Indikator Agroekosistem Tidak Sehat

PERTANIAN INTENSIF SEBAGAI CONTOH PENGELOLAAN AGROEKOSISTEM TIDAK SEHAT

DAN INDIKATORNYA DILIHAT DARI ASPEK TANAH

RIZKI RAMADHANI

0810480085

v   Contoh agroekosistem tidak sehat :

Pengelolaan pertanian secara intensif dengan mengandalkan masukan/input bahan-bahan kimia baik untuk pupuk maupun pestisidanya, contohnya yaitu sistem Revolusi Hijau yang pernah diterapkan di Indonesia. Walaupun Revolusi hijau tersebut membawa Indonesia ke swasembada pangan pada era Orde baru, namun dilihat dari keberlanjutan produktivitas lahannya sangat tidak baik, dengan adanya input-input kimiawi yang berlebihan mengakibatkan kesuburan tanah mulai menurun dan banyak permasalahan lainnya.

v   Praktek pengelolaan pertanian intensif yang mengakibatkan agroekosistem tersebut tidak sehat :

  • Pembukaan Hutan (Alih Guna Lahan)

Pembukaan hutan yang biasanya dijadikan untuk lahan pertanian merupakan salah satu penyumbang terjadinya pemanasan global. Perubahan lahan hutan menjadi Agroekosistem lahan kering bagi keperluan pertanian menetap dan sementara demi untuk memenuhi kebutuhan hidup sudah terjadi sejak lama. Hal ini telah mengakibatkan terjadinya degradasi/penurunan kesuburan lahan.

Pembukaan hutan tersebut merupakan tindakan eksploitasi lahan yang berlebihan, perluasan tanaman, penggundulan hutan, telah berdampak pada keberlangsungan hidup biota yang berada di bumi ini. Bila kondisi tersebut diatas terus berlangsung dengan cara tidak terkendali, maka dikhawatirkan akan bertambahnya jumlah lahan kritis dan kerusakan dalam suatu wilayah daerah aliran sungai (DAS). Kerusakan ini dapat berupa degradasi lapisan tanah (erosi), kesuburan tanah, longsor dan sedimentasi yang tinggi dalam sungai, bencana banjir, disribusi dan jumlah atau kualitas aliran air sungai akan menurun.

Berikut gambar sistem pembukaan lahan dengan cara tebas-bakar :

 

 

 

 

 

 

 

 

  • Pertanian monokultur

Pertanian monokultur adalah sistem pertanian dengan penanaman satu jenis tanaman secara terus menerus pada satu lahan. Penerapan sistem monokultur biasanya digunakan petani-petani baik lahan tegalan, sawah, maupun perkebunan yang mengejar hasil produksi yang tinggi untuk komoditas tertentu, sehingga dalam satu areal tertentu ditanam satu jenis tanaman saja.

Pertanian monokultur tersebut merupakan salah satu penerapan pertanian intensif yang biasanya menerapkan input-input kimia berlebihan untuk menunjang produksinya nanti sepertiaplikasi pupuk anorganik dan penggunaan pestisida sebagai cara menanggulangi hama dan penyakit. Hal tersebut mengakibatkan ketergantungan petani terhadap pestisida, pupuk anorganik dan varietas unggul yang digunakan, selain itu terjadi resistensi dan resurjensi hama.

Berikut ini merupakan gambar sistem pertanian monokultur :

 

 

 

 

 

 

 

  • Penggunaan alat-alat berat untuk pengolahan tanah

Sistem pertanian intensif biasanya menggunakan alat-alat berat untuk pengolahan tanahnya, misalnya penggunaan traktor. Penggunaan traktor tersebut dapat mengakibatkan pemadatan tanah sehingga mempengaruhi porositas dan bobot isi tanah menjadi lebih tinggi.

 

v  Kriteria/indikator agroekosistem tersebut dikatakan tidak sehat :

  1. Dari Segi Kimia Tanah

a)            Bahan Organik Tanah

Bahan organik tanah merupakan penimbunan dari sisa-sisa tanaman dan binatang yang sebagian telah mengalami pelapukan dan pembentukan kembali. Sumber primer bahan organik tanah dapat berasal dari Seresah yang merupakan  bagian mati tanaman berupa daun, cabang, ranting, bunga dan buah yang gugur dan tinggal di permukaan tanah baik yang masih utuh ataupun telah sebagian mengalami pelapukan. Dalam pengelolaan bahan organik tanah, sumbernya juga bisa berasal dari pemberian pupuk organik berupa pupuk kandang, pupuk hijau dan kompos, serta pupuk hayati (inokulan).

Pada sistem pertanian yang diolah secara intensif dengan menerapkan sistem monokulttur biasanya jumlah bahan organiknya sedikit karena tidak ada atau minimnya seresah di permukaan lahan, selain itu input bahan organic yang berasal dari pupuk organic baik pupuk kandang atau pupuk hijau minim karena lebih menekankan penggunaan input kimia. Dari hal tersebut dapat diindikasikan pertanian tanpa penerapan tambahan bahan organic pada lahan pertanain intensif merupakan pengelolaan agroekosistem yang tidak sehat.

b)            pH Tanah (Kemasaman Tanah) dan Adanya Unsur Beracun

pH tanah pada sistem pertanian intensif biasanya agak masam karena seringnya penggunaan pupuk anorganik seperti Urea yang diaplikasikan secara terus-menerus untuk menunjang ketersediaan unsure hara dalam tanah. Tanah bersifat asam dapat pula disebabkan karena berkurangnya kation Kalsium, Magnesium, Kalium dan Natrium. Unsur-unsur tersebut terbawa oleh aliran air kelapisan tanah yang lebih bawah atau hilang diserap oleh tanaman.

pH tanah juga menunjukkan keberadaan unsur-unsur yang bersifat racun bagi tanaman. Pada tanah asam banyak ditemukan unsur alumunium yang selain bersifat racun juga mengikat phosphor, sehingga tidak dapat diserap oleh tanaman. Pada tanah asam unsur-unsur mikro menjadi mudah larut sehingga ditemukan unsur mikro seperti Fe, Zn, Mn dan Cu dalam jumlah yang terlalu besar, akibatnya juga menjadi racun bagi tanaman.

Untuk pengelolaan pH tanah yang berbeda-beda dalam suatu agroekosistem maka apabila suatu lahan digunakan untuk pertanian maka pemilihan jenis tanamannya disesuaikan dengan pH tanah apakah tanaman yang diusahakan sesuai dan mampu bertahan dengan pH tertentu.

 

 

c)            Ketersediaan Unsur Hara

Unsur hara yang digunakan tanaman untuk proses pertumbuhan dan perkembangannya diperoleh dari beberapa sumber antara lain : Bahan organik, mineral alami, unsur hara yang terjerap atau terikat, dan pemberian pupuk kimia.

Pada lahan dengan pengolahan secara intensif sumber unsur haranya berasal dari input-input kimiawi berupa pupuk anorganik, petani kurang menerapkan tambahan bahan organic seperti aplikasi pupuk kandang dan seresah dari tanaman yang diusahkan., sehingga petani sangat berketergantungan dengan pupuk kimia, padahal penggunaan pupuk kimia berlebihan dapat menyebabkan kesuburan tanah menurun.

Terkadang nampak gejala defisiensi unsur hara pada tanaman yang diusahakan dan petani mengatasinya dengan aplikasi pupuk kimia yang banyak mengandung unsure hara yang kurang tadi, misalnya tanaman kekurangan unsure N maka petani mengaplikasikan pupuk urea sebagai penunjang ketersediaan unsure N yang kurang tadi, begitupula dengan unsure-unsur lainnya.

  1. Dari Segi Fisika Tanah

a)      Kondisi kepadatan tanah

Widiarto (2008) menyatakan bahwa, “Bahan organik dapat menurunkan BI dan tanah yang memiliki nilai BI kurang dari satu merupakan tanah yang memiliki bahan organik tanah sedang sampai tinggi. Selain itu, Nilai BI untuk tekstur berpasir antara 1,5 – 1,8 g / m3, Nilai BI untuk tekstur berlempung antara 1,3 – 1,6 g / m3 dan Nilai BI untuk tekstur berliat antara 1,1 – 1,4 g / m3 merupakan nilai BI yang dijumpai pada tanah yang masih alami atau tanah yang tidak mengalami pemadatan”.

Bobot isi tanah di lahan dengan pengolahan intensif biasanya memiliki nilai BI tinggi karena tanah telah mengalami pemadatan akibat penggunaan alat-alat berat untuk pengolahan tanahnya.

Sedangkan untuk nilai BJ tanah, menurut literature (Anonymous, 2010) menyatakan bahwa, “Pada tanah secara umum nilainya BJ antara  2,6 – 2,7 g.cm-3, bila semakin banyak kandungan BO, nilai BJ semakin kecil”. Pada lahan dengan pengolahan intensif memiliki BJ bisa lebih dari 2,6 apabila pemadatan tanah yang terjadi amat tinggi. Apabila nilai BJ terlalu tinggi juga berpengaruh terhadap penentuan laju sedimentasi serta pergerakan partikel oleh air dan angin.

b)    Kedalaman efektif tanah

Kedalaman efektif adalah kedalaman tanah yang masih dapat ditembus oleh akar tanaman. Pengamatan kedalaman efektif dilakukan dengan mengamati penyebaran akar tanaman. Banyakya perakaran, baik akar halus maupun akar kasar, serta dalamnya akar-akar tersebut dapat menembus tanah, dan bila tidak dijumpai akar tanaman maka kedalaman efektif ditentukan berdasarkan kedalaman solum tanah (Hardjowigeno, 2007).

Pada lahan dengan sistem pengolahan intensif  terkadang memiliki sebaran perakaran yang cukup tinggi karena tanaman yang diusahakan dalam kurun waktu yang lama hanya satu komoditi saja.

c)      Erosi Tanah

Erosi adalah terangkutnya atau terkikisnya tanah atau bagian tanah ke tempat lain. Meningkatnya erosi dapat diakibatkan oleh hilangnya vegetasi penutup tanah dan kegiatan pertanian yang tidak mengindahkan kaidah konservasi tanah. Erosi tersebut umumnya mengakibatkan hilangnya tanah lapisan atas yang subur dan baik untuk pertumbuhan tanaman. Oleh sebab itu erosi mengakibatkan terjadinya kemunduran sifat-sifat fisik dan kimia tanah.

Di lahan pertanian dengan pengolahan intensif, khususnya praktek penebangan hutan untuk pembukaan lahan baru memiliki tingkat kerusakan lingkungan yang amat tinggi. Pembukaan hutan tersebut merupakan tindakan eksploitasi lahan yang berlebihan, perluasan tanaman, penggundulan hutan, telah berdampak pada keberlangsungan hidup biota yang berada di bumi ini. Bila kondisi tersebut diatas terus berlangsung dengan cara tidak terkendali, maka dikhawatirkan akan bertambahnya jumlah lahan kritis dan kerusakan dalam suatu wilayah daerah aliran sungai (DAS). Kerusakan ini dapat berupa degradasi lapisan tanah (erosi), kesuburan tanah, longsor dan sedimentasi yang tinggi dalam sungai, bencana banjir, disribusi dan jumlah atau kualitas aliran air sungai akan menurun.

Dengan vegetasi yang hanya satu macam pada satu areal lahan menyebabkan tidak adanya tutupan lahan lain sehingga tidak dapat melindungi tanah dari daya pukul air hujan secara langsung ke tanah, hal tersebut mengakibatkan laju erosi cenderung tinggi.

 

  1. Dari Segi Biologi Tanah

a)      Keanekaragaman biota dan fauna tanah, ditunjukkan dengan adanya kascing

Biota tanah memegang peranan penting dalam siklus hara di dalam tanah, sehingga dalam jangka panjang sangat mempengaruhi keberlanjutan produktivitas lahan. Salah satu biota tanah yang paling berperan yaitu cacing tanah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa cacing tanah dapat meningkatkan kesuburan tanah melalui perbaikan sifat kimia, fisik, dan biologis tanah. Kascing (pupuk organik bekas cacing atau campuran bahan organik sisa makanan cacing dan kotoran cacing) mempunyai kadar hara N, P dan K 2,5 kali kadar hara bahan organik semula, serta meningkatkan porositas tanah (pori total dan pori drainase cepat meningkat 1,15 kali).

Cacing jenis ‘penggali tanah’ yang hidup aktif dalam tanah, walaupun makanannya berupa bahan organik di permukaan tanah dan ada pula dari akar-akar yang mati di dalam tanah. Kelompok cacing ini berperanan penting dalam mencampur seresah yang ada di atas tanah dengan tanah lapisan bawah, dan meninggalkan liang dalam tanah. Kelompok cacing ini membuang kotorannya dalam tanah, atau di atas permukaan tanah. Kotoran cacing ini lebih kaya akan karbon (C) dan hara lainnya dari pada tanah di sekitarnya. (Hairiah, 2004).

Pada lahan dengan pengolahan intensif, jarang terdapat seresah pada lahan tersebut sehingga keberadaan biota tanah seperti cacing tanah sedikit, padahal aktifitas cacing tanah dapat memperbaiki sifat-sifat fisik, kimia dan biologi tanah, seperti meningkatkan kandungan unsur hara, mendekomposisikan bahan organic tanah, mernagsang granulasi tanah dan sebagainya.

v  Beberapa Strategi dalam Memperbaiki Pengelolaan Agroekosistem Menjadi Sehat

ü   Untuk menggunakan lahan pada daerah hulu secara rasional maka diperlukan sistem penggunaan lahan yang menerapkan kaidah-kaidah konservasi, produktif dan pemanfatan teknologi yang ramah lingkungan. Dengan demikian akan mewujudkan sistem pertanian yang tangguh dan secara menyeluruh menciptakan pengelolaan sumberdaya alam dalam suatu DAS yang berkelanjutan.

ü   Pengolahan lahan secara agroforestry untuk daerah hulu karena dapat menerapkan sistem konservasi tanah dan air, namun apabila petani juga menginginkan hasil produksi yang tinggi dapat diterapkan sistem multiple cropping seperti tumpang sari.

ü   Melaukuan pengolahan tanah minimum yang merupakan teknik konservasi tanah dimana gangguan mekanis terhadap tanah diupayakan sesedikit mungkin. Dengan cara ini kerusakan struktur tanah dapat dihindari sehingga aliran permukaan  dan erosi  berkurang. Teknik ini juga mengurangi biaya dan tenaga kerja untuk pengolahan tanah dan mengurangi biaya / tenaga kerja untuk penyiangan secara mekanik. Pengolahan tanah minimum cukup efektif dalam mengendalikan erosi, dan biasa dilakukan pada tanah-tanah yang berpasir dan rentan terhadap erosi.

ü   Meningkatkan aplikasi pemberian bahan organic seperti pupuk anorganik berupa pupuk kandang maupun puuk hijau untuk memperbaiki pH tanah, kondisi fisik, kimia dan biologi tanah, serta penambahan seresah yang juga melindungi lahan dari tetesan air hujan secara langsung sehingga dapat mengurangi laju erosi.

ü   Untuk mengtasi pH yang masam diperlukan pengapuran bila tanaman yang ditanam memerlukan pH yang netral, karena tidak semua tanaman dapat beradaptasi dengan pH yang masam.  Pemilihan jenis tanamannya disesuaikan dengan pH tanah apakah tanaman yang diusahakan sesuai dan mampu bertahan dengan pH tertentu.

 

DAFTAR PUSTAKA

Anonymous,2010.Evolusi Karbon Tanah.http://www.faizbarzhia.blogspot.com. Diakses

20 Juni 2010.

Anonymous. 2010.  Konsep Dasar Konservasi Tanah dan Air. http://bebasbanjir2025. wordpress.com/04-konsep-konsep-dasar/konservasi-tanah-dan-air/. Diakses pada 20 Mei 2010

Departemen Kehutanan. http://www.dephut.org.id/ diakses tanggal 25 Februari 2008

Hairiah, Kurniatun, dkk. 2004. Ketebalan Seresah sebagai Indikator Daerah Aliran

Sungai (DAS) Sehat. FP-UB. Malang.

Hardjowigeno, Saswono. 2007. ILMU TANAH. Akademika Pressindo. Jakarta

Widiarto. 2008. Pengantar Ilmu Tanah. PT. Rineka Cipta Jakarta

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s