Partisi Asimilat

Proses Fotosintesis
Fotosintesis ialah suatu proses pada tumbuha hijau untuk menyusun senyawa organik dari karbon dioksida dan air. Proses ini hanya akan terjadi jika ada cahaya dan melalui perantara pigmen hijau korofil yang terletak pada organel sitoplasma tertentu yang disebut kloroplas. Fotosintesis dapat terjadi di sembarang bagian hijau tumbuhan, akan tetapi pada beberapa tumbuhan darat yang kusus proses ini berlangsung hanya pada bagian daun dengan permukaan yang luas dan kloroplas yang melimpah.
Karena kutikula relatif kedap gas, maka karbon dioksida harus memasuki daun terutama lewat stomata. Setelah berada di dalam daun, karbon dioksida itu berdifusi ke dalam sistem ruang udara antar sel dan larut dalam air yang menjenuhkan dinding sel-sel mesofil. karbon dioksida ini lalu berdifusi atau bergerak aktif karena aliran protoplasma, melalui air pada sitoplasma memasuki kloroplas. Pada daun juga terjadi proses sintesis pati dan senyawa organik lain yang langsung terbentuk dari hasil fotosintesis, yang mana proses ini juga diikuti oleh respirasi dan translokasi hasil-hasil fotosintesis yang keluar dari daun ke bagian lain tumbuhan.
Akumulasi bahan makanan cadangan dalam berbagai organ tumbuhan merupakan aktivitas tumbuhan yang sangat nyata. Pada tumbuhan semusim, bahan makanan terkumpul dalam biji, tetapi pada tanaman tahunan bahan makanan tersimpan juga dalam organ-organ lainnya. Tentunya bahan makanan simpanan ini dapat berakumulasi hanya jika fotosintesis telah berlangsung.
Selama proses fotosintesis pembentukan karbohidrat sepanjang siang hari akan lebih cepat daripada pengangkutannya oleh respirasi dan translokasi, sehingga ada akumulasi dalam bentuk pati. Oleh kerana itu akan terjadi penyimpanan hasil pati yang mungkin banyak dalam kloroplas selama sehari penuh. Pada malam hari, jika fotosintesis berhenti, respirasi dan translokasi karbohidrat berjalan terus, sehingga kandungan pati dalam daun berkurang sepanjang malam sampai tinggal sedikit atau habis sama sekali pada pagi hari.
Menurut Klepper (1991) tunas mengalami peningkatan karbohidrat pada siang dan malam hari, sedangkan akar berat keringnya meningkat pada siang hari dan menurun kembali berat keringnya pada malam hari. Hal ini menunjukkan bahwa suplai karbohidrat ke akar pada malam hari terbatas. Pada sebuah penelitian menyatakan bahwa hubungan pertumbuhan akar dan tunas manggis sebagaimana dijelaskan oleh Borchert (1973) bahwa pada tanaman berkayu terdapat keseimbangan antara luas permukaan penyerapan air di akar dengan luas permukaan daun yang mengalami transpirasi. Hubungan pertumbuhan tajuk dan akar merupakan mekanisme homeostatik dan upaya memelihara keseimbangan pertumbuhan tajuk dan akar sangat tergantung dengan metabolit (Kaufman et al., 1995). Lebih lanjut Wright (1989) menunjukkan bahwa sink yang kuat pada saat pertumbuhan vegetative adalah pucuk daun yang sedang membesar. Namun setelah daun menjadi source terjadi perubahan pembagian asimilat ke organ lain seperti akar dan batang (Salisbury dan Ross, 1992). Semakin tua tanaman manggis jumlah tajuk yang tumbuh semakin banyak dengan semakin banyaknya percabangan, sedangkan pertumbuhan akarnya terbatas.
Menurut Geiger (1987) distribusi asimilat pada tanaman dapat dipengaruhi oleh berkurangnya daun yang berfungsi sebagai source dalam distribusi hasil fotosintesis dan metabolisme. Oleh karena itu pada beberapa tanaman tertentu dilakukan perontokan daun agar distribusi asimilat bisa terarah pada pembentukan bunga sebagai proses pertumbuhan generatif tanaman.

Persaingan Untuk Mendapatkan Asimilat Pada Tumbuhan
Kepadatan buah yang rendah merupakan salah satu penyebab belum tercapainya target produksi. Menurut McKelvie (1956) tanaman kakao dewasa yang tumbuh subur dapat menghasilkan 5.000-10.000 bunga dalam setahun. Hanya sekitar 500-1.000 bunga (10%) yang mengalami penyerbukan, selebihnya bunga yang mekar dalam waktu 24 jam tidak diserbuki akan gugur. Bunga yang telah diserbuki berkembang menjadi buah pentil (cherelle) hanya sekitar 10-30%, sedangkan 70-90% pentil lainnya akan mengalami layu atau kematian fisiologis (cherelle wilt). Menurut Alvim (1974), cherelle wilt pada kakao diduga disebabkan karena adanya persaingan dalam mendapatkan asimilat, terutama karbohidrat. Persaingan ini terjadi antara buah dengan buah dan antara buah dengan pertumbuhan pucuk yang aktif (Humphries, 1943). Daryanto (1977), mengatakan bahwa cherelle wilt nampak jelas setelah terjadi flush yang sangat banyak. Tunas baru yang terbentuk merupakan pesaing yang sangat kuat bagi buah muda dalam menggunakan asimilat.
Menurut Tjasadihardja (1981) pada tanaman kakao terlihat kecenderungan bahwa pusat pertumbuhan vegetatif merupakan pemakai asimilat yang dominan dibandingkan pusat pertumbuhan generatif. Keadaan seperti ini sesuai dengan konsep Hormone Directed Transport yang dikemukakan oleh Wareing dan Patrick (1976) dalam Tjasadihardja (1987) bahwa asimilat bergerak kearah tanaman yang mengandung zat tumbuh dalam konsentrasi tinggi. Penyemprotan zat pengatur tumbuh pada buah dimaksudkan untuk meningkatkan konsentrasi zat pengatur tumbuh pada buah, sehingga asimilat yang dihasilkan dipakai untuk perkembangan buah secara optimal. Hal ini sangat mempengaruhi persentase penurunan cherelle wilt pada kakao.
Pentil layu terjadi karena dalam tanaman kakao terjadi persaingan dalam mendapatkan asimilat, apabila asimilat habis digunakan oleh bagian lain (daun, tunas dan sebagainya) maka buah muda yang kurang mempunyai kemampuan dalam menyerap asimilat tidak mampu menggunakan asimilat sehingga terjadilah layu pentil.
Hasil penelitian Salamala (1990) menunjukkan bahwa ada hubungan positif antara pembentukan pentil kakao dengan banyaknya pentil layu. Semakin banyak buah muda atau pentil kakao yang terbentuk maka semakin banyak pentil kakao yang mengalami pentil layu. Pentil yang terbentuk tidak sebanding dengan daya dukung tanaman. Asimilat yang tersedia untuk pertumbuhan buah muda sangat terbatas, sehingga menyebabkan persaingan di antara buah muda yang terbentuk dan buah muda yang tidak mampu menyerap asimilat, akan mengalami layu pentil. Nichols (1965) menyatakan bahwa layu pentil merupakan suatu mekanisme dari tanaman kakao untuk mengurangi banyaknya buah agar sesuai dengan daya dukung.
Opille dalam Nur dan Zaenudin (1999) mengemukakan buah merupakan organ tanaman yang memerlukan dukungan asimilat paling banyak untuk pertumbuhannya. Semakin banyak buah yang muncul semakin banyak pula persaingan yang terjadi untuk mendapatkan asimilat.

DAFTAR PUSTAKA
Borchert, R.1973. Simulation of rythmic growth under constant conditions. Physiol. Plant. 29: 173- 180.
Daryanto. 1977. Beberapa Catatan Tentang Pembungaan dan Pembentukan Buah Kakao. Menara Perkebunan 45(2): 95-100.
Kaufman, P.B., Wu, L L, Brock T G dan Kim, D. 1995. Hormones and the orientation of growth p: 547 – 571 In. Davies, P.J. (Edt). Plant hormones, physiology, biochemistry and molecular biology. 2 nd Ed.Kluwer Acad. Publ. Netherlands. 833 p.
Loveless. A.R. 1991. Prinsip-prinsip Biologi Tumbuhan untuk Daerah Tropik. PT Gramedia Pustaka Utama. Jakarta
McKelvie A.D. 1956. Cherelle Wilt of Cacao. I. Pod Development and Its Realition to Wilt. J. Expp. Bot. 7(20):250-263.
Nichols, R. 1965. Studies of Fruit Development of Cacao (Theobroma cacao L.) in Relation to Cherelle Wilt. I. Development of the pericarp. Ann. Bot. N. S., 28(112): 619-635.
Nur, A. M. dan Zaenudin. 1999. Perkembangan Buah dan Pemulihan Pertumbuhan Kopi Robusta Akibat Cekaman Kekeringan. Pelita Perkebunan. 15(3): 162-174
Salamala, M. 1990. Pengaruh Zat Pengatur Tumbuh Auksin dan Unsur Mikro Terhadap “Cherelle Wilt” Pada Kakao (Theobroma cacao L.). [Tesis] Bogor : Fakultas Pascasarjana Institut Pertanian Bogor.
Salisbury, F.B. and Ross, C W. 1992. Plant Physiology 4th edt. Wadsworth Publ. Co. California. 682 p.
Sutarmi, Siti. 1984. Botani Umum 2. Angkasa. Bandung
Tjasadihardja, A. 1981. Pertumbuhan dan Pola Pembentukan Buah dan Pengaruh Perlakuan Zat Pengatur Tumbuh Terhadap Kelayuan Buah-Muda dan Hasil Buah/Biji Cokelat (Theobroma cacao L). [Tesis] Bogor : Fakultas Pasca Sarjana. IPB.
Wright, C.J. 1989. Interactions between vegetative and reproductive growth. p: 15 – 28 In Wright, C.J.(edt.) Manipulation of Fruiting. Butterworths

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s