Kebudayaan Masyarakat Desa Sidomulyo, Cemara Kipas, Kota Batu

LAPORAN KEGIATAN FIELDTRIP KEBUDAYAAN MASYARAKAT

OBYEK KUNJUNGAN : DESA SIDOMULYO, CEMARA KIPAS, KOTA BATU

OLEH :

KELOMPOK : A1.2

1. MOH. FIRSTSYAH SOFYAN ( 0810480058)

2. RIZKIR AMADHANI (0810480085)

3. SEPTI WULAN SARI (0810480093)

4. SISKA SEPTI WULANDARI (0810480096)

PROGRAM STUDI : AGROEKOTEKNOLOGI

WAKTU KUNJUNGAN : TANGGAL 30 APRIL 2009

LABORATORIUM PENGEMBANGAN MSAYARAKAT PEDESAAN

JURUSAN SOSIAL EKONOMI PERTANIAN

FAKULTAS PERTANIAN

UNIVERSITAS BRAWIJAYA MALANG

2009

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Dalam kehidupan sehari-hari orang begitu sering membicarakan soal kebudayaan. Setiap harinya orang tak mungkin tidak berurusan dengan hasil-hasil kebudayaan. Tak ada masyarakat yang tidak mempunyai kebudayaan, dan tak ada kebudayaan tanpa masyarakat sebagai wadah dan pendukungnya. Pada praktikum sosiologi pertanian kali ini membahas mengenai kebudayaan yang ada di pedesaan dan bagaimana kebudayaan petani itu sendiri. Dan Desa yang dituju kali ini adalah Desa Sidomulyo dengan perwakilan Bapak Bani dan Bapak Gunawan yang merupakan penduduk Desa Sidomulyo yang bemata pencaharian sebagai petani apel yang bertempat tinggal di RT 03 RW. 04 Desa Sidomulyo 91 Cemara Kipas Malang. Dalam praktikum ini juga membahas mengenai paradigm lama dan paradigm baru berupa ekologi budaya dalam usaha pertania, serta membahas masalah alih teknologi dan peluang alih teknologi untuk usaha pertanian di Desa Sidomulyo. Apakah desa tersebut dapat menerima teknologi baru untuk pertaniannya atau tidak. Oleh karena itu, dengan adanya praktikum temntang budaya masyarakat petani dan pranata sosial yang ada di Desa Sidomulyo ini diharapkan lebih mengenal karakteristik masyarakat ( keluarga petani) dan budayanya serta pranata sosial yang sampai saat ini dikerjakan para petani serta bagaiman pola paradigm pertanian yang dianut petani dan peluang alih teknologi di Desa Sidomulyo tersebut.

1.2 Rumusan Masalah

1. Bagaimana kharakteristik masyarakat desa Sidomulyo?

2. Bagaimana sistem budaya/kebudayaan di Desa Sidomulyo ?

3. Bagaimana pranata atau lembaga sosial di Desa Sidomulyo?

4. Bagaimanapola paradigma yang dianut oleh petani di Desa Sidomulyo?

5. Bagaimana peluang alih teknologi di Desa Sidomulyo?

1.3 Tujuan

1. Mengetahui kharakteristik masyarakat Desa Sidomulyo

2. Mengetahui sistem budaya di Desa Sidomulyo

3. Mengetahui pranata atau lembaga sosial di Desa Sidomulyo

4. Mengetahui paradigma yang dianut oleh petani di Desa Sidomulyo

5. Mengetahui peluang alih teknologi di Desa Sidomulyo

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Karakteristik Masyarakat Desa Masyarakat desa selalu memiliki ciri-ciri atau dalam hidup bermasyarakat, yang biasanya tampak dalam perilaku keseharian mereka. Berikut ini sejumlah karakteristik masyarakat desa, yang terkait dengan etika dan budaya mereka, yang bersifat umum yang selama ini masih sering ditemui.

1. Sederhana Sebagian besar masyarakat desa hidup dalam kesederhanaan.

Kesederhanaan ini terjadi karena dua hal: a. Secara ekonomi memang tidak mampu b. Secara budaya memang tidak senang menyombongkan diri.

2. Mudah curiga.

Secara umum, masyarakat desa akan menaruh curiga pada: a. Hal-hal baru di luar dirinya yang belum dipahaminya b. Seseorang/sekelompok yang bagi komunitas mereka dianggap “asing”

3. Menjunjung tinggi “unggah-ungguh”

Sebagai “orang Timur”, orang desa sangat menjunjung tinggi kesopanan atau “unggah-ungguh” apabila: a. Bertemu dengan tetangga b. Berhadapan dengan pejabat c. Berhadapan dengan orang yang lebih tua/dituakan d. Berhadapan dengan orang yang lebih mampu secara ekonomi e. Berhadapan dengan orang yang tinggi tingkat pendidikannya

4. Guyub, kekeluargaan

Sudah menjadi karakteristik khas bagi masyarakat desa bahwa suasana kekeluargaan dan persaudaraan telah “mendarah-daging” dalam hati sanubari mereka.

5. Lugas

“Berbicara apa adanya”, itulah ciri khas lain yang dimiliki masyarakat desa. Mereka tidak peduli apakah ucapannya menyakitkan atau tidak bagi orang lain karena memang mereka tidak berencana untuk menyakiti orang lain. Kejujuran, itulah yang mereka miliki.

6. Perasaan “minder” terhadap orang kota

Satu fenomena yang ditampakkan oleh masayarakat desa, baik secara langsung ataupun tidak langsung ketika bertemu/bergaul dengan orang kota adalah perasaan mindernya yang cukup besar. Biasanya mereka cenderung untuk diam/tidak banyak omong.

7. Menghargai (“ngajeni”) orang lain

Masyarakat desa benar-benar memperhitungkan kebaikan orang lain yang pernah diterimanya sebagai “patokan” untuk membalas budi sebesar-besarnya. Balas budi ini tidak selalu dalam wujud material tetapi juga dalam bentuk penghargaan sosial atau dalam bahasa Jawa biasa disebut dengan “ngajeni”.

8. Suka gotong-royong

Salah satu ciri khas masyarakat desa yang dimiliki dihampir seluruh kawasan Indonesia adalah gotong-royong atau kalau dalam masyarakat Jawa lebih dikenal dengan istilah “sambatan”. Uniknya, tanpa harus dimintai pertolongan, serta merta mereka akan “nyengkuyung” atau bahu-membahu meringankan beban tetangganya yang sedang punya “gawe” atau hajatan. Mereka tidak memperhitungkan kerugian materiil yang dikeluarkan untuk membantu orang lain. (Anonymous, 2009)

2.2 Pengertian kebudayaan

• Kebudayaan dalam istilah asing culture dan dalam kata Latin colere artinya mengolah atau mengerjakan, yaitu mengolah tanah atau bertani, segala daya dan kegiatan manusa untuk mengolah dan mengubah alam. (Koentjaraningrat, 1965)

• Kebudayaan adalah kompleks yang mencakup pengetahuan, kepercayaan, kesenian, moral, hukum, adat-istiadat dan lain kemampuan-kemampuan serta kebiasaan-kebiasaan yang didapatkan oleh manusia sebagai anggota masyarakat. (Soekanto, 1982)

• Kebudayaan sebagai semua hasil karya, rasa, dan cipta masyarakat. (Soemardjan, 1964)

2.3 Unsur-unsur kebudayaan

Kebudayaan setiap bangsa atau masyarakat terdiri dari unsur-unsur besar maupun unsur-unsur kecil yang merupakan bagian suatu kebulatan yang bersifat sebagai kesatuan. Melville J. Herkovits mengajukan empat unsure pokok kebudayaan, yaitu :

1. Alat-alat teknologi

2. Sistem ekonomi

3. Keluarga

4. Kekuatan politik

Menurut Bronislaw Malinowski, unsur-unsur pokok kebudayaan yaitu :

1. Sistem norma yang memungkinkan kerjasama antara para anggota masyarakat di dalam upaya menguasai alama sekelilingnya.

2. Organisasi ekonomi

3. Alat-alat dan lembaga atau petugas pendidikan; perlu diingat bahwa keluarga merupakan lemabaga pendidikan yang utama.

4. Organisasi kekuatan

Terdapat pula tujuh unsur kebudayaan yang dianggap sebagai cultural universals, yaitu :

1. Peralatan dan perlengkapan hidup manusia (pakaian, perumahan, alat-alat rumah tang, senjata, alat-alat produksi, transport, dsb)

2. Mata pencaharian hidup dan system-sistem ekonomi (pertanian, peternakan, sistem produksi, sistem distribusi, dsb)

3. Sistem kemasyarakatan (sistem kekerabatan, organisasi politik, sistem hukum, dsb)

4. Bahasa (lisan maupun tertulis)

5. Kesenian (seni rupa, seni suara, seni gerak, dsb)

6. Sistem pengetahuan

7. Religi (sistem kepercayaan) (Soekanto, 1982)

2.4 Fungsi kebudayaan

Fungsi kebudayaan bagi masyarakat, yaitu :

1. Untuk melindungi diri terhadap alam

Kebudayaan kebendaan atau teknologi timbul dari hasil karya masyarakat, yang mempunyai kegunaan utama di dalam masyarakat terhadap lingkungan dalamnya. Teknologi sendiri pada hakikatnya memiliki paling sedikit tujuh unsur yaitu alat-alat produksi, senjata, wadah, makanan dan minuman, pakaian dan perhiasan, tempat berlindung dan perumahan serta alat-aat transport. Hasil karya manusia berupa teknolohi tersebut memberikan kemungkinan-kemungkinan yang sangat luas untuk memanfaatkan hasil-hasil alam dan apabila mungkin, menguasai alam.

2. Mengatur hubungan antar manusia

Kebudayaan mengatur agar manusia dapat mengerti bagaimana statusnay bertindak, berbuat, menentukan sikapnya kalau mereka berhubungan dengan orang lain. Khusus dalam mengatur hubungan antar manusia, kebudayaan dinamakan pula struktur normatif atau menurut istilah Ralph Linton designs for living (garis-garis atau petunjuk dalam hidup) yang artinya kebudayaan adalah suatu garis-garis pokok tentang perilaku atau blue-print for behavior yang menetapkan peraturan-peraturan mengenai apa yang seharusnya dilakukan, apa yang dilarang, dan lain sebagainya.

3. Sebagai wadah segenap perasaan manusia

Setiap manusia selalu timbul keinginan untuk menciptakan sesuatu untuk menyatakan perasaan dan keinginannya kepada orang lain, seperti kesenian yang dapat berwujud seni suara, seni music, seni tari, seni lukis, dan lain sebagainya. Dengan demikian fungsi kebudayaan yang berupa rasa masyarakat tersebut bertujuan tidak hanya untuk mengatur hubungan antar manusia, tetapi juga untuk mewujudkan perasaan-perasaan seseorang. (Soekanto,1982)

2.5 Pembagian Kebudayaan

Dari sudut struktur dan tingkatan dikenal adanya super-culture yang berlaku bagi seluruh masyarakat. Suatu super-culture biasanya dapat dijabarkan kedalam cultures yang mungkin didasarkan pada kekhususan daerah, golongan etnis, profesi, dst. Di dalam suatu culture mungkin berkembang kagi suetu kebudayaan-kebudayaan khusus yang tidak bertentangan dengan kebudayaan “induk”, yang lazimnya dinamakan sub-culture. Akan tetapi, apabila kebudayaan khusus tadi bertentangan dengan kebudayaan “induk”, gejala tersebut disebut counter-culture. Counter- culture tidak selalu harus diberi arti negative karena adanya gejala tersebut dapat dijadikan petunjuk bahwa kebudayaan induk dianggap kurang dapat menyerasikan diri dengan perkembangan kebutuhan. Adapun visualisasinya secara sistematis adalah sebagai berikut : SUPER-CULTURE CULTURE (S) SUB-CULTURE COUNTER-CULTURE (Soekanto, 1982)

2.6 Pranata sosial

Pranata sosial adalah suatu system tata kelakuan dan hubungan yang berpusat kepada aktifitas-aktifitas untuk memenuhi kompleks-kompleks kebutuhan khusus dalam kehidupan masyarakat (system tata kelakuan atau norma-norma untuk memenuhi kebituhan, lembaga). (Koentjaraningrat, 1964)

2.7 Pola Paradigma Pertanian

• Paradigm Lama :ekonomi produksi

Paradigm lama melihat kegiatan pertanian primer sebagai kegiatan ekonomi produksi mengawinkan sejumlah faktor produksi untuk menghasilkan komoditas tertentu. Dan dua faktor produksi yang dominan (paling signifikan) pengaruhnya adalah pupuk dan obat-obatan. Pada paradigm lama berlaku suatu anggapan kuat bahwa tingkat produksi padi terutama ditentukan oleh tingkat penggunaan (dosis dan komposisi) pupuk dan obat-obatan. Paradigma lama sedang mengalami krisis karena ia tidak mampu mengangkat status pertanian Indonesia secara signifikan ke level yang lebih tinggi. Paradigma lama sudah mencapai titik buntu dalam mengatasi kedua masalah dasar pertanian padi, yaitu penurunan relative pada aspek-aspek produktivitas usaha tani dan kesejahteraan petani.

• Paradigma Baru : ekologi budaya

Paradigm baru :ekologi budaya merupakan suatu paradigma pertanian yang berakar pada perspektif Ekologi Manusia atau secara spesifik ekologi budaya (cultural ecology). Asumsi paradigma Ekologi Budaya menurut Sitorus yaitu : 1. Benih, tanah dan tenaga adalah tiga unsure dasar yang membentuk pertanian melalui proses triangular yang berpusat pada budaya tertentu. 2. Dari tiga unsur dasar inti budaya, benih merupakan unsure dasar yang menjadi penentu utama atau “patokan dasar” tingkat perkembangan dan kemajuan pertanian. 3. Faktor-faktor produksi khususnya pupuk, obat-obatana dan alsistan bersifat supportif terhadap ketiga unsure dasar pembentuk petanian. (Sitorus, 2006)

2.8 Masalah Alih Teknologi dan Peluang Alih Teknologi

Masalah alih teknologi layak diadopsi bila sesuai dengan budaya serta lingkungan (circum stances) petani. Selain itu keterbatasan pengalaman membuat petani cenderung lebih membutuhkan teknologi yang tidak sama sekali baru, melainkan dari pengembangan teknologi yang telah ada. Teknologi baru yang diperlukan petani cenderung yag tidak terlalu rumit atau intensif dan tidak menuntut banyak waktu perorangan. Faktor ketersediaan pasar yang menguntungkan bagi produk teknologi baru juga perlu dipertimbangkan karena tidak semua pasar menerima produk teknologi baru. Jadi masalah alih teknologi berhubungan dengan kesesuaian teknologi dan kesesuaian cara alih teknologi dengan budaya (faktor internal) dan lingkungan (faktor eksternal) petani dalam penyesuaian faktor-faktor tersebut. Budaya dan teknologi baru saling mempengaruhi penggeseran budaya dapat membuat suatu teknologi baru menjadi lebih sesuai, sementara teknologi baru yang sesuai dapat menggeser budaya. Dalam proses alih teknologi, para agen pembangunan selayaknya memandang petani sebagai mitra, sebagai sesame subyek pembangunan. Sekalipun biasanya selalu diabaikan di masa lalu, pengetahuan, keterampilan, dan keinovatifan petani sesungguhnya dapat sanagt berguna. (Triely, 2002)

BAB III PEMBAHASAN

Masyarakat petani dan pranata social Lokasi desa : Desa Sidomulyo RT.03 RW. 04 No. 91 Cemara Kipas, Malang Sumber wawancara : Bapak Bani dan Bapak Gunawan • Kharakteristik masyarakat desa Di desa Sidomulya tempat Bapak Gunawan dan Bapak Bani tinggal, masyarakat yang menetap disana rata-rata mempunyai kharakteistik yang sudah dimiliki sejak dulu sampai sekarang. Masyarakat Sidomulyo biasanya tidak gampang percaya dengan orang lain yang menurut mereka jauh dari pemikiran. Misalnya jika ada penyuluhan di bidang pertanian, tidak semua saran ataupun kritik dari penyuluh tersebut mereka laksanakan. Hal tersebut dikarenakan ide atau gagasan dari penyuluh tidak sesuai dengan hati mereka. Mereka menganggap apa yang disampaikan penyuluh itu itu sangat bermanfaat tetapi tidak dapat mereka cerna karena pendidikan yang masih kurang yang dimiliki oleh petani masyarakat setempat. Dalam masalah budaya bahasa, petani desa sidomulya rata-ratamasih menggunakan bahasa Jawa dalam kehidupan sehari-hari. Selain itu ada beberapa karakteristik lain yang sudah melekat pada masing-masing individu. Antara lain sifat gotong royong yang dilakukan untuk membantu dan mengurangi beban masyarakat yang membutuhkan. Yang berikutnya yaitu tidak ada persaingan kualitas apel dibidang pertanian antar penduduk sekitar. Setiap ada masukan mengenai pupuk atau obat yang digunakan untuk menyuburkan apel selalu mereka beritahukan kepada penduduk yang bertanya, sehingga mereka membagi kebahagiaan yang mereka miliki untuk dirasakan bersama.

• Strata sosial di pedesaan Strata sosial yang ada di Desa Sidomulyo tergolong sangat baik dan dapat dikatakan mempunyai tingkat sosial yang tinggi yang mencirikan strata sosial yang benar-benar kehidupan di pedesaan, yaitu dalam artian kehidpan sosial yang terjalin antar masyarakat sangat kuat. Adanya kerjasama yang baik di bidang pertanian maupun di bidang lain dengan ksadaran masing-masing penduduk. Selain itu kerjasama yang sering dilakukan yaitu kerjasama di bidang ekonomi yang saling menguntungkan satu sama lain. Melaui proses pemasaran hasil pertanian baik secara langsung atau tidak langsung, yaitu baik melalui perantara atau langsung dipasarkan ke pasar tradisional terdekat sehingga terjadi transaksi jual beli yang termasuk dalam interaksi sosial. Selain itu masih banyak hal lai yang mencirikan tingkat sosial masyarakat Desa Sidomulyo.

• Pranata atau lembaga sosial Di Desa Sidomulyo terdapat beberapa lembaga yang sudah dikenal oleh semua penduduk. Selain itu mereka juga berperan serta untuk mengembangkan lembaga-lembaga yang ada dengan cara berpartisipasi sesuai kesadaran masing-masing. Lembaga yang terdapat disana antara lan:  KUD KUD merupakan sarana yang digunakan oleh masyarakat setempat untuk membeli bahan-bahan pertanian yang dapat mendukung produktivitas pertanian mereka. Selain itu masyarakat terutama petani juga ikut serta dalam perkembangan KUD dengan cara mendaftarkan diri menjadi anggota KUD yang resmi sehingga semua masyarakat dapat berpartisipasi dalam pengembangan desa Sidomulyo begitu juga dengan Bapak Bani dan Bapak Gunawan.  Kelompok petani “Sumber Rejeki” Merupakan tempat konsultasi masalah-masalah yang sedang dihadapi oleh petani dan juga memberikan informasi mengenai segala hal tentang pertanian agar dapat berkembang lebih baik. Misalnya penyuluhan mengenai penggunaan pupuk organik dan non organic serta penyuluhan mengenai teknologi baru. Penyuluhan ini dilakukan setiap bulan sekali biasanya di balai penyuluhan Desa Sidomulyo. Tetapi kelompok tani Sidomulyo begabung dengan kelompok tani desa tetangga.

• Kebudayaan serta pranata pemerintah desa Di Desa Sidomulyo biasanya melakukan bagi hasil apel kepada orang lain setempat sehingga apa yang mereka dapatkan bias dirasakan oleh orang lain. Sebagian hasil tersebut dilakukan setiap petani kepada tetangga mereka dengan cara memberikan langsung. Tetapi hal tersebutdilakukan apabila hasilnya melimpah. Dari sini pranata pemerintah memberikan dukungan kepada petani untuk selalu optimis dalam mengelola hasil pertanian setempat yaitu apel.

• Fungsi kebudayaan bagi petani di Desa Sidomulyo yaitu : 1. Petani memanfaatkan alat-alat pertanian berupa cangkul, sabit, gunting potong yang kesemuanya merupakan hasil kebudayaan. Alat-alat yang digunakan masih sederhana/tradisional. 2. Dengan adanya kebudayaan maka ada aturan yang dipatuhi oleh masyarakat petani, misalnya masalah pembagian lahan, pemasaran apel, sehingga tidak terjadi persaingan antar petani apel di desa tersebut. 3. Dengan adanya kebudayaan dan kegiatan penyuluhan maka di forum tersebut, para petani dapat menyalurkan segala perasaan dan kegelisahan mereka tentang masalah-masalah pertanian yang dihadapi, sehingga mereka dapat saling berbagi.

• Pola paradigma petani di Desa Sidomulyo Pola paradigma yang dianut petani di Desa Sidomulyo masih menggunakan paradigma lama dengan prinsip pertanian adalah proses mengawinkan sejumlah faktor produksi untuk menghasilkan komoditas tertentu. Pupuk dan obat-obatan masih dianggap faktor produksi yang penting dan paling berpengaruh untuk usaha tani mereka.

• Masalah alih teknologi dan peluang alih teknologi di Desa Sidomulyo Petani di Desa Sidomulyo, khususnya petani apel cenderung belum dapat menerima teknologi baru yang ditawarkan melalui penyuluhan dari kelompok tani setempat karena memang dalam kegiatan usaha tani nya sehari-hari mereka hanya menggunakan alat yang tradisional dan sederhana. Tidak perlu teknologi tinggi. Namun masalah alih teknologi baru tersebut layak diadopsi oleh petani bila sesuai dengan budaya serta lingkungan (circum stances) petani. Selain itu keterbatasan pengalaman membuat petani cenderung lebih membutuhkan teknologi yang tidak sama sekali baru, melainkan dari pengembangan teknologi yang telah ada. Teknologi baru yang diperlukan petani cenderung yag tidak terlalu rumit atau intensif dan tidak menuntut banyak waktu perorangan.

BAB IV PENUTUP

4.1 KESIMPULAN

Kebudayaan adalah kompleks yang mencakup pengetahuan, kepercayaan, kesenian, moral, hukum, adat-istiadat dan lain kemampuan-kemampuan serta kebiasaan-kebiasaan yang didapatkan oleh manusia sebagai anggota masyarakat.

Terdapat pula tujuh unsur kebudayaan yang dianggap sebagai cultural universals, yaitu : Peralatan dan perlengkapan hidup manusia, mata pencaharian hidup dan system-sistem ekonomi, sistem kemasyarakatan, bahasa, kesenian, sistem pengetahuan, religi

Fungsi kebudayaan : 1. Untuk melindungi diri terhadap alam 2. Mengatur hubungan antar manusia 3. Sebagai wadah segenap perasaan manusia

Pembagian kebudayaan yaitu : 1. Super-culture 2. Sub-culture 3. Conter-culter

Pranata sosial adalah suatu system tata kelakuan dan hubungan yang berpusat kepada aktifitas-aktifitas untuk memenuhi kompleks-kompleks kebutuhan khusus dalam kehidupan masyarakat (system tata kelakuan atau norma-norma untuk memenuhi kebituhan, lembaga).

Macam pola paradigama : 1. Paradigma lama : ekonomi produksi 2. Paradigma baru : ekologi budaya

Masalah alih teknologi layak diadopsi oleh petani bila sesuai dengan budaya serta lingkungan (circum stances) petani. Petani cenderung lebih membutuhkan teknologi yang tidak sama sekali baru, melainkan dari pengembangan teknologi yang telah ada. Teknologi baru yang diperlukan petani cenderung yag tidak terlalu rumit atau intensif dan tidak menuntut banyak waktu perorangan.

LAMPIRAN

Bpk. BANI dan Bpk. GUNAWAN

LAHAN APEL

PASAR TRADISIONAL

SAAT WAWANCARA

DESA SIDOMULYO

ANGGOTA KELOMPOK

DAFTAR PUSTAKA

Herskovits, Melville. J. 1955. Cultural Anthropology. Alfred A. Knopf. New York

Koentjaraningrat. 1965. Pengantar Antropologi. Penerbit Universitas. Jakarta

Malinowski, Bronislaw. 1961. The Dynamics of Cultural Change. Yale University Press. New Heaven

Sitorus, Felix MT. 2002. Jurnal Paradiigama Ekologi Budaya Untuk Pengembangan Pertanian Tanaman Padi. Volume 4 No. 3, September. 2006: 167-184

Soekanto, Soerjono. 1982. Sosiologi Suatu Pengantar. PT Raja Grafindo Persada. Jakarta

Soemardjan, Selo. “Perkembangan Ilmu Sosiologi di Indonesia dari 1845 sampai 1965”. Research di Indonesia 1945 1965. Jilid IV. Bidang Ekonomi, Sosial dan Budaya.

Triely, Harry. 2002. Jurnal Analisis Alih Teknologi Peratanian Masyarakat Asli di Kabupaten Sorong. IPB. Bogor

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s