa-desa industri yang mandiri, sehingga masyarakatnya, terutama para pemudanya tidak perlu lari dari desa yang selama ini dihuni. Sangat disayangkan jika proses urbanisasi terus terjadi tanpa solusi ekonomi yang memadai. Karena yang terjadi sesungguhnya hanyalah memindahkan arus kemiskinan dari desa ke kota, dan ini hanya akan menambah panjang daftar masalah-masalah baru.
Pemerintah harus berani menjadikan desa sebagai masa depan Indonesia. Desa bukan hanya menjadi objek wisata. Melainkan juga ruang untuk berkerja. Desa bukan hanya wilayah untuk menikmati segala keindahan. Melainkan juga ruang untuk memperjuangkan kehidupan. Desa harus menjadi tempat di mana sumber daya manusia terbaik merasa nyaman untuk hidup dan berkarya di sana dan seluruh masyarakat bisa menikmati kesejahteraannya.
LAMPIRAN-LAMPIRAN

Balai Desa Pandesari

Tempat wisata air terjun coban rondo

Wawancara di rumah Kepala Desa pandesari

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: