INDIKATOR AGROEKOSISTEM TIDAK SEHAT

Perubahan agroekosistem merupakan kegiatan untuk kepentingan manusia dengan berbagai tindakan perubahan ekosistem yang menuju kepada penyederhanaan struktur komunitas. Seperti banyak dikemukakan dalam teori ekologi bahwa struktur komunitas yang sederhana dan cenderung monokultur pada agroekosistem, mengakibatkan seringnya terjadi ledakan OPT.

Dalam konteks ekologi ekosistem, ekosistem pertanian atau agroekosistem merupakan ekosistem artifisial atau buatan, untuk membedakan dengan ekosistem alami. Dengan demikian ada peran manusia yang mengelola sumberdaya alam yang ada dalam ekosistem untuk pemenuhan kebutuhan hidupnya. Keberlanjutan pemenuhan kebutuhan tersebut ditentukan oleh daya dukung sumber daya alam dan lingkungan serta pengelolaan sumberdaya alam itu sendiri.

Sepanjang perjalanan pembangunan pertanian yang kita lalui kita menemukan bahwa orientasi yang terlampau kuat peningkatan produksi dengan implikasi eksploitasi sumberdaya alam secara berlebihan seperti memanfaatkan input kimia berupa pestisida dan pupuk anorganik yang tidak sesuai dosis serta program intensifikasi pertanian justru akan berdampak buruk bagi sistem pertanian.

Agroekosistem dapat dibedakan menjadi agroekosistem sehat dan tidak sehat berdasarkan cara pengelolaannya. Dalam paper ini akan dibahas contoh agroekosistem yang tidak dikelola dengan benar diserta kriteria/indikator yang menunjukkan “ketidaksehatan” sistem tersebut, apa yang menyebabkannya, dan bagaimana cara pengelolaan/manajemen untuk menjadikan sistem tersebut sehat kembali.

A. Pembukaan Hutan (Alih Guna Lahan)
Laju pertumbuhan penduduk Indonesia yang cukup tinggi mendorong bertambahnya permintaan akan lahan baik untuk pemukiman ataupun untuk usaha, akibatnya terjadi konversi lahan hutan sekitar 50 hektar per tahun (Nasution dan Joyowinoto, 1995). Konversi lahan untuk pemenuhan kebutuhan pemukiman ataupun industri tidak jarang dilakukan pada lahan pertanian yang subur. Alih guna lahan terus terjadi, menyebabkan lahan potensial untuk pertanian menjadi berkurang.
Petani adalah subyek yang paling merasakan dampak dari semua itu sehingga dengan terpaksa memanfaatkan lahan kering di daerah berlereng curam sebagai areal pertanian. Lahan ini tergolong tanah-tanah marginal untuk usahatani tanaman semusim. Kondisi lahan berlereng juga menyebabkan lahan kering ini menjadi rawan erosi sehingga mengakibatkan lahan marginal dan terdegradasi semakin bertambah luas. Bentuk-bentuk degradasi lahan antara lain: degradasi secara fisik (erosi tanah, baik oleh air ataupun angin), kimia (kemasaman tinggi dan penurunan kandungan unsur hara); dan biologi (penurunan kandungan bahan organik tanah dan aktivitas biologi tanah), salinisasi dan pencemaran tanah (Young, 1997).
Perubahan lingkungan daerah tropika berkaitan erat dengan pembukaan hutan, terjadinya pergeseran lahan pertanian ke daerah tengah dan hulu dengan kemiringan lahan lebih curam dan beresiko tinggi terhadap erosi. Degradasi lahan dan perluasan lahan kritis. Sejak diberlakukannya ijin pengelolaan hutan, kondisi hutan di Indonesia semakin menurun. Kondisi hutan terus mengalami kerusakan dengan laju degradasi sekarang mencapai 2 juta/tahun meningkat dari hanya 0,9 ha/tahun pada 1980-1990. Lahan yang mengalami kerusakan mencapai 56,9 juta ha, yang terdiri dari: lahan kritis di luar kawasan hutan 15,1 juta ha, lahan kritis di dalam kawasan hutan lindung dan konservasi 8,1 juta ha, hutan rusak di dalam kawasan hutan produksi 27,8 juta ha, hutan mangrove di dalam dan luar kawasan hutan 5,9 juta ha (Dephut, 2000).
Kerusakan lingkungan yang diakibatkan oleh eksploitasi lahan yang berlebihan, perluasan tanaman, penggundulan hutan, telah berdampak pada keberlangsungan hidup biota yang berada di bumi ini. Bila kondisi tersebut diatas terus berlangsung dengan cara tidak terkendali, maka dikhawatirkan akan bertambahnya jumlah lahan kritis dan kerusakan dalam suatu wilayah daerah aliran sungai (DAS). Kerusakan ini dapat berupa degradasi lapisan tanah (erosi), kesuburan tanah, longsor dan sedimentasi yang tinggi dalam sungai, bencana banjir, disribusi dan jumlah atau kualitas aliran air sungai akan menurun.
Manajemen Pengelolaan Agar Sistem Sehat Kembali
Untuk menggunakan lahan pada daerah hulu secara rasional maka diperlukan sistem penggunaan lahan yang menerapkan kaidah-kaidah konservasi, produktif dan pemanfatan teknologi yang ramah lingkungan. Dengan demikian akan mewujudkan sistem pertanian yang tangguh dan secara menyeluruh menciptakan pengelolaan sumberdaya alam dalam suatu DAS yang berkelanjutan.
Suatu teknologi pengelolaan lahan yang dapat mewujudkan pembangunan pertanian berkelanjutan bilamana memiliki ciri seperti :
1) Dapat meningkatkan pendapatan petani,
2) Komoditi yang diusahakan sesuai dengan kondisi bio fisik lahan dan dapat diterima oleh pasar,
3) Tidak mengakibatkan degradasi lahan karena laju erosi kecil, dan
4) Teknologi tersebut dapat diterapkan oleh masyarakat (Rony, 2008).
Pemecahan masalah degradasi lahan dan alih fungsi lahan dapat ditempuh dengan teknologi yang telah berkembang di masyarakat. Ada beberapa teknologi untuk merehabilitasi lahan dalam kaitannya dengan pembangunan yang berkelanjutan yaitu :
1) Agronomi yang meliputi teknis agronomis seperti TOT, minimum tillage,
2) Countur farming, mulsa, pergiliran tanaman (crop rotation), pengelolaan residu tanaman, dll.
3) Vegetatif berupa agroforestry, alley cropping, penanaman rumput.
4) Struktur atau konstruksi yaitu bangunan konservasi seperti teras, tanggul, cek dam, saluran, dll.
5) Manajemen berupa perubahan penggunaan lahan (Rony, 2008).
Dengan adanya permasalahan degaradasi lahan dan alih fungsi lahan maka dapat diupayakan proses pengembangan sistem agroforestri berbasis mayarakat dan pengembangan pembangunan berkelanjutan. Dalam penerapan agroforestri diperlukan pula upaya untuk mengenali dan mengembangkan sistem agroforestri untuk dapat diterapkan petani di daerah tropika, termasuk di Indonesia.
Agroforestri
Menurut Narain dan Grewal (1994), Nair 1989, Muthoo and Chipeta (1991), agroforestri berpotensi sebagai suatu upaya konservasi tanah dan air, serta menjamin keberlanjutan produksi pangan, bahan bakar, pakan ternak maupun hasil kayu, khususnya dari lahan-lahan marginal dan terdegradasi. Agroforestri merupakan nama kolektif bagi sistem-sistem dan teknologi penggunaan lahan yang sesuai diterapkan pada lahan-lahan pertanian beresiko tinggi tehadap erosi, terdegradasi, dan lahan-lahan marginal. Sistem ini merupakan salah satu praktek pertanian konservatif dan produktif, yang telah diterapkan dan dikembangkan oleh petani di daerah tropika termasuk Indonesia, dimana kemampuan pohon-pohon untuk tumbuh pada kondisi iklim dan tanah yang kurang menguntungkan. Sistem tersebut memiliki potensi konservasi tanah dan air, serta perbaikan bagi tanah-tanah marginal di daerah tropis, subtropis, humid, semiarid, dan berlereng. Seperti halnya sistem indigenous dimana pohon-pohon sulit untuk tumbuh dan kemampuan regenerasi tanah sangat rendah (Cooper et al, 1996).
Suatu sistem pengelolaan lahan dengan berasaskan kelestarian, yang meningkatkan hasil lahan secara keseluruhan, mengkombinasikan produksi tanamaan (termasuk tanaman pohon-pohonan) dan tanaman hutan dan/atau hewan secara bersamaan atau berurutan pada unit lahan yanag sama, dan menerapkan cara-cara pengelolaan yang sesuai dengan kebudayaan penduduk setempat Dalam suatu seminar mengenai Agroforestry dan pengendalian perladangan berpindah-pindah, di Jakarta Nopember 1981, mendefinisikan Agroforestry sebagai berikut ; Suatu metode penggunaan lahan secara oftimal, yang mengkombinasikan sitem-sistem produksi biologis yang berotasi pendek dan panjang (suatu kombinasi kombinasi produksi kehutanan dan produksi biologis lainnya) dengan suatu cara berdasarkan azas kelestarian, secara bersamaan atau berurutan, dalam kawasan hutan atau diluarnya, dengan bertujuan untuk mencapai kesejahteraan rakyat ” (Satjapradja, 1981).
Prinsip-prinsip ekologi yang mendasari pengembangan agroforestri di antaranya adalah:
1) Menciptakan kondisi tanah agar sesuai untuk pertumbuhan tanaman, terutama dengan mengolah bahan organik dan memperbaiki kehidupan organisme dalam tanah.
2) Optimalisasi ketersediaan hara dan menyeimbangkan aliran hara, terutama melalui fiksasi nitrogen, pemompaan hara, daur ulang dan penggunaan pupuk sebagai pelengkap.
3) Optimalisasi pemanfaatan radiasi matahari dan udara melalui pengelolaan iklim-mikro, pengawetan air dan pengendalian erosi.
4) Menekan kerugian seminimal mungkin akibat serangan hama dan penyakit dengan cara pencegahan dan pengendalian yang ramah lingkungan
5) Penerapan sistem pertanian terpadu dengan tingkat keragaman hayati fungsional yang tinggi, dalam usaha mengeksploitasi komplementasi dan sinergi sumber daya genetik dan sumber daya lainnya.
Sistem agroforestri memiliki beberapa keunggulan baik dari segi ekologi atau lingkungan. Agroforestri memiliki stabilitas ekologi yang tinggi, karena agroforestri memiliki:
1) Multi-jenis. Artinya memiliki keanekaragaman hayati yang lebih banyak atau memiliki rantai makanan/energi yang lebih lengkap. Konversi hutan alami menjadi lahan pertanian mendorong penurunan keanekaragaman hayati secara drastis. Hasil penelitian Trudy O’Connors (sumber CRAF) menunjukkan bahwa adanya alih guna lahan hutan menjadi agroforestri berbasis kopi di Sumberjaya (Lampung Barat) menyebabkan berkurangnya jenis burung yang hidup di kebun kopi. Pengendali hama (burung pemakan serangga), Pengendali gulma: burung pemakan biji rumput-rumputan, walaupun jenis burung pemakan biji ini dapat menjadi hama di sawah.
2) Multi-strata tajuk dapat menciptakan iklim mikro dan konservasi tanah dan air yang lebih baik. Selain itu, dengan adanya kombinasi pohon dan tanaman semusim dapat mengurangi serangan hama dan penyakit
3) Kesinambungan vegetasi, sehingga tidak pernah terjadi keterbukaan permukaan tanah yang ekstrim, yang merusak keseimbangan ekologinya.
4) Penggunaan bentang lahan secara efisien. Pada suatu lahan, kemungkinan terdapat ‘relung’ (niches) yang beragam tergantung pada kesuburan tanah,kemiringan lereng, kerentanan terhadap erosi, ketersediaan air, dsb. Pada sistem monokultur, keragaman ‘niches’ ini seringkali diabaikan, bahkan cenderung ditiadakan. Dalam agroforestri, petani memiliki banyak pilihan untuk menyesuaikan tanaman apa yang akan ditanam pada suatu ‘niches’, dan bukan ‘mengkoreksi’ untuk memanfaatkan ’niches’ tersebut, yang seringkali justru memboroskan biaya dan tenaga
Agroforestri merupakan salah satu sistem penggunaan lahan yang diyakini oleh banyak orang dapat mempertahankan hasil pertanian secara berkelanjutan. Agroforestri memberikan kontribusi yang sangat penting terhadap jasa lingkungan (environmental services) antara lain mempertahankan fungsi hutan dalam mendukung DAS (daerah aliran sungai), mengurangi konsentrasi gas rumah kaca di atmosfer, dan mempertahankan keanekaragaman hayati. Mengingat besarnya peran Agroforestri dalam mempertahankan fungsi DAS dan pengurangan konsentrasi gas rumah kaca di atmosfer melalui penyerapan gas CO2 yang telah ada di atmosfer oleh tanaman dan mengakumulasikannya dalam bentuk biomasa tanaman, maka agroforestri sering dipakai sebagai salah satu contoh dari “Sistem Pertanian Sehat” (Hairiah dan Utami, 2002).

B. Degradasi Tanah
Degradasi tanah di Indonesia yang paling dominan adalah erosi. Proses ini telah berlangsung lama dan mengakibatkan kerusakan pada lahan-lahan pertanian. Jenis degradasi yang lain adalah pencemaran kimiawi, kebakaran hutan, aktivitas penambangan dan industri, serta dalam arti luas termasuk juga konversi lahan pertanian ke nonpertanian.
Jenis-jenis Degradasi Tanah
Erosi Tanah
Hasil penelitian mengindikasikan laju erosi tanah di Indonesia cukup tinggi dan telah berlangsung sejak awal abad ke-20 dan masih berlanjut hingga kini. Beberapa data dapat dikemukakan sebagai berikut:
1) Sedimentasi di DAS Cilutung, Jawa Barat, memperlihatkan kenaikan laju erosi tanah dari 0,9 mm/tahun pada 1911/1912 menjadi 1,9 mm/tahun pada 1934/1935, dan naik lagi menjadi 5 mm/ tahun pada 1970-an (Soemarwoto 1974).
2) Laju erosi di DAS Cimanuk, Jawa Barat, mencapai 5,2 mm/tahun, mencakup areal 332 ribu ha (Partosedono 1977).
3) Pada tanah Ultisols di Citayam, Jawa Barat yang berlereng 14 % dan ditanami tanaman pangan semusim, laju erosi mencapai 25 mm/tahun (Suwardjo 1981).
4) Di Putat, Jawa Tengah, laju erosi mencapai 15 mm/tahun, dan di Punung, Jawa Timur, sekitar 14 mm/tahun. Keduanya pada tanah Alfisols berlereng 9-10 % yang ditanami tanaman pangan semusim (Abdurachman et al. 1985).
5) Di Pekalongan, Lampung, laju erosi tanah mencapai 3 mm/tahun pada tanah Ultisols berlereng 3,5 % yang ditanami tanaman pangan semusim. Pada tanah Ultisols berlereng 14 % di Baturaja, laju erosi mencapai 4,6 mm/tahun (Abdurachman et al. 1985).
Data di atas mengindikasikan bahwa sekitar 40-250 m3 atau 35-220 ton tanah/ha lahan tererosi setiap tahun, dengan laju peningkatan 7-14% atau 3-28 ton tanah/ ha/tahun, dibanding di Amerika Serikat yang hanya 0,7 ton/ha/tahun. Data menunjukkan bahwa luas lahan kritis di Indonesia terus meningkat, yang diperkirakan telah mencapai 10,9 juta ha. Bahkan Departemen Kehutanan mengidentifikasi luas lahan kritis mencapai 13,2 juta ha. Penyebab utamanya adalah erosi dan longsor.
Faktor Alami Penyebab Erosi
Kondisi sumber daya lahan Indonesia cenderung mempercepat laju erosi tanah, terutama tiga faktor berikut: (1) curah hujan yang tinggi, baik kuantitas maupun intensitasnya, (2) lereng yang curam, dan (3) tanah yang peka erosi, terutama terkait dengan genesa tanah.
Data BMG (1994) menunjukkan bahwa sekitar 23,1% luas wilayah Indonesia memiliki curah hujan tahunan > 3.500 mm, sekitar 59,7% antara 2.000-3.500 mm, dan hanya 17,2% yang memiliki curah hujan tahunan 3% dengan topografi datar, agak berombak, bergelombang, berbukit sampai bergunung. Lahan datar (lereng 3%) di setiap pulau di Indonesia lebih luas dari lahan datar ( 16%, yang seharusnya digunakan untuk tanaman tahunan atau hutan. Secara keseluruhan, lahan kering datarberombak meliputi luas 31,5 juta ha (Hidayat dan Mulyani 2002), namun penggunaannya diperebutkan oleh pertanian, pemukiman, industri, pertambangan, dan sektor lainnya. Pada umumnya, daya saing petani dan pertanian lahan kering jauh lebih rendah dibanding sektor lain, sehingga pertanian terdesak ke lahanlahan berlereng curam.
Laju erosi tanah meningkat dengan berkembangnya budi daya pertanian yang tidak disertai penerapan teknik konservasi, seperti pada sistem perladangan berpindah yang banyak dijumpai di luar Jawa. Bahkan pada sistem pertanian menetap pun, penerapan teknik konservasi tanah belum merupakan kebiasaan petani dan belum dianggap sebagai bagian penting dari pertanian.
Pencemaran Tanah dan Kebakaran Hutan
Selain terdegradasi oleh erosi, lahan pertanian juga mengalami penurunan kualitas akibat penggunaan bahan agrokimia, yang meninggalkan residu zat kimia dalam tanah atau pada bagian tanaman seperti buah, daun, dan umbi. Hasil penelitian menunjukkan adanya residu insektisida pada beras dan tanah sawah di Jawa, seperti organofosfat, organoklorin, dan karbamat (Ardiwinata et al. 1999; Harsanti et al., 1999; Jatmiko et al. 1999). Pencemaran tanah juga terjadi di daerah pertambangan, seperti pertambangan emas liar di Pongkor, Bogor, yang menyebabkan pencemaran air raksa (Hg) dengan kadar 1,27-6,73 ppm sampai jarak 7-10 km dari lokasi pertambangan. Pencemaran tanah juga ditemukan di kawasan industri, seperti industri tekstil, kertas, baterai, dan cat. Bahan-bahan kimia yang sering menimbulkan pencemaran tanah antara lain adalah Na, NH4, SO4, Fe, Al, Mn, Co, dan Ni (Tim Peneliti Baku Mutu Tanah 2000).
Proses degradasi tanah sebagai akibat kebakaran hutan terjadi setiap tahun, terutama di Kalimantan, Sumatera, Sulawesi, dan Papua. Menurut Bakornas-PB dalam Kartodihardjo (2006), pada tahun 1998-2004 di Indonesia terjadi 193 kali kebakaran hutan, yang mengakibatkan 44 orang meninggal dan kerugian harta-benda senilai Rp647 miliar.
Menurut Bappenas (1998), sekitar 1,5 juta ha lahan gambut di Indonesia terbakar selama musim kering 1997 dan 1998. Parish (2002) melaporkan terjadinya kebakaran gambut seluas 0,5 juta ha di Kalimantan pada musim kering 1982 dan 1983. Selain tanaman dan sisa-sisa tanaman yang ada di permukaan tanah, berbagai material turut hangus terbakar, seperti humus dan gambut. Menurut Jaya et al. (2000), kebakaran hutan mengakibatkan hilangnya serasah dan lapisan atas gambut. Kerugian lainnya berupa gangguan terhadap keanekaragaman hayati, lingkungan hidup, kesehatan manusia dan hewan, serta kelancaran transportasi (Musa dan Parlan 2002).
Banjir, Longsor, dan Konversi Lahan
Degradasi lahan pertanian juga sering disebabkan oleh banjir dan longsor, yang membawa tanah dari puncak atau lereng bukit ke bagian di bawahnya. Proses ini menimbulkan kerusakan pada lahan pertanian baik di lokasi kejadian maupun areal yang tertimbun longsoran tanah, serta alur di antara kedua tempat tersebut. Proses degradasi lahan pertanian (dalam makna yang sebenarnya), yang tergolong sangat cepat menurunkan bahkan menghilangkan produktivitas pertanian adalah konversi ke penggunaan nonpertanian.
Pada tahun 1981-1999, di Indonesia terjadi konversi lahan sawah seluas 1,6 juta ha; dan sekitar 1 juta ha di antaranya terjadi di Jawa (Irawan et al. 2001). Winoto (2005) menyatakan sekitar 42,4% lahan sawah beririgasi (3,1 juta ha) telah direncanakan untuk dikonversi. Kondisi terburuk terjadi di Jawa dan Bali, karena 1,67 juta ha atau 49,2% dari luas lahan sawah berpotensi untuk dikonversi.
Dampak Degradasi Tanah
Degradasi tanah tidak hanya berdampak buruk terhadap produktivitas lahan, tetapi juga mengakibatkan kerusakan atau gangguan fungsi lahan pertanian.

Produksi dan Mutu Hasil Pertanian
Erosi tanah oleh air menurunkan produktivitas secara nyata melalui penurunan kesuburan tanah, baik fisika, kimia maupun biologi. Langdale et al. (1979) dan Lal (1985) melaporkan bahwa hasil jagung menurun 0,07-0,15 t/ha setiap kehilangan tanah setebal 1 cm. Hal ini terjadi karena tanah lapisan atas memiliki tingkat kesuburan paling tinggi, dan menurun pada lapisan di bawahnya. Penyebab utama penurunan kesuburan tersebut adalah kadar bahan organik dan hara tanah makin menurun, tekstur bertambah berat, dan struktur tanah makin padat.
Penurunan produktivitas dan produksi pertanian juga dapat terjadi akibat proses degradasi jenis lain seperti kebakaran hutan (lahan) dan longsor, serta konversi lahan pertanian ke nonpertanian.

Sumber Daya Air
Erosi tanah bukan hanya berdampak terhadap daerah yang langsung terkena, tetapi juga daerah hilirnya, antara lain berupa pendangkalan dam-dam penyimpan cadangan air dan saluran irigasinya, pendangkalan sungai, dan pengendapan partikel-partikel tanah yang tererosi di daerah cekungan. Dengan demikian bukan saja lahan yang terkena dampak, tetapi juga kondisi sumber daya air menjadi buruk.

Multifungsi Pertanian
Lahan pertanian memiliki fungsi yang besar bagi kemanusiaan melalui fungsi gandanya (multifunctionality). Selain berfungsi sebagai penghasil produk pertanian (tangible products) yang dapat dikonsumsi dan dijual, pertanian memiliki fungsi lain yang berupa intangible products, antara lain mitigasi banjir, pengendali erosi, pemelihara pasokan air tanah, penambat gas karbon atau gas rumah kaca, penyegar udara, pendaur ulang sampah organik, dan pemelihara keanekaragaman hayati (Agus dan Husen 2004). Fungsi sosial-ekonomi dan budaya pertanian juga sangat besar, seperti penyedia lapangan kerja dan ketahanan pangan. Eom dan Kang (2001) dalam Agus dan Husen (2004) mengidentifikasi 30 jenis fungsi pertanian di Korea Selatan.
Fungsi-fungsi tersebut dapat terkikis secara gradual oleh erosi dan pencemaran kimiawi, dan dapat berlangsung lebih cepat lagi dengan terjadinya longsor, banjir, dan konversi lahan. Multifungsi tersebut perlu dilindungi, antara lain dengan strategi sebagai berikut: (1) meningkatkan citra pertanian beserta multifungsinya, (2) mengubah kebijakan produk pertanian harga murah, (3) meningkatkan upaya konservasi lahan pertanian, dan (4) menetapkan lahan pertanian abadi (Abdurachman 2006a).

Konservasi Tanah Dalam Kerangka Revitalisasi Pertanian
Konservasi Tanah dan Air
Konservasi tanah dalam arti yang luas adalah penempatan setiap bidang tanah pada cara penggunaan yang sesuai dengan kemampuan tanah tersebut dan memperlakukannya sesuai dengan syarat-syarat yang diperlukan agar tidak terjadi kerusakan tanah.
Dalam arti yang sempit konservasi tanah diartikan sebagai upaya mencegah kerusakan tanah oleh erosi dan memperbaiki tanah yang rusak oleh erosi.
Konservasi air pada prinsipnya adalah penggunaan air hujan yang jatuh ke tanah untuk pertanian seefisien mungkin, dan mengatur waktu aliran agar tidak terjadi banjir yang merusak dan terdapat cukup air pada waktu musim kemarau.
Konservasi tanah mempunyai hubungan yang sangat erat dengan konservasi air. Setiap perlakuan yang diberikan pada sebidang tanah akan mempengaruhi tata air pada tempat itu dan tempat-tempat di hilirnya. Oleh karena itu konservasi tanah dan konservasi air merupakan dua hal yang berhuibungan erat sekali; berbagai tindakankonservasi tanah adalah juga tindakan konservasi air.
Konservasi tanah sangat penting untuk mengatasi degradasi lahan yang merupakan salah satu dari empat ancaman utama terhadap pelaksanaan RPPK, khususnya pada sektor pertanian di mana ketahanan pangan menjadi salah satu pilar utama. Keempat ancaman tersebut adalah: (1) pelandaian dan stagnasi produktivitas padi akibat kemandegan implementasi inovasi teknologi, (2) ketidakstabilan produksi padi akibat cekaman hama dan penyakit serta iklim, (3) degradasi sumber daya pertanian, terutama lahan dan air, serta (4) konversi lahan pertanian.
Kebijakan dan Strategi Revitalisasi Pertanian RPPK yang dicanangkan oleh Presiden pada Juni 2005 merupakan strategi umum untuk meningkatkan kesejahteraan petani, nelayan dan petani hutan, serta menjaga kelestarian sumber daya alam (Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian 2005). Dalam RPPK ditetapkan tiga butir kebijakan dan strategi umum, yaitu:
1. Pengurangan kemiskinan dan kegureman, pengurangan pengangguran, serta pencapaian skala ekonomi usaha PPK, terutama melalui pengelolaan pertanahan, tata ruang dan keagrariaan, fasilitasi pengembangan kesempatan kerja dan berusaha di luar usaha tani, pengembangan agroindustri pedesaan, diversifikasi kegiatan produksi, serta pengembangan infrastruktur dan kelembagaan usaha tani.
2. Peningkatan daya saing, produktivitas, nilai tambah, dan kemandirian produksi dan distribusi PPK, terutama melalui praktek pertanian yang baik (good agriculture practice), pengembangan usaha baru dan multiproduk, agroindustri pedesaan, infrastruktur, kelembagaan usaha tani, pengembangan akses terhadap berbagai hambatan usaha dan sumber ekonomi biaya tinggi, serta perlindungan usaha atas persaingan tidak adil.
3. Pelestarian dan pemanfaatan lingkungan hidup dan sumber daya alam secara berkelanjutan, terutama melalui pengelolaan konservasi, pertanahan, tata ruang dan keagrariaan, serta mendorong pengembangan usaha, penerapan teknologi dan kelembagaan yang ramah lingkungan, serta penegakan hukum.
Ketiga butir kebijakan dan strategi tersebut terkait erat dengan aspek konservasi tanah, yaitu terkendalinya proses degradasi lahan, sehingga sistem pertanian menjadi berkelanjutan dan masyarakat lebih sejahtera.

C. Strategi Pengelolaan yang Gagal Kasus Lahan Kering
Mengingat semakin terbatasnya lahan basah, pengembangan lahan kering merupakan alternatif untuk pengembangan tanaman pangan yang dapat diandalkan dan hemat air. Mengingat lahan kering ini tersebar hampir merata di banyak tempat dan etnis di Indonesia, pengembangan pengelolaan lahan kering untuk pemantapan ketahanan pangan nasional dapat diintegrasikan dengan peningkatan kesejahteraan masyarakat setempat secara berkelanjutan. (Grootaert, 1998).
Sebagian besar lahan kering (terutama dataran tinggi) telah mengalami kerusakan yang parah. Sejalan dengan itu tingkat kehidupan masyarakat di lahan kering selama sekitar seabad (kasus di Jawa), juga mengalami stagnasi dan kemerosotan. Ini menandakan bahwa pengelolaan lahan kering di pedesaan setempat masih belum sesuai yang diharapkan (Prakash, 1997), termasuk untuk penguatan ketahanan pangan lokal. Masyarakat pedesaan setempat sedikit banyak telah memiliki pengetahuan (indigenous knowledge) yang cukup memadai untuk mengelola lahan keringnya secara baik dan berkelanjutan. Secara teknis masayarakat lahan kering juga memiliki daya response cukup baik terhadap inovasi pengelolaan lahan kering untuk produksi bahan pangan. Para petugas pemerintah atau penyuluh juga telah banyak membantu petani menyampaikan tentang pengetahuan teknis mengelola lahan kering yang baik dan berkelanjutan.
Jaringan masyarakat madani yang berorientasi memperbaiki kondisi lahan kering untuk produksi bahan pangan masih relatif terbatas. Ditinjau dari hubungan transaksional (ekonomi), antara masyarakat lahan kering (hulu DAS) dan lahan basah (hilir DAS), terjadi ketimpangan yang tinggi dan telah berlangsung lama. Masyarakat lahan basah selama puluhan tahun menikmati nilai lebih dari jasa lingkungan yang dihasilkan masyarakat lahan kering (hulu DAS). Ketimpangan ini di satu sisi menguntungkan masyarakat lahan basah, namun di sisi lain merugikan masyarakat lahan kering. Pranadji (2005b) menyebutkan bahwa jika ketimpangan transaksional yang tajam ini dibiarkan terus berlangsung maka hal itu bisa mengarah pada kehancuran bersama (tragedy of the common). Jasa baik masyarakat lahan kering di daerah hulu DAS dalam menyediakan air sehingga masyarakat di daerah hilir DAS dapat menghasilkan bahan pangan secara relative mudah hampir tidak pernah dihitung, apalagi mendapat kompensasi ekonomi.
Di luar aspek teknis dan biofisik, ketidaktepatan pengelolaan sumberdaya lahan (kering) dan air untuk produksi pangan di Indonesia ditunjukkan oleh hal-hal berikut :
1) Masih banyak lahan kering di perbukitan dan dataran tinggi Yang funsinya untuk daerah tangkapan air justru diusahakan untuk kegiatan usahatani tanaman pangan atau tanaman semusim. Lahan kering seperti ini lebih cocok jika diusahakan untuk usahatani keras, atau bahkan lebih baik dihijaukan dan dijadikantempat berkembangnya industry pedesaan skala ecil dan rumah tangga berbasis bahan baku hasil pertanian.
2) Gambaran struktur agraria (dalam berntuk penguasaan lahan untuk pangan) yang timpang yang menyebabkan pengelolaan sulit diarahkan untuk memecahkan masalah kekurangan produksi pangan dan kemiskinan masyarakat setempat secara komprehensif.
3) Tidak berkembangnya khasanah budaya local, akibat tidak terbangunnya masyarakat madani yang cerdas di tingkat local, dalam menggeser atau mencegah terjadinya kerusakan lahan kering yang lebih parah lagi, menyebabkan sistem pengelolaan sumber daya lahan dan air secara lintas sub-DAS sulit diwujudkan.
4) Sebagai konsekuensi tidak dijalankannya reformasi agraris, khususnya land-reform, sebagian bersar petani terjebak dalam dilemma petani gurem.
5) Secara alamiah, pembentukan modal sosial mengikuti penyebaran lahan dan usaha pertanian. Pada agroekosistem lahan kering yang tempat usahatani tanaman pangan serba terpencar di pedesaan, hal itu menyebabkan pembentukan modal sosialnya untuk pengelolaan lahan kering tidak mudah.
6) Di banayk tempat, yang prasarana ekonominya cukup tersedia, sudah banyak lahan kering yang dijadikan obyek spekulasi “tuan tanah”. Lemahnya sistem hukum menjadi penyebab terjadinya hal ini.
7) Pendataan dan sertifikasi sumberdaya lahan kering tidak seintensif seperti halnya yang dijumpai pada masyarakat berlahan basah.

Manajemen Pengelolaannya
Perbaikan pengelolaan lahan kering tidak bisa semata-mata dilandaskan pada implementasi inovasi teknologi (misalnya) konservasi secara fisik; melainkan juga harus dilandaskan pada partisipasi masyarakat secara total (deep participation) dan juga inovasi kelembagaan lainnya. Oleh sebab itu pemberdayaan masyrakat dalam pengelolaan lahan kering perlu mendapat penekanan lebih khusus. Selama masyarakat masih lemah di bidang pemenuhan kebutuhan dasar dan tingkat kehidupan ekonominya juga lemah, maka selama itu pula upaya perbaikan pengelolaan lahan kering akan sulit mencapai hasil seperti yang diharapkan (Habisch, 1999). Tanpa pemberdayaan masyarakat pedesasn setempat secara bertingkat hampir mustahil pengelolaan lahan kering dapat dijalankan secara intensif dan berkelanjutan.

Pengolahan Tanah Minimum
Pengolahan tanah minimum adalah teknik konservasi tanah dimana gangguan mekanis terhadap tanah diupayakan sesedikit mungkin. Dengan cara ini kerusakan struktur tanah dapat dihindari sehingga aliran permukaan dan erosi berkurang. Teknik ini juga mengurangi biaya dan tenaga kerja untuk pengolahan tanah dan mengurangi biaya / tenaga kerja untuk penyiangan secara mekanik. Pengolahan tanah minimum cukup efektif dalam mengendalikan erosi, dan biasa dilakukan pada tanah-tanah yang berpasir dan rentan terhadap erosi.
Pengolahan tanah minimum hanya dapat dilakukan pada tanah yang gembur. Tanah gembur dapat terbentuk sebagai hasil dari penggunaan mulsa secara terus menerus dan / atau pemberian pupuk hijau / pupuk kandang / kompos dari bahan organik yang lain secara terus menerus. Penerapan teknik pengolahan tanah minimum selalu perlu disertai pemberian mulsa.
Keuntungan:
• Menghindari kerusakan struktur tanah
• Mengurangi aliran permukaan dan erosi
• Memperlambat proses mineralisasi, sehingga penggunaan zat-zat hara dalam bahan-bahan organik lebih berkelanjutan.
• Tenaga kerja yang lebih sedikit daripada pengelolaan penuh, sehingga mengurangi biaya produksi.
• Dapat diterapkan pada lahan-lahan marginal yang jika tidak dengan cara ini mungkin tidak dapat diolah.
Kelemahan:
• Persiapan bedengan yang kurang memadai dapat menyebabkan pertumbuhan yang kurang baik dan produksi yang rendah, terutama untuk tanaman seperti jagung dan ubi.
• Perakaran mungkin terbatas dalam tanah yang berstruktur keras.
• Lebih cocok untuk tanah yang gembur
• Pemberian mulsa perlu dilakukan secara terus menerus
• Herbisida diperlukan apabila pengendalian tanaman pengganggu tidak dilakukan secara manual / mekanis.

DAFTAR PUSTAKA
Anonymous. 2010. Konsep Dasar Konservasi Tanah dan Air. http://bebasbanjir2025. wordpress.com/04-konsep-konsep-dasar/konservasi-tanah-dan-air/. Diakses pada 20 Mei 2010
Anonymous. 2010. Agroforesti. http://arkanuddinmrum.blogspot.com/2009/11/ agroforestri-sebagai-bentuk-pengelolaan.html. Diakses pada 20 Mei 2010
Abdurachman, A., A. Barus, U. Kurnia, dan Sudirman. 1985. Peranan pola tanam dalam usaha pencegahan erosi pada lahan pertanian tanaman semusim. Pemberitaan Penelitian Tanah dan Pupuk 4: 41-46.
Abdurachman, A. 2006a. Strategi mempertahankan multifungsi pertanian di Indonesia. Jurnal Penelitian dan Pengembangan Pertanian 24 (5): 99-105.
Agus, F. dan E. Husen 2004. Tinjauan umum multifungsi pertanian. Seminar Nasional Multifungsi Pertanian dan Ketahanan Pangan. Bogor. 12 Oktober 2004.
Ardiwinata, A.N., S.Y. Jatmiko, dan E.S. Harsanti. 1999. Monitoring residu insektisida di Jawa Barat. dalam Risalah Seminar Hasil Penelitian Emisi GRK dan Peningkatan Produksi Padi di Lahan Sawah Menuju Sistem Produksi Padi Berwawasan Lingkungan. Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Pangan, Bogor.
Bappenas (Badan Perencanaan Pembangunan Nasional). 1998. Planning for Fire Prevention and Drought Management Project, Jakarta. BMG (Badan Meteorologi dan Geofisika). 1994. Rainfall types in Indonesia. BMG. Jakarta BPS (Badan Pusat Statistik). 2003-2004. Statistik Indonesia. Badan Pusat Statistik, Jakarta.
Cooper, P.J.M., Leakey, R.R.B., Rao, M.R and Reynolds, L. 1996. Agroforestri and Mitigation of Land Degradation in the Humid and Sub Humid Trofical of Africa, Experimental Agriculture 32, 249-261.
Departemen Kehutanan. http://www.dephut.org.id/ diakses tanggal 25 Februari 2008
Flint,ML and R Van Den Bosh. 1981. Introduction To Integrated Pest Management. PLENUM PRESS.NY
Grootaert, c. 1998. Social Capital: The Missing Link?. Environmentally and Socially Sustainable Development. The World Bank
Habisch, E. A. 1999. Social Capital, Poverty Reduction and Gesellschaftsord-nugspolitik. ‘Workshop of the Workshop ‘2 Conference, June, 9-13, IUB, http://www.indiana.edu./~workshop/wow2/publications/jum1199.pdf [19/03/2004]
Hairiah K, Widianto, SR Utami dan B Lusiana (editor). 2002. WaNuLCAS: model simulasi untuk sistem agroforestri. International Centre for Research in Agroforestry southeast Asian Regional Research Programme (ICRAF-SEA), Bogor.
Musa, S. dan I. Parlan. 2002. The 1997/1998 forest fire experience in Peninsular Malaysia. Workshop on Prevention and Control of Fire in Peatland. Kuala Lumpur, Malaysia, 19-21 March 2002. p. 8.
Narain, P. dan S.S. Grewal, 1994. Agroforestry for Soil and Water Conservation India Experience. Center Soil and Conservation Research and Training Maitute, Dehra Dun 48 195 , India 8th International Soil and Water Conservation.Challenges and Opportunities. Vol. 2.
Partosedono, R.S. 1977. Effects of Man’s Activity on Erosion in Rural Environments and Feasibility Study for Rehabilitation. Publ. 113: 53-54. Paris. IAHS AISH. Parish, F. 2002. Peat-lands, biodiversity and climate change in SE Asia, an overview. Workshop on Prevention and Control of Fire in Peatlands. Kuala Lumpur, Malaysia, 19-21 March 2002. p. 11.
Prakash, S. 1977. Poverty and Environtment Linkages in Mountain and Uplands: Reflection onthe “Poverty Trap”. Thesis. CREED Working Paper. No 12, February, 1997
Rony, 2008. Pertanian Berkelanjutan. http://m4h4rony.wordpress.com/2008/02/09/ pertanian-berkelanjutan/ diakses tanggal 25 Februari 2008.
Satjapradja, D., 1981. Agroforestri di Indonesia, Pengertian dan Implementasinya. Makalah. Seminar Agroforestri dan Perladangan, Jakarta.
Subagyo, H., N. Suharta dan A.B.Siswanto 2000. Tanah-tanah pertanian di Indonesia. hlm. 21-66. Dalam Abdurachman et.al. (Ed.). Sumberdaya Lahan Indonesia dan Pengelolaannya. Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanah dan Agroklimat, Bogor. Suwardjo, 1981 Peranan Sisa-sisa Tanaman dalam Konservasi Tanah pada Usahatani Tanaman Semusim. Disertasi. Institut Pertanian Bogor.
Tim Peneliti Baku Mutu Tanah. 2000. Pengkajian Baku Mutu Tanah pada Lahan Pertanian. Laporan Akhir kerja sama antara Proyek Pengembangan Penataan Lingkungan Hidup Bappeldada Jakarta dan Pusat Penelitian Tanah dan Agroklimat. No. 50/Puslittanak.
Young A. 1997. Agroforestry for soil management Wallingford, UK.Chichakly K, J Gass, M Newcomb, J Pease and K Richmond. 1996. STELLA. High performance ystems, Inc. 45 Lyme Road, Hannover, NH 03755, USA

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s