Perkembangan Industri Perbenihan di Indonesia dan Luar Negeri

“Perkembangan Industri Perbenihan di Indonesia dan Luar Negeri serta Komponen dalam Indusrti Benih”

OLEH :
RIZKI RAMADHANI
0810480085
KELAS A

PROGRAM STUDI AGROEKOTEKNOLOGI
JURUSAN BUDIDAYA PERTANIAN
PEMINATAN PERMULIAAN TANAMAN
FP-UB
MALANG
2011

SEJARAH PERBENIHAN DI INDONESIA DAN DUNIA
Perbaikan yang pertama dalam pembenihan di Jerman dimulai pada tahun 1869 ketika Friendrick Nobbe pada suatu penelitian di kota kecil Tharandt, sekarang terletak di Jerman Selatan. Para petani primitif di Eropa hanya mengusahakan tanaman serealian dan tanaman sejenis. Biji dipanen, dimana sebagian besar untuk dikonsumsi, tetapi pada beberapa tahun setelah itu digunakan untuk tujuan pembibitan atau diusahakan. Benih yang diusahakan ini mempunyai lahan benih dimana pengawasanya tidak terkontrol dengan mudah, biji yang dipanen sebagian besar tidak murni, tetapi lama-kelamaan petani tahu bagaimana menghasilkan panen dengan benih bermutu (Thomson, 1979).
Kata “revolusi” merupakan perubahan yang besar, tetapi tidak lain istilah yang cukup memberikan pengaruh benih baru (unggul) terhadap negara miskin dimana benih menggunakan teknologi peralihan terus-menerus diperoleh oleh pusat pengembangan pertanian yang memberi perubahan dalam ekonomi, sosial dan tatanan politik negara miskin (Brown, 1970).
Pemerintah Hindia Belanda yang sangat berkepentingan untuk mengeruk dan memeras “usaha keringat” para petani Indonesia, semenjak tahun 1920-an telah mulai menaruh perhatian terhadap masalah pembenihan ini, sejalan dengan meningkatnya perbaikan cara-cara bercocok tanam. Dalam pengadaan benih padi yang baik misalnya, usaha pengadaan benih ini dengan pendirian lumbung-lumbung benih untuk para petani. Sesudah tahun 1930-an kegiatan pengadaan benih ditingkatkan lagi dengan pembangunan Balai Benih. Pembangunan sekolah pertanian di Sukabumi, Bogor yang pada waktu itu terkenal dengan hasil-hasil penelitianya sangat membantu usaha Benih tersebut, yang berfungsi sebagai sumber benih yang agak lebih baik mutunya, yang secara terus-menerus dapat memenuhi kebutuhan para petani beserta tanah-tanah pertaniannya di desa-desa (Kartasapoetra, 2003)
Pengembangan industri pemuliaan melalui teknologi rekayasa genetika sudah barang tentu memerlukan pengembangan sumber daya manusia/SDM yang profesional melalui pendidikan dan pelatihan. Di samping itu, pengembangan industri pemuliaan dan pembenihan memerlukan waktu pula yang lama dan dana investasi yang besar. Oleh karena itu, untuk menumbuhkan daya tarik yang kuat bagi pengembangan industri ini diperlukan antara lain adanya suatu peraturan atau perundangan tentang perlindungan varietas tanaman. Sudah saatnya pihak-pihak terkait dengan penyusunan dan penerbitan peraturan/perundangan tersebut bekerja keras untuk segera dapat menyelesaikannya secara tuntas (Rasaha, dkk. 1999).

PERKEMBANGAN INDUSTRI BENIH DI INDONESIA
Di Indonesia, pada zaman Belanda tahun 1920 telah mulai adanya perhatian terhadap soal perbenihan dan meningkatkan perbaikan dengan cara-cara bercocok tanam. Usaha-usahanya diarahkan kepada pengadaan benih yang kemudian diikuti dengan pendirian lumbung-lumbung benih untuk menyediakan benih bagi para petani. Pada tahun 1930 kegiatannya meningkat yaitu dengan dibangunnya balai Benih (khususnya di Jawa). Balai Benih ini berfungsi sebagai sumber benih yang agak lebih baik mutunya dan secara terus menerus dapat memenuhi kebutuhan para petani. Suatu cara yang sangat disayangkan ketika itu adalah tentang pendistribusiannya tertuju pada basis yang tidak efisien, sehingga terjadi kontaminasi yang terasa kurang manfaatnya, sebab sebagian besar petani yang produktif tidak memanfaatkannya (Kartasaputra, 2003).
Sejak tahun 1958 khusus mengenai benih padi varietas unggul, semakin banyak diperkenalkan melalui usaha-usaa intensifikasi (KOGM, SSBM, BIMAS). Dan pada tahun 1970 pemerintah menganggap perlu adanya kesatuan dalam kebijkaan mengenai kegiatan-kegiatan baik dalam hal usaha peningkatan produksi pertanian, maupun yang berkaitan dengan masalah perbenihan. Sehingga dibentuk Badan Balai nasional (BBN) dalam lingkungan administratif Departemen Pertanian. Badan ini berfungsi untuk membantu Menteri Pertanian dalam merencanakan dan merumuskan kebijaksanaan dalam bidang pembenihan. Salah satu di antara tugas pokok badan Benih nasional yaitu membentuk lembaga yang tugasnya memperbanyak dan memproduksi benih dari varietas-varietas yang ditingkatkan dan berkualitas tinggi bagi kepentingan masayarakat, khususnya para petani. Varietas-varietas ini berasal dari program Seleksi Balai Penelitian (Kartasaputra, 2003).
Untuk pengembangan industri benih nasional perlu terus dikembangkan kebijaksanaan operasional, terutama dengan optimalisasi fungsi dan pembinaan, pelayanan dan pengawasan dari pemerintah, serta meningkatkan peran swasta dalam industri benih. Upaya-upaya tersebut ditempuh antara lain: peningkatana kualitas sumber daya manusia di bidang perbenihan, pembenihan kelembagaan perbenihan, peningkatan peran Indonesia dalam organisasi benih internasional serta penciptaan iklim yang kondusif untuk mengembangkan agribisnis dan industri benih (Rasah dkk, 2003).
Ketersediaan benih yang unggul bermutu dengan paket teknologi dan kebijakan pemerintah yang memadai merupakna faktor-faktor penting penentu keberhasilan swasembada pangan disamping ketekunan berbagai pihak yang terkait dalam usaha produksi. Khusus mengenai ketersediaan benih unggul, keanggapan para pemulia tanaman dan Balai-balai Penelitian Tanaman Pangan dalam menghasilkan varietas baru yang lebih unggul daripada varietas-varietas yang ada sebelumnya dipertahankan dan ditingkatkan dengan memperhatikan spesifikasi wilayah pengembangan pertaniannya. Sementara itu pembinaan mutu benihnya jangan sampai tertinggal oleh permintaan petani maju sehingga juga memerlukan penanganan yang serius oleh semua pihak yang berada pada setiap subsisten perbenihan (Mugnisjah dan Setiawan, 1995).

INDUSTRI BENIH
Sektor industri sebagaimana yang dimaksud dalam APBN 98/99 adalah usaha industri yang berciri ekonomi masyarakat sebagai penggerak ekonomi melalui pemerataan pembangunan menetapkan program penghapusan kemiskinan serta memperluas kesempatan kerja dan kesempatan berusaha. Dengan demikian usaha pengembangan sektor agroindustri akan dapat mempercepat pengentasan kemiskinan yang dirasakan masyarakat Indonesia saat ini.
Yang dimaksud dengan industri perbenihan dan perbibitan swasta nasional adalah seluruh kegiatan dalam menghasilkan benih/bibit unggul baru berproduktivitas tinggi dan berkualitas tinggi dengan daya saing tinggi, memperbanyaknya, mengedarkannya dan memasarkannya, baik dalam satu kelembagaan usaha ataupun bagiannya, seperti: penangkar benih dan lain-lain, yang memanfaatkan potensi sumber daya hayati nasional secara bijak dan lestari. Membangun industri perbenihan dan perbibitan swasta nasional merupakan upaya mendasar dalam pembangunan sektor pertanian keseluruhan. Sebab benih dan bibit varietas unggul bermutu merupakan penentu batas atas produktivitas dan kualitas produk suatu usaha tani, baik itu usaha tani besar maupun usaha tani kecil. Membangun industri perbenihan dan perbibitan swasta nasional merupakan landasan yang baik bagi proses produksi dan industri pangan dan industri lainnya yang berbasis produk pertanian.
Produk industri perbenihan dan perbibitan swasta nasional yang unggul dan berkualitas tinggi serta murah akan menjamin keuntungan dan memperkecil resiko bagi petani produsen, baik itu dari usaha tani kecil ataupun besar (komoditi pangan dan komoditi lainnya). Bagi petani tanaman pangan penggunaan benih/ bibit unggul yang spesifik wilayah dari produk industri benih, akan memberikan jaminan keuntungan bagi usaha taninya. Dengan demikian upaya tersebut meningkatkan taraf hidup dan kesejahteraan para petani di desa-desa, serta membantu mengentaskan kemiskinan di desa-desa.
Dampak langsung dari pengembangan agroindustri adalah kebutuhan bibit yang sangat tinggi,secara komvensional kebutuhan tersebut sulit dipenuhi secara cepat. Dinegara maju,aplikasi teknologi baru seperti penggunaan benih sintetik telah dirasakan manfaatnya.
Industri benih merupakan syarat penting bagi pertanian tangguh yang berorentasi pasar. Industri benih merupakan tahap akhir perkembangan perbenihan dan termasuk dalam kelompok agribisnis. Disebut industri menurut Sadjad (1997), karena prosesnya berawal dari produk yang belum siap pakai dn berakhir menjadi produk siap pakai yang berupa benih suatu varietas tanaman. Selanjutnya dinyatakan sebagai industri hilir,industri benih menghadapi permintaan benih berkualitas yang bersumber dari permintaan pasar untuk suatu komoditas dengan syarat syarat tertentu.
Dalam pertanian maju,benih memegang peranan penting sebagai sistim penyalur(”delivery system”) atau pembawa teknologi baru (”carrier of new technology”). Beberapa teknologi baru (varietas baru) disampaikan ke petani melalui benih bermutu.kualitas benih varietas unggul harus diketahui baik sebagai komponen sebagai komponen kunci didalam paket input yang dibutuhkan untuk memperbaiki produksi tanaman maupun sebagai katalis untuk mengeksploitasi teknologi baru dalam produksi tanaman Untuk memenuhi permintaan, benih tidak dapat diproduksi secara mendadak atau secara langsung,tetapi memerlukan perencanaan yang baik. Perencanaan dan penanganan yang kurang baik dapat merugikan produksi benih.
Pemuliaan tanaman yang aktif dan produktif merupakan dasar untuk industri benih.varietas baru yang dilepas harus sampai kepetani atau kebun dengan sifat sifat yang unggul(produksi tinggi,resisten tehadap hama dan penyakit utama dll).keaslian kultival atau klon dapat dijamin melalui pengawasan mutu yang ketat yang merupakan komponen industri benih.
Berdasarkan teknologi yang digunakan industri benih dapat dibagi menjadi lima tingkat yaitu:
1. Industri benih tingkat satu. Teknologi yang digunakan sederhana, pembersihan benih hanya menggunakan tampah.
2. Industri benih tingkat dua. Industri menggunakan mesin mesin pembersih seperti “air screen cliner”.
3. Industri benih tingkat tiga. Industri ini melaksanakan pemilahan bemnih yang sudah bersih. setelah dibersikan benih dipilah berdasarkan besar, panjang, lebar, tebal, atau berat butiran. Industri benih ini benih yang prima.
4. Industri benih tingkat empat. Industri ini selau berhubungan dengan kegiatan lembaga penelitian dan pengembangan disamping proses produksinya seperti industri tingkat tiga.
5. Industri benih tingkat lima. Industri ini memiliki kemampuan untuk memproduksi benih hasil litbang sendiri. Kegiatan penelitian dan pengembangan disini,selain memproduksi hibrida yang selalu diperbaharui,juga melakukan penelitian dan pengembangan bioteknologi. Industri benih tingkat lima menerapkan teknologi sangat canggih dan memiliki kemampuan dalam mengusahankan rekayasa genetik sehingga benih yang dihasilkan memiliki keunggulan yang sangat spesifik. Industri benih tingkat lima tidak memerlukan lembaga sertifikasi eksternal karena program sertifikasnya diakreditasi sehingga kebenaran informasi mutunya terpercaya (Sadjad 1997).
Berdasarkan dasar usahanya industri benih dapat dibgi menjadi;
1. Usaha perbenihan kecil (UPK), yaitu usaha benih yang dikelola oleh rakyat dan relatif kecil serta pemasarannya terbatas pada daerah setempat. Kelompok ini mungkin dapat disamakan dengan industri benih tingkat satu.
2. Usaha perbenihan besar (UPB), yaitu usaha benih yang dilakukan oleh perusahaan atau koperasi dengan skala yang relatif besar dan jangkauan pemasaran yang lebih luas (Direktorat bina perbenihan,1998).
3. Untuk benih “ortodoks”, kelompok ini bias digolongkan pada industri benih tingkat IIV seperti untuk benihkapas, rosella, kenap, yute, linum, wijen, bungamatahari, jarak, ketumbar, jinten, adas dan juga jambu mete asal teknologinya disesuaikan.
Untuk UPK dan UPB biasanya dilakukan oleh lembaga lembaga penelitian,sedangkan untuk usaha usaha ketiga dan keempay bias dilakukan oleh pengusaha baik pemerintah atau swasta. Bila usaha usaha tersebut suda terlaksana dengan baik sesuai persyaratan maka usaha-usaha tersebut suda dapat dianggap sebagai suatu industri benih.
Di negara maju benyak tanaman kehutanan yang telah diproduksi melalui pembuatan benih sintetik Leluet,at al,1994;Rout at el,1995). Untuk produksi masal digunakan bioreactor yang dapat menghasilkan bibit berjut juta banyaknya hanya dalam wadah tertentu saja. Melalui bioreactor embrio somatic dapat menggandakan diri sebanyak banyaknya secar berkelanjutan. Nutrisi, zat pengatur tumbuh,dan oksigen diberikan secara otomatis yang telah deprogram dalam computer. Banyak harapan telah dijanjikan oleh bioteknologi untuk produksi benih sintetik dalam memenuhi kebutuhan bibit dalam jumlah besar,seragam dan kemurniannya tinggi.
Komponen dalam Industri Benih untuk Mengembangkan Perusahaan
Dalam menganalisis komponen-komponen yang terdapat dalam industri benih, maka perlu dikaji segala permasalahan dan tantangan dalam peningkatan produksi benih, kemudian dijabarkan pula upaya mengatasi hambatan industri benih.
Berikut permasalahan yang dihadapi dalam peningkatan produksi benih antara lain adalah :
1. Kebijakan
• Pemberlakuan UU No. 32 tahun 2004 tentang Pemerintah Pusat – Derah berdampak pada keberagaman kebijakan, sehingga terjadi keberagaman kelembagaan perbenihan di daerah.
• UU No. 12 1992 tentang Sistem Budidaya Tanaman tidak sesuai untuk pembangunan industri khususnya benih hortikultura.
• Keppres No. 27 tahun 1971 tentang Badan Benih Nasional tidak sesuai lagi dengan organisasi Dept. Pertanian dan perkembangan industri perbenihan saat ini.
• Lemahnya pemahaman tentang manfaat UU No. 29 Th. 2000 tentang Perlindungan Varietas Tanaman (PVT), baik di kalangan para pengusaha maupun di kalangan para pejabat,
• Belum efektifnya penegakan hukum di bidang perbenihan.
2. Kelembagaan
• Badan Benih Nasional hanya berfungsi dalam pelepasan varietas.
• Lembaga Sertifikasi Sistem Mutu benih TPH belum tersosialisasikan dengan baik.
• BPSB berada di bawah Dinas Pertanian propinsi sehingga kurang leluasa dalam pengawasan mutu dan peredaran benih.
• Di propinsi kedudukan Balai Benih Hortikultura berada di bawah seksi/kasubdin produksi pada Dinas Pertanian Provinsi sehingga kurang leluasa dalam mengalokasikan kegiatan dalam pengembangan perbenihan.
• Sebagian besar penangkar benih belum mampu memproduksi benih bersertifikat.
• Asosiasi perbenihan belum sepenuhnya mendukung upaya pemerintah dalam membangun industri benih dalam negeri.
3. Infrastruktur
• Keterbatasan sarana dan prasarana di balai benih hortikultura, BPSB dan penangkar
• Keterbatasan sarana dan prasarana dalam mendukung penerapan Sistem Informasi Manajemen perbenihan.
• Sarana laboratorium kultur jaringan milik pemerintah maupun swasta belum dimanfaatkan secara optimal.
4. Teknologi
• Perakitan varietas hortikultura oleh pemulia dalam negeri dan promosi hasilnya masih terbatas.
• Keterbatasan ketersediaan benih sumber untuk diperbanyak oleh produsen dan penangkar benih
• Teknologi produksi benih belum diterapkan secara luas.
5. Sumberdaya Manusia (SDM)
• Terbatasnya jumlah dan kualitas pemulia terutama pada produsen benih kelas menengah ke bawah.
• Terbatasnya kemampuan penyuluh dalam aspek perbenihan
• Keterbatasan jumlah pengawas benih yang menjadi Penyidik Pegawai Negeri Sipil (PPNS).
• Keterbatasan jumlah dan kemampuan petugas balai benih dan BPSB.
• Terbatasnya kemampuan penangkar benih dalam memproduksi benih.
• Dirasakan masih kurangnya minat para pemulia dan teknolog perbenihan untuk terjun ke dalam industri perbenihan dan perbibitan swasta nasional.
6. Lain-lain
• Keterbatasan modal usaha untuk penangkaran benih.
• Keterbatasan dana operasional bagi Balai Benih dan BPSB.
• Keterbatasan mendapatkan informasi dan data akurat yang diperlukan dalam perencanaan kebutuhan, penyediaaan dan penggunaan benih.
• Belum optimalnya pemasyarakatan penggunaan benih bermutu.
• Kurangnya kesadaran masyarakat dalam penggunaan benih bermutu.
• Ketergantungan produsen benih pada proyek pemerintah.
• Nasionalisme dan patriotisme di kalangan industriawanperbenihan dan perbibitan masih perlu dibangkitkan,
Upaya Mengatasi Hambatan Industri Benih
Upaya mengatasi hambatan pembangunan industri perbenihan yakni melalui :
a. peningkatan koordinasi semua elemen perbenihan nasional secara menyeluruh,
b. penyiapan kebijakan yang memberi prioritas tinggi kepada pembangunan industri benih,
c. peningkatan sumber daya manusia di bidang perbenihan,
d. pembangunan prasarana yang terkait dengan produksi dan peredaran benih,
e. penyediaan kemudahan akses modal, dan
f. penyediaan teknologi dan informasi untuk peningkatan mutu dan peredaran benih

DAFTAR PUSTAKA

Anonymous. 2011. http://ajangmaruapey.blogspot.com/2010/03/hambatan-dan-tantangan-industri.html. Diakses pada 5 Maret 2011
Anonymous. 2011http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/1108/1/pemuliaan%20tanaman-khairunnisa.pdf. Diakses pada 5 Maret 2011
Brown, L.R. 1970. Seeds of Change. Praeger Publisher. New York.
Direktorat bina perbenihan,1998. Sistem Perbenihan Subsektor Perkebunan. Ditjenbun. Jakarta
Kartasapoetra, AG. 2003. Teknologi Benih. Rineka Cipta. Jakarta.
Mugnisjah, W. Q., dan Setiawan, A. 1995. Pengantar Produksi Benih. PT. Raja Grafindo Persada. Jakarta
Rahasa, C. A. Dkk. 1999. Refleksi Pertanian. Pustaka Sinar Harapan. Jakarta.
Sadjad, S. 1994. Kuantifikasi Metabolisme Benih. Gramedia. Jakarta
Thompson, J.R. 1979. An Introduction to Seed of Change. Praeger Publisher. New York.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s