INDIKATOR KUALITAS AGROEKOSISTEM SEHAT DILIHAT DARI ASPEK TANAH

Menurut Ghildyal (1984) agroekosistem ialah ekosistem yang diubah sebagian oleh orang untuk menghasilkan pangan, serat dan hasil pertanian lainnya
Dalam suatu agroekosistem terdapat sistem kehidupan antara komponen-komponen biotik dan abiotik yang saling berinteraksi satu sama lain. Salah satu komponen abiotik yang penting dalam suatu agroekosistem yaitu tanah.
Agroekosistem dapat dibedakan menjadi agroekosistem sehat dan tidak sehat. Dilihat dari aspek tanah maka terdapat tanah yang sehat dan tanah yang tidak sehat yang memiliki indikator/kriteria bagaimana suatu tanah tersebut dikatakan sehat ataupun tidak sehat bagi suatu agroekosistem. Dalam paper ini akan dibahas bagaimanakah kriteria/indikator kualitas agroekosistem yang sehat dilihat khusus dari aspek tanah dan bagaimana cara pengelolaan/manajemen untuk mempertahankan bahkan meningkatkan kualitas agroekosistem sehat yang telah ada.

A. DEFINISI KUALITAS TANAH
Istilah kesehatan tanah atau kualitas tanah yang diaplikasikan pada agroekosistem menunjuk kepada kemampuan tanah untuk mendukung secara terus menerus pertumbuhan tanaman pada kualitas lingkungan yang terjaga (Magdoff, 2001). Menurut The Soil Science Society of Amerika, yang dimaksud dengan Kualitas Tanah (soil quality) adalah kapasitas dari suatu jenis tanah yang spesifik untuk berfungsi di alam atau dalam batas ekosisten terkelola, untuk mendukung produktivitas biologi, memelihara kualitas lingkungan dan mendorong kesehatan hewan dan tumbuhan (Herrick, 2000). Jhonson et. al. (1997 dalam Doran dan Zeiss, 2000) mendefinisikan kualitas tanah sebagai suatu ukuran kondisi relatip tanah untuk kebutuhan satu atau lebih spesies biologi dan atau untuk suatu tujuan manusia. Untuk aplikasi di bidang pertanian, yang dimaksud dengan kualitas tanah adalah kemampuan tanah untuk berfungsi dalam batas-batas ekosistem yang sesuai untuk produktivitas biologis, mampu memelihara kualitas lingkungan dan mendorong tanaman dan hewan menjadi sehat (Magdoff, 2001).

B. DEFINISI KESEHATAN TANAH
Terdapat berbagai definisi tentang kesehatan tanah, bahkan sering dicampur-adukkan dengan kualitas tanah. Menurut Elliott (1997) sehat berarti bebas dari penyakit dan mampu berfungsi secara normal. Jadi tanah yang sehat (healthy soil) adalah tanah yang mampu memberikan daya guna (performance) dan fungsi intrinsik dan ekstrinsik (Madoff, 2001).
Kesehatan tanah didefinisikan sebagai kapasitas secara berlanjut dari suatu tanah untuk berfungsi sebagai suatu sistem hidup yang vital dalam ekosistem dan batas-batas tataguna untuk menopang produktivitas biologi, menaikkan kualitas lingkungan udara dan air dan menjaga kesehatan tanaman, hewan dan manusia (White dan Maccnaughton, 1997).
Ciri-ciri tanah yang sehat adalah :
(1) Populasi organismenya beragam dan aktif
(2) Memiliki dalam jumlah tinggi residu yang relatif segar sebagai sumber makanan organism
(3) Memiliki dalam jumlah tinggi bahan organik yang terhumifikasi untuk mengikat air dan muatan negatif untuk pertukaran kation (Magdoff, 2001).
Aspek lain dari tanah yang sehat adalah kondisi fisiknya yaitu tingkat kepadatan, jumlah air tersimpan dan drainase. Kondisi fisik tanah terutama mempengaruhi bahan organik karena polisakarida dan poliuronida selama proses dekomposisi mendorong pembentukan agregat tanah. Disamping itu sekresi dari fungi mikoriza juga penting dalam mendorong agregasi tanah (Magdoff, 2001). Jumlah hara tersedia, pH, kandungan garam dan lain lain juga penting dalam menentukan tanah yang sehat. Tanaman dapat tertekan pertumbuhannya akibat rendahnya jumlah hara, tingginya senyawa yang bersifat meracun seperti Al atau tingginya konsentrasi garam (Magdoff, 2001). Kesemua aspek biologi, kimia dan fisika saling berinteraksi dan memberikan pengaruh satu dengan lainnya.

C. INDIKATOR/KRITERIA KESEHATAN TANAH
Dari Segi Kimia Tanah
1) Bahan Organik Tanah
Bahan organik sendiri merupakan bahan-bahan yang dapat diperbaharui, didaur ulang, dirombak oleh bakteri-bakteri tanah menjadi unsur yang dapat digunakan oleh tanaman tanpa mencemari tanah dan air. Bahan organik tanah merupakan penimbunan dari sisa-sisa tanaman dan binatang yang sebagian telah mengalami pelapukan dan pembentukan kembali. Bahan organik demikian berada dalam pelapukan aktif dan menjadi mangsa serangan jasad mikro. Sebagai akibatnya bahan tersebut berubah terus dan tidak mantap sehingga harus selalu diperbaharui melalui penambahan sisa-sisa tanaman atau binatang.
Sumber primer bahan organik tanah adalah jaringan organik tumbuhan baik berupa daun, batang, ranting, buah maupun akar. Tumbuhan memproduksi bahan organik dari penggunaan energi matahari untuk menyatukan karbondioksida dari atmosfer dan air dari tanah. Bahan organik tanah terbentuk oleh siklus bahan organik ini dalam tumbuhan, hewan, dan mikroorganisme di dalam tanah. Dalam pengelolaan bahan organik tanah, sumbernya juga berasal dari pemberian pupuk organik berupa pupuk kandang, pupuk hijau dan kompos, serta pupuk hayati (inokulan).
Secara langsung bahan organik tanah merupakan sumber senyawa-senyawa organik yang dapat diserap tanaman meskipun dalam jumlah sedikit, seperti alanin, glisin dan asam-asam amino lainnya, juga hormone/zat perangsang tumbuh dan vitamin.
Secara fisik, biomass (bahan organic) berperan :
a) Memengaruhi warna tanah menjadi coklat-hitam
b) Merangsang granulasi, serta
c) Menurunkan plastisitas dan kohesi tanah
d) Memperbaiki struktur tanah menjadi lebih remah, dan
e) Meningkatkan daya tanah menahan air sehingga drainase tidak berlebihan, kelembapan dan tempratur tanah menjadi stabil.
Disamping sebagai sumber bahan organik tanah, tanaman penutup tanah (canopy) dapat berfungsi menetralisir daya rusak butir-butir hujan dan menekan aliran (run off), yang kemudian dapat menghambat erosi dan pelindian hara. Hal ini dapat dilihat dengan adanya pengaru positif tanaman penutup tanah terhadap sifat-sifat fisik tanah.
Secara kimiawi biomass berperan sebagai :
a) Bagian mudah terurai dari biomass melalui proses mineralisasi akan menyumbangkan sejumlah ion-ion hara tersedia
b) Senyawa sisa mineralisasi dan senyawa sulit terurai melalui proses humifikasi akan menghasilkan humus tanah yang terutama berperan secara koloidal
c) Selama proses dekomposisi, sejumlah hara tersedia akan diakumulasikan ke dalam sel-sel mikrobia, yang apabila ini mati mudah dimineralisasikan kembali, sehingga menghindarkan ino-ion hara ini dari pelindian oleh aliran massa air
d) Koloidal organik ini melalui muatan listriknya dapat meningkatkan kapasitas tukar kation (KTK) tanah 30 kali lebih besar daripada koloidal anorganik (liat dan mineral oksida berdiameter < 1µm)
e) Melalui kemampuannya dalam mencengkam (chilate) koloid/ mineral oksida bermuatan positif dan kation-kation terutama Al dan Fe yang reaktif, menyebabkan fiksasi P tanah menjadi ternetralisir, serta adanya asam-asam organic hasil dekomposisi bahan organik yang mampu melarutkan P dan unsure lain dari pengikatnya.
Secara biologis, biomass merupakan sumber energi dan hara bagi jasad biologis tanah terutama heterotrofik.
Kandungan bahan organik dalam setiap jenis tanah tidak sama. Hal ini tergantung dari beberapa hal yaitu; tipe vegetasi yang ada di daerah tersebut, populasi mikroba tanah, keadaan drainase tanah, curah hujan, suhu, dan pengelolaan tanah. Pengelolaan tanah yang dimaksud berarti berhubungan dengan cara manusia memperlakukan suatu lahan. Apabila peran bahan organik yang bergitu penting berhubungan dengan kualitas tanah, kesehatan tanah, dan kesuburan tanah tersebut diabaikan, maka suatu lahan tersebut tidak sehat. Bahan organik dapat ikut berpartisipasi untuk meningkatkan produktivitas lahan. Oleh karena itu diperlukan manajemen lahan agar keberadaan bahan organik tanah tetap ada dan memberi dampak positif terhadap keberlanjutan suatu agroekosistem.
Bahan organik di dalam tanah dapat berkurang disebabkan beberapa hal berikut :
a) Erosi, lapisan topsoil yang kaya bahan organik dapat terbawa oleh air
b) Pada beberapa sistem pertanian dapat mengurangi bahan organik yang baru terbentuk di dalam tanah
c) Pengolahan tanah membuat lapisan topsoil yang kaya bahan organik bercampur dengan lapisan subsoil yang rendah bahan organik
d) Pengolahan tanah dapat memecahkan agregat tanah dan ditampakkan sebelum bahan organic terlindungi akitivitas mikroba
e) Pada kondisi panas basah yang mendukung proses dekomposisi, bahan organik dalam tanah yang gundul (tanpa vegetasi diatasnya) dapat rusak dengan cepat.
Praktek yang menurunkan bahan organik tanah :
1) Menurunkan produksi material tanaman dengan :
• Mengganti vegetasi yang tetap tumbuh dengan tumbuhan musim pendek
• Mengganti vagetasi campuran (heterokultur) dengan tanaman monokultur

2) Menurunkan ketersediaan materi organik dengan :
• Membakar hutan atau sisa panen
• Menggembala
• Memindahkan produk tanaman (hasil tanaman)
3) Meningkatkan dekomposisi dengan :
• Pengolahan secara intensif
• Drainase
• Pemupukan (kecuali dengan nitrogen)
2) pH Tanah (Kemasaman Tanah) dan Adanya Unsur Beracun
Reaksi tanah menunjukkan sifat kemasaman atau alkalinitas tanah yang dinyatakan dengan nilai pH. Nilai pH menunjukkan banyaknya konsentrasi ion hydrogen (H+) di dalam tanah. Semakin tinggi kadar ion H+di dalam tanah, semakin masam tanah tersebut. Hal ini berbanding terbalik dengan ion OH- di dalam tanah. Pada tanah alkalis kandungan OH- lebih banyak dari H+. Bila kandungan ion H+ sama dengan OH- maka tanah bereaksi netral yaitu mempunyai pH=7.
Tanah bersifat asam karena berkurangnya kation Kalsium, Magnesium, Kalium dan Natrium. Unsur-unsur tersebut terbawa oleh aliran air kelapisan tanah yang lebih bawah atau hilang diserap oleh tanaman.
Di Indonesia pH tanah umumnya berkisar 3-9 tetapi untuk daerah rawa seeperti tanah gambut ditemukan pH dibawah 3 karena banyak mengandung asam sulfat sedangakan di daerah kering atau daerah dekat pantai pH tanah dapat mencapai di atas 9 karena banyak mengandung garam natrium.
Pentingnya pH tanah adalah untuk :
1) Menentukan mudah tidaknya ion-ion unsur hara diserap oleh tanaman.
Pada umumnya unsur hara mudah diserap oleh akar tanaman pada pH tanah netral 6-7, karena pada pH tersebut sebagian besar unsur hara mudah larut dalam air.
2) pH tanah juga menunjukkan keberadaan unsur-unsur yang bersifat racun bagi tanaman. Pada tanah asam banyak ditemukan unsur alumunium yang selain bersifat racun juga mengikat phosphor, sehingga tidak dapat diserap oleh tanaman. Pada tanah asam unsur-unsur mikro menjadi mudah larut sehingga ditemukan unsur mikro seperti Fe, Zn, Mn dan Cu dalam jumlah yang terlalu besar, akibatnya juga menjadi racun bagi tanaman.
3) pH tanah sangat mempengaruhi perkembangan mikroorganisme di dalam tanah.
Pada pH 5.5 – 7 bakteri jamur pengurai organik dapat berkembang dengan baik.
pH optimum untuk ketersediaan unsur hara tanah adalah sekitar 7,0 karena pada pH ini semua unsur hara makro tersedia secara maksimum kecuali Mo, sehingga kemungkinan terjadinya toksisitas unsur mikro tertekan.
Tindakan pemupukan tidak akan efektif apabila pH tanah diluar batas optimal. Pupuk yang telah ditebarkan tidak akan mampu diserap tanaman dalam jumlah yang diharapkan, karenanya pH tanah sangat penting untuk diketahui jika efisiensi pemupukan ingin dicapai. Pemilihan jenis pupuk tanpa mempertimbangkan pH tanah juga dapat memperburuk pH tanah.
Derajat keasaman (pH) tanah sangat rendah dapat ditingkatkan dengan menebarkan kapur pertanian, sedangkan pH tanah yang terlalu tinggi dapat diturunkan dengan penambahan sulfur. Dapat disimpulkan, secara umum pH yang ideal bagi pertumbuhan tanaman adalah mendekati 6.5-7. Namun kenyataannya setiap jenis tanaman memiliki kesesuaian pH yang berbeda.
Untuk pengelolaan pH tanah yang berbeda-beda dalam suatu agroekosistem maka apabila suatu lahan digunakan untuk pertanian maka pemilihan jenis tanamannya disesuaikan dengan pH tanah apakah tanaman yang diusahakan sesuai dan mampu bertahan dengan pH tertentu.
3) Ketersediaan Unsur Hara
Batas pengertian tentang unsur hara sebagai berikut : bahwa unsur hara merupakan ion atau molekul tertentu yang diserap oleh tanaman bagi keperluan faal atau fisiologisnya, atau secara singkat ion misalnya : K+, Ca++, NO3-, SO42- dan mengenai molekul misalnya : O2, CO2, H2O yang diasimilasikan.
Unsur hara merupakan zat makanan untuk tanaman di bagi dalam 2 golongan, yaitu :
a) Unsur hara makro : C, H, O, N, P, K, Ca, Mg, dan S
b) Unsur hara mikro : Fe, Mn, B, Mo, Cu, Zn, Cl, dan Co
Unsur hara tersebut merupakan unsur hara esesnsial yaitu unsure hara yang sangat diperlukan oleh tanaman, dan fungsinya dalam tanaman tidak dapat digantikan oleh unsure lain, sehingga bila tidak terdapat dalam jumlah yang cukup di dalam tanah, tanaman tidak dapat tumbuh dengan normal.
Hal tersebut mendasari bahwa ketersediaan unsur hara sebagai zat makanan bagi tanaman memanglah sangat penting, dan jumlah hara yang tersedia pada tanah merupakan salah satu indikator untuk menentukan kesehatan dan kesuburan tanah. Tanaman dapat tertekan pertumbuhannya apabila jumlah hara yang tersedia rendah.
Namun apabila tanah kekurangan unsur hara dapat dilakukan pemupukan yang mengandung unsur hara tertentu sehingga tanaman tetap dapat menyerap zat makanan. Namun perlu diperhatikan penggunaan pupuk tersebut agar tidak berlebihan dan tidak pupuk kimiawi saja namun juga pupuk organik yang juga baik untuk mempertahankan kesuburan tanah.

Dari Segi Fisika Tanah
1) Kompaksi / Pemadatan Tanah
Berkurangnya pori-pori tanah umumnya disebabkan pemadatan/kompaksi tanah, makin padat tanah itu makin berkurangnya pori-pori tanah dan infiltrasi air ke dalam tanah akan lebih menurun pula.
Terjadinya pemadatan tanah, terutama dikarenakan :
a) Tumbukan butir-butir hujan pada permukaan tanah
b) Pengolahan tanahd engan menggunakan mesin-mesin berat
c) Penggembalaan ternak dan seringnya terinjak-injak
Tertutupnya lubang pori-pori atau berkurangnya pori-pori karena terjadinya pemadatan akan menurunkan kegiatan infiltarasi, air di permukaan tidakdiberi kesempatan untuk merembes sehingga aliran permukaan akan terus berlangsung. Menurut penelitian, kapasitas infiltrasi dapat pula menurun jika di dalam tanah terdapat lapisan kedap, yang biasanya merupakan lapisan tanah liat, menjadi penghalang perembesan air ke dalam tanah. Pemadatan-pemadatan tanah hanya dapat dihilangkan dengan melakukan pengolahan tanah yang aktif (sering dilaukan pencangkulan) dan menanaminya dengan jenis tanaman yang bermanfaat.
Kompaksi berhubungan dengan infiltrasi dan porositas di dalam tanah, jika tingkat infiltrasi rendah maka sering terjadi genangan dan aliran permukaan. Jika porositas rerndah akan mempengaruhi kedalaman efektif tanah dan tingkat perakaran tanaman dangkal, akar tidak dapat menembus tanah bagian bawah sehingga penyerapan unsur hara akan terganggu dan pertumbuhan tanaman juga terganggu.
Pada agroekosistem yang sehat kecil kemungkinan terjadi kompaksi/pemadatan tanah karena pengolahan yang dilakukan pasti sudah memikirkan dampak terhadap keadaan fisik tanah itu sendiri, misalnya apabila pengolahan selalu dilakukan dengan alat berat maka kecenderungan terjadi pemadatan tanah memang lebih besar, namun apabila hanya dilakukan minimum tillage atau bahkan zero tillage maka kecenderungan terjadinya pemadatan tanah juga semakin kecil.
2) Drainase
Mudah tidaknya air hilang dari tanah menentukan kelas drainase tanah tersebut. Air dapat hilang melalui permukaan tanah maupun melalui peresapan ke dalam tanah. Berdasar klas drainasenya, tanah dibedakan menjadi kelas drainase terhambat (tergenang) sampai sangat cepat (air sangat cepat hilang dari tanah).
Klas drainase ditentukan di lapang dengan melihat adanya gejala-gejala pengaruh air dalam penampang tanah. Gejala-gejala tersebut antara lain adalah warna pucat, kelabu, atau adanya bercak-bercak karatan. Warna pucat atau kelabu kebiru-biruan menunjukkan adanya pengaruh genangan air yang kuat sehingga merupakan petunjuk adanya tanah berdrainase buruk.
Keadaan drainase tanah menentukan jenis tanaman yang dapat tumbuh. Sebagai contoh, padi dapat hidup pada tanah-tanah dengan drainase buruk, tetapi jagung, karet, cengkeh, kopi dan lain-lain yang biasanya tumbuh pada lahan kering tidak akan dapat tumbuh dengan baik kalau tanahs elalu tergenang air.
Dari penjelasan tersebut, maka pada umumnya untuk jenis tanah pada lahan kering, klas drainase yang baik yaitu yang sedang dalam mengalirkan air, tanah tersebut mampu untuk menahan air tetapi tidak mengalami genangan di atas permukaannya. Sedangkan tanah pada lahan baah seperti persawahan dan lahan gambut maka drainasenya buruk tetapi tetap dapat dimanfaatkan untuk penanaman jenis tanaman tertentu seperti padi dan bakau.
4) Erosi Tanah
Erosi adalah terangkutnya atau terkikisnya tanah atau bagian tanah ke tempat lain. Meningkatnya erosi dapat diakibatkan oleh hilangnya vegetasi penutup tanah dan kegiatan pertanian yang tidak mengindahkan kaidah konservasi tanah. Erosi tersebut umumnya mengakibatkan hilangnya tanah lapisan atas yang subur dan baik untuk pertumbuhan tanaman. Oleh sebab itu erosi mengakibatkan terjadinya kemunduran sifat-sifat fisik dan kimia tanah.
Erosi merupakan penyebab utama kerusakan lahan dan lingkungan. Permasalahan degradasi lahan dan beratnya erosi disebabkan oleh:
a) Curah hujan yang mempunyai nilai erosivitas tinggi,
b) Tanah peka erosi,
c) Kemiringan lereng melebihi batas kemampuan lahan untuk tanaman pangan,
d) Cara pengelolaan tanah dan tanaman yang salah termasuk kebiasaan membakar dan cara pembukaan lahan yang salah, dan
e) Tindakan konservasi lahan yang belum memadai.
Tanah yang sehat dalam agroekosistem yang sehat tentu minim erosi. Karena tergantung pengolahannya, apabila manajemen pengolahan tanahnya baik maka terjadinya erosi dapat diminimalkan. Namun apabila cara pengelolaannya buruk maka terjadinya erosi juga dapat lebih tinggi.

Dari Segi Biologi Tanah
1) Keanekaragaman biota dan fauna tanah
Di dalam tanah terdapat berbagai jenis biota tanah, antara lain mikroba (bakteri, fungi, aktinomisetes, mikroflora, dan protozoa) serta fauna tanah. Masing-masing biota tanah mempunyai fungsi yang khusus. Dalam kaitannya dengan tanaman, mikroba sangat berperan dalam membantu pertumbuhan tanaman melalui penyediaan hara (mikroba penambat N, pelarut P), membantu penyerapan hara (cendawan mikoriza arbuskula), memacu pertumbuhan tanaman (penghasil hormon), dan pengendali hama-penyakit (penghasil antibiotik, antipatogen). Demikian pula fauna tanah, setiap grup fauna mempunyai fungsi ekologis yang khusus. Keanekaragaman biota dalam tanah dapat digunakan sebagai indikator biologis kualitas tanah.
Aktivitas beberapa grup fauna tanah menguntungkan bagi tanaman, tetapi beberapa grup fauna tanah lainnya dapat merugikan tanaman. Secara keseluruhan, aktivitas berbagai grup biota tanah menciptakan agroekosistem lahan.
Grup-grup fauna tanah yang menguntungkan antara lain yang berperan sebagai:
(1) Saprofagus,
yaitu fauna pemakan sisa-sisa organik sehingga mempercepat proses dekomposisi dan mineralisasi serta meningkatkan populasi mikroba tanah;
(2) Geofagus,
yaitu fauna pemakan campuran tanah dan sisa organik, yang secara tidak langsung dapat meningkatkan porositas, membantu penyebaran hara, memperbaiki proses hidrologi tanah, dan meningkatkan pertukaran udara di dalam tanah; dan
(3) Predator,
yaitu fauna pemakan organisme pengganggu sehingga berperan sebagai pengendali populasi hama- penyakit tanaman.
Biota tanah memegang peranan penting dalam siklus hara di dalam tanah, sehingga dalam jangka panjang sangat mempengaruhi keberlanjutan produktivitas lahan. Salah satu biota tanah yang berperan sebagai saprofagus maupun geofagus adalah cacing tanah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa cacing tanah dapat meningkatkan kesuburan tanah melalui perbaikan sifat kimia, fisik, dan biologis tanah. Kascing (pupuk organik bekas cacing atau campuran bahan organik sisa makanan cacing dan kotoran cacing) mempunyai kadar hara N, P dan K 2,5 kali kadar hara bahan organik semula, serta meningkatkan porositas tanah (pori total dan pori drainase cepat meningkat 1,15 kali). Penggunaan cacing Pheretima hupiensis, yang merupakan cacing tanah anagaesis (cacing yang memakan bahan organik di permukaan dan hidup di dalam tanah) dengan populasi 1 ekor/kg tanah, disertai pemberian bahan organik 5 t/ha dapat meningkatkan hasil jagung varietas Sukmaraga hingga 40%. Secara alami, ketersediaan nutrisi cacing tanah dipenuhi oleh hasil aktivitas organisme lain seperti mesofauna tanah.
Mesofauna memecah bahan organik kasar menjadi serpihan yang lebih halus, yang selanjutnya berubah menjadi koloid-koloid organik sehingga menyediakan nutrisi bagi cacing tanah. Selanjutnya cacing mendistribusikan nutrisi tersebut (membawanya ke dalam liang cacing) ke areal sekitarnya sehingga merangsang perkembangan mikroorganisme tanah. Berbagai aktivitas mikroorganisme tanah, mikroflora dan fauna saling mendukung keberlangsungan proses siklus hara, membentuk biogenic soil structure yang mengatur proses fisik, kimia, dan hayati tanah.
Pemanfaatan biota tanah sebagai agens hayati yang menguntungkan, baik secara langsung maupun tidak langsung, dalam membantu pertumbuhan tanaman merupakan peluang yang sangat besar dalam melestarikan kesuburan dan produktivitas tanah. Oleh karena itu, di samping diperlukan pengetahuan tentang kemampuan dan keunggulan biota tanah dalam menjalankan fungsi ekologis, juga perlu diciptakan teknologi aplikasi biota yang tepat dalam pengelolaan lahan kering.

D. BEBERAPA STRATEGI DALAM PENGELOLAAN TANAH SEHAT
Tanah yang sehat merupakan kondisi yang diharapkan untuk memperoleh tanaman yang sehat. Kesehatan tanaman dipengaruhi secara langsung penyerapan senyawa organik tertentu yang dihasilkan apabila organisme tanah mendekomposisi bahan organik.
Kesehatan tanaman secara tidak langsung terpengaruh apabila salah satu mikroorganisme menekan perkembangan mikroorganisme yang lain sehingga menghambat pertumbuhan tanaman. Apabila tanaman tumbuh, maka terjadi ketidakseimbangan kondisi ekologi karena keanekaragaman alamiah dari ekosistem menurun. Prinsip ekologi dasar adalah mencoba untuk memperbaiki keseimbangan alamiah yang ada. Pada umumnya penyakit tanaman yang berasal dari tanah akan menurun apabila ditambahkan bahan organik, karena pertumbuhan organisme penyebab penyakit dihambat oleh mikroorganisme lain atau karena terjadi peningkatan jumlah antagonisme. Makin banyak jumlah dan variasi mikroorganisme tanah makin baik penanggulangan patogen secara biologi.
Keseimbangan pemupukan merupakan dasar kesehatan tanaman. Terlalu banyak atau terlalu sedikit hara tanaman akan membuat tanaman mudah terserang penyakit atau hama. Terlalu banyak pemupukan nitrogen, pertumbuhan vegetatif tanaman berlebihan, tetapi tanaman peka terhadap penyakit. Bahaya ini berkurang apabila pemupukan organik dilakukan, karena bahan organik secara perlahan melepas hara.
Pengelolaan bahan organik, pengolahan tanah dan pengelolaan kesehatan tanah kemungkinan tidak cukup untuk menciptakan kondisi yang menguntungkan pertumbuhan tanaman, karena curah hujan terlalu tinggi atau terlalu rendah; air tanah terlalu dangkal; kelerengan tanah yang curam; atau tanah bersifat impermeabel, kahat salah satu unsur, terlalu masam. Maka diperlukan usaha perbaikan pengatusan, pemanenan air dan pembuatan teras, dan pemupukan. Petani tidak selalu mempunyai modal atau waktu untuk melakukan investasi. Pemilihan jenis tanaman dan ternak harus menyesuaikan dengan kondisi agroekosistem setempat.
Pengelolaan yang dapat dilakukan untuk memperbaiki kesehatan tanah membutuhkan pendekatan yang menyeluruh dan terpadu yang melibatkan para pelaksana dengan komitmen jangka panjang dan menggunakan kombinasi berbagai sifat biologi, kimia dan fisika. Tindakan yang dilakukan pada prinsipnya adalah bagaimana mengurangi stres tanaman dan meningkatkan daya tahan tanah terhadap berbagai organisme musuh tanaman dan bahan yang bersifat meracun. Tanaman yang tumbuh pada lingkungan yang sehat sehingga tidak mengalami stress akan memiliki pertumbuhan dan daya tahan terhadap serangan hama penyakit yang lebih baik.
Menurut Magdoff ( 2001) ada beberapa strategi dasar yang dapat dilakukan untuk memperbaiki kesehatan tanah yaitu :
a. Penambahan dalam jumlah besar bahan organik yang berasal dari residu tanaman termasuk tanaman penutup tanah, kotoran hewan dan kompos. Jenis bahan organik yang berbeda memiliki pengaruh yang berbeda terhadap sifat fisik, kimia dan biologi tanah. Kompos yang telah terdekomposisi lanjut tidak mempengaruhi agregasi tetapi dapat menekan penyakit tanaman.
b. Menjaga tanah agar selalu tertutup vegetasi dan residu tanaman. Penggunaan penutup tanah ini akan melindungi permukaan tanah dari kelembaban dan temperatur yang ekstrim serta meningkatkan infiltrasi tanah sehingga akan lebih banyak menyediakan air untuk tanaman dan pada waktu yang sama juga akan mengurangi aliran permukaan (run off) dan erosi. Mengurangi intensitas pengolahan tanah sehingga akan lebih banyak residu tanaman tertinggal dipermukaan tanah dan ini akan mengurangi oksidasi bahan organik tanah
c. Melakukan rotasi tanaman pada sistem pertanaman semusim termasuk menanam tanaman tahunan (biasanya rumput makanan ternak) jika memungkinkan.
d. Melakukan berbagai praktek lainnya untuk mengurangi erosi seperti sistem tanaman lorong. Sebab erosi selain merusak tanah secara fisik juga mengurangi kesehatan tanah melalui pengangkutan tanah yang kaya bahan organik dari lapisan atas tanah.
e. Mengurangi pengaruh yang berlebihan akibat pemadatan tanah yang dapat dilakukan dengan menghindarkan tanah terlalu basah, dengan menggunakan jalur pengontrol.

Upaya- upaya untuk menjaga keberlanjutan bahan organik tanah:
a. Mencegah erosi
b. Menggunakan sistem pola tanam : diversifikasi, sisa panen kembali
c. Meminimalisasikan pengolahan tanah atau tidak secara intensif
d. Tidak membekar sisa hasil panen
e. Pemupukan organik dan sintetik dilakukan secara seimbang
Membatasi kehilangan hara
Kehilangan hara dan dalam tanah dapat dibatasi melalui:
a. Mendaur ulang limbah organik, dalam bentuk: pupuk kandang, pupuk asti (asal tinja), limbah pertanaman, limbah pengolahan hasil pertanian, limbah rumah tangga, dengan cara mengembalikan di lahan pertanian secara langsung atau melalui perlakuan (proses pengomposan, fermentasi dll);
b. Menangani pupuk organik dan buatan sedemikian rupa sehingga unsur hara tidak banyak yang hilang karena hujan yang berlebihan atau volatilisasi karena temperatur dan radiasi matahari yang tinggi;
c. Mengurangi terjadinya aliran permukaan (run off) dan erosi, yang mampu menghilangkan hara tanaman dalam jumlah yang cukup besar;
d. Mengurangi pembakaran vegetasi (tebas-bakar/slash and burn) apabila sistem usaha tani dilakukan secara intensif, karena melalui pembakaran akan menghilangkan kandungan bahan organik tanah banyak sekali;
e. Mengurangi terjadinya volatilisasi nitrogen melalui proses denitrifikasi di lahan sawah;
f. Menghindarkan terjadinya pelindian dengan menggunakan bahan organik dan pupuk buatan yang mampu melepaskan hara secara perlahan, mempertahankan kandungan humus tetap tinggi, pertanaman campuran/ganda dengan komposisi tanaman yang mempunyai kedalaman sistem perakaran berbeda;
g. Membatasi kehilangan hara bersama hasil panen dengan cara menanam tanaman yang mempunyai nilai ekonomi tinggi nisbi terhadap kandungan hara, misalkan, buah-buahan, leguminose, rumput dan susu;
h. Menghasilkan produksi swasembada, sehingga beberapa jenis produksi dapat diekspor, dan limbahnya dapat dimanfaatkan sebagai makanan ternak atau pupuk organik.
Kehilangan hara dari lahan pertanian ke pasar tidak dapat dihindarkan, karena petani memerlukan biaya untuk membayar pajak, kebutuhan rumah tangga sehari-hari, dll. Demikian juga tidak mungkin menghindarkan sama sekali kehilangan hara akibat erosi dan peilindian.
Penanggulangan erosi
Seperti telah disampaikan oleh Fujisaka (1991) dan Sutanto, (1992) bahwa terdapat 13 alasan utama mengapa petani lahan kering tidak mengadopsi inovasi teknologi. Alasan tersebut adalah:
(1) petani tidak menghadapi masalah dengan lahannya,
(2) inovasi teknologi tidak sepadan dengan kondisi petani,
(3) petani tidak mengenal erosi,
(4) fasilitas inovasi tidak dapat berfungsi sepenuhnya,
(5) identifikasi proyek yang dilakukan tidak tepat,
(6) tidak sepadan dengan kebiasaan petani,
(7) tidak berpengaruh langsung pada lahan milik petani tetapi berpengaruh di tempat lain,
(8) variasi kondisi lokasi menyulitkan dalam inovasi,
(9) memerlukan modal biaya tinggi,
(10) tidak pernah dilakukan penyuluhan yang tepat,
(11) lahan garapan bukan hak milik,
(12) konotasi sosial yang bersifat negatif,
(13) pelaksanaan inovasi tidak sesuai dengan kenyataan di lapangan.
Erosi tanah juga dapat ditanggulangi dengan mengadakan konservasi (pengawetan) tanah dan air, adapun metodenya yaitu :
• Melindungi tanah dari curahan langsung air hujan
• Meningkatkan kapasitas infiltrasi tanah
• Mengurangi run off
• Meningkatkan stabilitas agregat tanah
Tata air merupakan teknik pengaturan dan konservasi air atau lengas tanah agar tanaman dapat memperolehnya dengan optimal. Azas pengaturan air sangat sederhana, yaitu membuang/mengurangi air bila tanah kelebihan air dan menambah air bila tanah kekurangan air. Pengelolaan hara tanaman merupakan tindakan mencermati ketersediaan hara, kecukupan hara, imbangan hara, mewaspadai gejala keracunan hara atau unsur pencemar lain, kegaraman, serta kemasaman dan kebasaan tanah.
Konservasi tanah tidak hanya melindungi tanah dari erosi, tetapi juga melestarikan karakter fisik, kimia, dan hayati tanah agar tanah memiliki kesuburan yang seimbang dan produktif. Rehabilitasi tanah merupakan tindakan pemulihan kesuburan tanah pada lahan yang telah tua, terkena erosi berat, atau tercemar limbah industri dan perkotaan. Reklamasi tanah merupakan tindakan perbaikan tanahtanah bermasalah, seperti tanah berkadar garam tinggi di wilayah pantai atau di daerah beriklim kering.
Keluaran penelitian tanah setidaknya mencakup enam hal mengacu tupoksi ilmu tanah, dengan produk berupa resep mengolah, memberdayakan secara optimal, memelihara, dan memperbaiki tanah agar selalu segar, subur, produktif, dan lestari. Juga tidak mengesampingkan pewilayahan sistem produksi dan teknologi budi daya, mengingat adanya tuntutan sektor agroindustri yang selama ini terabaikan, yaitu kontinuitas penyediaan bahan baku dengan kualitas produk yang memenuhi standar agroindustri.
Pengolahan Tanah pada Tipe Lahan Berbeda
Pengolahan tanah merupakan kegiatan mendasar dalam budi daya tanaman. Pengolahan tanah meliputi pengolahan sempurna hingga pengolahan tanah minimal atau tanpa olah tanah (TOT). Bentuk dan kualitas pengolahan tanah ditentukan oleh prasyarat tumbuh tanaman dan jenis tanah.
Prinsip umum pengolahan tanah yang optimal adalah menyiapkan media tumbuh dengan struktur tanah gembur (remah) untuk pertanaman sistem kering (upland) seperti palawija, dan struktur tanah melumpur (moody) untuk pertanaman sistem basah/tergenang (lowland) seperti padi.

Pengelolaan lahan merupakan salah satu faktor terpenting dalam mencapai hasil yang optimal dan berkelanjutan. Oleh karena itu, pengelolaan lahan (tanah) harus diupayakan tanpa menyebabkan kerusakan terhadap lingkungan maupun menurunkan kualitas sumber daya lahan, dan sebaiknya diarahkan pada perbaikan struktur fisik, komposisi kimia, dan aktivitas biota tanah yang optimum bagi tanaman. Dengan demikian, interaksi antara komponen-komponen biotik dan abiotik tanah pada lahan memberikan keseimbangan yang optimal bagi ketersediaan hara dalam tanah, yang selanjutnya menjamin keberlangsungan produktivitas lahan, dan keberhasilan usaha tani. Melalui sistem tersebut diharapkan akan terbentuk agroekosistem yang stabil dengan masukan dari luar yang minimum, tetapi dapat meningkatkan pertumbuhan dan hasil tanaman tanpa menurunkan kualitas lingkungan.

DAFTAR PUSTAKA
Anonymous. 2010. http://soil.faperta.ugm.ac.id/jitl/3.1%202002%2029-37%20rahman.pdf. Diakses pada 26 April 2010
Anonymous. 2010.http://rudyct.com/PPS702-ipb/05123/abdul_kadir.htm. Diakses pada 26 April 2010
Anonymous. 2010.http://rudyct.com/PPS702-ipb/05123/abdul_kadir.htm. Diakses pada 26 April 2010
Anonymous. 2010.http://radeseama.blogspot.com/2010/02/slptt-padi.html. Diakses pada 26 April 2010
Anonymous. 2010.http://soil.faperta.ugm.ac.id/tj/1991/1996%20pend.pdf. Diakses pada 26 April 2010
Anonymous. 2010.http://www.rudyct.com/PPS702-ipb/09145/sarifuddin.pdf. Diakses pada 26 April 2010
Anonymous. 2010.http://124.81.86.180/publikasi/ip024093.pdf. Diakses pada 26 April 2010
Anonymous. 2010.http://www.dpi.nsw.gov.au/__data/assets/pdf_file/0010/199459/Ses4-Activity-proposal.pdf. Diakses pada 26 April 2010
Anonymous. 2010. www.http://www.goldenagro.net63.net. Diakses pada 26 April 2010
Elliot, E. T. (1997) Rationale for developing bioindicators of soil health. In C. Pankhurst,
B.M. Doube and V.V.S.R. Gupta (eds). Biological indicators of Soil Health. CAB International. UK 49-78
Fujisaka, S. 1991. Thirteen reasons why farmers do not adopt innovations intended to improve the sustainability of upland agriculture. Dalam: J. Dumanski, E. Puspharajah, M. Latham, R. Myers (Eds.): Evaluation for Sustainable Land Management in the Developing World. IBSRAM Proc. No.12 (II): hal. 509-521.
Ghildyal, B.P. 1984. Rethinking soil physics research. Jour. Indian Soc. Soil Sci. 32:556-574.
Hanafiah, Kemas Ali. 2005. Dasar-Dasar Ilmu Tanah. PT. Raja Grafindo Persada. Jakarta
Hardjowigeno, Sarwono. 2003. Ilmu Tanah. Akademika Pressindo. Jakarta
Herrick, J. E. (2000) Soil Quality: an indicator of sustainable land management ?.
Applied Soil Ecology. (15) 75-83. www. Elsevier.com/ locate/apsoil.
Magdoff, F. (2002) Concept, componen and strategies of soil health in agroecosystems.
Journal of Nematology 33 (4); 169-172.
Sutedjo, Mul Mulyani. 2005. Pengantar Ilmu Tanah. PT. Rineka Cipta. Jakarta
Sutanto, R. 1992. Pengembangan lahan kering berwawasan konservasi di wilayah permukiman Waduk Kedungombo. Mimeograph Konsultan P.T. lndah Karya kepada Proyek Jratunseluna.
White D. C. and S. J. Maccnaughton, (1997) Chemical and molecular approaches for
rapid assessment of the biological status of soils. In C. Pankhurst, B.M. Doube
and V.V.S.R. Gupta (eds). Biological Indicators of Soil Health. CAB International. UK. 371- 396.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s