Indikator Agroekosistem Sehat

AGROFORESTRY SEBAGAI CONTOH AGROEKOSISTEM SEHAT DAN INDIKATORNYA DILIHAT DARI ASPEK TANAH

RIZKI RAMADHANI
0810480085

 Contoh agroekosistem sehat :
Sistem penggunaan lahan secara Agroforestry di Desa Sumberagung, Kecamatan Ngantang, Kabupaten Malang. Dengan komoditi tanaman utama yaitu kopi varietas Robusta dan dan mengkombinasikan dengan tanaman kayu (tanaman kehutanan), seperti kayu sengon, petai, waru, kayu mindhi, serta terdapat buah-buahan seperti pisang, durian dan rambutan.
 Adapun keadaan lahan sistem Agroforestry ditunjukkan seperti gambar di bawah ini :

Sistem pertanian dengan cara Agroforestry di daerah Ngantang tersebut merupakan salah satu contoh pengelolaan agroekosistem yang sehat karena secara umum menurut (Satjapradja, 1981) metode penggunaan lahan tersebut berfungsi secara optimal, yang mengkombinasikan sistem-sistem produksi biologis yang berotasi pendek dan panjang (suatu kombinasi-kombinasi produksi kehutanan dan produksi biologis lainnya) dengan suatu cara berdasarkan azas kelestarian, secara bersamaan atau berurutan, dalam kawasan hutan atau diluarnya, dengan bertujuan untuk mencapai kesejahteraan rakyat.
Selain itu, sistem pengelolaan lahan tersebut memiliki sifat berkelanjutan dan mampu meningkatkan produksi lahan secara keseluruhan, yang mengkombinasikan produksi tanaman pertanian (termasuk tanaman tahunan) yaitu kopi dengan tanaman hutan berupa kayu sengon, petai, waru, kayu mindhi, serta terdapat buah-buahan seperti pisang, durian dan rambutan., serta pemanfaatan hewan (ternak sapi perah) dalam bentuk kotorannya yang dijadikan sebagai pupuk kandang yang berfungsi sebagai tambahan input bahan organic, begitu pula dengan seresah daun kopi yang dibiarkan pada lahan. Sistem pengelolaan pada lahan tersebut dilaksanakan pada satu bidang lahan dengan menerapkan teknik pengelolaan praktis yang sesuai dengan budaya masyarakat setempat.
 Kriteria/indikator agroekosistem tersebut dikatakan sehat :
1. Dari Segi Kimia Tanah
a) Bahan Organik Tanah
Bahan organik tanah merupakan penimbunan dari sisa-sisa tanaman dan binatang yang sebagian telah mengalami pelapukan dan pembentukan kembali. Sumber primer bahan organik tanah dapat berasal dari Seresah yang merupakan bagian mati tanaman berupa daun, cabang, ranting, bunga dan buah yang gugur dan tinggal di permukaan tanah baik yang masih utuh ataupun telah sebagian mengalami pelapukan. Dalam pengelolaan bahan organik tanah, sumbernya juga bisa berasal dari pemberian pupuk organik berupa pupuk kandang, pupuk hijau dan kompos, serta pupuk hayati (inokulan).
Bahan organic tersebut berperan langsung terhadap perbaikan sifat-sifat tanah baik dari segi kimia, fisika maupun biologinya, diantaranya :
 Memengaruhi warna tanah menjadi coklat-hitam
 Memperbaiki struktur tanah menjadi lebih remah
 Meningkatkan daya tanah menahan air sehingga drainase tidak berlebihan, kelembapan dan tempratur tanah menjadi stabil.
 Sumber energi dan hara bagi jasad biologis tanah terutama heterotrofik.
Pada sistem Agroforestry Ngantang banyak terdapat seresah dari daun tanaman kopi yang merupakan sumber bahan organik, selain itu pemberian pupuk organik berupa pupuk kandang dari kotoran sapi perah juga kerap kali diaplikasikan pada lahan sehingga kadar bahan organik tanah tersebut tinggi. Tanah yang sehat memiliki kandungan bahan organik tinggi, sekitar 5%. Sedangkan tanah yang tidak sehat memiliki kandungan bahan organik yang rendah.
Berikut gambar keadaan seresah di lahan agroforestry daerah Ngantang :

b) pH Tanah (Kemasaman Tanah) dan Adanya Unsur Beracun
pH tanah di lokasi Agroforestry daerah Ngantang termasuk agak masam karena memiliki pH dibawah 6,5. Hal ini disebabkan karena banyaknya seresah yang mana seresah tersebut nantinya akan menjadi BO, dan BO dapat menurunkan pH karena BO bersifat asam. Tanah bersifat asam dapat pula disebabkan karena berkurangnya kation Kalsium, Magnesium, Kalium dan Natrium. Unsur-unsur tersebut terbawa oleh aliran air kelapisan tanah yang lebih bawah atau hilang diserap oleh tanaman.
pH tanah juga menunjukkan keberadaan unsur-unsur yang bersifat racun bagi tanaman. Pada tanah asam banyak ditemukan unsur alumunium yang selain bersifat racun juga mengikat phosphor, sehingga tidak dapat diserap oleh tanaman. Pada tanah asam unsur-unsur mikro menjadi mudah larut sehingga ditemukan unsur mikro seperti Fe, Zn, Mn dan Cu dalam jumlah yang terlalu besar, akibatnya juga menjadi racun bagi tanaman.
Tetapi dengan pH yang agak masam belum tentu kebutuhan tanaman terhadap pH tanah tidak cocok karena itu tergantung dari komoditas tanaman budidaya yang dibudidayakan. Untuk pengelolaan pH tanah yang berbeda-beda dalam suatu agroekosistem maka apabila suatu lahan digunakan untuk pertanian maka pemilihan jenis tanamannya disesuaikan dengan pH tanah apakah tanaman yang diusahakan sesuai dan mampu bertahan dengan pH tertentu.
c) Ketersediaan Unsur Hara
Unsur hara yang digunakan tanaman untuk proses pertumbuhan dan perkembangannya diperoleh dari beberapa sumber antara lain : Bahan organik, mineral alami, unsur hara yang terjerap atau terikat, dan pemberian pupuk kimia.
Pada lahan Agroforestry daerah Ngantang diketahui sumber unsur hara berasal dari bahan organik, karena pada lokasi tersebut banyak ditemukan seresah yang merupakan sumber bahan organic selain itu aplikasi pupuk kandang juga menambah ketersediaan unsur hara yang berfungsi ganda, diserap oleh tanaman dan memperbaiki sifat fisik, kimia, dan biologi tanah.
Gejala defisiensi unsur hara di daerah Ngantang sangat kecil / tidak ada (tidak nampak) karena di daerah tersebut menggunakan pupuk organicberupa pupuk kandang dan system penanamanya Agroforestry yang tidak membuang seresah yang jatuh dari pohon sehingga seresah itu terdekomposisi oleh mikroorganisme yang ada dalam tanah. Seresah sangat membantu para petani untuk mencukupi kebutuhan unsur hara. Namun, petani tetap memberikan pupuk anorganik agar kebutuhan unsur hara lainnya yang khususnya unsur-unsur hara esensial dapat terpenuhi dengan baik.
2. Dari Segi Fisika Tanah
a) Kondisi kepadatan tanah
Widiarto (2008) menyatakan bahwa, “Bahan organik dapat menurunkan BI dan tanah yang memiliki nilai BI kurang dari satu merupakan tanah yang memiliki bahan organik tanah sedang sampai tinggi. Selain itu, Nilai BI untuk tekstur berpasir antara 1,5 – 1,8 g / m3, Nilai BI untuk tekstur berlempung antara 1,3 – 1,6 g / m3 dan Nilai BI untuk tekstur berliat antara 1,1 – 1,4 g / m3 merupakan nilai BI yang dijumpai pada tanah yang masih alami atau tanah yang tidak mengalami pemadatan”.
Bobot isi tanah di lahan Agroforestry daerah Ngantang kurang dari 1, rendahnya nilai BI tersebut menandakan tanah tidak mengalami pemadatan dimana dapat dengan mudah meneruskan air atau ditembus oleh akar dan adanya nilai BI yang rendah dikarenakan adanya bahan organic yang menurunkan BI.
Sedangkan untuk nilai BJ tanah, menurut literature (Anonymous, 2010) menyatakan bahwa, “Pada tanah secara umum nilainya BJ antara 2,6 – 2,7 g.cm-3, bila semakin banyak kandungan BO, nilai BJ semakin kecil”. Pada lahan Agroforestry daerah Ngantang memiliki BJ kurang dari 2,6 yang berarti BJ di daerah tersebut masih belum normal karena BJ minimal 2,6. Hal ini dikarenakan banyaknya kandungan bahan organic yang ada di daerah tersebut akibat dari banyaknya seresah yang ada. Berat jenis partikel ini penting dalam penentuan laju sedimentasi, pergerakan partikel oleh air dan angin.
b) Kedalaman efektif tanah
Kedalaman efektif adalah kedalaman tanah yang masih dapat ditembus oleh akar tanaman. Pengamatan kedalaman efektif dilakukan dengan mengamati penyebaran akar tanaman. Banyakya perakaran, baik akar halus maupun akar kasar, serta dalamnya akar-akar tersebut dapat menembus tanah, dan bila tidak dijumpai akar tanaman maka kedalaman efektif ditentukan berdasarkan kedalaman solum tanah (Hardjowigeno, 2007).
Pada lahan Afroforestry daerah Ngantang memiliki sebaran perakaran sangat tinggi karena tanaman yang diusahakan merupakan kombinasi tanaman tahunan dan tanaman pohon-pohonan yang memiliki sebaran perakaran yang cukup luas dan dalam.
c) Erosi Tanah
Erosi adalah terangkutnya atau terkikisnya tanah atau bagian tanah ke tempat lain. Meningkatnya erosi dapat diakibatkan oleh hilangnya vegetasi penutup tanah dan kegiatan pertanian yang tidak mengindahkan kaidah konservasi tanah. Erosi tersebut umumnya mengakibatkan hilangnya tanah lapisan atas yang subur dan baik untuk pertumbuhan tanaman. Oleh sebab itu erosi mengakibatkan terjadinya kemunduran sifat-sifat fisik dan kimia tanah.
Di Agroforestry perkebunan kopi daerah Ngantang erosi yang terjadi sangat kecil yaitu erosi permukaan. Hal ini dikarenakan banyaknya seresah yang berasal dari daun dan ranting tanaman yang hidup di atasnya, khususnya tanaman kopi. Peran lapisan seresah dalam melindungi permukaan tanah namun sangat dipengaruhi oleh ketahanannya terhadap pelapukan; seresah berkualitas tinggi (mengandung hara, terutama N tinggi) akan mudah melapuk sehingga fungsi penutupan permukaan tanah tidak bertahan lama.
Vegetasi pada lahan Agroforestry tersebut juga beraneka ragam yang menciptakan sistem multi-strata yang dapat melindungi tanah dari daya pukul air hujan secara langsung ke tanah, dan otomatis akan mengurangi laju erosi. Sedangkan untuk longsor di daerah tersebut juga bisa dikatakan tidak ada karena kondisi lahan yang memang masih alami serta terjaga sehingga bahaya erosi dan longsor di daerah tersebut sangat kecil atau bahkan tidak ada. Artinya pada lahan Agroforestry tersebut menerapkan sistem konservasi baik tanah dan air yang merupakan indikator agroekosistem sehat.
3. Dari Segi Biologi Tanah
a) Keanekaragaman biota dan fauna tanah, ditunjukkan dengan adanya kascing
Biota tanah memegang peranan penting dalam siklus hara di dalam tanah, sehingga dalam jangka panjang sangat mempengaruhi keberlanjutan produktivitas lahan. Salah satu biota tanah yang paling berperan yaitu cacing tanah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa cacing tanah dapat meningkatkan kesuburan tanah melalui perbaikan sifat kimia, fisik, dan biologis tanah. Kascing (pupuk organik bekas cacing atau campuran bahan organik sisa makanan cacing dan kotoran cacing) mempunyai kadar hara N, P dan K 2,5 kali kadar hara bahan organik semula, serta meningkatkan porositas tanah (pori total dan pori drainase cepat meningkat 1,15 kali).
Cacing jenis ‘penggali tanah’ yang hidup aktif dalam tanah, walaupun makanannya berupa bahan organik di permukaan tanah dan ada pula dari akar-akar yang mati di dalam tanah. Kelompok cacing ini berperanan penting dalam mencampur seresah yang ada di atas tanah dengan tanah lapisan bawah, dan meninggalkan liang dalam tanah. Kelompok cacing ini membuang kotorannya dalam tanah, atau di atas permukaan tanah. Kotoran cacing ini lebih kaya akan karbon (C) dan hara lainnya dari pada tanah di sekitarnya. (Hairiah, 2004).
Pada lahan Agroforestry daerah Ngantang banyak terdapat kascing, berat kascing basah yaitu 182,2 dan bila dirata – rata yaitu 36,44. Aktivitas cacing tanah meningkat bila cukup bahan organik seperti seresah, kondisi lembab dan kondisi tanah yang gembur sehingga terbentuk kascing yang cukup banyak.
 Beberapa Strategi dalam Meningkatkan Pengelolaan Agroekosistem Sehat
 Didaerah Ngantang baik digunakan untuk pertanaman pepohonan dan tidak cocok untuk hortikultura, karena memiliki pH yang masam dan tanamn pepohonan juga dapat mengembalikan unsur hara yang hilang, dilihat dari jumlah seresahnya seperti yang dihasilkan tanman kopi. Dan sistem penanaman yang baik adalah Agroforestry, dan tidak cocok untuk Monokultur
 Untuk mengtasi pH yang masam diperlukan pengapuran bila tanaman yang ditanam memerlukan pH yang netral, karena tidak semua tanaman dapat beradaptasi dengan pH yang masam. Pemilihan jenis tanamannya disesuaikan dengan pH tanah apakah tanaman yang diusahakan sesuai dan mampu bertahan dengan pH tertentu.
 Sistem penanaman Agroforestry sebaiknya terus dilakukan karena memiliki dampak yang baik untuk lingkungan dibandingkan dengan system penanaman monokultur. Sistem pertanaman Agroforestry menerpkan prinsip konservasi tanah dan air, yang baik untuk ekologi, ekonomi, sosial dan hidrologi.
 Vegetasi pada lahan Agroforestry Ngantang cenderung ke pepohonan yang merupakan tanaman tahunan, dapat pula diganti atau dikombinasikan lagi dengan tanaman musiman agar perputaran hasil panennya lebih cepat.

DAFTAR PUSTAKA

Anonymous,2010.Evolusi Karbon Tanah.http://www.faizbarzhia.blogspot.com. Diakses
20 Juni 2010.
Anonymous,2010.http://gerbangtani.blogspot.com. Diakses 20 Juni 2010.
Hairiah, Kurniatun, dkk. 2004. Ketebalan Seresah sebagai Indikator Daerah Aliran
Sungai (DAS) Sehat. FP-UB. Malang.
Hardjowigeno, Saswono. 2007. ILMU TANAH. Akademika Pressindo. Jakarta
King KFS. 1979. Agroforestry. Proceeding of the Fiftieth Symposium on Tropical
Agriculture. Royal Tropical Institute, Amsterdam, The Netherlands.
Raintree JB. 1983. Theory and practice of Agroforestry Diagnosis and Design. In: MacDicken
Satjapradja, D., 1981. Agroforestri di Indonesia, Pengertian dan Implementasinya. Makalah. Seminar Agroforestri dan Perladangan, Jakarta.
Widiarto. 2008. Pengantar Ilmu Tanah. PT. Rineka Cipta Jakarta

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s