KETERBATASAN KETERSEDIAAN HARA BAGI KOMODITI KELAPA SAWIT PADA JENIS TANAH ULTISOL

Kelapa sawit (Elaeis guineensis Jacq) merupakan salah satu tanaman penghasil minyak nabati yang sangat penting. Luas perkebunan kelapa sawit Indonesia pada tahun 2007 sekitar 6,8 juta hektar (Ditjen Perkebunan, 2008 dalam Hariyadi, 2009) yang terdiri dari sekitar 60 % diusahakan oleh perkebunan besar dan sisanya sekitar 40 % diusahakan oleh perkebunan rakyat (Soetrisno, 2008). Luas perkebunan kelapa sawit diprediksi akan meningkat menjadi 10 juta hektar pada 5 tahun mendatang.
Berkembangnya sub-sektor perkebunan kelapa sawit tidak lepas dari dukungan kebijakan pemerintah yang memberikan berbagai insentif berupa kemudahan perijinan dan bantuan subsidi investasi (Manurung, 2001). Keterbatasan lahan di Indonesia mengakibatkan pengembangan areal kelapa sawit mulai mengarah ke lahan-lahan marjinal berupa lahan pasang surut maupun lahan-lahan yang bereaksi masam.

sawit1

Kelapa Sawit

 Permasalahan
Umumnya tanaman kelapa sawit ditanam pada tanah masam. Tanah berordo Ultisols kebanyakan memiliki sifat tanah yang masam, karena material di dalam profil tanah banyak mengandung mineral kuarsa dan seskuioksida besi (Fe) dan aluminium (Al), sementara mineral-mineral lainnya amat sedikit.
Dalam budidaya suatu tanaman yang sangat penting diperhatikan yaitu bagaimana menyediakan unsur hara tanaman dalam keadaan tersedia dan berimbang, sehingga tidak menimbulkan efek negatif bagi usaha pembudidayaan. Dampak dan pengaruh penyediaan unsur hara tersebut sangat besar bagi pertumbuhan, perkembangan dan produksi tanaman. Hal ini penting untuk dipahami karena berkontribusi besar terhadap profit yang akan diperoleh. Kapasitas tanah menyediakan unsur hara bagi pertumbuhan tanaman adalah relatif terbatas dan sangat tergantung dari sifat dan ciri tanah tersebut.
Tanaman Kelapa sawit membutuhkan unsur hara dalam jumlah besar untuk pertumbuhan vegetatif dan generatif. Karena itu, untuk mendapatkan produksi yang tinggi dibutuhkan kandungan unsur hara yang tinggi juga. Apabila unsur hara tersebut tidak dapat terpenuhi dengan baik maka dapat menimbulkan gejala defisiensi pada tanaman dan dapat menurunkan nilai produksi.
Permasalahan dalam tanah Ultisol untuk budidaya kelapa sawit yaitu :
 Kapasitas Tukar Kation (KTK) rendah,
 Potensi kandungan hara rendah, pada kondisi demikian, tanaman pada umumnya mengalami kekurungan unsur hara.
 Kandungan unsur Al sangat tinggi, sehingga mengakibatkan terjadinya keracunan bagi tanaman yang tumbuh di daerah ini.
 Unsur Al memfiksasi unsur hara P sehingga menjadi tidak tersedia
 Terkikisnya lapisan tanah atas karena erosi akan menambah seriusnya masalah keracunan Al, karena lapisan bawah memiliki kandungan Al lebih tinggi.
 Adanya peningkatan fraksi liat dalam jumlah tertentu pada horizon agrilik yang kaya akan Al sehingga peka terhadap perkembangan akar tanaman, yang menyebabkan akar tanaman tidak dapat menembus horizon ini dan hanya berkembang di atas horizon argilik (Soekardi et al. 1993).
 Indikator terjadinya masalah
Kekurangan salah satu atau beberapa unsur hara akan mengakibatkan pertumbuhan tanaman tidak sebagaimana mestinya yaitu ada kelainan atau penyimpangan-penyimpangan dengan menunjukkan gejala defisiensi. Berikut dijelasakan masing-masing indikator terjadinya masalah berupa gejala defisiensi unsur hara :
• Nitrogen
Nitrogen memiliki peranan terhadap penyusunan protein, klorofil dan berperanan terhadap fotosintesa. Kekurangan Nitrogen menyebabkan daun berwarna kuning pucat dan menghambat pertumbuhan. Kelebihan Nitrogen menyebabkan daun lemah dan rentan terhadap penyakit/hama, kekahatan Boron, White Stripe dan berkurangnya buah jadi.

kahat n

Defisiensi N

kahat n dan cu

Defisiensi N – drainase buruk
Defisiensi Cu – ujung daun kering
• Phospor
Phospor memiliki peranan terhadap penyusunan ADP/ATP, memperkuat batang dan merangsang perkembangan akar serta memperbaiki mutu buah. Kekurangan P sulit dikenali, menyebabkan tanaman tumbuh kerdil, pelepah memendek dan batang meruncing. Indikasi atau gejala kekurangan P yaitu daun alang-alang berwarna ungu, LCC sulit tumbuh dengan bintil akar yang sedikit.
• Kalium
Kalium memiliki peranan terhadap aktifitas stomata, aktifitas enzim dan sintesa minyak. Meningkatkan ketahanan terhadap penyakit serta jumlah dan ukuran tandan. Kekurangan K menyebabkan bercak kuning/transparan, white stripe, daun tua kering dan mati. Kekurangan K berasosiasi dengan munculnya penyakit seperti Ganoderma. Kelebihan K merangsang gejala kekurangan B sehingga rasio minyak terhadap tandan menurun.

kahat k

Defisiensi K – Bercak oranye (Confluent Orange Spotting)

• Magnesium (Mg)
Magnesium memiliki peranan terhadap penyusun klorofil, respirasi tanaman, maupun pengaktifan enzim. Kekurangan Mg menyebabkan daun tua berwarna hijau kekuningan pada sisi yang terkena sinar matahari, kuning kecoklatan lalu kering.

kahat mg

Defisiensi Mg – Sisi daun yang terkena sinar matahari menguning.
• Tembaga (Cu)
Tembaga memiliki peranan terhadap pembentukan klorofil dan katalisator proses fisiologi tanaman. Kekurangan Cu menyebabkan Mid Crown Clorosis (MCC) atau Peat Yellow. Jaringan klorosis hijau pucat – kekuningan muncul ditengah anak daun muda. Bercak kuning berkembang diantarajaringan klorosis. Daun pendek, kuning pucat kemudian mati.

kahat cu

Defisiensi Cu – Ujung anak daun nekrosis
Tumbuh kerdil
• Boron
Boron memiliki peranan terhadap meristimatik tanaman, sintesa gula dan karbohidrat, metabolisme asam nukleat dan protein. Kekurangan Boron menyebabkan daun muda warnanya menjadi kecokelatan dan membengkok. Selain itu, daun tumbuh pendek sehingga ujung pelepah melingkar (rounded front tip), anak daun pada ujung pelepah berubah bentuk menjadi kecil seperti rumput atau bristle tip, atau tumbuh rapat pendek seolah-olah bersatu dan padat (little leaf). Ketidaksempurnaan (malformation) bentuk daun itu berakibat pada terganggunya proses fotosintesis sehingga buah yang terbentuk sedikit, kecil, dan berkualitas rendah.
kahat boron 1jpg
kahat boron 2

• Gejala Defisiensi Fe
kahat fe

Ujung daun nekrosis
Tajuk atas menguning

 Sebab Terjadinya Masalah
Tanah Ultisol mempunyai tingkat perkembangan yang cukup lanjut, dicirikan oleh penampang tanah yang dalam, kenaikan fraksi liat seiring dengan kedalaman tanah, reaksi tanah masam, dan kejenuhan basa rendah. Pada umumnya tanah ini mempunyai potensi keracunan Al dan miskin kandungan bahan organik. Tanah ini juga miskin kandungan hara terutama P dan kation-kation dapat ditukar seperti Ca, Mg, Na, dan K, karena unsure tersebut difiksasi oleh Al sehingga menjadi tidak tersedia, kadar Al tinggi, kapasitas tukar kation rendah, dan peka terhadap erosi (Sri Adiningsih dan Mulyadi 1993).
Kandungan hara pada tanah Ultisol umumnya rendah karena pencucian basa berlangsung intensif, sedangkan kandungan bahan organik rendah karena proses dekomposisi berjalan cepat dan sebagian terbawa erosi. Pada tanah Ultisol yang mempunyai horizon kandik, kesuburan alaminya hanya bergantung pada bahan organik di lapisan atas. Dominasi kaolinit pada tanah ini tidak member kontribusi pada kapasitas tukar kation tanah, sehingga kapasitas tukar kation hanya bergantung pada kandungan bahan organik dan fraksi liat.
Kandungan mineral mudah lapuk (weatherable mineral) seperti orthoklas, biotit, epidot, gelas volkan olivin, sanidin amfibol, augit, dan hiperstin pada tanah Ultisol umumnya rendah bahkan sering tidak ada (Subardja 1986; Suharta dan Prasetyo 1986; Prasetyo et al. 1998; Prasetyo et al. 2005). Dengan demikian Ultisol tergolong tanah yang miskin akan unsur hara.
Tabel 1. Penyebab terjadinya kekurangan masing-masing unsur hara :
Unsur hara Penyebab
Nitrogen
terhambatnya mineralisasi Nitrogen, aplikasi bahan organik dengan C/N tinggi, gulma, akar tidak berkembang, serta pemupukan Nitrogen tidak efektif.
Phospor
P tanah rendah ( 3.500 mm/tahun ), tekstur pasir dengan top soil tipis.
Tembaga (Cu) rendahnya Cu didalam tanah gambut atau pasir, tingginya aplikasi Mg, aplikasi N dan P tanpa K yang cukup.
Boron Rendahnya B tanah, tingginya aplikasi N, K dan Ca.

 Kandungan unsur hara yang dibutuhkan oleh tanaman kelapa sawit
Dengan analisis tanah dan daun, maka ketersediaan unsur – unsur hara di dalam tanah pada saat itu dapat diketahui dan keadaan hara terakhir yang ada pada tanaman dapat diketahui juga. Berdasarkan hasil analisis dapat ditentukan kebutuhan tanaman terhadap jenis – jenis unsur hara secara lebih tepat, sehingga dapat ditetapkan dosis pemupukan yang harus diaplikasikan.
Tabel 2. Dosis Pemupukan Kelapa Sawit Berdasarkan Unsur Tanaman
Jenis Pupuk Dosis(Kg/Pokok/Tahun) *
Umur Tanaman (bulan) 0 – 5 6-12 >12
Sulphate of Amonia (ZA) 1,0 – 2,0 2,0 – 3,0 1,5 – 3,0
Rock Phosphate (RP) 0,5 – 1,0 1,0 – 2,0 0,5 – 1,0
Muriate of Potash (KCl) 0,4 – 1,0 1,5 – 3,0 1,5 – 2,0
Kieserite (MgSO4) 0,5 – 1,0 1,0 – 2,0 0,5 – 1,5
*) Keterangan :
Pupuk N, K, dan Mg diberikan dua kali aplikasi, pupuk P diberikan satu kali aplikasi, dan pupuk B (bila diperlukan) diberikan dua kali aplikasi per tahun (salah satu contoh dosis B adalah 0,05 – 0,1 Kg per pohon per tahun)
Tingginya hara yang terangkut oleh tanaman kelapa sawit, dapat dilihat pada tabel di bawah ini. Unsur hara yang paling banyak dibutuhkan adalah K, lalu berturut-turut N, Mg, P.
Tabel 3. Unsur Hara Dalam Tanaman Kelapa Sawit
(Ng and Tamboo, 1967 dalam von Uexkull and Fairhurst, 1991)
Uraian Kg/Pkk/Th
N P P2O5 K K2O Mg MgO
– Diangkut saat panen 0.49 0.08 0.18 0.63 0.76 0.14 0.23
– Immobil dalam jaringan 0.27 0.022 0.05 0.47 0.57 0.07 0.12
– Dikembalikan ke tanah 0.53 0.076 0.17 0.69 0.83 0.19 0.32
Total Hara 1.29 0.178 0.40 1.79 2.16 0.40 0.67
Persen Hara diangkut per Total 38 45 45 35 35 35 35
Total Hara/ Ha (148 pkk/Ha) 191 26 59 265 320 59 99
Hara per Ton TBS 8.0 1.1 2.5 11.0 13.3 2.5 4.1
Total (Diangkut + Immobil) 0.76 0.102 0.23 1.10 1.33 0.21 0.35
Equivalent Pupuk 1.65 Urea 0.5 TSP 2.22 MOP 1.3 KIES.
 Produksi 24 Ton/Ha/Th.
Tabel 4. Jumlah Unsur Hara Yang Diserap Oleh Tanaman Kelapa Sawit
Dari Dalam Tanah per Ha/tahun.
Komponen Jumlah unsur Hara ( kg/ha/tahun )
N P K Mg Ca
Pertumbuhan Vegetatif 40,9 3,1 55,7 11,5 13,8
Pelepah Daun yang ditunas 67,2 8,9 86,2 22,4 61,6
Produksi TBS (25 ton/ha) 73,2 11,6 93,4 20,8 19,5
Bunga Jantan 11,2 24 16,1 6,6 4,4
Jumlah 192,5 47,6 251,4 61,3 99,3
Sumber : Siahaan et.al (1990)
Tabel 5. Jumlah Pupuk Yang Dibutuhkan Oleh Tanaman Kelapa Sawit
per Ha/tahun
Komponen Jumlah unsur Hara ( kg/ha/tahun )
Urea SP-36 KCl Kieserite Dolomit
Pertumbuhan Vegetatif 88,9 19,7 354 70,7 86,8
Pelepah Daun yang ditunas 146,1 56,6 548 137,7 169
Produksi TBS (25 ton/ha) 159,1 73,8 594 127,9 156,9
Bunga Jantan 24,4 152,7 102 40,6 49,8
Jumlah 418,5 302,8 1.599 376,9 462,5
Sumber : Siahaan et.al (1990)

Dari tabel di atas, jumlah masing-masing unsur hara yang diserap oleh tanaman kelapa sawit selalu lebih kecil dari jumlah pupuk yang dibutuhkan tiap-tiap unsurnya. Hal ini karena tidak semua unsur hara dalam pupuk mampu diserap oleh tanaman, unsur hara yang tidak diserap tanaman bisa terjadi karena adanya kehilangan berupa pencucian dan penguapan atau karena difiksasi oleh unsur Al, mengingat tanah Ultisol memiliki kandungan Al yang tinggi yang dapat memfiksasi unsur P sehingga menjadi tidak tersedia bagi tanaman.
 Upaya yang dilakukan untuk mengatasi masalah ketersediaan hara
1) Pengapuran
Untuk mengatasi kendala kemasaman dan kejenuhan Al yang tinggi dapat dilakukan pengapuran. Bertujuan untuk meningkatkan pH tanah dari sangat masam atau masam ke pH agak netral atau netral, serta menurunkan kadar Al. Untuk menaikkan kadar Ca dan Mg dapat diberikan dolomit, pemberian kapur selain meningkatkan pH tanah juga dapat meningkatkan kadar Ca dan kejenuhan basa. Pengapuran sebaiknya hanya dilakukan bila pH tanah di bawah 5 karena pada pH di atas 5,50, respons Al rendah karena sudah mengendap menjadi Al (OH)3.
2) Pemupukan Fosfat dan Kalium
Kekurangan P pada tanah Ultisol dapat disebabkan oleh kandungan P dari bahan induk tanah yang memang sudah rendah, atau kandungan P sebetulnya tinggi tetapi tidak tersedia untuk tanaman karena diserap oleh unsur lain seperti Al dan Fe. Penggunaan pupuk P dari TSP lebih efisien dibanding P alam (Hakim dan Sediyarsa 1986), namun pengaruh takaran P terhadap hasil tidak nyata. Pemberian P 200−250 ppm P2O5 pada tanah Ultisol dari Lampung dan Banten dapat menghasilkan bahan kering 3−4 kali lebih tinggi dari perlakuan tanpa fosfat (Sediyarsa et al. 1986).
3) Penambahan Bahan Organik dan Pengembalian Sisa Panen
Tanah Ultisol umumnya peka terhadap erosi serta mempunyai pori aerasi dan indeks stabilitas rendah sehingga tanah mudah menjadi padat. Akibatnya pertumbuhan akar tanaman terhambat karena daya tembus akar ke dalam tanah menjadi berkurang. Bahan organik selain dapat meningkatkan kesuburan tanah juga mempunyai peran penting dalam memperbaiki sifat fisik tanah. Bahan organic dapat meningkatkan agregasi tanah, memperbaiki aerasi dan perkolasi, serta membuat struktur tanah menjadi lebih remah dan mudah diolah.
4) Pemupukan unsure-unsur hara lain secara efektif dan efisien
Aplikasi pemupukan harus dikelola dengan baik sehingga dapat menjamin tercapainya tujuan pemupukan, mengingat biaya pemupukan berkisar 40-60% biaya pemeliharaan atau sekitar 20% dari biaya produksi. Hal yang perlu diperhatikan yaitu mengetahui jenis tanaman dan tanah yang akan dipupuk, tepat waktu, dosis, jenis, serta caranya. Dari data-data kuantitatif di atas maka pemupukan sangat diperlukan untuk pemenuhan unsur hara tanaman, dan ini terkait dengan pengelolaan tanah berlanjut pada tanah bereaksi masam (ultisol). Jumlah pupuk yang diaplikasikan ke tanah, paling tidak bisa menggantikan jumlah hara yang diangkut dan tidak kembali ke dalam tanah. Kondisi ini minimal dapat mencegah terjadinya penurunan kesuburan tanah, dengan catatan tidak terjadi kehilangan hara dari tanah akibat pencucian, erosi, penguapan dsb. Apabila kehilangan hara tetap berlangsung, maka diupayakan pengelolaan tanah secara konservasi baik dengan cara mekanis maupun vegetative.

DAFTAR PUSTAKA
Anonymous, 2010. http://rizals.student.umm.ac.id/2010/01/23/budidaya-tanaman-kelapa-sawit/. Diakses pada 17 Oktober 2010
Anonymous, 2010.http://h0404055.wordpress.com/2010/04/05/manajemen-pemupukan-tanaman-kelapa-sawit/. Diakses pada 17 Oktober 2010
Anonymous, 2010.http://netsains.com/2010/09/bagiamana-cara-meningkatkan-produktivitas-kelapa-sawit/. Diakses pada 17 Oktober 2010
Anonymous, 2010.http://andreysubiantoro.viviti.com/entries/sda/peranan-unsur-hara-pada-tanaman-kelapa-sawit. Diakses pada 17 Oktober 2010
Anonymous, 2010.http://www.pusri.co.id/indexC0302.php. Diakses pada 17 Oktober 2010
Anonymous, 2010.http://pekebunan.blogspot.com/2009/01/gejala-kekurangan-unsur-hara.html. Diakses pada 17 Oktober 2010
Anonymous, 2010. http://wahyuaskari.wordpress.com/literatur/tanah-ultisol/. Diakses pada 20 Oktober 2010
Anonymous, 2010. http://kelapasawitblitarselatan.blogspot.com/2009/07/blog-post.html. Diakses pada 20 Oktober 2010
Anonymous, 2010. http://18arnev.blogspot.com/2009/10/ultisol.html. Diakses pada 20 Oktober 2010
Anonymous, 2010. http://www.scribd.com/doc/37781237/ULTISOL. Diakses pada 20 Oktober 2010
Anonymous, 2010. http://mesujimakmur.blogspot.com/2008/02/kendala-budidaya-kelapa-sawit-pada.html. Diakses pada 20 Oktober 2010
Anonymous, 2010. http://formala.multiply.com/journal/item/45. Diakses pada 20 Oktober 2010

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s