Perubahan Sosial dan Kebudayaan

LAPORAN KEGIATAN FIELDTRIP 

PERUBAHAN SOSIAL DAN KEBUDAYAAN

OBYEK KUNJUNGAN :

DESA MERJOSARI, KEC. LOWOKWARU, KAB. MALANG

OLEH : KELOMPOK 2

1. MOH. FIRSTSYAH SOFYAN           (0810480058)

2. RIZKI RAMADHANI                          (0810480085)

3. SEPTI WULAN SARI                          (0810480093)

4. SISKA SEPTI WULANSARI              (0810480096)

  PROGRAM STUDI : AGROEKOTEKNOLOGI

WAKTU KUNJUNGAN :

1O MEI 2009

LABORATORIUM PENGEMBANGAN MASYARAKAT PEDESAAN

JURUSAN SOSIAL EKONOMI PERTANIAN

FAKULTAS PERTANIAN

UNIVERSITAS BRAWIJAYA

MALANG

2009


BAB I

PENDAHULUAN

1.1  Latar Belakang

Setiap masyarakat selama hidup pasti mengalami perubahan yang dapat berupa perubahan yang tidak menarik dalam arti kurang mencolok. Ada pula perubahan-perubahan yang pengaruhnya terbatas maupun yang luas, serta ada pula perubahan-perubahan yang lambat sekali, tetapi ada juga yang berjalan dengan cepat.

Perubahan-perubahan masyarakat dapat mengenai nilai-nilai sosial, norma-norma sosial, pola-pola perilaku organisasi, susunan lembaga kemasyarakatan, lapisan-lapisan dalam masyarakat, kekuasaan dan wewenang, interaksi sosial dan lain sebagainya.

Dengan mengetahui perubahan-perubahan suatu masyarakat tertentu maka dapat diklasifikasikan apakah masyarakat tadi bersifat statis atau dinamis. Masyarakat yang statis dimaksudkan masyarakat yang sedikit sekali mengalami perubahan dan berjalan lambat. Masyarakat yang dinamis adalah masyarakat-masyarakat yang mengalami berbagai perubahan yang cepat.

Pada praktikum sosiologi pertanian kali ini membahas mengenai Perubahan Sosial dan Kebudayaan yang ada di pedesaan khusunya dalam keluarga petani. Dan Desa yang dituju kali ini adalah Desa Merjosari dengan narasumber yang bernama Bapak Sa’an yang merupakan penduduk Desa Merjosari dan bemata pencaharian sebagai petani padi yang bertempat tinggal di RT 05 RW X Desa Merjosari Kabupaten Malang.

Dengan adanya praktikum tentang perubahan  sosial dan kebudayaan dalam lingkup keluarga petani yang ada di Desa Merjosari ini diharapkan mahasiswa atau praktikan dapat memahami dan mengetahui perubahan-perubahan apa yang terjadi dalam keluarga petani tersebut secara khusu dan masyarakat petani di Desa Merjosari secara umum.

1.2  Rumusan Masalah

  1. Apakah perubahan sosial itu ?
  2. Apakah nilai-nilai sosial itu?
  3. Bagaimana pola perilaku masyarakat di Desa Merjosari?
  4. Bagaimana organisasi dan lembaga social di Desa Merjosari?
  5. Bagaimana stratifikasi social di Desa Merjosari?
  6. Bagaimana kekuasaan seseorang di Desa Merjosari?
  7. Bagaimana wewenang serta kepemimpinanan masyarakat Desa Merjosari?

1.3    Tujuan

1. Mengetahui perubahan sosial

  1. Mengetahui nilai-nilai sosial
  2. Mengetahui pola perilaku masyarakat di Desa Merjosari
  3. Mengetahui organisasi dan lembaga social di Desa Merjosari
  4. Mengetahui stratifikasi social di Desa Merjosari
  5. Mengetahui kekuasaan seseorang di Desa Merjosari
  6. Mengetahui wewenang serta kepemimpinanan masyarakat Desa Merjosari

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1  Definisi Perubahan Sosial

  • Perubahan sosial adalah segala perubahan-perubahan pada lembaga-lembaga pemasyaarakatan di dalam suatu masyarakat yang mempengaruhi sistem sosialnya, termasuk diantaranya kelompok-kelompok dalam masyarakat.

(Soemardjan,1962)

  • Perubahan sosial adalah perubahan-perubahan yang terjadi dalam struktur dan fungsi masyarakat.

(Davis, 1960 )

  • Perubahan sosial adalah perubahan fundamental yang terjadi dalam struktur sosial, sistem sosial, dan organisasi sosial.

(Dirdjosiswojo, 2005)

  • Perubahan sosial adalah perubahan-perubahan dalam hubungan sosial atau sebagai perubahan terhadap keseimbagan hubungan sosial.

(Maclver, 1957)

2.2  Teori-Teori Perubahan Sosial

Banyak yang berpendapat bahwa kecendurungan terjadinya perubahan-perubahan sosial merupakan gejala wajar yang timbul dari pergaulan hidup manusia. Ahli lain berpendapat bahwa perubahan sosial terjadi karena adanya perubahan dalam unsur-unsur yang mempertahankan keseimbangan masyarakat, seperti misalnya perubahan dalam unsur-unsur geografis, biologis, ekonomis atau kebudayaan. Kemudian, ada pula yang berpendapat bahwa perubahan-periubahan sosial bersifat periodik dan nonperiodik.

Beberapa sosiolog berpendapat bahwa ada kondisi-kondisi sosial primer yang menyebabkan terjadinya perubahan. Misalnya kondisi-kondisi ekonomi, teknologis, geografis atau biologis mengakibatkan terjadinya perubahan-perubahan pada aspek-aspek kehidupan sosial lainnya. Sebaliknya ada pula yang mengatakan bahwa semua kondisi tersebut sama pentingnya, satu atau semua akan menelorkan perubahan-perubahan sosial.

(Soekanto,1982)

2.3 Hubungan Antara Perubahan Sosial dan Perubahan Kebudayaan

Perubahan sosial merupakan bagian dari perubahan kebudayaan. Perubahan dalam kebudayaan mencakup semua bagiannya, yaitu : kesenian, ilmu pengetahuan, teknologi, filsafat, dan seterusnya, bahkan perubahan-perubahan dalam bentuk serta aturan-aturan organisasi sosial.

Ruang lingkup perubahan kebudayaan lebih luas. Sudah barang tentu ada unsur-unsur kebudayaan yang dapat dipisahkan dari masyarakat, tetapi perubahan-perubahn dalam kebudayaan tidak perlu mempengaruhi sistem sosial. Perubahan-perubahan sosial dan kebudayaan mempunyai satu aspek yang sama, yaitu kedua bersangkut-paut dengan suatu penerimaan cara-cara baru atau suatu perbaikan dalam cara satu masyarakat memenuhi kebutuhan-kebutuhannya.

Sebenarnya dalam kehidupan sehari-hari, acapkali tidak mudah untuk menentukan letak garis pemisah antara perubahan sosial dan kebudayaan. Hal itu disebabkan tidak ada masyarakat yang tidak mempunyai kebudayaan, dan sebaliknya tidak mungkin ada kebudayaan yang tidak terjelma dalam suatu masyarakat. Hal itu mengakibatkan bahwa garis pemisah di dalam kenyataan hidup antara perubahan sosial dan kebudayaan lebih sukar lagi untuk ditegaskan. Biasanya antara kedua gejala itu dapat ditemukan hubungan timbal balik sebagai sebab dan akibat.

(Soekanto, 1982)

2.4  Beberapa Bentuk Perubahan Sosial dan Kebudayaan

1. Perubahan Lambat dan Perubahan Cepat

Perubahan-perubahan yang memerlukan waktu lama, dan rentetan-rentetan perubahan kecil yang saling mengikuti dengan lambat dinamakan evolusi. Pada evolusi perubahan terjadi dengan sendirinya tanpa rencana atau kehendak tertentu. Prubahan tersebut terjadi karena usaha-usaha masyarakat untuk menyesuaikan diri dengan keperluan-keperluan, keadaan-keadaan, dan kondisi-kondisi baru, yang timbul sejalan dengan pertumbuhan masyarakat. Rentetan perubahan-perubahan tersebut tidak perlu sejalan dengan peristiwa-peristiwa di dalam sejarah masyarakat yang bersangkutan.

Ada bermacam-macam teori tentang evolusi, yang pada umumnya dapat digolongkan ke dalam beberapa kategori sebagai berikut :

a.      Unilinear theories of evolutio

b.      Universal theory of evolution

c.       Multilined theories of evolution

Sementara itu perubahan-perubahan sosial dan kebudayaan yang berlangsung secara cepat dan menyangkut dasar-dasar atau sendi-sendi pokok kehidupan masyarakat (yaitu lembaga-lembaga kemasyarakatan) lazimnya dinamakan “revolusi”. Unsur-unsur pokok revolusi adalah adanya perubahan yang cepat, dan perubahan tersebut mengenai dasar-dasar atau sendi pokok kehidupan masyarakat. Di dalam revolusi, perubahan-perubahan yang terjadi dapat direncanakan terlebih dahulu atau tanpa rencana.

2. Perubahan Kecil dan Perubahan Besar

a. Perubahan kecil adalah perubahan-perubahan pada unsur struktur sosial yang tidak membawa pengaruh langsung atau pengaruh yang berarti bagi masyarakat. Misalnya : perubahan mode pakaian.

b. Perubahan besar adalah perubahan yang terjadi pada unsur-unsur struktur sosial dan membawa pengaruh pada perubahan lembaga kemasyarakatan. Misalnya: perubahan dari masyarakat agraris ke masyarakat industri akan membawa pengaruh pada perubahan lembaga kemasyarakatan.

 3. Perubahan yang Direncanakan dan Tidak Direncanakan

a. Perubahan yang direncanakan adalah perubahan-perubahan terhadap lembaga-lembaga kemasyarakatan yang didasarkan pada perencanaan yang matang oleh pihak-pihak yang menghendaki perubahan-perubahan tersebut. Misalnya : menyangkut bidang politik dan administrasi.

b. Perubahan yang tidak direncanakan adalah perubahan yang terjadi tanpa dikehendaki serta berlangsung diluar jangkauan pengawasan masyarakat dan dapat menyebabkan timbulnya akibat-akibat sosial yang tidak diharapkan oleh masyarakat.

(Soekanto, 1982)

2.5 Faktor-Faktor yang Menyebabkan Perubahan Sosial dan Kebudayaan

Sumber sebab-sebab perubahan sosial dan kebudayaan dapat terjadi karena masyarakat itu sendiri dan dari luar masyarakat. Sebab-sebab yang bersumber karena masyarakat itu sendiri antara lain :

a. Bertambah atau Berkurangnya Penduduk

Perpindahan penduduk mengakibatkan kekosongan misalnya dalam bidang pembagian kerja, dan stratifikasi social, yang mempengaruhi lembaga-lembaga kemasyarakatan.  Hal itu sejajar dengan bertambah banyaknya penduduk di muka bumi ini. Misalnya : pada masyarakat-masyarakat yang utamanya bermatapencaharian berburu, perpindahan seringkali dilakukan yang tergantung dari persediaan hewan-hewan buruannya.

b. Penemuan Baru

Suatu proses sosial dan kebudayaan yang besar, tetapi yang terjadi dalam jangka sesuatu yang tidak terlalu lama disebut dengan inovasi. Proses terebut meliputi suatu penemuan baru, jalannya unsur kebudayaan baru yang tersebar ke lain-lain bagian masyarakat, dan cara-cara unsur kebudayaan baru tadi diterima, dipelajari, dan akhirnya dipakai dalam masyarakat yang bersangkutan.

  1. c.                  Pertentangan masyarakat

Pertentangan masyarakat mungkin pula menjadi sebab terjadinya perubahan social dan kebudayaan. Pertentangan-pertentangan mungkin terjadi antara individu dengan kelompok atau perantara kelompok dengan kelompok.

d.                Terjadinya pemberontakan atau revolusi

Misalnya Revolusi yang meletus pada Oktober 1917 di Rusia telah menyulut terjadinya perubahan-perubahan besar negara rusia yang mula-mula mempunyai bentuk kerajaan absolute beruabah menjadi dictator proletariat yang dilandaskan pada doktrin Marxis. Segenap lembaga kemasyarakatan, mulai dari bentuk negara sampai keluarga batih pernah mengalami perubahan-perubahan yang mendasar.

Adapun sebab-sebab yang bersumber dari luar masyarakat sendiri antara lain :

  • Sebab-sebab yang Berasal dari Lingkungan Alam Fisik yang Ada di Sekitar Manusia

Misal setelah adanya bencana alam memungkinkan menyebabkan masyarakat-masyarakat yang mendiami daerah tersebut terpaksa harus meninggalkan tempat tinggalnya. Apabila masyarakat tersebut mendiami tempat yang baru, maka mereka harus menyesuaikan diri dengan keadaan alam yang baru tersebut. Kemungkinan hal tersebut mengakibatkan terjadinya perubahan-perubahan pada lembaga-lembaga kemasyarakatannya.

  • Peperangan

Misalnya negara-negara yang kalah dalam perang dunia ke dua banyak sekali mengalami perubahan dalam lembaga kemasyarakatannya.

  • Pengaruh Kebudayaan Masyarakat Lain

Hubungan yang dilakukan secara fisik antara dua masyarakat mempunyai kecenderungan untuk menimbulkan pengaruh timbal balik. Artinya, masing-masing masyarakat mempengaruhi masyarakat lainnya tetapi jika menerima pengaruh dari masyarakat yang lain itu.

(Soekanto,1982)

2.5 Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Jalannya Proses Perubahan

1. Faktor yang Mendorong Terjadinya Proses Perubahan

a.       Kontak dengan kebudayaan lain

Salah satu proses yang menyangkut hal ini adalah diffuse. Difusi adalah proses penyebaran unsure-unsur kebudayaan dari individu kepada individu lain, dan dari satu masyarakat satu ke masyarakat lain. Dengan adanya diffuse, suatu penemuan baru yang diterima oleh masyarakat dapat diteruskan dan disebarkan pada masyarakat luas.

b.       Sistem pendidikan formal yang maju

Pendidikan memberikan nilai-nilai tertentu bagi manusia, terutama dalam membuka pikirannya serta menerima hal baru dan juga bagaimana cara berpikir secara ilmiah.

c.       Sikap menghargai hasil karya seseorang dan keinginan-keinginan untuk maju

Apabila sikap tersebut melembaga dalam masyarakat, masyarakat merupakan pendorong bagi usaha-usaha penemuan baru. Misal di Indonesia dikenal dengan sistem penghargaan yang tertentu, walaupun masih dalam arti yang terbatas dan belum merata.

d.       Toleransi

Terhadap perubahan-perubahan yang menyimpang (deviation) yang bukan merupakan delik

e.       Sistem terbuka lapisan masyarakat

Sistem terbuka memungkinkan adanya gerak social vertical yang luas atau member kesempatan pada individu untuk maju atas dasar kemampuan sendiri.

2. Faktor yang Menghalangi Terjadinya Perubahan

a. Kurangnya hubungan dengan masyarakat lain

Hal ini menyebabkan sebuah masyarakat tidak mengetahui perkembangan-perkembanagn apa yang terjadi pada masyarakat lain yang mungkin akan dapat memperkaya kebudayaannya sendiri.

b. Perkembangan ilmu pengetahuan yang terlambat

Hal ini mungkin  disebabkan hidup masyarakat tersebut terasing atau tertutup atau mungkin karena lama terjajah oleh masyarakat lain.

c.    Sikap masyarakat yang sangat tradisional

Suatu sikap yang mengagung-agungkan tradisi dan masa lampau serta anggapan bahwa tradisi secara mutlak tak dapat diubah menghambat jalannya proses perubahan.

d.       Rasa takut akan terjadinya kegoyahan pada integrasi kebudayaan

Beberapa perkelompokan unsure-unsur tertentu mempunyai derajat integrasi tinggi. Maksudnya unsur-unsur luar dikhawatirkan akan menggoyahkan integrasi dan menyebabkan perubahan-perubahan pada aspek-aspek tertentu masyarakat.

e.       Adat atau kebiasaan

Adat atau kebiasaan merupakan pola-pola perilaku bagi anggota masyarakat di dalam memenuhi segala kebutuhan pokoknya. Mungkin adat atau kebiasaan yang mencakup bidang kepercayaan, sisteem mata pencaharian, pembuatan rumah, cara berpakaian tertentu, begitu kokoh sukar untuk diubah.

2.7 Proses-Proses Perubahan Sosial dan Kebudayaan

1. Penyesuaian Masyarakat terhadap Perubahan

Keserasian dalam masyarakat merupakan keadaan yang diidam-idamkan setiap masyarakat. Keserasian masyarakat dimaksudkan sebagai suatu keadaan di mana lembaga-lembaga kemasyarakatan yang pokok bear-benar berfungsi dan saling mengisi. Ada kalanya unsure-unsur baru dan lama yang bertentangan secara bersamaan mempengaruhi norma-norma dan nilai-nilai yang berpengaruh pula pada warga masyarakat.

2. Saluran-saluran Perubahan Sosial dan Kebudayaan

Merupakan saluran-saluran yang dilalui oleh suatu proses perubahan. Umumnya saluran-saluran tersebut adalah lembaga-lembaga dalam bidang kemasyarakat dalam bidang pemerintahan, ekonomi, pendidiakn, agama, rekreasi dan lain-lain. Lembaga kemasyarakatan yang merupakan titik tolak tergantung pada cultural focus masyarakat pada suatu masa yang tertentu.

3. Disorganisasi (Disintegrasi) dan Reorganisasi (Reintegrasi)

              Disorganisasi adalah proses berpudarnya norma-norma dan nilai-nilai dalam masyarakat dikarenakan adanya perubahan-perubahanyang terjadi dalam lembaga-lembaga kemasyarakatan. Reorganisasi adalah proses pembentukan norma-norma dan nilai-nilai yang baru agar sesuai dengan lembaga-lembaga kemasyarakatan yang menagalami perubahan. Reorganisasi dilaksanakan apabila norma-norma dan nilai-nilai yang baru telah melembaga dalam diri warga.

4.Cultural Lag (Ketertinggalan Budaya)

Cultural lag merupakan ketidakserasian dalam perubahan-perubahan unsur-unsur masyarakat atau kebudayaan.

(Soekanto, 1982)

2.8. Arah Perubahan Sosial (Direction of Changes)

                   Arah perubahan sosial jelas menunjukkan perubahan bergerak meninggalkan faktor yang diubah. Akan tetapi, setelah meninggalkan faktor itu, mungkin perubahan bergerak kepada sesuatu bentuk yang sama sekali baru, atau mungkin pula bergerak ke arah suatu bentuk  yang sudah ada di dalam waktu yang lamapau. Salah satu jenis perubahan dapat dilakuakan dan mengarah pada modernisasi.

(Soekanto,1982)

BAB IV

PENUTUP

4.1         Kesimpulan

ü  Perubahan sosial adalah segala perubahan pada lembaga-lembaga kemasyarakatan di dalam suatu masyarakat, yang mempengaruhi system sosialnya, termasuk di dalamnya nilai-nilai, sikap-sikap dan pola-pola perilaku di antara kelompok-kelompok dalam masyarakat.

ü  Kecenderungan terjadinya perubahan-perubahan sosial merupakan gejala wajar yang timbul dari pergaulan hidup manusia, terjadi karena adanya perubahan kondisi sosial primer seperti ekonomis, teknologis, geografis, atau biologis.

ü  Perubahan sosial merupakan bagian dari perubahan kebudayaan. Perubahan dalam kebudayaan mencakup semua bagiannya, dan ruang lingkup perubahan kebudayaan lebih luas

ü  Bentuk perubahan sosial dan kebudayaan yaitu :

  1. Perubahan Lamabat dan Perubahan Cepat
  2. Perubahan Kecil dan Perubahan Besar
  3. Perubahan yang Direncanakan dan Tidak Direncanakan

ü  Faktor-faktor yang menyebabkan perubahan sosial dan kebudayaan yaitu :

  1. Faktor yang bersumber dari masyarakat itu sendiri :
  • Bertambah atau Berkurangnya Penduduk
    • Penemuan Baru
    • Pertentangan masyarakat
    • Terjadinya pemberontakan atau revolusi
  1. Faktor yang bersumber dari luar masyarakat sendiri:
  • Sebab-sebab yang Berasal dari Lingkungan Alam Fisik yang Ada di Sekitar Manusia
    • Peperangan
    • Pengaruh Kebudayaan Masyarakat Lain

ü  Faktor-faktor yang mempengaruhi jalannya proses peubahan sosial dan kebudayaan yaitu:

  1. Faktor yang mendorong jalannya proses perubahan
  • Kontak dengan kebudayaan lain
  • Sistem pendidikan formal yang maju
  • Sikap menghargai hasil karya seseorang dan keinginan-keinginan untuk maju
  • Toleransi
  • Sistem terbuka lapisan masyarakat

2. Faktor yang Menghalangi Terjadinya Perubahan

  • Kurangnya hubungan dengan masyarakat lain
  • Perkembangan ilmu pengetahuan yang terlambat
  • Sikap masyarakat yang sangat tradisional
  • Rasa takut akan terjadinya kegoyahan pada integrasi kebudayaan
  • Adat atau kebiasaan

ü  Proses-proses perubahan sosial dan kebudayaan

  1. Penyesuaian masyarakat terhadap perubahan
  2. Saluran-saluran perubahan sosial dan kebudayaan
  3. Disorganisasi dan reorganisasi
  4. Cultural lag

ü  Arah perubahan sosial jelas menunjukkan perubahan bergerak meninggalkan faktor yang diubah. Akan tetapi, setelah meninggalkan faktor itu, mungkin perubahan bergerak kepada sesuatu bentuk yang sama sekali baru, atau mungkin pula bergerak ke arah suatu bentuk  yang sudah ada di dalam waktu yang lamapau. Salah satu jenis perubahan dapat dilakuakan dan mengarah pada modernisasi.

DAFTAR PUSTAKA

v    Davis, Kingsley. 1960. Human Society. The macmillan Company. New York

v    Dirdjosiswojo, 2005

v    Maclver, Robert M. dan Charles H. 1957. Page Society. An Introduction Analysis. Rinehart and Company, Inc. New York

v     Soekanto, Soerjono. 1982. Sosiologi Suatu Pengantar. PT Raja Grafindo Persada. Jakarta

v    Soemardjan, Selo. “Perkembangan Ilmu Sosiologi di Indonesia dari 1845 sampai 1965”. Research di Indonesia 1945 1965. Jilid IV. Bidang Ekonomi, Sosial dan Budaya

Kebudayaan Masyarakat Desa Sidomulyo, Cemara Kipas, Kota Batu

LAPORAN KEGIATAN FIELDTRIP KEBUDAYAAN MASYARAKAT

OBYEK KUNJUNGAN : DESA SIDOMULYO, CEMARA KIPAS, KOTA BATU

OLEH :

KELOMPOK : A1.2

1. MOH. FIRSTSYAH SOFYAN ( 0810480058)

2. RIZKIR AMADHANI (0810480085)

3. SEPTI WULAN SARI (0810480093)

4. SISKA SEPTI WULANDARI (0810480096)

PROGRAM STUDI : AGROEKOTEKNOLOGI

WAKTU KUNJUNGAN : TANGGAL 30 APRIL 2009

LABORATORIUM PENGEMBANGAN MSAYARAKAT PEDESAAN

JURUSAN SOSIAL EKONOMI PERTANIAN

FAKULTAS PERTANIAN

UNIVERSITAS BRAWIJAYA MALANG

2009

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Dalam kehidupan sehari-hari orang begitu sering membicarakan soal kebudayaan. Setiap harinya orang tak mungkin tidak berurusan dengan hasil-hasil kebudayaan. Tak ada masyarakat yang tidak mempunyai kebudayaan, dan tak ada kebudayaan tanpa masyarakat sebagai wadah dan pendukungnya. Pada praktikum sosiologi pertanian kali ini membahas mengenai kebudayaan yang ada di pedesaan dan bagaimana kebudayaan petani itu sendiri. Dan Desa yang dituju kali ini adalah Desa Sidomulyo dengan perwakilan Bapak Bani dan Bapak Gunawan yang merupakan penduduk Desa Sidomulyo yang bemata pencaharian sebagai petani apel yang bertempat tinggal di RT 03 RW. 04 Desa Sidomulyo 91 Cemara Kipas Malang. Dalam praktikum ini juga membahas mengenai paradigm lama dan paradigm baru berupa ekologi budaya dalam usaha pertania, serta membahas masalah alih teknologi dan peluang alih teknologi untuk usaha pertanian di Desa Sidomulyo. Apakah desa tersebut dapat menerima teknologi baru untuk pertaniannya atau tidak. Oleh karena itu, dengan adanya praktikum temntang budaya masyarakat petani dan pranata sosial yang ada di Desa Sidomulyo ini diharapkan lebih mengenal karakteristik masyarakat ( keluarga petani) dan budayanya serta pranata sosial yang sampai saat ini dikerjakan para petani serta bagaiman pola paradigm pertanian yang dianut petani dan peluang alih teknologi di Desa Sidomulyo tersebut.

1.2 Rumusan Masalah

1. Bagaimana kharakteristik masyarakat desa Sidomulyo?

2. Bagaimana sistem budaya/kebudayaan di Desa Sidomulyo ?

3. Bagaimana pranata atau lembaga sosial di Desa Sidomulyo?

4. Bagaimanapola paradigma yang dianut oleh petani di Desa Sidomulyo?

5. Bagaimana peluang alih teknologi di Desa Sidomulyo?

1.3 Tujuan

1. Mengetahui kharakteristik masyarakat Desa Sidomulyo

2. Mengetahui sistem budaya di Desa Sidomulyo

3. Mengetahui pranata atau lembaga sosial di Desa Sidomulyo

4. Mengetahui paradigma yang dianut oleh petani di Desa Sidomulyo

5. Mengetahui peluang alih teknologi di Desa Sidomulyo

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Karakteristik Masyarakat Desa Masyarakat desa selalu memiliki ciri-ciri atau dalam hidup bermasyarakat, yang biasanya tampak dalam perilaku keseharian mereka. Berikut ini sejumlah karakteristik masyarakat desa, yang terkait dengan etika dan budaya mereka, yang bersifat umum yang selama ini masih sering ditemui.

1. Sederhana Sebagian besar masyarakat desa hidup dalam kesederhanaan.

Kesederhanaan ini terjadi karena dua hal: a. Secara ekonomi memang tidak mampu b. Secara budaya memang tidak senang menyombongkan diri.

2. Mudah curiga.

Secara umum, masyarakat desa akan menaruh curiga pada: a. Hal-hal baru di luar dirinya yang belum dipahaminya b. Seseorang/sekelompok yang bagi komunitas mereka dianggap “asing”

3. Menjunjung tinggi “unggah-ungguh”

Sebagai “orang Timur”, orang desa sangat menjunjung tinggi kesopanan atau “unggah-ungguh” apabila: a. Bertemu dengan tetangga b. Berhadapan dengan pejabat c. Berhadapan dengan orang yang lebih tua/dituakan d. Berhadapan dengan orang yang lebih mampu secara ekonomi e. Berhadapan dengan orang yang tinggi tingkat pendidikannya

4. Guyub, kekeluargaan

Sudah menjadi karakteristik khas bagi masyarakat desa bahwa suasana kekeluargaan dan persaudaraan telah “mendarah-daging” dalam hati sanubari mereka.

5. Lugas

“Berbicara apa adanya”, itulah ciri khas lain yang dimiliki masyarakat desa. Mereka tidak peduli apakah ucapannya menyakitkan atau tidak bagi orang lain karena memang mereka tidak berencana untuk menyakiti orang lain. Kejujuran, itulah yang mereka miliki.

6. Perasaan “minder” terhadap orang kota

Satu fenomena yang ditampakkan oleh masayarakat desa, baik secara langsung ataupun tidak langsung ketika bertemu/bergaul dengan orang kota adalah perasaan mindernya yang cukup besar. Biasanya mereka cenderung untuk diam/tidak banyak omong.

7. Menghargai (“ngajeni”) orang lain

Masyarakat desa benar-benar memperhitungkan kebaikan orang lain yang pernah diterimanya sebagai “patokan” untuk membalas budi sebesar-besarnya. Balas budi ini tidak selalu dalam wujud material tetapi juga dalam bentuk penghargaan sosial atau dalam bahasa Jawa biasa disebut dengan “ngajeni”.

8. Suka gotong-royong

Salah satu ciri khas masyarakat desa yang dimiliki dihampir seluruh kawasan Indonesia adalah gotong-royong atau kalau dalam masyarakat Jawa lebih dikenal dengan istilah “sambatan”. Uniknya, tanpa harus dimintai pertolongan, serta merta mereka akan “nyengkuyung” atau bahu-membahu meringankan beban tetangganya yang sedang punya “gawe” atau hajatan. Mereka tidak memperhitungkan kerugian materiil yang dikeluarkan untuk membantu orang lain. (Anonymous, 2009)

2.2 Pengertian kebudayaan

• Kebudayaan dalam istilah asing culture dan dalam kata Latin colere artinya mengolah atau mengerjakan, yaitu mengolah tanah atau bertani, segala daya dan kegiatan manusa untuk mengolah dan mengubah alam. (Koentjaraningrat, 1965)

• Kebudayaan adalah kompleks yang mencakup pengetahuan, kepercayaan, kesenian, moral, hukum, adat-istiadat dan lain kemampuan-kemampuan serta kebiasaan-kebiasaan yang didapatkan oleh manusia sebagai anggota masyarakat. (Soekanto, 1982)

• Kebudayaan sebagai semua hasil karya, rasa, dan cipta masyarakat. (Soemardjan, 1964)

2.3 Unsur-unsur kebudayaan

Kebudayaan setiap bangsa atau masyarakat terdiri dari unsur-unsur besar maupun unsur-unsur kecil yang merupakan bagian suatu kebulatan yang bersifat sebagai kesatuan. Melville J. Herkovits mengajukan empat unsure pokok kebudayaan, yaitu :

1. Alat-alat teknologi

2. Sistem ekonomi

3. Keluarga

4. Kekuatan politik

Menurut Bronislaw Malinowski, unsur-unsur pokok kebudayaan yaitu :

1. Sistem norma yang memungkinkan kerjasama antara para anggota masyarakat di dalam upaya menguasai alama sekelilingnya.

2. Organisasi ekonomi

3. Alat-alat dan lembaga atau petugas pendidikan; perlu diingat bahwa keluarga merupakan lemabaga pendidikan yang utama.

4. Organisasi kekuatan

Terdapat pula tujuh unsur kebudayaan yang dianggap sebagai cultural universals, yaitu :

1. Peralatan dan perlengkapan hidup manusia (pakaian, perumahan, alat-alat rumah tang, senjata, alat-alat produksi, transport, dsb)

2. Mata pencaharian hidup dan system-sistem ekonomi (pertanian, peternakan, sistem produksi, sistem distribusi, dsb)

3. Sistem kemasyarakatan (sistem kekerabatan, organisasi politik, sistem hukum, dsb)

4. Bahasa (lisan maupun tertulis)

5. Kesenian (seni rupa, seni suara, seni gerak, dsb)

6. Sistem pengetahuan

7. Religi (sistem kepercayaan) (Soekanto, 1982)

2.4 Fungsi kebudayaan

Fungsi kebudayaan bagi masyarakat, yaitu :

1. Untuk melindungi diri terhadap alam

Kebudayaan kebendaan atau teknologi timbul dari hasil karya masyarakat, yang mempunyai kegunaan utama di dalam masyarakat terhadap lingkungan dalamnya. Teknologi sendiri pada hakikatnya memiliki paling sedikit tujuh unsur yaitu alat-alat produksi, senjata, wadah, makanan dan minuman, pakaian dan perhiasan, tempat berlindung dan perumahan serta alat-aat transport. Hasil karya manusia berupa teknolohi tersebut memberikan kemungkinan-kemungkinan yang sangat luas untuk memanfaatkan hasil-hasil alam dan apabila mungkin, menguasai alam.

2. Mengatur hubungan antar manusia

Kebudayaan mengatur agar manusia dapat mengerti bagaimana statusnay bertindak, berbuat, menentukan sikapnya kalau mereka berhubungan dengan orang lain. Khusus dalam mengatur hubungan antar manusia, kebudayaan dinamakan pula struktur normatif atau menurut istilah Ralph Linton designs for living (garis-garis atau petunjuk dalam hidup) yang artinya kebudayaan adalah suatu garis-garis pokok tentang perilaku atau blue-print for behavior yang menetapkan peraturan-peraturan mengenai apa yang seharusnya dilakukan, apa yang dilarang, dan lain sebagainya.

3. Sebagai wadah segenap perasaan manusia

Setiap manusia selalu timbul keinginan untuk menciptakan sesuatu untuk menyatakan perasaan dan keinginannya kepada orang lain, seperti kesenian yang dapat berwujud seni suara, seni music, seni tari, seni lukis, dan lain sebagainya. Dengan demikian fungsi kebudayaan yang berupa rasa masyarakat tersebut bertujuan tidak hanya untuk mengatur hubungan antar manusia, tetapi juga untuk mewujudkan perasaan-perasaan seseorang. (Soekanto,1982)

2.5 Pembagian Kebudayaan

Dari sudut struktur dan tingkatan dikenal adanya super-culture yang berlaku bagi seluruh masyarakat. Suatu super-culture biasanya dapat dijabarkan kedalam cultures yang mungkin didasarkan pada kekhususan daerah, golongan etnis, profesi, dst. Di dalam suatu culture mungkin berkembang kagi suetu kebudayaan-kebudayaan khusus yang tidak bertentangan dengan kebudayaan “induk”, yang lazimnya dinamakan sub-culture. Akan tetapi, apabila kebudayaan khusus tadi bertentangan dengan kebudayaan “induk”, gejala tersebut disebut counter-culture. Counter- culture tidak selalu harus diberi arti negative karena adanya gejala tersebut dapat dijadikan petunjuk bahwa kebudayaan induk dianggap kurang dapat menyerasikan diri dengan perkembangan kebutuhan. Adapun visualisasinya secara sistematis adalah sebagai berikut : SUPER-CULTURE CULTURE (S) SUB-CULTURE COUNTER-CULTURE (Soekanto, 1982)

2.6 Pranata sosial

Pranata sosial adalah suatu system tata kelakuan dan hubungan yang berpusat kepada aktifitas-aktifitas untuk memenuhi kompleks-kompleks kebutuhan khusus dalam kehidupan masyarakat (system tata kelakuan atau norma-norma untuk memenuhi kebituhan, lembaga). (Koentjaraningrat, 1964)

2.7 Pola Paradigma Pertanian

• Paradigm Lama :ekonomi produksi

Paradigm lama melihat kegiatan pertanian primer sebagai kegiatan ekonomi produksi mengawinkan sejumlah faktor produksi untuk menghasilkan komoditas tertentu. Dan dua faktor produksi yang dominan (paling signifikan) pengaruhnya adalah pupuk dan obat-obatan. Pada paradigm lama berlaku suatu anggapan kuat bahwa tingkat produksi padi terutama ditentukan oleh tingkat penggunaan (dosis dan komposisi) pupuk dan obat-obatan. Paradigma lama sedang mengalami krisis karena ia tidak mampu mengangkat status pertanian Indonesia secara signifikan ke level yang lebih tinggi. Paradigma lama sudah mencapai titik buntu dalam mengatasi kedua masalah dasar pertanian padi, yaitu penurunan relative pada aspek-aspek produktivitas usaha tani dan kesejahteraan petani.

• Paradigma Baru : ekologi budaya

Paradigm baru :ekologi budaya merupakan suatu paradigma pertanian yang berakar pada perspektif Ekologi Manusia atau secara spesifik ekologi budaya (cultural ecology). Asumsi paradigma Ekologi Budaya menurut Sitorus yaitu : 1. Benih, tanah dan tenaga adalah tiga unsure dasar yang membentuk pertanian melalui proses triangular yang berpusat pada budaya tertentu. 2. Dari tiga unsur dasar inti budaya, benih merupakan unsure dasar yang menjadi penentu utama atau “patokan dasar” tingkat perkembangan dan kemajuan pertanian. 3. Faktor-faktor produksi khususnya pupuk, obat-obatana dan alsistan bersifat supportif terhadap ketiga unsure dasar pembentuk petanian. (Sitorus, 2006)

2.8 Masalah Alih Teknologi dan Peluang Alih Teknologi

Masalah alih teknologi layak diadopsi bila sesuai dengan budaya serta lingkungan (circum stances) petani. Selain itu keterbatasan pengalaman membuat petani cenderung lebih membutuhkan teknologi yang tidak sama sekali baru, melainkan dari pengembangan teknologi yang telah ada. Teknologi baru yang diperlukan petani cenderung yag tidak terlalu rumit atau intensif dan tidak menuntut banyak waktu perorangan. Faktor ketersediaan pasar yang menguntungkan bagi produk teknologi baru juga perlu dipertimbangkan karena tidak semua pasar menerima produk teknologi baru. Jadi masalah alih teknologi berhubungan dengan kesesuaian teknologi dan kesesuaian cara alih teknologi dengan budaya (faktor internal) dan lingkungan (faktor eksternal) petani dalam penyesuaian faktor-faktor tersebut. Budaya dan teknologi baru saling mempengaruhi penggeseran budaya dapat membuat suatu teknologi baru menjadi lebih sesuai, sementara teknologi baru yang sesuai dapat menggeser budaya. Dalam proses alih teknologi, para agen pembangunan selayaknya memandang petani sebagai mitra, sebagai sesame subyek pembangunan. Sekalipun biasanya selalu diabaikan di masa lalu, pengetahuan, keterampilan, dan keinovatifan petani sesungguhnya dapat sanagt berguna. (Triely, 2002)

BAB III PEMBAHASAN

Masyarakat petani dan pranata social Lokasi desa : Desa Sidomulyo RT.03 RW. 04 No. 91 Cemara Kipas, Malang Sumber wawancara : Bapak Bani dan Bapak Gunawan • Kharakteristik masyarakat desa Di desa Sidomulya tempat Bapak Gunawan dan Bapak Bani tinggal, masyarakat yang menetap disana rata-rata mempunyai kharakteistik yang sudah dimiliki sejak dulu sampai sekarang. Masyarakat Sidomulyo biasanya tidak gampang percaya dengan orang lain yang menurut mereka jauh dari pemikiran. Misalnya jika ada penyuluhan di bidang pertanian, tidak semua saran ataupun kritik dari penyuluh tersebut mereka laksanakan. Hal tersebut dikarenakan ide atau gagasan dari penyuluh tidak sesuai dengan hati mereka. Mereka menganggap apa yang disampaikan penyuluh itu itu sangat bermanfaat tetapi tidak dapat mereka cerna karena pendidikan yang masih kurang yang dimiliki oleh petani masyarakat setempat. Dalam masalah budaya bahasa, petani desa sidomulya rata-ratamasih menggunakan bahasa Jawa dalam kehidupan sehari-hari. Selain itu ada beberapa karakteristik lain yang sudah melekat pada masing-masing individu. Antara lain sifat gotong royong yang dilakukan untuk membantu dan mengurangi beban masyarakat yang membutuhkan. Yang berikutnya yaitu tidak ada persaingan kualitas apel dibidang pertanian antar penduduk sekitar. Setiap ada masukan mengenai pupuk atau obat yang digunakan untuk menyuburkan apel selalu mereka beritahukan kepada penduduk yang bertanya, sehingga mereka membagi kebahagiaan yang mereka miliki untuk dirasakan bersama.

• Strata sosial di pedesaan Strata sosial yang ada di Desa Sidomulyo tergolong sangat baik dan dapat dikatakan mempunyai tingkat sosial yang tinggi yang mencirikan strata sosial yang benar-benar kehidupan di pedesaan, yaitu dalam artian kehidpan sosial yang terjalin antar masyarakat sangat kuat. Adanya kerjasama yang baik di bidang pertanian maupun di bidang lain dengan ksadaran masing-masing penduduk. Selain itu kerjasama yang sering dilakukan yaitu kerjasama di bidang ekonomi yang saling menguntungkan satu sama lain. Melaui proses pemasaran hasil pertanian baik secara langsung atau tidak langsung, yaitu baik melalui perantara atau langsung dipasarkan ke pasar tradisional terdekat sehingga terjadi transaksi jual beli yang termasuk dalam interaksi sosial. Selain itu masih banyak hal lai yang mencirikan tingkat sosial masyarakat Desa Sidomulyo.

• Pranata atau lembaga sosial Di Desa Sidomulyo terdapat beberapa lembaga yang sudah dikenal oleh semua penduduk. Selain itu mereka juga berperan serta untuk mengembangkan lembaga-lembaga yang ada dengan cara berpartisipasi sesuai kesadaran masing-masing. Lembaga yang terdapat disana antara lan:  KUD KUD merupakan sarana yang digunakan oleh masyarakat setempat untuk membeli bahan-bahan pertanian yang dapat mendukung produktivitas pertanian mereka. Selain itu masyarakat terutama petani juga ikut serta dalam perkembangan KUD dengan cara mendaftarkan diri menjadi anggota KUD yang resmi sehingga semua masyarakat dapat berpartisipasi dalam pengembangan desa Sidomulyo begitu juga dengan Bapak Bani dan Bapak Gunawan.  Kelompok petani “Sumber Rejeki” Merupakan tempat konsultasi masalah-masalah yang sedang dihadapi oleh petani dan juga memberikan informasi mengenai segala hal tentang pertanian agar dapat berkembang lebih baik. Misalnya penyuluhan mengenai penggunaan pupuk organik dan non organic serta penyuluhan mengenai teknologi baru. Penyuluhan ini dilakukan setiap bulan sekali biasanya di balai penyuluhan Desa Sidomulyo. Tetapi kelompok tani Sidomulyo begabung dengan kelompok tani desa tetangga.

• Kebudayaan serta pranata pemerintah desa Di Desa Sidomulyo biasanya melakukan bagi hasil apel kepada orang lain setempat sehingga apa yang mereka dapatkan bias dirasakan oleh orang lain. Sebagian hasil tersebut dilakukan setiap petani kepada tetangga mereka dengan cara memberikan langsung. Tetapi hal tersebutdilakukan apabila hasilnya melimpah. Dari sini pranata pemerintah memberikan dukungan kepada petani untuk selalu optimis dalam mengelola hasil pertanian setempat yaitu apel.

• Fungsi kebudayaan bagi petani di Desa Sidomulyo yaitu : 1. Petani memanfaatkan alat-alat pertanian berupa cangkul, sabit, gunting potong yang kesemuanya merupakan hasil kebudayaan. Alat-alat yang digunakan masih sederhana/tradisional. 2. Dengan adanya kebudayaan maka ada aturan yang dipatuhi oleh masyarakat petani, misalnya masalah pembagian lahan, pemasaran apel, sehingga tidak terjadi persaingan antar petani apel di desa tersebut. 3. Dengan adanya kebudayaan dan kegiatan penyuluhan maka di forum tersebut, para petani dapat menyalurkan segala perasaan dan kegelisahan mereka tentang masalah-masalah pertanian yang dihadapi, sehingga mereka dapat saling berbagi.

• Pola paradigma petani di Desa Sidomulyo Pola paradigma yang dianut petani di Desa Sidomulyo masih menggunakan paradigma lama dengan prinsip pertanian adalah proses mengawinkan sejumlah faktor produksi untuk menghasilkan komoditas tertentu. Pupuk dan obat-obatan masih dianggap faktor produksi yang penting dan paling berpengaruh untuk usaha tani mereka.

• Masalah alih teknologi dan peluang alih teknologi di Desa Sidomulyo Petani di Desa Sidomulyo, khususnya petani apel cenderung belum dapat menerima teknologi baru yang ditawarkan melalui penyuluhan dari kelompok tani setempat karena memang dalam kegiatan usaha tani nya sehari-hari mereka hanya menggunakan alat yang tradisional dan sederhana. Tidak perlu teknologi tinggi. Namun masalah alih teknologi baru tersebut layak diadopsi oleh petani bila sesuai dengan budaya serta lingkungan (circum stances) petani. Selain itu keterbatasan pengalaman membuat petani cenderung lebih membutuhkan teknologi yang tidak sama sekali baru, melainkan dari pengembangan teknologi yang telah ada. Teknologi baru yang diperlukan petani cenderung yag tidak terlalu rumit atau intensif dan tidak menuntut banyak waktu perorangan.

BAB IV PENUTUP

4.1 KESIMPULAN

Kebudayaan adalah kompleks yang mencakup pengetahuan, kepercayaan, kesenian, moral, hukum, adat-istiadat dan lain kemampuan-kemampuan serta kebiasaan-kebiasaan yang didapatkan oleh manusia sebagai anggota masyarakat.

Terdapat pula tujuh unsur kebudayaan yang dianggap sebagai cultural universals, yaitu : Peralatan dan perlengkapan hidup manusia, mata pencaharian hidup dan system-sistem ekonomi, sistem kemasyarakatan, bahasa, kesenian, sistem pengetahuan, religi

Fungsi kebudayaan : 1. Untuk melindungi diri terhadap alam 2. Mengatur hubungan antar manusia 3. Sebagai wadah segenap perasaan manusia

Pembagian kebudayaan yaitu : 1. Super-culture 2. Sub-culture 3. Conter-culter

Pranata sosial adalah suatu system tata kelakuan dan hubungan yang berpusat kepada aktifitas-aktifitas untuk memenuhi kompleks-kompleks kebutuhan khusus dalam kehidupan masyarakat (system tata kelakuan atau norma-norma untuk memenuhi kebituhan, lembaga).

Macam pola paradigama : 1. Paradigma lama : ekonomi produksi 2. Paradigma baru : ekologi budaya

Masalah alih teknologi layak diadopsi oleh petani bila sesuai dengan budaya serta lingkungan (circum stances) petani. Petani cenderung lebih membutuhkan teknologi yang tidak sama sekali baru, melainkan dari pengembangan teknologi yang telah ada. Teknologi baru yang diperlukan petani cenderung yag tidak terlalu rumit atau intensif dan tidak menuntut banyak waktu perorangan.

LAMPIRAN

Bpk. BANI dan Bpk. GUNAWAN

LAHAN APEL

PASAR TRADISIONAL

SAAT WAWANCARA

DESA SIDOMULYO

ANGGOTA KELOMPOK

DAFTAR PUSTAKA

Herskovits, Melville. J. 1955. Cultural Anthropology. Alfred A. Knopf. New York

Koentjaraningrat. 1965. Pengantar Antropologi. Penerbit Universitas. Jakarta

Malinowski, Bronislaw. 1961. The Dynamics of Cultural Change. Yale University Press. New Heaven

Sitorus, Felix MT. 2002. Jurnal Paradiigama Ekologi Budaya Untuk Pengembangan Pertanian Tanaman Padi. Volume 4 No. 3, September. 2006: 167-184

Soekanto, Soerjono. 1982. Sosiologi Suatu Pengantar. PT Raja Grafindo Persada. Jakarta

Soemardjan, Selo. “Perkembangan Ilmu Sosiologi di Indonesia dari 1845 sampai 1965”. Research di Indonesia 1945 1965. Jilid IV. Bidang Ekonomi, Sosial dan Budaya.

Triely, Harry. 2002. Jurnal Analisis Alih Teknologi Peratanian Masyarakat Asli di Kabupaten Sorong. IPB. Bogor

Sistem Kelembagaan Agribisnis

LAPORAN KEGIATAN FIELDTRIP 

SISTEM KELEMBAGAAN AGRIBISNIS

OBYEK KUNJUNGAN :

DESA ORO-ORO OMBO, KECAMATAN BATU

KABUPATEN MALANG, PROVINSI JAWA TIMUR

OLEH :

KELOMPOK 2

1. MOH. FIRSTSYAH SOFYAN           (0810480058)

2. RIZKI RAMADHANI                       (0810480085)

3. SEPTI WULAN SARI                    (0810480093)

4. SISKA SEPTI WULANSARI          (0810480096)

PROGRAM STUDI      : AGROEKOTEKNOLOGI

WAKTU KUNJUNGAN :04 APRIL 2009

LABORATORIUM PENGEMBANGAN MASYARAKAT PEDESAAN

JURUSAN SOSIAL EKONOMI PERTANIAN

FAKULTAS PERTANIAN

UNIVERSITAS BRAWIJAYA

MALANG

2009

SISTEM KELEMBAGAAN AGRIBISNIS DAN PRODUKSI PERTANIAN BAPAK NGATEMUN DAN IBU AISYAH DESA ORO-ORO KECAMATAN BATU KABUPATEN MALANG

  1. 1.    SISTEM AGRIBISNIS

Agribisnis sebagai suatu sistem atau sistem agribisnis adalah agribisnis merupakan seperangkat unsur yang secara teratur saling berkaitan sehingga membentuk suatu totalitas. Survei terhadap keluarga petani dengan alamat Desa Oro-Oro Ombo RT 02 RW 05 Kecamatan Batu Kabupaten Malang. Atas nama keluarga Bapak Ngatemun (86 tahun), Ibu Aisyah (58 tahun)  yang memiliki dua anak. Dalam memproduksi terdapat beberapa subsistem yaitu :

a. Subsistem Penyediaan Sarana Produksi

Sub sistem penyediaan sarana produksi menyangkut kegiatan pengadaan dan penyaluran. Kegiatan ini mencakup Perencanaan, pengelolaan dari sarana produksi, teknologi dan sumberdaya agar penyediaan sarana produksi atau input usahatani memenuhi kriteria tepat waktu, tepat jumlah, tepat jenis, tepat mutu dan tepat produk.

Bapak Ngatemun memiliki dua lahan, yang pertama berukuran 800 m2 termasuk lahan milik sendiri yang ditanami berbagai macam tanaman (jagung, ucet, jeruk, cabai dan ketela). Lahan tersebut termasuk lahan perkebunan.  Lahan yang kedua berupa sawah berukuran 2000 m2 yang ditanami padi sebagai makanan pokok.

Sedangkan dalam penyediaan peralatan dan bahan pertanian didapat dari koperasi desa maupun toko pertanian berupa cangkul, sabit, pupuk, benih, dan bibit serta peralatan lain yang mendukung.

b. Subsistem Usahatani atau proses produksi

Sub sistem ini mencakup kegiatan pembinaan dan pengembangan usahatani dalam rangka meningkatkan produksi primer pertanian. Termasuk kedalam kegiatan ini adalah perencanaan pemilihan lokasi, komoditas, teknologi, dan pola usahatani dalam rangka meningkatkan produksi primer.

Bapak Ngatemun melakukan usaha taninya dalam skala kecil di mana dalam proses produksinya tidak membuthkan bantuan tenaga kerja lain, hanya dibantu oleh istri dan anaknya. Lokasi lahan Bapak Ngatemun berada di daerah villa Panderman, Kec. Batu, Kab. Malang yang cocok untuk komoditas sayuran dan buah-buahan seperti jagung dan jeruk. Dalam proses produksinya digunakan peralatan tradisional yang tidak membutuhkan banyak biaya.

 c. Subsistem Agroindustri/pengolahan hasil

Lingkup kegiatan ini tidak hanya aktivitas pengolahan sederhana di tingkat petani, tetapi menyangkut keseluruhan kegiatan mulai dari penanganan pasca panen produk pertanian sampai pada tingkat pengolahan lanjutan dengan maksud untuk menambah value added (nilai tambah) dari produksi primer tersebut. Dengan demikian proses pengupasan, pembersihan, pengekstraksian, penggilingan, pembekuan, pengeringan, dan peningkatan mutu.

Dalam pengolahan hasil produksi keluarga Bapak Ngatemun tidak dilakukan pengolahan lanjutan menjadi produk baru, karena setelah dipanen hasil produksinya langsung dijual ke pasar (ke pedagang besar). Selain itu alasan tidak dilakukan pengolahan lanjutan yaitu karena hasil produksinya hanya dalam skala kecil.

d. Subsistem Pemasaran

Sub sistem pemasaran mencakup pemasaran hasil-hasil usahatani dan agroindustri baik untuk pasar domestik maupun ekspor. Kegiatan utama subsistem ini adalah pemantauan dan pengembangan informasi pasar dan market intelligence pada pasar domestik dan pasar luar negeri.

Bapak Ngatemun melakukan pemasaran produk dengan menjual hasil panennya sendiri di pasar tradisional terdekat yaitu pasar Batu.

e. Subsistem Penunjang

Subsistem ini merupakan penunjang kegiatan pra panen dan pasca panen yang meliputi :

    * Sarana Tataniaga

Bapak Ngatemun melakukan tataniaga di kelembagaan agribisnis. Seperti tawar-menawar harga jual hasil produksinya.

* Perbankan/perkreditan

Bapak Ngatemun dalam melakukan usahatani membutuhkan modal yang dapat dipinjam dari Bank Perkreditan Rakyat setempat.

* Penyuluhan Agribisnis

Dari daerah sekitar (pemerintah) melakukan penyuluhan kepada para petani yaitu di rumah penyuluh pertanian yang diadakan rapat satu kali setiap bulan.

* Kelompok tani

Bapak Ngatemun juga menjadi salah satu kelompok tani yang merupakan gabungan dari Kelompok Tani Desa Punten sebanyak 40 anggota. Di kelompok tani tersebut Bapak Ngatemun mendapatkan bibit, pupuk urea, ponska secara gratis.

* Infrastruktur agribisnis

Lembaga agribisnis tersebut berada di daerah oro-oro ombo tempat bapak Ngatemun tinggal.

* Koperasi Agribisnis

Koperasi agribisnis digunakan oleh bapak Ngatemun sebagai sarana untuk membeli peralatan dan bahan produksi yang sudah disediakan di koperasi tersebut. Seperti pupuk, cangkul, sabit, benih dan bibit.

* BUMN

Di daerah bapak Ngatemun Badan Usaha Milik Negara seperti Bank Perkreditan rakyat yang digunakan sebagai tempat konsultasi dan menyimpan dan meminjam uang,.

* Swasta

Seperti tempat penyuluhan dan perkumpulan kelompok tani di daerah sekitar Oro-Oro Ombo sekitar kediaman bapak Ngatemun.

* Penelitian dan Pengembangan

Penelitian dan pengembangan dilukukan di tempat penyuluhan untuk mengetahui kualitas dari hasil produksi dan tata cara dalam proses produksi yang benar.

* Pendidikan dan Pelatihan

Bapak Ngatemun dan kelompok petani lain mendapatkan pendidikan dan pelatihan berupa cara bercocok tanam oleh seorang penyuluh yang sudah lebih berpengalaman.

* Transportasi

Transportasi digunakan jika hasil panen setiap bulannya melimpah dengan biaya sendiri.

* Kebijakan Pemerintah

Kebijakan pemerintah berupa penetapan harga yang berubah setiap tahunnya. Seperti pada musim paclekik dan musim panen raya yang mempunyai ketetapan harga tersendiri sebagai sarana Bapak Ngatemun dalam mengambil keuntungan.

  1. 2.        KERAGAAN FUNGSI DAN PERANAN KELEMBAGAAN AGRIBISNIS DALAM MASYARAKAT

 Kelembagan yang ada di daerah Bapak Ngatemun antara lain berfungsi sebagai :

a. Meningkatkan kekuatan debut-tawar (bargaining position) para anggotanya terutama Bapak Ngatemun dan Ibu Aisyah.

b. Meningkatkan daya saing harga melalui pencapaian skala usaha yang lebih optimal.

c. Menyediakan produk atau jasa, seperti pemberian pupuk urea dan bibit yang sulit didapatkan secara gratis.

d. Meningkatkan peluang pasar, dapat meningkatan daya beli konsumen untuk mengkonsumsi hasil panen.

e. Memperbaiki mutu produk dan jasa, setelah mengikuti penyuluhan bapak Ngtemun mendapatkan hasil panen yang lebih baik dari sebelumnya.

f. Meningkatkan pendapatan, dengan hasil panen yang lebih baik atau bermutu otomatis keuntungan yang didapat akan meningkat.

g. Menjadi Wahana Pengembangan ekonomi rakyat, sarana agribis merupakan srana untuk mengembangkan dan menciptakan mutu pertanian yang lebih baik seperti yang sedang dialami bapak Ngatemun sekarang ini.

h. Menjadikan koperasi sebagai Community based organization, keterkaitan koperasi dengan anggota dan masyarakat sekitar merupakan hal yang paling esensial dalam memperjuangkan kepentingan rakyat.

i. Melakukan kegiatan usaha yang sejalan dengan perkembangan kegiatan ekonomi anggota. Seperti yang dijelaskan yaitu dengan melakukanan rutin setiap bulan seklai. Selain itu juga mengadakan arisan setiap tangga 15.

j. Perlu mereformasi diri agar lebih fokus pada kegiatan usahanya terutama menjadi koperasi pertanian dan mengembangkan kegiatan usahanya sebagai koperasi agribisnis. Perlu kegiatan-kegiatan usaha yang mendukung distribusi, pemasaran dan agroindustri berbasis sumberdaya lokal serta perlu melakukan promosi untuk memperoleh citra positif layaknya sebuah koperasi usaha misalnya: Koperasi Agribisnis atau Koperasi Agroindustri atau Koperasi Agroniaga yang menangani kegiatan usaha mulai dari hulu sampai ke hilir.

  1. 3.         PERMASALAHAN KELEMBAGAAN AGRIBISNIS
  1. Kebijaksanaan pemerintah yang kurang mendukung

Berbagai kebijaksanaan pemerintah yang menumbuhkan kelembagaan yang melalui top-down policy tampaknya belum dapat menghasilkan kelembagaan agribisnis yang kuat dan mandiri. Dalam hal ini, Bapak Ngatemun kadang mendapatkan penyuluhan yang kurang detail karena dukungan dari pemerintah yang kurang.

  1. Masalah inter kelembagaan

Apabila ditelusuri lebih jauh ke dalam setiap subsistem agribisnis akan ditemukan titik-titik rawan dalam produksi Bapak Ngatemun dan petani sekitarnya berupa kelembagaan yang kinerjanya rendah, sebagai berikut :

  1. Kelembagaan sarana produksi, dolam produksi bapak Ngatemun masih menggunakan peralatan tradisional yang masih dalam takaran rendah. Sehingga tidak tersedianya peralatan modern yang mendukung dari lembaga agribisnis tersebut.
  2. Kelembagaan pasca panen dan pengolahan hasil, seperti yang dijelaskan bahwa bapak Ngatemun langsung menjual hasil panen dan tidak mengolah lebih lanjut. Hal itu karena tidak ada penyuluhan bagaimana hasil produksi tersebut diolah lebih lanjut dan menjadi apa.
  3. Kelembagaan masalah pemasaran
  • Efisiensi pemasaran yang rendah karena panjangnya rantai pemasaran dan biaya transportasi yang tinggi
  • Fluktuasi harga yang besar, dalam berusaha bapak Ngatemun juga mengalami kerugian karena harga hasil produksi yang tidak menetap. Sehingga anjloknya harga membuat keuntungan yang didapatkan sangat minimum.
  1. Permodalan usaha, modal yang didapat adalah modal sendiri, sehiingga tidak ada bantuan modal lain sebagai modal tambahan.
  2. Kelembagaan jasa layanan pendukung, kelembagaan jasa hanya berupa bank perkreditan rakyat sebagai sarana meminjam uang untuk dana proses produksi dan koperasi yang menyediakan peralatan dan pupuk serta benih, bibit yang jumlahnya terbatas.
  1. STRATEGI PENGEMBANGAN SISTEM AGRIBISNIS (CARA MEMPERKUAT)

1. Pembangunan Agribisnis merupakan pembangunan industri dan pertanian serta jasa yang dilakukan sekaligus, dilakukan secara simultan dan harmonis. Hal ini dapat diartikan bahwa perkembangan pertanian, industri dan jasa harus saling berkesinambungan dan tidak berjalan sendiri-sendiri. Yang sering kita dapatkan selama ini adalah industri pengolahan (Agroindustri) berkembang di Indonesia, tapi bahan bakunya dari impor dan tidak (kurang) menggunakan bahan baku yang dihasilkan pertanian dalam negeri. Dipihak lain, peningkatan produksi pertanian tidak diikuti oleh perkembangan industri pengolahan ( Membangun industri berbasis sumberdaya domestik/lokal). Sehingga perlu pengembangan Agribisnis Vertikal.

2.  Membangun Agribisnis adalah membangun keunggulan bersaing diatas keunggulan komparatif yaitu melalui transformasi pembangunan kepada pembangunan yang digerakkan oleh modal dan selanjutnya digerakkan oleh inovasi. Sehingga melalui membangun agribisnis akan mampu mentransformasikan perekonomian Indonesia dari berbasis pertanian dengan produk utama (Natural resources and unskill labor intensive) kepada perekonomian berbasis industri dengan produk utama bersifat Capital and skill Labor Intesif dan kepada perekonomian berbasis inovasi dengan produk utama bersifat Innovation and skill labor intensive. Dalam arti bahwa membangun daya saing produk agribisnis melalui transformasi keunggulan komparatif menjadi keunggulan bersaing, yaitu dengan cara:

  • Mengembangkan subsistem hulu (pembibitan, agro-otomotif, agro-kimia) dan pengembangan subsistem hilir yaitu pendalaman industri pengolahan ke lebih hilir dan membangun jaringan pemasaran secara internasional, sehingga pada tahap ini produk akhir yang dihasilkan sistem agribisnis didominasi oleh produk-produk lanjutan atau bersifat capital and skill labor intensive.
  • Pembangunan sistem agribisnis yang digerakkan oleh kekuatan inovasi. Pada tahap ini peranan Litbang menjadi sangat penting dan menjadi penggerak utama sistem agribisnis secara keseluruhan. Dengan demikian produk utama dari sistem agribisnis pada tahap ini merupakan produk bersifat Technology intensive and knowledge based.
  • Perlu orientasi baru dalam pengelolaan sistem agribisnis yang selama ini hanya pada peningkatan produksi harus diubah pada peningkatan nilai tambah sesuai dengan permintaan pasar serta harus selalu mampu merespon perubahan selera konsumen secara efisien..

3. Menggerakkan kelima subsistem agribisnis secara simultan, serentak dan harmonis. Oleh karena itu untuk menggerakkan Sistem agribisnis perlu dukungan semua pihak yang berkaitan dengan agribisnis/ pelaku-pelaku agribisnis mulai dari Petani, Koperasi, BUMN dan swasta serta perlu seorang Dirigent yang mengkoordinasi keharmonisan Sistem Agribisnis.

4. Menjadikan Agroindustri sebagai A Leading Sector. Agroindustri adalah industri yang memiliki keterkaitan ekonomi (baik langsung maupun tidak langsung) yang kuat dengan komoditas pertanian. Keterkaitan langsung mencakup hubungan komoditas pertanian sebagai bahan baku (input) bagi kegiatan agroindustri maupun kegiatan pemasaran dan perdagangan yang memasarkan produk akhir agroindustri. Sedangkan keterkaitan tidak langsung berupa kegiatan ekonomi lain yang menyediakan bahan baku (input) lain diluar komoditas pertanian, seperti bahan kimia, bahan kemasan, dll. Dalam mengembangkan agroindustri, tidak akan berhasil tanpa didukung oleh agroindustri penunjang lain seperti industri pupuk, industri pestisida, industri bibit/benih, industri pengadaan alat-alat produksi pertanian dan pengolahan agroindustri seperti industri mesin perontok dan industri mesin pengolah lain. Dikatakan Agroindustri sebagai A Leading Sector apabila memiliki karakteristik sebagai berikut:

a. Memiliki pangsa yang besar dalam perekonomian secara keseluruhan sehingga kemajuan yang dicapai dapat menarik pertumbuhan perekonomian secara total.

b. Memiliki pertumbuhan dan nilai tambah yang relatif tinggi.

c. Memiliki keterkaitan ke depan dan ke belakang yang cukup besar sehingga mampu menarik pertumbuhan banyak sektor lain.

d. Keragaan dan Performanya berbasis sumberdaya domestik sehingga efektif dalam membangun daerah serta kuat dan fleksibel terhadap guncangan eksternal.

e. Tingginya elastisitas harga untuk permintaan dan penawaran.

f. Elastisitas Pendapatan untuk permintaan yang relatif besar

g. Angka pengganda pendapatan dan kesempatan kerja yang relatif besar

h. Kemampuan menyerap bahan baku domestik

i. Kemampuan memberikan sumbangan input yang besar.

5. Membangun Sistem agribisnis melalui pengembangan Industri Perbenihan

Industri Perbenihan merupakan mata rantai terpenting dalam pembentukan atribut produk agribisnis secara keseluruhan. Atribut dasar dari produk agribisnis seperti atribut nutrisi (kandungan zat-zat nutrisi) dan atribut nilai (ukuran, penampakan, rasa, aroma dan sebagainya) serta atribut keamanan dari produk bahan pangan seperti kandungan logam berat, residu pestisida, kandungan racun juga ditentukan pada industri perbenihan. Untuk membangun industri perbenihan diperlukan suatu rencana strategis pengembangan industri perbenihan nasional. Oleh karena itu pemda perlu mengembangkan usaha perbenihan (benih komersial) berdasar komoditas unggulan masing-masing daerah, yang selanjutnya dapat dikembangkan menjadi industri perbenihan modern. Pada tahap berikutnya daerah-daerah yang memiliki kesamaan agroklimat dapat mengembangkan jenjang benih yang lebih tinggi seperti jenjang benih induk,

6. Dukungan Industri Agro-otomotif dalam pengembangan sistem agribisnis.

Dalam rangka memodernisasi agribisnis daerah, perlu pengembangan banyak jenis dan ragam produk industri agro-otomotif untuk kepentingan setiap sub sistem agribisnis. Untuk kondisi di Indonesia yang permasalahannya adalah skala pengusahaan yang relatif kecil, tidak ekonomis bila seorang petani memiliki produk agro-otomotif karena harganya terlalu mahal. Oleh karena itu perlu adanya rental Agro-otomotif yang dilakukan oleh Koperasi Petani atau perusahaan agro-otomotif itu sendiri.

Dukungan Industri Pupuk dalam pengembangan sistem agribisnis.

Pada waktu yang akan datang industri pupuk perlu mengembangkan sistem Networking baik vertikal(dari hulu ke hilir) maupun Horisontal (sesama perusahaan pupuk), yaitu dengan cara penghapusan penggabungan perusahaan pupuk menjadi satu dimana yang sekarang terjadi adalah perusahaan terpusat pada satu perusahaan pupuk pemerintah. Oleh karena perusahaan-perusahaan pupuk harus dibiarkan secara mandiri sesuai dengan bisnis intinya dan bersaing satu sama lain dalam mengembangkan usahanya. Sehingga terjadi harmonisasi integrasi dalam sistem agribisnis. Serta perlu dikembangkan pupuk majemuk, bukan pupuk tunggal yang selama ini dikembangkan.

8. Pengembangan Sistem Agribisnis melalui pengembangan sistem informasi agribisnis. Dalam membangun sistem informasi agribisnis, ada beberapa aspek yang perlu diperhatikan adalah informasi produksi, informasi proses, distribusi, dan informasi pengolahan serta informasi pasar.

9. Tahapan pembangunan cluster Industri Agribisnis.

Tahapan pembangunan sistem agribisnis di Indonesia:

a. Tahap kelimpahan faktor produksi yaitu Sumberdaya Alam dan Tenaga Kerja tidak terdidik. Serta dari sisi produk akhir, sebagian besar masih menghasilkan produk primer. Perekonomian berbasis pada pertanian.

b. Akan digerakkan oleh kekuatan Investasi melalui percepatan pembangunan dan pendalaman industri pengolahan serta industri hulu pada setiap kelompok agribisnis. Tahap ini akan menghasilkan produk akhir yang didominasi padat modal dan tenaga kerja terdidik, sehingga selain menambah nilai tambah juga pangsa pasar internasional. Perekonomian berbasis industri pada agribisnis.

c. Tahap pembangunan sistem agribisnis yang didorong inovasi melalui kemajuan teknologi serta peningkatan Sumberdaya manusia.Tahap ini dicirikan kemajuan Litbang pada setiap sub sistem agribisnis sehingga teknologi mengikuti pasar. Perekonomian akan beralih dari berbasis Modal ke perekonomian berbasis Teknologi.

10. Membumikan pembangunan sistem Agribisnis dalam otonomi daerah

Pembangunan Ekonomi Desentralistis-Bottom-up, yang mengandalkan industri berbasis Sumberdaya lokal. Pembangunan ekonomi nasional akan terjadi di setiap daerah.

11. Dukungan perbankan dalam pengembangan sistem agribisnis di daerah.

Untuk membangun agribisnis di daerah, peranan perbankan sebagai lembaga pembiayaan memegang peranan penting. Ketersediaan skim pembiayaan dari perbankan akan sangat menentukan maju mundurnya agribisnis daerah. Selama ini yang terjadi adalah sangat kecilnya alokasi kredit perbankan pada agribisnis daerah, khususnya pada on farm agribisnis. Selama 30 tahun terakhir, keluaran kredit pada on farm agribisnis di daerah hanya kurang dari 20 % dari total kredit perbankan. Padahal sekitar 60 % dari penduduk Indonesia menggantungkan kehidupan ekonominya pada on farm agribisnis. Kecilnya alokasi kredit juga disebabkan dan diperparah oleh sistem perbankan yang bersifat Branch Banking System. Sistem Perbankan yang demikian selama ini, perencanaan skim perkreditan (jenis, besaran, syarat-syarat) ditentukan oleh Pusat bank yang bersangkutan/sifatnya sentralistis, yang biasanya menggunakan standart sektor non agribisnis, sehingga tabungan yang berhasil dihimpun didaerah, akan disetorkan ke pusat, yang nantinya tidak akan kembali ke daerah lagi. Oleh karena itu perlunya reorientasi Perbankan, yaitu dengan merubah sistem perbankan menjadi sistem Unit Banking system (UBS), yakni perencanaan skim perkreditan didasarkan pada karakteristik ekonomi lokal. Kebutuhan kredit antara subsistem agribisnis berbeda serta perbedaan juga terjadi pada setiap usaha dan komoditas. Prasyarat agunan kredit juga disesuaikan. Disamping agunan lahan atau barang modal lainnya, juga bisa penggunaan Warehouse Receipt System (WRS) dapat dijadikan alternatif agunan pada petani. .WRS adalah suatu sistem penjaminan dan transaksi atas surat tanda bukti (Warehouse Receipt).

12. Pengembangan strategi pemasaran

Pengembangan strategi pemasaran menjadi sangat penting peranannya terutama menghadapi masa depan, dimana preferensi konsumen terus mengalami perubahan, keadaan pasar heterogen. Dari hal tersebut, sekarang sudah mulai mengubah paradigma pemasaran menjadi menjual apa yang diinginkan oleh pasar (konsumen). Sehingga dengan berubahnya paradigma tersebut, maka pengetahuan yang lengkap dan rinci tentang preferensi konsumen pada setiap wilayah, negara, bahkan etnis dalam suatu negara, menjadi sangat penting untuk segmentasi pasar dalam upaya memperluas pasar produk-produk agribisnis yang dihasilkan. Selain itu diperlukan juga pemetaan pasar (market mapping) yang didasarkan preferensi konsumen, yang selanjutnya digunakan untuk pemetaan produk (product mapping).. Selain itu juga bisa dikembangkan strategi pemasaran modern seperti strategi aliansi antar produsen, aliansi produsen-konsumen, yang didasarkan pada kajian mendalam dari segi kekuatan dan kelemahan.

13. Pengembangan sumberdaya agribisnis. Dalam pengembangan sektor agribisnis agar dapat menyesuaikan diri terhadap perubahan pasar, diperlukan pengembangan sumberdaya agribisnis, khususnya pemanfaatan dan pengembangan teknologi serta pembangunan kemampuan Sumberdaya Manusia (SDM) Agribisnis sebagai aktor pengembangan agribisnis. Dalam pengembangan teknologi, yang perlu dikembangkan adalah pengembangan teknologi aspek: Bioteknologi, teknologi Ekofarming, teknologi proses, teknologi produk dan teknologi Informasi. Sehingga peran Litbang sangatlah penting. Untuk mendukung pengembangan jaringan litbang diperlukan pengembangan sistem teknologi informasi yang berperan mengkomunikasikan informasi pasar, mengefektifkan arus informasi antar komponen jaringan, mengkomunikasikan hasil-hasil litbang kepada pengguna langsung dan mengkomunikasikan konsep dan atribut produk agribisnis kepada konsumen. Dalam pengembangan SDM Agribisnis perlu menuntut kerjasama tim (team work) SDM Agribisnis yang harmonis mulai dari SDM Agribisnis pelaku langsung dan SDM Agribisnis pendukung sektor agribisnis.

14. Penataan dan pengembangan struktur Agribisnis. Struktur agribisnis yang tersekat-sekat telah menciptakan masalah transisi dan margin ganda. Oleh karena itu penataan dan pengembangan struktur agribisnis nasional diarahkan pada dua sasaran pokok yaitu:

a. Mengembangkan struktur agribisnis yang terintegrasi secara vertikal mengikuti suatu aliran produk (Product Line) sehingga subsektor agribisnis hulu, subsektor agribisnis pertanian primer dan subsektor agribisnis hilir berada dalam suatu keputusan manajemen.

b. Mengembangkan organisasi bisnis (ekonomi) petani/koperasi agribisnis yang menangangani seluruh kegiatan mulai dari subsistem agribisnis hulu sampai dengan subsistem agribisnis hilir, agar dapat merebut nilai tambah yang ada pada subsistem agribisnis hulu dan subsistem agribisnis hilir.

Dalam penataan tersebut, ada 3 bentuk :

1. Pengembangan koperasi agribisnis dimana petani tetap pada subsektor agribisnis usahatani, sementara kegiatan subsektor agribisnis hulu dan hilir ditangani koperasi agribisnis milik petani.

2. Pengembangan Agribisnis Integrasi Vertikal dengan pola usaha patungan (Joint Venture). Pada bentuk ini pelaku ekonomi pada subsektor hulu, primer dan hilir yang selama ini dikerjakan sendiri-sendiri harus dikembangkan dalam perusahaan agribisnis bersama yang dikelola oleh orang-orang profesional.

3. Pengembangan Agribisnis Integratif Vertikal dengan pola pemilikan Tunggal/Grup/Publik, yang pembagian keuntungannya didasarkan pada pemilikan saham

15. Pengembangan Pusat Pertumbuhan Sektor Agribisnis. Perlu perubahan orientasi lokasi agroindustri dari orientasi pusat-pusat konsumen ke orientasi sentra produksi bahan baku, dalam hal ini untuk mengurangi biaya transportasi dan resiko kerusakan selama pengangkutan. Oleh karena itu perlu pengembangan pusat-pusat pertumbuhan sektor agribisnis komoditas unggulan yang didasarkan pada peta perkembangan komoditas agribisnis, potensi perkembangan dan kawasan kerjasama ekonomi. Serta berdasar Keunggulan komparatif wilayah. Perencanaan dan penataan perlu dilakukan secara nasional sehingga akan terlihat dan terpantau keunggulan setiap propinsi dalam menerapkan komoditas agribisnis unggulan yang dilihat secara nasional/kantong-kantong komoditas agribisnis unggulan, yang titik akhirnya terbentuk suatu pengembangan kawasan agribisnis komoditas tertentu.

16. Pengembangan Infrastruktur Agribisnis. Dalam pengembangan pusat pertumbuhan Agribisnis, perlu dukungan pengembangan Infrastruktur seperti jaringan jalan dan transportasi (laut, darat, sungai dan udara), jaringan listrik, air, pelabuhan domestik dan pelabuhan ekspor dan lain-lain.

17. Kebijaksanaan terpadu pengembangan agribisnis. Ada beberapa bentuk kebijaksanaan terpadu dalam pengembangan agribisnis.

a. Kebijaksanaan pengembangan produksi dan produktivitas ditingkat perusahaan.

b. Kebijaksanaan tingkat sektoral untuk mengembangkan seluruh kegiatan usaha sejenis.

c. Kebijaksanaan pada tingkat sistem agribisnisyang mengatur keterkaitan antara beberapa sektor.

d. Kebijaksanaan ekonomi makro yang mengatur seluruh kegiatan perekonomian yang berpengaruh langsung maupun tidak langsung terhadap agribisnis.

Beberapa kebijaksanaan operasional untuk mengatasi masalah dan mengembangkan potensi, antara lain:

1. Mengembangkan forum komunikasi yang dapat mengkoordinasikan pelaku-pelaku kegiatan agribisnis dengan penentu-penentu kegiatan agribisnis dengan penentu-penentu kebijaksanaan yang dapat mempengaruhi sistem agribisnis keseluruhan, atau subsistem didalam agribisnis.

2. Forum tersebut terdiri dari perwakilan departemen terkait.

3. Mengembangkan dan menguatkan asosiasi pengusaha agribisnis.

4. Mengembangkan kegiatan masing-masing subsistem agribisnis untuk meningkatkan produktivitas melalui litbang teknologi untuk mendorong pasar domestik dan internasional.

18. Pengembangan agribisnis berskala kecil. Ada 3 kebijaksanaan yang harus dilakukan adalah:

a. Farming Reorganization

Reorganisasi jenis kegiatan usaha yang produktif dan diversifikasi usaha yang menyertakan komoditas yang bernilai tinggi serta reorganisasi manajemen usahatani. Dalam hal ini disebabkan karena keterbatasan lahan yang rata-rata kepemilikan hanya 0,1 Ha.

b. Small-scale Industrial Modernization

Modernisasi teknologi, modernisasi sistem, organisasi dan manajemen, serta modernisasi dalam pola hubungan dan orientasi pasar.

c. Services Rasionalization

Pengembangan layanan agribisnis dengan rasionalisasi lembaga penunjang kegiatan agribisnis untuk menuju pada efisiensi dan daya saing lembaga tersebut. Terutama adalah lembaga keuangan pedesaan, lembaga litbang khususnya penyuluhan.

19. Pembinaan Sumberdaya Manusia untuk mendukung pengembangan agribisnis dan ekonomi pedesaan. Dalam era Agribisnis, aktor utama pembangunan agribisnis dan aktor pendukung pembangunan agribisnis perlu ada pembinaan kemampuan aspek bisnis, manajerial dan berorganisasi bisnis petani serta peningkatan wawasan agribisnis. Dalam hal ini perlu reorientasi peran penyuluhan pertanian yang merupakan lembaga pembinaan SDM petani. Oleh karena itu perlu peningkatan pendidikan penyuluh baik melalui pendidikan formal, kursus singkat, studi banding. Serta perlu perubahan fungsi BPP yang selama ini sebagai lembaga penyuluhan agro-teknis, menjadi KLINIK KONSULTASI AGRIBISNIS

20. Pemberdayaan sektor agribisnis sebagai upaya penaggulangan krisis pangan dan Devisa. Perlu langkah-langkah reformasi dalam memberdayakan sektor agribisnis nasional, yaitu:

a. Reformasi strategi dan kebijakan industrialisasi dari industri canggih kepada industri agribisnis domestik.

b. Kebijakan penganekaragaman pola konsumsi berdasar nilai kelangkaan bahan pangan.

c. Reformasi pengelolaan agribisnis yang integratif, yaitu melalui satu Departemen yaitu DEPARTEMEN AGRIBISNIS

d. Pengembangan agribisnis yang integrasi vertikal dari hulu sampai hilir melalui koperasi agribisnis.

Agribisnis diartikan sebagai sebuah sistem yang terdiri dari unsur-unsur kegiatan : (1) pra-panen, (2) panen, (3) pasca-panen dan (4) pemasaran. Sebagai sebuah sistem, kegiatan agribisnis tidak dapat dipisahkan satu sama lainnya, saling menyatu dan saling terkait. Terputusnya salah satu bagian akan menyebabkan timpangnya sistem tersebut. Sedangkan kegiatan agribisnis melingkupi sektor pertanian, termasuk perikanan dan kehutanan, serta bagian dari sektor industri. Sektor pertanian dan perpaduan antara kedua sektor inilah yang akan menciptakan pertumbuhan ekonomi yang baik secara nasional (Sumodiningrat, 2000).

LAMPIRAN-LAMPIRAN

 

GAMBAR SAAT WAWANCARA

IBU AISYAH DAN LAHANNYA


DAFTAR PUSTAKA

 

Anonymous. 2009. Kelembagaan Agribisnis. http://www.wikipedia.co.id. Diakses pada 5 April 2009

Anonymous. 2009. Memperkuat Agribisnis. http://wikipedia.com. Diakses pada 7 April 2009

Hasibuan, Nasrun. 2009. Modul 3 : Kelembagaan Agribisnis. Universitas Brawijaya. Malang

 

Karakteristik Desa, Pola Ekologi dan Tipe Desa Pandesari

LAPORAN KEGIATAN FIELDTRIP
OBYEK KUNJUNGAN :
DESA PANDESARI, KECAMATAN PUJON
KABUPATEN MALANG, PROVINSI JAWA TIMUR

OLEH
KELOMPOK 2
1. MOH. FIRSTSYAH SOFYAN (0810480058)
2. RIZKI RAMADHANI (0810480085)
3. SEPTI WULAN SARI (0810480093)
4. SISKA SEPTI WULANSARI (0810480096)

PROGRAM STUDI : AGROEKOTEKNOLOGI
WAKTU KUNJUNGAN :
28 MARET 2009

LABORATORIUM PENGEMBANGAN MASYARAKAT PEDESAAN
JURUSAN SOSIAL EKONOMI PERTANIAN
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS BRAWIJAYA
MALANG
2009
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Sosiologi adalah pengetahuan atau ilmu tentang sifat masyarakat, perilaku masyarakat, dan perkembangan masyarakat. Sosiologi merupakan cabang Ilmu Sosial yang mempelajari masyarakat dan pengaruhnya terhadap kehidupan manusia. Masyarakat sendiri merupakan sekelompok orang yang membentuk sebuah sistem semi tertutup (atau semi terbuka), dimana sebagian besar interaksi adalah antara individu-individu yang berada dalam kelompok tersebut.
Setiap masyarakat mempunyai kawasan tempat meraka tinggal baik diperkotaan maupun pedesaan. Sosiologi pertanian secara khusus mempelajari masyarakat pertanian yang mayoritas berada di pedesaan.
Pedesaan atau desa menurut Prof. Bintarto 1984: 13) yaitu suatu kesatuan hukum di mana bertempat tinggal suatu masyarakat yang berkuasa mengadakan pemerintahan sendiri. Sedangkan menurut Undang-Undang Nomor 5 tahun 1979, yakni UndangUndang Tentang Pemerintahan Desa, istilah Desa berarti kesatuan masyarakat hukum yang memiliki batas-batas wilayah yang berwenang untuk mengatur dan mengurus kepentingan masyarakat setempat, berdasarkan asal-usul dan adat istiadat setempat yang diakui dan dihormati dalam sistem Pemerintahan Negara Kesatuan Republik Indonesia. (pasal I huruf a, UU No. 5 tahun 1979)
Di dalam pedesaan sendiri tak lepas dari kegiatan utama pertanian, termasuk pengelolaan sumber daya alam dengan susunan fungsi kawasan sebagai tempat permukiman perdesaan, pelayanan jasa, pemerintahan, pelayanan sosial, dan kegiatan ekonomi.
Namun tidak semua pedesaan di Indonesia ini dapat digolongkan mayoritas kegiatan utamanya petanian saja, karena bagaimanapun setiap desa pasti mempunyai karakteristik desa tersendiri baik meliputi aspek morfologi yang meliputi pemanfaatan lahannya, jumlah penduduknya yang tidak sama di setiap desa, aspek ekonominya yang dilihat dari matapencaharian masyarakat di desa tersebut, aspek sosial budaya yang meliputi tradisi dan interaksi antar masyarakat di desa tersebut, serta aspek hukum yang meliputi peraturan dan kegiatan pemerintahan di dalam desa itu sendiri.
Jadi antara satu desa dan yang lainnya belum tentu memiliki karakteristik desa yang sama, begitu pula sejarahnya. Oleh karena itu diadakanlah praktikum Sosiologi Pertanian ini untuk mempelajari dan menganalisis sejarah serta karakteristik suatu desa, dan Desa yang menjadi obyek kunjungan kami yaitu Desa Pandesari, Kecamatan Pujon, Kabupaten Malang.

1.2 Rumusan Masalah
1. Bagaimana aspek morfologi Desa Pandesari?
2. Bagaimana aspek jumlah penduduk Desa Pandesari?
3. Bagaimana aspek ekonomi Desa Pandesari?
4. Bagaimana aspek sosial budaya Desa Pandesari?
5. Bagaimana aspek hukum Desa Pandesari?
6. Bagaimana pola lokasi dan wilayah Desa Pandesari?
7. Bagaimana tipe dan tingkat perkembangan Desa Pandesari?
8. Bagaimana desa-desa di Indonesia di masa depan?

1.3 Tujuan
1. Untuk mengetahui aspek morfologi desa Pandesari
2. Untuk mengetahui aspek jumlah penduduk Desa Pandesari
3. Untuk mengetahui aspek ekonomi Desa Pandesari
4. Untuk mengetahui aspek sosial budaya Desa Pandesari
5. Untuk mengetahui aspek hukum Desa Pandesari
6. Untuk mengetahui pola lokasi dan wilayah Desa Pandesari
7. Untuk mengetahui tipe dan tingkat perkembangan Desa Pandesari
8. Untuk mengetahui desa-desa di Indonesia di masa depan

BAB II
PEMBAHASAN

A. ANALISIS KARAKTERISTIK DESA
1. Aspek Morfologi

SEJARAH
Dahulu di daerah ini terdapat banyak “Pande” yang artinya tukang atau ahli besi, emas, logam dan sebagainya. Sehingga dari adanya hal tersebut desa daerah itu berkembang dan dinamakan desa Pandesari yang sekarang terletak di Kecamatan Pujon Kabupaten Malang. Dan terdiri dari 3 dukuh :
1. Dukuh Krajan
2. Dukuh Baloh
3. Dukuh Sularejo
Desa wilayah Pujon. Sehingga tanah di daerah pandesari cukup subur dan lembab, dan cocok digunakan untuk menanam tanaman yang mayoritas sayur-sayuran. Selain itu penduduknya juga banyak yang menanam rumput untuk pakan ternak. Dapat disimpulkan Desa Pandesari adalah desa yang berkembang.

2. Aspek Jumlah Penduduk
Pandesari merupakan desa yang berada di Kecamatan Pujon, Kabupaten Malang. Wilayah pandesari adalah daerah berdataran tinggi dengan curah hujan yang cukup baik dan merupakan daerah terluas di jumlah penduduk. Penduduk Pandesari berjumlah ± 10-11 ribu jiwa dan merupakan jumlah penduduk terbesar di wilayah Pujon.

3. Aspek ekonomi
Mayoritas penduduk Desa Pandesari bermatapencaharian sebagai petani sayur. Desa Pandesari merupakan daerah yang tanahnya cukup sebur dan lembab sehingga para petani lebih memilih sebagai petani sayuran. Selain sebagai petani sayur, banyak juga penduduk desa Pandesari yang bermatapencaharian sebagai petenak sapi perah yang menghasilkan susu murni. Mereka lebih memilih beternak sapi perah daripada sapi penggemuk karena menurut mereka keuntungan beternak sapi perah lebih menguntungkan. Umumnya para petani sayur juga bekerja sebagai peternak sapi, di mana kedua hal tersebut saling melengkapi satu sama lain. Sebagai contoh : apabila hasil sayuran petani jelek, maka dapat digunakan sebagai pakan ternak. Selain itu ada juga lahan yang khusus digunakan untuk menanam rumput gajah yang juga digunakan sebagai pakan ternak. Setiap pagi dan sore mereka mendistribusikan susu murni tersebut ke koperasi desa.
Sebagian penduduk Pandesari juga menjadi Pegawai negeri, baik sebagai pegawai pemerintahan daerah/kantor, guru, dan sebagainya. Selain itu ada juga yang meiliki pabrik pembuatan pupuk anorganik yang sudah didistribusikan sampai ke luar Jawa. Dan dari pabrik tersebut dapat menyerap ± 150 tenaga kerja sehingga dapat mengurangi pengangguran di desa Pandesari.
Pada tahun ini penduduk Desa Pandesari memanfaatkan limbah kotoran ternak sebagai biogas yang digunakan sebagai pengganti bahan baker alami.

4. Aspek Sosial Budaya
a. Pernikahan adalah hal yang sacral bagi masyarakat desa Pandesari. Remaja yang berumur kurang dari 17 tahun tidak diperbolehkan menikah karena bagi para orang tua meraka, remaja yang berumur kurang dari 17 tahun masih belum siap baik fisik maupun mental untuk menjalani kehidupan rumah tangga.
b. Setiap acara Maulid nabi atau acara keagamaan yang lain, penduduk sekitar selalu merayakan dengan acara keagamaan seperti ceramah agama, istighosah dan lain-lain.
c. Jumat bersih di Desa Pandesari juga dilakukan setiap minggunya. Hal tersebut untuk menumbuhkan gorong royong dan menjaga lingkungan sekitar agar terlihat bersih dan nyaman.
d. Setiap ada penduduk yang membangun rumah di Desa Pandesari, biasanya secara sukarela masyarakat di sana saling membantu, entah itu untuk mengangkat genting, bata atau sebagainya.

5. Aspek hukum
Setiap daerah selalu mempunyai peraturan yang menjadi adat atau aturan yang tertera seperti pada aturan yang dibuat oleh pemeerintah. Misalnya, jika ada yang mencuri, maka akan dihukum sesuai dengan aturan yang berlaku. Begitu juga dengan tindak kriminal lain. Selain itu, apabila ada seorang lelaki yang mengunjungi rumah perempuan yang bukan saudaranya (pacarnya) melebihi jam kunjung malam, maka biasanya di denda.
B. POLA EKOLOGI DAN TIPE DESA
1. Pola Lokasi dan Wilayah Desa

Desa Pandesari yang terletak di Kecamatan Pujon Kabupaten Malang mempunyai batas-batas wilayah sebagai berikut :
-Sebelah Utara dibatasi oleh Kabupaten Mojokerto
-Sebelah Selatan dibatasi oleh Kota Blitar
-Sebelah Timur dibatasi oleh Kota Batu
-Sebelah Barat dibatasi oleh daerah Ngantang
Keadaan penduduk di desa Pandeari tertata dengan pola rumah yang menyebar rata dan tidak menggerombol antara rumah satu dan yang lain. Penyebaran rumah hanya dibatasi oleh lahan-lahan (menjadi satu setiap dusun). Dan Desa Pandasari terdiri dari 3 dukuh yaitu Krajan, Baloh, dan Sularejo dengan 48 RT.
Fasilitas umum yang ada di Desa Pandesari antara lain :
a. 7 masjid sebagai tempat ibadah dan acara keagamaan
b. Coban rondo sebagai tempat wisata yang cukup terkenal
c. Tempat praktek-praktek kesehatan (polinder)
d. Tempat praktek bidan

2. Tipe dan Tingkat Perkembangan Desa
Desa Pandesari tergolong desa yang mendekati perkotaan. Di mana masyarakatnya mempunyai inisiatif untuk maju. Mereka membentuk organisasi antara lain:
a. organisasi keagamaan (NU)
b. Karang Taruna (tiap RT digabung menjadi satu di desa)
c. Remas (Remaja Masjid) yang setiap tahunnya mengadakan acara keagamaan seperti maulud Nabi, istighosah dan sebagainya.
d. PKK (arisan dan posyandu)
• Kegiatan yang sudah menjadi kebiasaan di desa Pandesari salah satunya adalah pergerakan dari PKK lewat KADER dengan mengadakan setiap bulan sekali seperti program KB yang sampai sekarang masih berjalan dengan lancar.
• Untuk melancarkan program pendidikan di Desa Pandesari terdapat himpunan yang menyusun program KF (program untuk memberantas keaksaraan).
• Rata-rata remaja Desa Pandesari meneruskan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi, tetapi ada pengaruh yang berhubungan dengan pendidikan tersebut. Sebagaian minat belajarnya kurang semangat karena mereka berfikir bahwa setelah lulus SMP langsung beternak sapi atau bertani sayur, dan menurut mereka mata pencaharian tersebut tidak membutuhkan pendidikan tinggi.

3. Desa-Desa di Indonesia di Masa Depan
Masalah utama yang terjadi sesungguhnya adalah ketidakadilan yang menyebabkan tidak terdistribusinya pembangunan secara merata. Hal ini mengakibatkan banyak masyarakat tidak mampu mengakses kebutuhan hidupnya secara layak. Indonesia hari ini surplus pangan. Tapi, masih saja ada warganya yang tidak mampu mengakses pangan. Hal itu tidak lain karena masih belum terwujudnya pemerataan pendapatan.
Desa menjadi bagian dunia yang tertinggal dan ditinggalkan tempat di mana masyarakat miskin berkumpul. Padahal di sanalah sesungguhnya sumber-sumber kehidupan ditemukan. Kita tidak menanam padi yang nasinya kita makan setiap hari di kota-kota besar.
Kita juga tidak memperoleh sayur, buah, dan segala bahan pangan yang kita butuhkan kecuali desa-desa dengan setia menyediakan. Kita tidak mengeksplorasi sumber-sumber energi di tengah wilayah perkotaan. Semua yang kita butuhkan untuk memenuhi syarat dasar kehidupan bersumber di wilayah pedesaan. Oleh karenanya sangat tidak wajar jika desa ditinggalkan dari agenda-agenda pembangunan.
Pemerintah perlu mencanangkan gerakan kembali ke desa. Sumber-sumber pertumbuhan ekonomi harus digerakkan ke pedesaan sehingga desa menjadi tempat yang menarik sebagai tempat tinggal dan mencari penghidupan. Infrastruktur desa, seperti irigasi, sarana dan prasarana transportasi, listrik, telepon, sarana pendidikan, kesehatan dan sarana-sarana lain yang dibutuhkan, harus bisa disediakan sehingga memungkinkan desa berkembang.
Pemerintah juga perlu menciptakan banyak desa-desa industri yang mandiri, sehingga masyarakatnya, terutama para pemudanya tidak perlu lari dari desa yang selama ini dihuni. Sangat disayangkan jika proses urbanisasi terus terjadi tanpa solusi ekonomi yang memadai. Karena yang terjadi sesungguhnya hanyalah memindahkan arus kemiskinan dari desa ke kota, dan ini hanya akan menambah panjang daftar masalah-masalah baru.
Pemerintah harus berani menjadikan desa sebagai masa depan Indonesia. Desa bukan hanya menjadi objek wisata. Melainkan juga ruang untuk berkerja. Desa bukan hanya wilayah untuk menikmati segala keindahan. Melainkan juga ruang untuk memperjuangkan kehidupan. Desa harus menjadi tempat di mana sumber daya manusia terbaik merasa nyaman untuk hidup dan berkarya di sana dan seluruh masyarakat bisa menikmati kesejahteraannya.
LAMPIRAN-LAMPIRAN

Balai Desa Pandesari

Tempat wisata air terjun coban rondo

Wawancara di rumah Kepala Desa pandesari